Bagian II. Alfian, SP Alternatif: Risky (Kelahiran Nihongo Kurabu~!)

Risky baru saja tiba dari Karawang. Ia sedang duduk di tepi tempat tidur kamarnya, mencopot kaus kaki, ketika melihat adiknya menyembulkan kepala dari balik kosen. Risky terus membuka kemejanya, celana panjangnya. Baru ketika hendak menggantungkan pakaiannya di balik pintu, ia menegur, “Belum tidur?”

Adiknya menjawab dengan lirikan.

“Bilang aja,” sahut Risky bosan, seraya mengenakan T-shirt.

“Papa enggak kasih uang,” ucap adiknya, saking pelan serupa bisikan.

“Emang kamu mau beli apa?”

“Uang jajan.”

“Kenapa?”

“Mmm …” adiknya ragu. “Karena enggak jumatan.”

Risky duduk bersila di karpet sembari bersidekap, menampakkan dirinya sedang berpikir. Adiknya bergeming di balik kosen.

Risky menoleh dan memutuskan, “Bawa bekal aja dari rumah. Minta dibikinin Mama.”

Adiknya mengerang dengan manyun.

“Udah, sana. Kakak mau istirahat.” Risky beranjak menghalau adiknya dan menutup pintu.

 

Akhir pekan memang singkat. Risky sudah hendak kembali ke Karawang. Ketika sedang mengepak ransel, ia menyadari adiknya menyembulkan kepala dari balik kosen.

Risky mengembuskan napas. Ia merogoh saku celana, kemudian menyerahkan semua yang ada di dalamnya, termasuk renyukan bon, ke tangan adiknya.

Adiknya memandang pemberian Risky dengan malang.

“Ini enggak cukup buat seminggu,” adiknya memelas.

“Bawa bekal, dibilang juga.”

Adiknya mengeluarkan isakan, yang tidak sungguh-sungguh sebetulnya, melainkan hanya cara lainnya untuk merengek.

Risky menyerahkan selembar lipatan lagi dari kantung depan ranselnya.

“Kak …” rengek adiknya setelah diberi.

“Udah! Kakak juga perlu buat ke Jepang!”

“Heh?! Kakak mau ke Jepang?!” raut adiknya serta-merta berubah. “Ikut!”

“Enggak boleh.”

Adiknya merengut.

“Tugas kantor, Dek,” jelas Risky. “Tapi kalau buat liburan juga enggak bakal ngajak-ngajak sih.”

“Ah, Kakak mah …” protes adiknya. “Oleh-oleh, Kak!”

Risky menyodorkan tangan. “Balikin duitnya buat oleh-oleh.”

“Iiih …!” adiknya berbalik dan melarikan diri ke lantai bawah.

 

Beberapa minggu kemudian Risky pulang lagi ke Bandung. Ia membawakan oleh-oleh berupa kaus untuk Papa dan adiknya, serta tas untuk Mama. Ia juga sudah menyiapkan novel Murakami Haruki serta CD Pizzicato Five untuk Ocha. Selain itu, ada aneka makanan ringan untuk dibagi-bagikan kepada siapa pun yang mau.

“Ini halal, Ki?” tanya Mama ketika mengamat-amati setiap bungkus permen, biskuit, dan semacamnya.

“Halal,” sahut Risky tanpa repot-repot mengecek lagi setiap snack yang diborongnya dari konbini terdekat sementara di Yokohama.

Risky tahu, tidak lama setelah ia kembali ke kamarnya lagi, adiknya akan menyusulnya. Adiknya tahu masih ada barang baru yang belum diperlihatkan Risky.

Risky menyerahkan sebuah tas berukuran cukup besar yang gembung kepada adiknya. Adiknya membuka tas itu.

“Uwaaah ….” Ketakjuban adiknya perlahan memudar jadi keheranan akan barang-barang di dalam tas itu. “Ini apa, Kak?”

Risky mengusap-usap leher tanpa melihat adiknya. Sewaktu sedang berkeluyuran di Akihabara, ia melihat toko yang menjual pernak-pernik lucu sedang banting harga. Seketika itu juga ia memborong dengan menghabiskan sisa uang sakunya. Shigeo yang menemani Risky sampai heran. “Mumpung murah, ya?” tanggap Shigeo waktu itu dengan keramahan yang membuat Risky menyadari bahwa ia seperti ibu-ibu yang gelap mata saja ketika melihat diskon besar-besaran.

