O PIN ION

Sesaat setelah membaca cerpen d.a.y.e.u.h yang terbaru ku tertarik mencari informasi tentang Murakami Haruki. Ku tertarik pada novelnya yang berjudul 'IQ84'. Ku terbiasa mencari tahu apa yang belum kutahu dan kucari informasi yang lebih lagi dan kubaca tentang ulasan novel dengan judul itu.

Menurut yang kubaca bahwa ternyata ada 10 pelajaran hidup yang bisa diambil dari buku tersebut; dan, ternyata aku sering mengatakannya dalam setiap waktu menulis atau mengomentari di beberapa waktu lalu itu. 10 pelajaran hidup itu adalah:

1. Adakalanya kita harus peka pada hal-hal kecil dalam hidup.

2. Siapa pun bisa jadi teman kita, tanpa kita duga atau kita harapkan sekalipun.

3. Berhati-hatilah dalam menilai orang lain.

4. Walaupun dipandang sebelah mata oleh masyarakat (orang banyak), siapa pun memiliki bakatnya masing-masing.

5. Kerja keras itu penting untuk hasil yang terbaik, (walaupun ukuran kerja keras itu kadang dianggap bukan kerja keras oleh orang lain).

6. Pengalaman masa kecil membentuk siapa kita saat ini.

7. Belajarlah menerima sesuatu, walaupun itu buruk sekalipun.

8. Seburuk-buruknya kita, kita berhak hidup normal seperti kebanyakan orang dengan mengubah hidup menjadi lebih baik.

9. Kita butuh seseorang untuk kita cintai agar hidup menjadi lebih bergairah.

10. Cinta bisa membuat kita melakukan tindakan apapun sekalipun itu berbahaya.

 

When reading, we don't fall in love with the characters' appearance. We fall in love with their words, their toughts, and their hearts. We fall in love with their souls -Anonymous.

Aku berpikir untuk tidak panjang-lebar dalam menceritakan hasil pencarianku di internet. Buat apa?

Sebenarnya yang harus diketahui oleh penguntit adalah mengganti kegiatan menguntit dengan membaca banyak novel dan menjadi tahu apa yang menyebabkan setiap penulis memiliki cara penulisan yang berbeda. Dan, tentu saja ceritanya itu menentukan seberapa baik atau buruk si penulis novel dan si penerjemah atau pengalih bahasa yang menerjemahkan ke berbagai bahasa yang lain sesuai kemana buku itu akan dipasarkan.

Jangan tanya soal cerpen atau puisi yang kutulis!

Itu semua orang bilang tak bagus. Satu-satunya yang aneh adalah kenapa begitu bayak orang yang ingin tahu kenapa aku menceritakan dengan penulisan seperti acak-acakan tetapi tampak bagus dalam memengaruhi pembaca yang sampai ada yang menguntit itu. Ada rumor beredar aku menulis cerita hantu-hantu yang meninggal dan menjadi inspirasi cerita. Itu terlalu berlebihan. Aku hanya belajar menulis. Itu saja. Tidak ingin menjadi terkenal juga.

Silahkan pikir sendiri untuk apa aku menulis cerita ini?

Apakah yang kutulis ini sebuah cerita?

Ya, ini sebuah cerita. Aku bercerita tentang pencarianku tentang Murakami Haruki. Tidak terlalu mengasyikan. Hanya menjadi asyik ketika kuhayalkan pada masa sebelum internet ada dan merajalela. Tentu aku harus mencari ke toko buku. Atau, ke perpustakaan. Memangnya ada di perpustakaan? Entahlah. Aku berjalan kesana-kemari menemui satu atau dua orang untuk bertanya. "Hey, ada yang tahu tentang Murakami Haruki?"

Aku asal saja menulis disini begini.

Kalau bicara tentang apa yang kubisa maka aku akan menulis apa yang kubisa. Seperti begini...

Tertunduk dalam kesedihan, bukan manusia hidup

terbaring tak bergerak, bukan manusia mati

saat terbaring tak bergerak tak perlu tertunduk sedih meratapi

sebab sendu tak membawa harapan baru apalagi semangat meletup-letup

 

menggapai mimpi itu berani hidup bukan takut hidup

kau, harus memberi semangat pada siapa pun yang hidup

maka itu pula yang harus kau beri

agar ia menjadi hidup berarti sebelum ia mati

bukan menyengsarakannya hingga ia mati

 

Apakah puisi ini bagus? Aku tidak mendalaminya sebab aku menulisnya begitu saja. Entah apa pembaca bilang sebab aku tidak tahu siapa saja pembacaku, sekolahnya dimana, orang mana, berpendidikan tinggi atau tidak, aku tidak tahu. Aku tidak tahu. Yang jelas semuanya yang membaca tentu dari berbagai kalangan.

Ini mungkin terkhir kali aku menulis.

Beberapa hari lagi ramadan.

Marhaban ya ramadan..

Semoga aku sebulan penuh menjalani ibadah shaum. Ini bukan genre detektif rupanya. Jadikan kategori detektif saja, mencari petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi terhadapku si penulis aneh. Wow, mungkin saja bayak mahluk halus yang ingin berbagi cerita. Memangnya ada hantu membuat cerpen? Ada orang kerasukan lalu menulis cerpen atau puisi?

Apakah kalian percaya?

Semoga tidak.

Itu rumor.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post