Bukan Pecinta Ulung

aku ingin dicintai Tuhan,

aku ingin disayangi Tuhan,

karena itu aku mencuri

 

aku mencuri waktu untuk belajar tentang cinta dan tentang Tuhan,

aku mencuri waktu di sela-sela kesibukan

kesibukanku hanya melamun dan membayangkan cinta Tuhan

aku mencuri

 

Allah mencintai hambanya yang sabar,

apakah aku sudah cukup bersabar?

 

Allah mencintai hambanya yang bersyukur,

apakah aku sudah cukup bersyukur?

 

bilaku bukan hambaMu,

maka ku ingin jadi hambamu

 

Tetapi sebagian orang bilang bahwa hamba tak memiliki kebebasan,

maka aku ingin menjadi pengabdiMu,

pertanyaanku, sudahkah aku bersabar?

pertanyaanku, sudahkah aku bersyukur?

 

kebebasanku bukan bebas kebablasan sebab ingin dalam tata aturan,

tapi, aku bukan pecinta ulung yang pandai memainkan cinta agar tak jatuh dan hilang dalam lumpur kenistaan,

 

semoga saja menjadi lebih baik, hanya itu yang tak henti kupanjatkan

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer man Atek
man Atek at Bukan Pecinta Ulung (3 weeks 4 days ago)
100

bagus banget, sipsip!

Writer nusantara
nusantara at Bukan Pecinta Ulung (6 weeks 20 hours ago)

puisi ini buat tokoh di cerita kartini yang tak dirindukan, gagasan muncul dari karya-karya sendiri sebelumnya dan dari karya-karya yang dibaca dari orang lain.

dari saya membaca filsafat cinta, filsafat mainan, ada juga jadi membentuk pemikiran bahwa cinta itu sesuatu yang harus dimainkan didalam hati agar tetap di atas (on the top) tidak jatuh dan berganti kebencian yang melahirkan dengki, bila dengki on the top di hati maka jadi manusia tak bernurani.

orang keki itu menguntit dan selalu membuat penjelasan sendiri untuk memengaruhi orang agar ikutan keki bareng komplotan keki itu. seperti mengambil kesimpulan bahwa saya menganggap cinta itu mainan dan saya suka menganggap perempuan itu mainan,

ada juga soal anu, isu agama juga, saya tidak mengkritik atau menghina hukum rajam mati pezina atau pelacur sebab pelacur tentu berzina dan seolah saya dianggap sedang berfatwa bahwa pelacur itu tak perlu di hukum rajam cukup salat taubat dan bersyahadat saja.
wah,saya sedang membuat cerita dan bukan sedang berfatwa.

ya, saya sedikit heran bila ternyata hanya suara samar-samar dari jauh saja bukan orang datang mengutarakan ketidak-sukaannya dan saya jadi tahu apa yang harus saya perbaiki dari ide-ide yang dituangkan itu dalam belajar menulis.

saya punya keinginan membuat cerita utuh dengan satu judul tetapi kisi-kisinya saya tuangkan dalam cerpen dan puisi yang pendek-pendek macam begini dengan judul yang banyak pula, kalau mau dikata ya memang ini semacam potongan-potongan naskah yang ingin dibikin satu cerita tapi belum kelar-kelar dan akhirnya malah senang menulis di pendekin tapi berkelindan alias masih ada sambungan-sambungan dengan cerita sebelumya dari awal.
malah jadi terlalu banyak karakter dan cerita menjadi banyak tema dan itu sudah tidak mungkin disusun ulang jadi satu judul buku.
yach,siapa yang mau bikin buku? saya?
setelah semua ulah penguntit bertahun-tahun itu ya buat apa saya membuat buku novel?
saya menulis saja akhirnya, hanya menulis,