Setelahnya Risky menghibur diri dengan membatin bahwa ia bisa membagikan barang-barang itu kepada para keponakannya saat ada acara keluarga besar. Sebagian besar keponakannya perempuan yang kemungkinan tertarik dengan barang-barang cute begitu. Tetapi, ketika adiknya datang ke kamar barusan, Risky teringat pada masalah finansial yang dialami anak itu beberapa waktu lalu. Sekonyong-konyong tebersit ide di kepalanya.

“Buat kamu jualan.”

“Hah?”

“Uang jajan kamu masih disetop Papa?”

“Mmm … iya.”

“Ya, kamu jual itu. Keuntungannya buat kamu jajan.”

“Eeeh, kenapa enggak mentahnya aja?” adiknya protes.

“Kamu dulu suka jualan kan, Dek?”

Ketika itu adiknya masih duduk di bangku SD. Anak itu punya banyak keinginan macam-macam mengikuti teman-temannya, mulai dari komik, Tamiya, hingga gim terbaru. Tetapi, baik Papa, Mama, maupun Risky tidak mau memberikan uang lebih.

Ketika itu Mama masih suka menyediakan bekal lengkap untuk adiknya yang disekolahkan di full day school, mulai dari nasi, sayur, lauk, potongan buah, air minum, sampai penganan kecil-kecil seperti puding, kue kering, bolu, atau jajanan basah. Semuanya buatan sendiri. Karena keinginan yang sangat besar untuk memiliki barang-barang seperti teman-temannya, adiknya itu kemudian menjual bekalnya. Mula-mula ia membagikan bekalnya secara gratis. Ketika ada temannya yang minta lagi, anak itu menyuruh untuk membeli. Lalu tahu-tahu Mama mendapatkan pesanan untuk membuatkan setoples kue kering atau semangkuk puding. Tetapi, seluruh uang hasil penjualan diambil oleh adiknya sendiri. Risky sampai turun tangan membujuk adiknya supaya mengembalikan modal sekalian berbagi sebagian keuntungan kepada Mama.

Bisnis adiknya dan Mama berlangsung sampai anak itu lulus SD. Ketika adiknya memasuki SMP, Mama mengungkit untuk memulai bisnis itu lagi. Tetapi, anak itu sudah tidak berminat. “Aku kan udah SMP. Jualan kue enggak keren!” begitu kata adiknya waktu itu ketika didesak Mama.

Adiknya menjadi jemawa karena mulai SMP uang jajannya naik. Apalagi dengan kebijakan anyar Papa yang baru memberi adiknya uang jajan ketika sudah melaporkan isi khotbah Jumat. Semakin bagus laporan yang disampaikan, semakin besar uang jajan yang adiknya terima. Meskipun begitu, yang sering kali terjadi adalah adiknya bolos jumatan kemudian mengarang laporan khotbahnya dengan mengambil materi dari buku agama di rumah pada menit-menit sebelum Papa pulang. Tetapi, sepandai-pandainya bajing melompat, suatu saat jatuh juga. Entah bagaimana akhirnya Papa mengetahui akal bulus adiknya itu.

Sekarang adiknya menggerutu lagi dengan mengguncangkan tas berisi pernak-pernik jejepangan yang lucu itu. “Tapi kan ini barang-barang cewek!”

“Justru itu, biar kamu dikelilingi cewek.”

Adiknya menggeram.

“Enggak mau tahu. Balikin modal Kakak,” ucap Risky tegas.

Adiknya terus manyun sambil memeluk lutut.

Risky tidak menggubris adiknya lagi.

Sampai anak itu menyerah dan mendekatinya. “Tapi ini kan yen,” kata adiknya sambil membolak-balik label harga.

“Ya, tinggal dikonversiin aja ke rupiah, terus kamu mau ambil keuntungannya berapa.”

“Emang berapa kalau rupiah?”

Risky tersenyum melirik adiknya. Lalu ia membantu anak itu membuat daftar harga.

