Bagian I. Fazaha, SP Alternatif: Risky (Mengerjai ABG~!)

Jadinya mereka janji bertemu pada Minggu pukul sepuluh pagi di Bandung Super Mall. Begitu memasuki bangunan mal, Risky menanyai adiknya, “Ketemu di sebelah mana?”

Adiknya mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mulai mengetik.

Risky menggiring adiknya ke suatu toko di lantai atas, tempat ia hendak melihat-lihat figurine.

“Dianya baru berangkat, Kak.”

“Hm,” sahut Risky sementara berjongkok memandangi pajangan di bagian bawah etalase toko tersebut.

Tidak menemukan barang yang menarik, Risky membawa adiknya keluar dari toko. “Jadinya mau ketemu di mana?”

“Terserah, katanya.”

Risky masuk ke Gramedia, kemudian berdiam di bagian majalah sementara adiknya beredar. Adiknya lalu menghampiri dia dengan memperlihatkan Salad Days nomor terbaru.

Sok,” sahut Risky. Adiknya beredar lagi, lalu kembali dengan memperlihatkan Detektif Conan dan Cyborg Kurochan nomor terbaru. “Satu aja …” jawab Risky dengan nada senewen. Adiknya manyun dan pergi lagi.

Setelah memutuskan untuk membeli Animonster dan Sedap Sajiku untuk Mama, Risky mengisyaratkan adiknya untuk menyudahi peredaran dan menuju kasir.

Keluar dari Gramedia, Risky bertanya kepada adiknya, “Udah nyampe belum?”

Adiknya mengecek ponsel lalu menggeleng. Risky memutuskan untuk masuk ke KFC saja yang terletak tidak jauh dari situ, sembari menyuruh adiknya untuk memberi tahu si pacar.

Setelah membeli dua bungkus kentang goreng, dua gelas Pepsi, dan secontong ice cream cone untuk si adik, keduanya duduk di salah satu bangku untuk berempat. Risky duduk di sebelah dinding membelakangi pintu masuk sementara adiknya mengambil kursi di sampingnya. Keduanya membuka plastik pembungkus bacaan masing-masing kemudian anteng membaca.

Beberapa lama Risky terpikat oleh isi majalah hingga menyadari bahwa sepertinya sejak beberapa waktu lalu ada anak perempuan yang berdiri memandangi mereka, berjarak hanya beberapa meter dari meja mereka. Risky menyenggol lengan adiknya. Adiknya menoleh kepadanya, kemudian mengikuti isyarat wajahnya menuju gadis itu.

“Jahe-chan,” serta-merta adiknya berdiri dengan senang.

Pelan-pelan gadis itu melangkah dan mengambil kursi di hadapan adiknya.

Risky memerhatikan penampilan “Jahe-chan” yang cukup tomboi dengan sepatu kets, celana pendek selutut dengan kantung-kantung—seperti yang mau ke rawa-rawa, serta blus berkerah dengan motif senada. Rambutnya digulung tinggi-tinggi dengan poni melengkung dan ikal mencuat di depan kedua telinganya. Kacamatanya berbingkai besar dan tipis dari besi. Ranselnya kecil dengan gantungan kunci bola bulu sedang sebelah lengannya mengapit tas kain berukuran lebih besar. Tingginya kurang lebih sama dengan adik Risky, tetapi tidak sekurus itu, juga tidak gendut. Wajahnya cenderung manis daripada cantik dan tanpa senyum. Mata gadis itu berganti-ganti antara memandang Risky dan menunduk ke meja.

“Ini Fazaha, Kak,” adiknya memperkenalkan. “Jahe, ini kakak aku.”

Alih-alih merespons, gadis itu malah semakin menunduk.

“Hmmm, Fazaha udah sarapan?” Risky mencoba melunakkan suasana. Ia merasa aneh saat mengucapkan nama yang kurang umum itu.

“U—udah, Om.”

“Om …?” Risky mengerutkan kening. “Pulang ah,” ia bangkit dan membalikkan badan.

“KAK! MAU KE MANA?”

“MAAF, KAK! MAAF!”

Risky duduk lagi menanggapi kepanikan dua anak itu. Sesaat mereka sama-sama diam seolah-olah menunggu redanya suasana.

Risky mengeluarkan selembar uang dari dompet dan menyuruh adiknya, “Beli apa gitu kek sama Fazaha.”

Adiknya mengajak si pacar beranjak. Risky membuka lagi majalah sambil diam-diam memerhatikan. Kedua anak itu lalu kembali dengan masing-masing memegang segelas Sundae di tangan. Idih, kompakan, Risky menahan diri untuk menggoda.

Kedua anak itu kembali duduk. Fazaha mengudap Sundae miliknya dengan perlahan dan tetap merunduk. Risky melirik adiknya yang menjiplak pembawaan si pacar.

“Ehm, jadi, bukunya gimana? Fazaha suka?” Risky memecah keheningan.

Gadis itu menahan sendok di mulutnya, lalu mengangguk.

“Iya, jadi, bukunya itu asalnya punya saya. Tapi, mungkin lebih bermanfaat kalau buat Fazaha. Eh, iya, kan? Kamu masih seneng gambar, kan? Jangan kapok lo gara-gara komiknya dirusak sama Ian.”

