Bagian I. Fazaha, SP Alternatif: Risky (Mengerjai ABG~!)

Jumat sore itu, ketika Risky membereskan mejanya, Shigeo menghampiri. “Eee, Iki-kun, kamu tidak purang, kan?”

Risky terdiam. Ia menangkap adanya gelagat tidak baik. Namun ia berusaha untuk menampilkan senyum paling sopan diiringi ucapan, “Eh, ada yang bisa saya bantu?”

Shigeo mengatupkan kedua belah tangannya seraya menundukkan kepala. “Mohon bantu kujakan raporan!” bisiknya.

Risky mengingat-ingat etiket perusahaan dalam menolak limpahan pekerjaan dari senior.

“Eeeh, anu …” Risky menggaruk-garuk belakang kepala sembari menyengir, “saya sudah mengerjakan bagian saya ….”

“Eh, eh, rihat mejaku!” Shigeo membawa pandangan Risky pada mejanya di seberang. Shigeo telah mengatur berkasnya menjadi lima tumpukan berbeda tinggi yang membentuk kanji gunung.

Risky menelan ludah. Suruh siapa kebanyakan pelesir, batinnya.

“Iki-kun,” panggil Shigeo lagi, “shukudai wo tetudatteita no wo oboete harimakka?”

Risky menyaring dialek Kansai dalam ucapan Shigeo dan memahami orang itu sedang mengingatkannya akan masa lalu mereka. Risky melalui sebagian masa SD dan SMP di Jepang, mengikuti Papa yang mendapat tugas belajar. Keluarga Shigeo dengan ramah dan baik hati membantu keluarganya beradaptasi dengan lingkungan baru selayaknya keluarga asuh.

Waktu itu Risky suka main ke rumah Shigeo. Ibu Shigeo telah memberi tahu anaknya agar membantu Risky mengerjakan PR sekalian mengajarinya bahasa Jepang. Shigeo—yang berusia tiga setengah tahun lebih tua daripada Risky—menyanggupi peran sebagai sosok abang yang bisa diandalkan. Begitu Risky tiba dengan membawa PR, Shigeo langsung mengajaknya ke kamar. Ibu Shigeo melepas kedua anak yang akur itu dengan senang.

Di kamarnya, Shigeo mengerjakan PR Bahasa Jepang Risky dengan cepat sementara yang dibantu cuma melihat.

Kanryō shimasita! Kore de nintendō de asoberu yo!” seru Shigeo begitu tuntas.

Risky mengangguk kegirangan. Walaupun saat itu ia belum dapat mengerti bahasa Jepang sepenuhnya, tetapi ia tahu yang Shigeo maksudkan. Sebenarnya, ia cuma menangkap kata “nintendō”, dan memang itu yang ia nanti-nantikan dalam setiap kunjungannya ke rumah Shigeo.

Dan ini balasan yang harus kuterima? batin Risky.

“Kukira kamu orang yang tulus,” sahut Risky yang kini telah lumayan fasih berbahasa Jepang berkat pergaulan yang cukup intens dengan Shigeo belakangan ini, sejak orang itu, kabarnya, didepak dari divisi sebelah ke divisinya.

“Memang aku orang yang tulus! Kamu juga tulus mau membantuku, kan?”

Belum lagi, Risky tidak bisa mengenyahkan pikiran bahwa ia dapat bekerja di perusahaan yang ternyata milik keluarga besar Shigeo itu berkat “bantuan” orang tersebut. Memang Shigeo telah meyakinkan bahwa Risky bisa lolos berkat kapasitasnya sendiri, dan semua keputusan merupakan hasil musyawarah para pejabat tinggi. Namun, sebelum Risky menjalani seluruh tahapan tes, keduanya sempat bertemu dan Shigeo memberikan semacam “kisi-kisi” ….

Melihat raut Risky, Shigeo berkata lagi, “Nanti kutraktir ke klub pijat yang kamu suka itu. Eh! Sebetulnya aku nemu klub baru! Cewek-ceweknya lebih—“

“Eh, eh, eh, ya sudah … sekali ini saja, ya?”

“Sekali ini saja! Terima kasih, Iki-kun!” Shigeo membungkukkan badan. “Kalau kita bekerja keras, Sabtu pasti selesai!” Mata Shigeo berkilat-kilat. Senyumnya semakin cerah. “Terus Minggunya ….”

“Minggunya aku mau tidur.”

“Ya! Kita cari teman tidur!”

“Aku mau tidur sendirian,” sambung Risky jengah.

“Sendirian tidak apa-apa. Ada teman tentu lebih baik.”

Terserahmu sajalah! “Ya sudah, kita mulai sekarang saja.” Risky menyalakan lagi komputer di mejanya.

Shigeo mengangguk, dan kembali mengarahkan pandangan Risky pada pegunungan di meja miliknya. “Iki-kun boleh ambil puncaknya.”

“Aku lembahnya aja.”

Karyawan-karyawan lain mengucapkan salam perpisahan sementara mereka mulai bekerja. Yang terakhir keluar adalah Moriyama-san, kepala bagian. Risky dan Shigeo kompak berdiri ketika lelaki tua berkacamata dengan rambut menipis itu tampak.

“Risuki-san, masih di sini,” tegur Moriyama-san yang melewati meja Risky.

Di balik punggung Moriyama-san, Risky melihat Shigeo memberikan isyarat. Risky menggeragap, “Eh, ya, anu, sedang meneliti ide riset untuk produk baru,” disusul senyum rikuh.