 

Beberapa minggu setelah itu Risky berada kembali di kamarnya di Bandung. Ia baru punya waktu untuk membuka barang yang ia beli di Akihabara untuk dirinya sendiri: model kit Freedom Gundam tipe ZGMF-X10A! Sebelum ini, ia hanya bisa melihatnya dalam layar komputer ketika sedang berselancar mencari kabar terbaru Gundam. Sekarang, sebentar lagi, ia akan bisa meraihnya dalam genggaman tangannya sendiri.

Tetapi, sebelum itu, ia mesti merakitnya lebih dulu. Ia pun mengeluarkan peralatan dari laci meja belajar, kemudian mereguk kopi.

Beberapa jam kemudian ketika sedang memernis hasil rakitannya, Risky mendengar langkah adiknya menaiki tangga. Begitu Risky menoleh, adiknya melewati pintu kamarnya dengan riang.

“Kakak kapan ke Jepang lagi?”

“Eh? Ya, enggak tahu. Kenapa emang?”

“Titip,” adiknya berseri-seri.

“Apaan?”

“Dagangan. Hehehe,” adiknya menyengir lebar.

“Eh?” Risky teringat. “Gimana jualannya?”

Seketika itu adiknya mengipaskan lembaran uang.

“Buset.” Risky terperangah. Adiknya berjalan dengan bangga sembari menyerahkan lembaran uang itu ke tangan Risky. “Kejual semua?” tanya Risky sembari menghitung lembaran itu.

Adiknya mengangguk. “Eh, satu aku kasihin buat Fazaha. Soalnya dia bantu jual. Yang beli temen-temennya dia juga sih, sama temen-temen temen-temennya.”

Risky selesai menghitung namun tidak mengingat berapa jumlah modalnya. “Kamu udah ambil untung?”

“Udah.”

Risky menyelipkan lipatan uang ke saku celana. “Kamu mau jualan barang yang sama ke orang-orang yang sama lagi?”

Adiknya tercenung. “Emangnya kenapa, Kak?”

“Yaaa, ngapain juga beli barang yang sama?”

“Eh?” adiknya bingung.

“Gini, maksud Kakak tuh, kamu harus memperluas pasar.” Melihat tampang adiknya lagi, Risky tahu harus menjelaskannya dengan sesederhana mungkin. “Antara kamu harus jual ke orang lain, atau kamu jual barang lain ke mereka.”

“Oh ….”

“Apalagi kalau belinya di Akihabara lagi. Di situ tuh surganya pencinta anime dan manga. Kalau kamu bisa bikin temen-temen kamu suka sama anime dan manga selain yang lagi terkenal di Indonesia, ada jauh lebih banyak pilihan barang yang bisa kamu jual.”

Adiknya menganga.

“Contohnya kayak ini nih,” Risky menggenggam dan memandangi hasil rakitannya dengan mata berkilat, “modelnya enggak habis-habis.”

Adiknya mengalihkan pandang ke seberang kamar, pada lemari kaca yang hampir sesak oleh setiap robot hasil rakitan Risky. Lalu ia memandang kakaknya lagi. “Hmmm, bener juga, ya. Entar temen-temen aku jadi pada beli terus, kayak Kakak.”

“Yaaah ….”

“Emang berapa sih, Kak, itu harganya?”

“Kamu enggak usah tahu!”

“Kan nanti aku mau jualan!”

“Ya—yang penting kamu bikin temen-temen kamu suka dulu sama jejepangan. Urusan ke Jepang mah gampil lah! Yang penting kamu tuh kenali dulu pasar kamu dan kembangkan minat mereka.”

“Caranya?”

“Yaaa, kamu bisa ajakin temen-temen kamu ke sini, baca-baca Animonster, nonton film, dengerin musik, apalah. Jadi wawasan jejepangan kalian tuh enggak terbatas sama yang lagi beredar di Indonesia. Bikin temen-temen kamu jadi otaku!"

"Kayak Kakak, ya?"

"Tapi, awas, jangan sampai ada yang rusak atau hilang!”

Adiknya mencerna kata-kata Risky dengan kening berkerut-kerut.

Hingga ilham menyambarnya.

“Kak! Kalau gitu, sepertinya aku perlu bikin Klub Jepang!”

“Hm,” sambut Risky sembari lanjut memernis robotnya.

“Apa, Kak, bahasa Jepangnya Klub Jepang?”

“Hm …. Nihongo Kurabu?”

“Tulisin, Kak, tulisan pake bahasa Jepang!”

“Tulis aja sendiri.”

