Bagian II. Alfian, SP Alternatif: Fazaha (Klub Jepang yang Mencurigakan~!)

Ketika Alfian memberitahukan idenya untuk membuat Klub Jepang, sebetulnya Fazaha tidak tertarik. Tetapi—seperti yang Alfian bilang sewaktu memaksanya agar membantu menjual pernak-pernik dari Jepang itu, “Sebagai pacar yang baik, kamu harus mendukung aku dong!”—mau tidak mau Fazaha menanggapi, “Klub Jepang ngapain aja?”

“Hmmm …” Alfian menatap Fazaha dengan pandangan kosong karena pikirannya sibuk berkelana mencari jawaban. Lalu ia berkata dengan yakin, “Pokoknya yang jejepangan.”

“Tapi, ngapain?” Fazaha semakin malas.

“Entar deh aku pikirin lagi. Yang penting kamu mau jadi wakil ketua, ya!”

“EEEH!”

Alfian keburu kabur.

Fazaha sudah melupakan ide tersebut ketika suatu saat sepulang sekolah Alfian memanggilnya. Cowok itu bersama serombongan cowok lain—teman-teman dekatnya.

“Ikut yuk!” seru Alfian.

“Ke mana?” jawab Fazaha.

“Main ke rumah! Klub Jepang tea! Kita mau nonton film Jepang!”

Fazaha menoleh kepada Lusiana yang membarenginya. “Temenin, yuk.”

Gadis berambut sebahu itu menyanggupi.

Angkot hampir penuh oleh rombongan anak SMP itu. Mereka patungan membayar ongkos dan berhenti di Jalan Buah Batu, kemudian melanjutkan berjalan kaki cukup jauh memasuki kompleks perumahan tempat tinggal Alfian.

Rumah Alfian berukuran sedang-sedang saja. Tidak ada yang menonjol dari dekorasinya yang didominasi warna putih dan cokelat tua, namun nyaman dipandang. Ada banyak tanaman hias di terasnya, baik yang diletakkan di bawah maupun digantung.

Mama Alfian yang berjilbab menyambut anak-anak yang satu demi satu menyalami punggung tangannya. Mereka disuruh makan siang dulu baru boleh naik ke lantai dua.

Di lantai dua, berhadapan dengan atap, ada ruang terbuka yang cukup luas diapit dua ruangan berpintu. Ruangan berpintu yang dekat dengan tangga berjendela terali dan menampakkan tumpukan barang tak beraturan. Mereka memasuki ruangan yang satu lagi, yang rupanya berukuran lebih luas—sekitar empat meter kali empat meter.

Tepat di depan pintu ada tempat tidur dari kayu ukuran single. Di sampingnya terdapat nakas yang memuat kotak seukuran berselubung kain hitam. Lantai pada bagian tengah ruangan dilapisi karpet merah besar.

“Kamu tidur sendiri di sini, Yan?” tanya Mahesa.

“Enggak, ini kamar Kakak. Aku mah tidurnya di bawah,” sahut Alfian.

Seketika Fazaha teringat pada om-om gendut kumisan yang ditemuinya tempo hari, yang telah memberinya dua jilid buku tentang cara membuat manga.

Di samping nakas ada meja belajar dengan kursi putar. Foto-foto menghiasi meja belajar itu, baik di sudut-sudut dekat dinding maupun dipajang pada dinding di atasnya. Fazaha mengamati sekilas foto-foto itu: foto keluarga di studio, foto-foto kecil ala mesin photobox yang memuat Kakak Alfian beserta seorang perempuan berponi yang kemungkinan pacarnya, foto Kakak Alfian beserta teman-temannya mengenakan seragam sekolah laki-laki seperti yang ada di komik-komik Jepang, dan …. Ada satu foto yang sepertinya sudah lama sekali diambil: seorang cowok berseragam SMA tengah menggendong anak kecil yang terlihat seperti baru reda menangis. Dari caranya menyengir—ditambah ciri-ciri fisik yang memang mirip seperti mata sipit, kulit terang, dan rambut lurus—cowok itu nyaris persis dengan Alfian. Hanya saja, pipinya tembam, badannya agak lebar, dan ia belum berkumis. Yang digendongnya itu mestilah Alfian ketika balita. Fazaha menyipitkan mata dan memanyunkan bibir. Jadi kira-kira begini, ya, si Piyan kalau SMA nanti.