Moriyama-san mengangguk-angguk dan tersenyum ramah. “Bekerja keras, ya.”

Risky menyengir.

Moriyama-san berpaling kepada Shigeo dan berucap dengan nada tegas, “Bekerja yang baik, ya.”

Shigeo membungkuk dengan takzim.

Begitu kepala bagian pergi, keduanya mengembuskan napas.

“AC-nya dimatikan, ya,” ucap Risky. Shigeo mengangguk. Risky mematikan AC kemudian berjalan ke jendela dan membuka terali. Ia menyalakan sebatang Dunhill sementara Shigeo mengeluarkan sebungkus kecil serbuk putih dari kantung di bagian dalam jasnya.

Belum tengah malam ketika Shigeo memutuskan untuk menghentikan pekerjaan. Rambutnya yang biasa rapi dibelah pinggir dengan sentuhan pomade telah acak-acakan. “Sebaiknya kita tidak melupakan istirahat,” ucap Shigeo.

Risky berhenti mengetik. Tanpa mencopot puntung dari kepit bibirnya, ia menyahut, “Udah nge-coke masih perlu istirahat juga?”

“Kamu perlu istirahat, Iki-kun, supaya bisa membantuku dalam keadaan prima. Sebaiknya kamu menginap saja di rumahku, biar paginya lebih mudah kita bareng ke sini.”

Risky tidak memprotes.

Keduanya merapikan barang-barang, mematikan lampu, menutup pintu, dan menyusuri koridor gelap menuju lobi.

“Aku enggak mau nginep di sini. Kata satpam ada pocongnya,” bisik Shigeo dengan langkah bergegas.

“Eh, tahu pocong juga, kamu?” Risky menyesuaikan langkahnya dengan Shigeo.

“Kalau di negara baru, harus kenal budayanya, termasuk hantu-hantunya.”

“Termasuk hantu-hantunya?”

“Sebenarnya di halaman belakang rumahku juga ada—“

“Eh, enggak usah cerita-cerita kenapa sih?!”

Shigeo mempercepat langkah. Risky mengejarnya. Koridor terasa memanjang.

Di rumahnya, Shigeo menghabiskan sisa energi dengan berlari di treadmill. Sementara itu Risky terlelap di tempat tidur.

Selepas subuh, Shigeo membangunkan Risky. “Ponselmu bunyi tuh.”

Tangan Risky menggapai-gapai. Di layar ponsel kemudian dilihatnya panggilan dari Rumah.

“Assalamualaikum,” jawab Risky.

“KAK IKI KOK ENGGAK PULANG!?”

“Kakak lembur.” Risky memutus sambungan dan mematikan ponselnya sekalian. Ia melanjutkan tidur.

Read previous post:  
16
points
(2410 words) posted by d.a.y.e.u.h. 10 weeks 1 day ago
53.3333
Tags: Cerita | Novel | kehidupan | minimalis | pemanasan | slice of life
Read next post:  
100

EH, DAYEUH..
MBA DAYEUH ATAU TEH DAYEUH?
PASWORD SAYA KAN INDONESIA, JADI BIAR GA DIGANTI SAMA ORANG LAIN, CEKIN YA BIAR GA DIGANTI SAMA HACKER,
KAN BISA JADI ORANG LAIN ONLINE TANPA SEPENGETAHUAN SAYA.
nusantara paswoed indonesia itu sudah diketahui banyak orang.
kamu juga bisa buka nusantara, paSswordnya indonesia.

masnya waras? udah ngobrol sama psikolog?

80

Jadi sekarang, sudut pandangnya berasal dari 'kak Iky' ya?
Just step back for awhile Alfian. Hahaha :D
Di bagian kak Iky dan teh Ocha on their 'swift moment' bikin saya deg-degan. Ini termasuk tulisan yang berani karena saya selalu berpikir dua kali untuk membuat tulisan seperti ini.
Please, that's a full compliment for you :)
Yang bikin saya penasaran, judulnya mengarahkan pada satu nama (Fazaha) tetapi sejak tulisan yang pertama dan kedua ini belum ada cerita dengan sudut pandang Fazaha. Saya benar-benar kepo soal Fazaha ini dan bagaimana jalan pikirannya.
Akan saya tunggu terus kelanjutannya.
Keep going! Keep writing!
Love xoxo

hai, terima kasih sudah datang lagi, membaca dan meninggalkan jejak :D
karena sebenarnya bagian ini mau ditulis dari sudut pandang Fazaha. cuma karena saya masih kurang bacaan sementara udah kebelet nulis, jadi takut narasinya jelek, makanya saya tulis dari sudut pandang alternatif--yaitu sudut pandang tokoh lain yang berinteraksi dengan sudut pandang tokoh utama.
terima kasih atas minatmu untuk menunggu kelanjutannya. aku terharu, hiks :')) mudah2an enggak sampai enam tahun lagi, ya, ahaha.

wah, orang pinter komennya beda sama saya...
hehe,
belajar komen mirip gitu deh saya..

Hahaha, saya nggak merasa pintar kak.
Sama-sama masih belajar kok, dan saya merasa masih harus banyak belajar.
Thanks BTW buat compliment-nya, semoga jadi doa dan kembali kepada yang mendoakan :)
Love xoxo

100

panjang sekali ceritanya, nanti lanjut baca lain waktu