“Ih, aku kan enggak tahu! Kak Iki yang bisa nulis Jepang!”

“Maksudnya nulis pakai huruf Jepang?”

“Iyaaa!”

“Hih, enggak jelas!”

Risky mengambil selembar dari tumpukan kertas di meja belajarnya, kemudian potlot. Lalu ia menggaruk-garuk kepala dan mulai menulis dalam huruf hiragana. Lalu ia mencoretnya. Lalu ia memandang langit-langit.

“Kakak bisa nulis Jepang enggak sih?”

“Sebentar, Kakak nginget-nginget dulu kanjinya ….”

“Barusan nulis apa?” adiknya melongok pada tulisan yang dicoret.

Risky meletakkan lagi tangannya pada meja kemudian menggoreskan garis-garis.

日本語クラ

“Itu bacanya apa, Kak?”

Nihongo Kurabu.”

“Kalau yang dicoret itu?”

Nihongo Kurabu juga.”

“Eh, yang bener yang mana?!”

“Yang ini hiragana,” tunjuk Risky pada tulisan yang dicoret. “Ini kanji, ini katakana,” Risky menjelaskan tulisan yang baru.

“Eeeh, apaan tuh?”

“Orang Jepang tuh kalau nulis pakai tiga macam huruf: hiragana, katakana, sama kanji.”

“Banyak banget!”

“Emang ribet mereka tuh.”

Adiknya mengambil secarik kertas bertulisan Jepang itu dan menatapnya kagum.

“Eh, Teh Ocha tuh kuliahnya Bahasa Jepang, kan, ya, Kak?”

“Ho oh.” Risky mengangkat lagi robotnya.

“Kakak kalau ngobrol sama Teh Ocha pakai bahasa Jepang gitu?” ucap adiknya seolah-olah mulai menyangka bahwa bahasa Jepang adalah bahasa cinta.

“Ya, enggak dong,” tangkis Risky. “Pakai bahasa kalbu lah ….”

“Waaah ….”

Risky terbahak-bahak.

Read previous post:  
Read next post:  
70

Kak Dayeuh, kenapa semakin saya baca story-nya kakak, saya tambah penasaran ya? Satu karakter dengan yang lainnya punya hubungan yang erat, tapi seakan-akan ceritanya selalu berbeda dan tampak tak ada hubungan cerita selain karakternya.
Kan saya jadi kepo, mau dibawa kemana story ini? hehe
Novel Murakami Haruki yang saya baca cuma Norwegian Wood saja, kebetulan pernah diangkat filmnya dan yang main aktor favorit saya :). Saya baca sedikit tentang Murakami Haruki, yang saya tahu, dia penulis yang sudah banyak menelurkan karya best seller. Keren :D
Oh iya, koreksi kalau saya salah kak. "Nihon go kurabu (club)" itu bukannya "Klub Bahasa Jepang" ya? sedangkan "Klub Jepang" itu "Nihon no kurabu". "Go" itu artinya "bahasa"?
Penutupnya bikin saya ngekek. Mungkin, saya mau belajar sama Risky supaya bisa bahasa kalbu :p
OTW story selanjutnyaa.
Love, xoxo

hai, terima kasih udah mau baca lagi :)
ceritanya mau dibawa ke ending-nya lah, hehehe.
iya, Murakami Haruki terkenal banget, dan Norwegian Wood itu kayaknya satu2nya karya dia yang realistis deh, hehe.
terima kasih sudah berbagi pelajaran bahasa Jepang :D saya baru tahu. referensi saya dari ekskul jejepangan di SMA saya dulu namanya Nihongo Kurabu, dan kegiatannya macam2 semisal nari dan nonton film. pas saya googling sepintas, sepertinya di beberapa sekolah lain namanya Nihongo Kurabu juga, mungkin mereka benar2 belajar bahasa Jepang. anw, masukannya insya Allah saya pertimbangkan :D

60

gapapa ya dikasih nilai 6,
ga penting saya ngasih nilai berapa dan komentar apa tentang cerpen kamu,
yang penting keep writing dan semoga tak ikutan ngintip ngamera sembunyi-sembunyi...

novel murakami haruki?
ehm....
saya belum pernah baca jadi belum tahu,
disisipkan dalam cerita, berarti novelnya terkenal?
wah, nyari tahu dulu di google dah..