Di samping meja belajar, di sudut ruangan, terdapat meja komputer berikut mesin pencetak. Di sebelahnya lagi terdapat bufet rendah panjang. Televisi 21 inci mengisi bagian atas bufet itu. Di bagian tengahnya terdapat beberapa mesin untuk memutar film, gim, radio, dan semacamnya. Selebihnya bufet dimuati deretan dan tumpukan kaset beragam bentuk.

Di sepanjang dinding berikutnya, bersisian dengan sakelar dan pintu, berjajar beberapa lemari kayu yang serupa. Bagian atas lemari berupa rak-rak berkaca, bagian tengahnya terbuka, sedangkan bagian bawahnya berpenutup. Rak-rak berkaca penuh oleh buku, bagian tengahnya diisi oleh tumpukan majalah serta aneka barang lain, dan entah apa yang terdapat di balik pintu kayu pada bagian bawah itu. Lemari paling ujung modelnya lain sendiri. Cermin panjang melekat pada pintu lemari itu. Sepertinya lemari yang terakhir itu menyimpan pakaian. Ruang di antara deretan puncak lemari dan langit-langit diisi oleh kardus-kardus yang pada dibungkus plastik. Di samping lemari, di bawah sakelar, terdapat keranjang sampah.

Mengikuti ungkapan ketakjuban teman-temannya, Fazaha baru menyadari bahwa di antara tempat tidur dan pintu terdapat satu lemari lagi yang berukuran lebih ramping dan seluruh permukaannya dari kaca. Lemari tersebut memamerkan banyak robot-robotan mulai dari yang sebesar genggaman sampai yang setinggi lutut. Anak-anak memandangi koleksi itu dengan kagum.

Sementara teman-temannya mengamati isi kamar, Alfian menyalakan televisi. Rezki mulai melihat-lihat koleksi film untuk menentukan mana yang kira-kira menarik untuk diputar.

Mama Alfian datang dua kali membawakan wadah minuman sirup berikut gelas-gelas serta beberapa macam kue kering. Lusiana membantu mengedarkan penganan tersebut sementara Fazaha malah mendekat pada lemari buku. Ia mendapati koleksi lengkap komik Dragon Ball sehingga deretan tepiannya membentuk gambar naga dari kepala dengan badan yang sangat panjang sampai ujung ekor. Ia menyisih sedikit ketika Alfian mengeluarkan setumpuk majalah dari bagian tengah salah satu lemari dan meletakkannya ke tengah anak-anak. “Nih, kalau mau lihat-lihat!”

Rupanya sebagian besar buku di lemari merupakan komik yang bukan hanya terbitan Elex atau buatan Jepang, tetapi ada juga yang lawas karya komikus Indonesia dan mancanegara lainnya. Sepintas semua dalam keadaan seperti baru dibuka dari bungkusnya, alih-alih mengeriting dan kumal seperti komik-komik di taman bacaan. Tiap-tiap buku dilindungi plastik bening bersegel yang sesuai dengan ukurannya. Semuanya tersusun rapi menurut judul dan nomor, meskipun terselip satu-dua yang acak.

Selagi terpesona oleh koleksi itu, tiba-tiba Fazaha mendengar teriakan. Rupanya segelas sirup telah menumpahi majalah. Alfian mengangkat majalah itu dengan panik. “Hah! Untung yang edisi terbaru!” serunya.

“Kenapa, Piyan?”

Anak-anak heran melihat Alfian yang heboh sendiri.