Gadis itu menggeleng tanpa melihat Risky.

“Jadi, sekarang udah enggak ada masalah lagi, kan? Udah clear?”

Gadis itu mengangguk, masih tidak melihat Risky.

Risky menyesap Pepsi miliknya, seolah-olah dengan itu akan memberikan ilham perkataan baru.

“Eh, kalian masih pacaran, kan?”

Risky mengamati kedua ABG itu, yang berpandangan, kemudian diputus anggukan adiknya. “Masih, Kak, masih!”

“Iya, Fazaha?” Risky menunggu respons si pacar.

Fazaha mengangguk lagi, dan Risky mulai heran adakah yang salah dengan wajahnya hingga gadis itu tidak mau melihat?

“Kamu ikhlas jadi pacarnya Ian?” sambung Risky.

“Eh?”

Tidak ada yang mengabaikan sahutan adiknya. Risky hanya menanti respons Fazaha. Gadis itu cuma mengangguk.

“Tapi kamu enggak percaya sama dia?”

Akhirnya Fazaha mengangkat wajah. Gadis itu tampak keheranan.

“Ian ngasih buku itu, tapi ada tanda tangan gue. Terus lu jadi enggak percaya kalau buku itu emang gue udah kasih ke lu. Tapi dia bilang kan kalau gue emang udah ngasih?”

“Eh …” Fazaha tertegun. “Iya, Kak.”

“Kalau lu enggak percaya sama dia, kenapa lu masih mau pacaran sama dia?”

“Kak …” tegur adiknya.

“Eh …” Gadis itu tampak memikirkan perkataan Risky.

“Atau … jangan-jangan … kamu cuma cari alasan, ya, biar bisa kenalan sama keluarganya …?” Risky memelankan suara sekalian mengubah nadanya jadi menggoda. Kepalanya agak condong kepada gadis itu. “Pertama, sama kakaknya dulu. Terus, entar sama orang tuanya ….”

“Hah ….” Fazaha mengerutkan kening.

“Ah, anak zaman sekarang cepat dewasa, ya ….” Risky menarik tubuh ke sandaran kursi seraya melipat kedua lengannya. Tatapannya menembus dinding kaca di kejauhan yang memperlihatkan serambi dan langit biru berawan. “Pemikirannya udah jauh aja.”

“Kak …” tegur adiknya lagi.

Risky tersenyum manis memandangi Fazaha. Ia mencondongkan tubuhnya lagi. “ … Adik Ipar?”

Fazaha menatap Risky seperti melihat genderuwo.

Read previous post:  
16
points
(2410 words) posted by d.a.y.e.u.h. 11 weeks 3 days ago
53.3333
Tags: Cerita | Novel | kehidupan | minimalis | pemanasan | slice of life
Read next post:  
100

EH, DAYEUH..
MBA DAYEUH ATAU TEH DAYEUH?
PASWORD SAYA KAN INDONESIA, JADI BIAR GA DIGANTI SAMA ORANG LAIN, CEKIN YA BIAR GA DIGANTI SAMA HACKER,
KAN BISA JADI ORANG LAIN ONLINE TANPA SEPENGETAHUAN SAYA.
nusantara paswoed indonesia itu sudah diketahui banyak orang.
kamu juga bisa buka nusantara, paSswordnya indonesia.

masnya waras? udah ngobrol sama psikolog?

80

Jadi sekarang, sudut pandangnya berasal dari 'kak Iky' ya?
Just step back for awhile Alfian. Hahaha :D
Di bagian kak Iky dan teh Ocha on their 'swift moment' bikin saya deg-degan. Ini termasuk tulisan yang berani karena saya selalu berpikir dua kali untuk membuat tulisan seperti ini.
Please, that's a full compliment for you :)
Yang bikin saya penasaran, judulnya mengarahkan pada satu nama (Fazaha) tetapi sejak tulisan yang pertama dan kedua ini belum ada cerita dengan sudut pandang Fazaha. Saya benar-benar kepo soal Fazaha ini dan bagaimana jalan pikirannya.
Akan saya tunggu terus kelanjutannya.
Keep going! Keep writing!
Love xoxo

hai, terima kasih sudah datang lagi, membaca dan meninggalkan jejak :D
karena sebenarnya bagian ini mau ditulis dari sudut pandang Fazaha. cuma karena saya masih kurang bacaan sementara udah kebelet nulis, jadi takut narasinya jelek, makanya saya tulis dari sudut pandang alternatif--yaitu sudut pandang tokoh lain yang berinteraksi dengan sudut pandang tokoh utama.
terima kasih atas minatmu untuk menunggu kelanjutannya. aku terharu, hiks :')) mudah2an enggak sampai enam tahun lagi, ya, ahaha.

wah, orang pinter komennya beda sama saya...
hehe,
belajar komen mirip gitu deh saya..

Hahaha, saya nggak merasa pintar kak.
Sama-sama masih belajar kok, dan saya merasa masih harus banyak belajar.
Thanks BTW buat compliment-nya, semoga jadi doa dan kembali kepada yang mendoakan :)
Love xoxo

100

panjang sekali ceritanya, nanti lanjut baca lain waktu