Cinta Bunga Desa

Ternyata menghabiskan waktu untuk hal baik itu tak mudah. Kubaca-baca beberapa karya orang lain dan kutertarik pada cerpen 'Duizend Liefde in Batavia punya aimie keiko. Ku ingin membuat kisah cerpen jaman belanda yang bertema cinta. Langsung saja.

Tapi sebelum menulis harus banyak yang tahu kalau memilih menulis saat ini di waktu saat ini karena sedang bosan menonton televisi. Dan, bosan dengan tingkah penguntit yang bersembunyi yang terobsesi dengan setiap apa yang kutonton dan kubaca dan kutulis dan kudiam pun mereka yang bersembunyi entah dimana itu sepertinya juga terobsesi untuk mengetahui apa yang sedang kupikirkan.

Baiklah akan kutulis cerpen seting jaman belanda. Ceritanya begini...

Oh, ya. Seperti biasa aku akan menulis dengan sudut pandang orang pertama dengan kata 'aku'.

 

 

Entah apa yang ada di pikiran ibu. Mengapa ia hendak menikahkanku dengan anak tuan menir padahal itu sama juga akan dipandang sebagai penghianat oleh sebagian besar penduduk lain. Berbeda dengan ayah yang bersikap setengah-setengah.

Ibu dan ayah tak sama dalam berpemikiran. Ayah tetap menganggap menjadi kuli kebun itu lebih baik ketimbang dimusuhi oleh teman dan sanak keluarga lain oleh sebab rasa iri. Atau, benci. Aku juga sebetulnya menginginkan agar ayah lebih memaksa ibu untuk tak menerima keinginan tuan menir mempersuntingku. Aku juga sebenarnya sudah saling mencintai dengan pemuda kuli kebun anak dari teman ayah yang sesama kuli. Aku, benar-benar mencintainya dan aku berani bersumpah.

Akhirnya aku dinikahi oleh anak tuan menir dan ibuku menjadi tak perlu lagi menjadi kuli kebun. Begitu pula ayahku. Jangan tanya bagaimana hari depan tentang anak-anakku sebab dapat dipastikan keturunanku semua takkan berpanas-panas di perkebunan dengan status kuli kebun. Itulah yang ada pikiran ibu. Dan sebab alasan itulah ibu tak pernah meras bersalah menikahkanku dengan anak tuan menir. Padahal itu sungguh salah.

Masa berubah. Waktu tak lagi sama. Tiba saat perubahan itu membuat apa yang dipikirkan ibu tak sesuai dalam bayang angannya. Tuan menir harus hengkang. Anak tuan menir pun tak bisa bicara panjang. Mereka berupaya pergi kembali ke tanah nenek moyang di seberang dan aku serta ibu dan anak-anakku juga ayahku mati terpanggang sebab kedengkian yang tak terbayang.

Setidaknya itu yang hampir dipercayai semua orang. Tentunya kami berhasil selamat sebab ada pertolongan dari seseorang. Ya, dia adalah lelaki kuli kebun yang tetap sama cintanya padaku sejak dulu hingga sekarang. Kudengar, kedengkian orang banyak membuat keluarga tuan menir tak bisa menyeberang dan berakhir di tepi jurang. Jurang kematian yang tak terbayang.

Anak-anakku berambut pirang dan sanggup bertahan sebab kubilang mereka hasil pemerkosaan. Itu lebih baik bagi mereka dan menjadikan mereka tetap diakui sebagai anak-anak kuli kebun pribumi. Dan, ibuku merasa sudah salah dan menyadari bahwa masa depan tak bisa dibayangkan sesuai apa yang dipikirkan. Ibuku merasa bersalah sebab nyatanya kami semua hmpir mati terpanggang.

Tamat.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Cinta Bunga Desa (1 week 2 days ago)
60

Ide ceritanya menarik, terutama karena mengangkat isu-isu umum dan sensitif.
Akan lebih menarik lagi jika plot cerita, karakter, dan konflik yang muncul digali lebih dalam. Sedikit deskripsi latar juga sepertinya bisa dijadikan daya tarik dan memberi warna di ceritanya.
Sepertinya, kakak punya banyak ide cerita yang menarik :D
Keep writing!

Love, xoxo

Writer nusantara
nusantara at Cinta Bunga Desa (3 weeks 2 days ago)

ini fiktif, jadi jangan dihubungin sama pastlife, bikin orang bingung ntar, penguntit harus berhenti menebak-nebak cerita ini