“Kak Iki kalau marah jadi Godzilaaa!” terang Alfian yang tidak terang-terang amat bagi anak-anak. Alfian mencengkam baju Mahesa. “Ayo, Sa! Kita cari kios majalah! Mudah-mudahan masih ada! Bawa dompetnyaaa!” Sepertinya Mahesa yang menumpahkan sirup tadi. Anak itu tidak berkutik diseret Alfian keluar dari kamar. Tidak lama kemudian, terdengar motor digerung.

Anak-anak terdiam sepeninggal keduanya. Sesaat mereka merasa kikuk berada di ruangan itu. Cowok-cowok merapikan majalah, toples kue, serta wadah film dan gim yang terserak. Lusiana menutupi tumpahan sirup pada karpet dengan lembaran-lembaran tisu sambil menekan-nekannya. Fazaha mengatur buku-buku yang ditaruh acak ke urutan semestinya. Semua melakukan dengan gerakan yang amat berhati-hati.

Kemudian mereka duduk berkumpul di karpet.

Tetapi, sembari menunggu Alfian dan Mahesa yang belum kunjung kembali, diam-diaman begitu malah membuat suasana bertambah kaku. Bukankah mereka ke sini untuk bersenang-senang? Mereka hanya harus berhati-hati.

Rezki memulai. Ia memundurkan duduknya sedikit demi sedikit hingga mendekat pada nakas di samping tempat tidur. Ia mengangkat kain beledu hitam yang menyelubungi kotak di atas nakas sambil mengintip. “Kayak Kakbah, ya, hehehe,” ucapnya memecah hening. Anak-anak bergerak menghampiri dan mengerubungi kotak yang pelan-pelan disingkap Rezki itu. Rezki meletakkan sebagian kain ke atas kotak sehingga kini isinya terpampang jelas. Di dalamnya terdapat patung-patung kecil atau figurine. Anak-anak memerhatikan semakin dekat.

Mereka terbelalak.

Fazaha dan Lusiana sontak menjauh, sementara cowok-cowok malah semakin melekatkan pandangan mereka pada kaca dengan mulut menganga. Lusiana memalingkan muka sembari memejamkan mata sementara Fazaha berteriak, “Tutup, ih, tutup!”

Namun cowok-cowok tidak menggubris. Mereka malah mulai mengikik dengan seru. Bersamaan dengan itu terdengar sayup-sayup suara Alfian, “Aaah, untung masih ada yang jual!” dan Mahesa, “Mahal juga, yah ….” Kedua anak itu muncul di pintu dan terheran-heran.

“Alfian! Itu apaan sih?!” seru Fazaha sembari mengarahkan telunjuknya pada cowok-cowok yang masih asyik mengitari kotak.

Alfian terperangah, lalu cengengesan. Mahesa buru-buru bergabung dengan cowok-cowok dan turut terpukau.

“Eh, udah, udah, hihihi ….” Alfian menegur teman-temannya. Rezki menurunkan kain beledu menutupi kotak itu. Cowok-cowok sembari mesem menyeret diri mereka ke tengah-tengah ruangan lagi.

Lusiana menarik-narik lengan baju seragam Fazaha dengan waswas. Fazaha balas memandangnya dengan risau. Di dalam kotak itu tadi semua figurine berwujud perempuan dengan pakaian yang sangat terbuka, malah ada yang hampir tidak tertutup sama sekali.

Namun di antara cowok-cowok suasana telah cair lagi. Insiden tumpahnya sirup seolah-olah tidak pernah terjadi. Mereka asyik mengobrol sementara Alfian mengarahkan remote pada televisi dan mengambil kaset film yang disodorkan Rezki.

Fazaha dan Lusiana pelan-pelan duduk bersandarkan tepi tempat tidur, berusaha memulihkan diri.

“Film apa ini?” tanya Lusiana ketika film mulai diputar.

Rezki menampakkan kover film pilihannya.

“Kok kayak horor sih?” protes Lusiana.

Rezki cuma cekikikan. Mahesa menyodorkan tumpukan majalah pada kedua gadis itu. “Nih, kalian baca aja.”

