opin ion

Kubaca sesuatu, itu dari Teman Takita.com. Ya, sedikit mengulas sikap apresiatif, appreciate, menghargai. Kita mungkin perlu tahu apa itu apresiasi dan bagaimana ia melejitkan kebahagiaan. Jadi, sangat jelas bahwa orang yang membenciku tak suka bila kubahagia. Dan setiap tulisan tak pasti baik dikomentari, apapun jadinya setiap pembenci takkan baik bila mengomentari. Aku ingat ketika menulis 'setasiyun fatamorgana' dan ada beberapa pembenci yang mengomentari bahwa aku sedang menghina hape, ada juga aku disebut ngaku-ngaku makmur, lalu ada juga menghina fatamorgana. Itu sudah lama tapi kudengar mereka berkomentar dan tetap teringat sampai sekarang.

"Jiga nu manehna bisa nyieun hape wae." Ada juga terdengar ada orang berkata begitu waktu itu.

Jadi, fakta terbalik sudah. Banyak orang mengira aku yang penghina padahal bukan. Setasiyun fatamorgana, itu kutulis tahun 2015. Jadi cukup lama ku dikomentari negatif. Bahkan sejak awal menulis, mungkin. Sebab isu agama yang dipautkan dengan cerpen atau puisi semisal cerpen berjudul 'anjing beranak kucing' itu. Siapa yang berkomentar begitu? Bisa jadi beberapa orang di lingkungan tempat tinggal di gang wibawa 2 dan tidak tahu siapa.

Apa yang menjadikan seseorang mampu berpikir jernih dan menyebabkan orang berpikir tak bersih?

Jawabannya tentu di dalam dada, yaitu hati. Hati orang yang membenci dan mendengki menjadikannya bermasalah dalam penilaian dan mengambil kesimpulan, conclusion. Misalnya bila ada buku berjudul ' robohnya surau kami' maka bila saja seandainya aku yang menulis maka pembenci itu akan bilang aku  menghina surau. Dibaca juga belum sudah berkomentar duluan. Ya, itu hanya contoh.

Bila ku beri judul 'perempuan-perempuan telanjang' di karya berikutnya, misalnya. Maka akan dikomentari bahwa itu judul yang merusak moral. Mungkin akan berkomentar begitu. Entahlah. Ketika diketahui bahwa berpikir itu melalui tahapan demi tahapan dan ada langkah-langkah yang harus diambil dalam tahap berpikir itu, maka akan mengherankan bagaimana kebencian bisa membuat orang tak merasa perlu berpikir dan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kesimpulan buruk tentunya. Bagaimana mungkin bisa menimbang dengan proporsional dan adil hingga tepat mengambil kesimpulan akhir bila hati akibat dengki menjadi berat sebelah dan merasa benar dengan perbuatan tak baik itu. Tak baik mendengki itu sebab membuat siapa pun yang dihinggapi penyakit hati itu menjadi tega dan senang berbuat buruk agar yang didengkinya itu menderita. Menjadi bahagia melihat orang lain menderita dengan rencana-rencana jahat yang disusunnya berarti sudah hilang akal sehat.

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, itu kutipan lagu Ebiet G Ade. Dan maknanya dalam.

Percaya atau tidak, di kalimat dalam setiap cerita itu aku tak pernah menggunakan kalimat yang bermakna ke arah seksualitas fisik dan mengganggu pikiran yang memengaruhi pembaca membayangkan yang tidak-tidak. Aku misalnya menulis cerita komedi begini.....*

 

Ceritanya begini....

Si Otong

Otong: "Tolong.. Tolong... Ada mayat perempuan. Ada mayat permpuan dengan dada terbelah."

(Otong berlarian memberi tahu orang terdekat dari tempat kejadian dan terus berlari)

Penduduk yang datang duluan ke TKP sebagian jadi marah dan si Otong yang berlari kesana-kemari kemudian ketawa sendiri sambil menahan malu setelah tahu ia salah. Maklum si Otong itu anak kecil yang kaget melihat perempuan di jalan terlentang.

Pak RT: "Otoooong.. Otooong!! Ngasal aja, ini perempuan pingsan dengan terlihat belahan dada malah dibilang ada mayat dengan dada terbelah."

*

Apakah cerita itu masuk kategori komedi?

Apakah cerita jorok?

Itu bukan cerita yang tersusun dengan baik dan tidak ada nilai pengajaran apapun.

Apa kata penguntit? Bagaimana mereka akan berkomentar?

Aku tidak tahu.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post