Mau tidak mau Fazaha dan Lusiana menurut. Mereka mengambil masing-masing satu dari tumpukan yang semuanya Animonster itu. Semua halaman majalah tersebut berupa kertas tebal penuh warna. Sebenarnya asyik juga melihat-lihat isinya. Fazaha menjadi tahu banyak hal yang tampaknya sedang populer di Jepang tetapi belum tentu di Indonesia. Ia memerhatikan gaya karakter yang berlain-lainan pada setiap anime atau manga, juga dandanan orang Jepang yang aneh-aneh. Menarik juga mengetahui tentang tokusatsu, membandingkan karakter 2D dengan pemeran manusianya.

Sedang asyiknya melihat-lihat, Fazaha merasakan tarikan pada lengan baju seragamnya lagi. Ia menoleh dan mendapati wajah Lusiana mengarah kepadanya namun gadis itu memejamkan matanya kuat-kuat. Tangan Lusiana yang satu lagi menunjuk-nunjuk ke arah televisi. Fazaha menoleh dan terkesiap. Sekonyong-konyong ia menutup matanya juga dan menjerit.

Buru-buru Alfian mengeluarkan keping VCD dari mesin sedang cowok-cowok berpaling dengan salah tingkah ke arah dua gadis itu.

“Kalian nonton apaan sih?!” seru Fazaha sembari membuka jemari yang menutupi wajahnya perlahan-lahan. Layar televisi sudah tidak lagi menampakkan gambar hidup, atau, lebih tepatnya, sosok-sosok tanpa baju yang entah sedang berbuat apa ….

“Enggak tahu tuh, si Piyan!” Mahesa menunjuk Alfian.

“Ih! Rezki yang milih!” Alfian menunjuk Rezki.

“Eh, kirain film horor!” balas Rezki.

Lusiana menarik-narik lengan baju seragam Fazaha lagi sembari membisikkan rengekan, “Pulang aja, yuk!”

Fazaha mengangguk mantap dan merenggut ranselnya. “Kita mau pulang!” Lusiana cepat-cepat menyusul Fazaha keluar dari kamar.

“Jahe-chaaan!” Buru-buru Alfian mengejar. Ia berhasil menyambar ransel Fazaha sehingga langkah gadis itu tertahan.

Fazaha berhasil membebaskan ranselnya dari jambretan Alfian. “Katanya Klub Jepang! Malah klub porno!”

“Ssst!” Alfian menempelkan telunjuknya ke bibir. Jelas cowok itu takut terdengar oleh ibunya di lantai bawah. “Itu juga Jepang, tahu!” desisnya tak mau kalah.

“Jepang apaan?!”

“Jepang … Adult Video, hihihihihi.”

Fazaha dan Lusiana meringis jijik.

“Bilangan mamanya, lo!” ancam Lusiana.

“Eh, jangaaan …! Ayo kita nonton lagi! Kalian yang milih filmnya deh!”

Bodo ah! Pokoknya kita mau pulang!” Fazaha membalik badan, diikuti Lusiana.

Kedua gadis itu berusaha keras untuk maju sekalipun Alfian menarik ransel mereka kuat-kuat.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
60

Fian nakal ya, bilangin mamanya lho... hehe
Hm... kira-kira, Jahe-chan makin kesal nggak sama Fian karena kejadian ini? sedangkan Fian, masih seperti sebelumnya, tetap jadi clueless boy.
Eh, bikin penasaran banget deh kelanjutannya.
Ditunggu sangat!
Love, xoxo

terima kasih sudah mau baca lagi :"))
dirimu ada di St*r**l ga?

30

gapapa ya ngasih nilai 3, ga penting saya ngasih nilai berapa dan komentar apa,
yang penting keep writing..
saya ini komentar begini sebab bingung juga sih,
mau menulis atau komentar saja pun akan terkesan buruk,
selalu terlihat atau terkesan yang negatif,
ah, apa gara-gara menulis dan membaca dan mengomentari tulisan bisa sampai dibenci ribuan orang?
bisa?
kok, bisa?
atau hanya perasaan..
akakakakakak,