Belajar Tafsir Dan Terjemah (jangan ada yang mencibir soalnya dalam belajar itu tentang perihal salah adalah kewajaran, jadi begitulah))

1. Alif Lam Ra. Itulah ayat-ayat kitab yaitu Al-quran (bacaan) yang memberi penjelasan.

-Menggunakan kata penunjuk jauh itu (tilka) sebab yang dimaksud itu adalah suatu bentuk keterangan yang masih jauh dari hati walaupun di dalam genggaman dan di hadapan mata yang mana hal itu menunjukan bahwa bentuk keterangan itu harus di internalisasikan menjadi isi hati. Menjadi dekat di hati sebab sudah menjadi isi hati dan memberi cahaya petunjuk pada hati menghapuskan kegelapan hati.

-Al-quran memberikan keterangan yang jelas menyoal hati manusia. Hati yang tak sempat kita kenali. Hati yang menjadikan manusia bersifat yang indah-indah dan berperilaku yang indah-indah pula. Begitupun sebaliknya, saat manusia gelap hati ia menjadi seburuk-buruk mahluk dengan seburuk-buruk perilaku dengan kedengkian yang menguasai hatinya.

2. Mereka yang kafir (gelap hati) itu di akhirat kadang mengharapkan sekiranya mereka adalah golongan yang berserah diri terhadap ajaran Allah di dunia.

-Nyatanya mereka menjadi hidup dibawah kendali hawa nafsu dan ego mereka sendiri dan hidup tanpa memegang kuat ajaran Allah untuk hidup yang hasanah, baik menurut mereka sendiri dan menguntungkan bagi diri mereka sendiri, dan itu bukanlah manusia yang berserah diri terhadap ajaran Allah.

3. Biarkanlah orang-orang yang ingkar itu menikmati kesia-siaan mengonsumsi produk hawa nafsu mereka sendiri dan bersenang-senang dan diperdaya oleh angan-angan kosong mereka. Kelak mereka akan mengetahui akibat dari ulahnya itu.

-Produk hawa nafsu itu maksudnya produk pemikiran semacam imperialisme, komunisme, fasisme, firaunisme, imperiumisme, liberalisme dan lain-lain pemikiran ciptaan manusia yang tidak ada dasarnya dari ajaran Allah. Setiap pemikiran ciptaan manusia tidak selalu mementingkan kepentingan bersama sebab tidak ada dasar-dasar yang jelas dari Allah yang tidak pernah membeda-bedakan golongan menurut warna kulit, suku, bangsa, dan lain-lain sebab semua manusia ciptaan Allah. Manusia berusaha adil menurutnya sendiri namun takkan bisa bila tanpa aturan dari Allah. Produk hawa nafsu manusia itu yang paling jelas adalah sistem penjajahan dan perbudakan.

*

Apakah mengemukakan hal ini adalah hal yang buruk?

Sepertinya tidak.

*

4. Dan tidaklah Kami binasakan suatu negeri melainkan sudah ada ketentuan yang ditetapkan baginya.

-Ketentuannya itu adalah bila terdapat kelompok besar yang gelap hati sepertihalnya kaum-kaum di masa lampau yang enggan berbenah dari kejahiliahan dan dibinasakan pada akhirnya oleh Allah.

-Pada masa Nabi Muhammad pra islam itu penuh kejahiliahan dan itu akan menjadi sumber petaka bagi generasi mendatang dan Nabi Muhammad menyarankan dengan teramat sangat untuk setiap orang mau merevolusi diri dalam perbaikan diri untuk perbaikan generasi bangsa, sebab bila tidak melakukan upaya perubahan yang signifikan maka akan dibinasakan seperti kaum-kaum pada masa lampau yang dikisahkan di Alquran.

5. Tidak ada satu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak dapat pula meminta penangguhannya.

-Kebinasaan itu adalah sebuah akibat dari ulah si manusia itu sendiri dan untuk mencegah kebinasaan itu maka manusia melakukan perubahan di berbagai sendi kehidupannya untuk masa depan, untuk generasi kemudian, agar menjadi lebih cerah.

-Maka diketahui bahwa kejahiliahan lambat laun akan membawa kebinasaan dan ketika saat itu tiba itu karena tidak ada perubahan signifikan hingga tak mampu mengelak dari kebinasaan. Maksudnya juga bukan lain adalah menjelaskan nasib bangsa bisa diubah sehingga  Nabi Muhammad dengan Al-quran yang dibawanya menghidupkan harapan bagi bangsa Arab kala itu untuk memulai suatu peradaban mu'min dan menyelamatkan bangsa Arab dari jurang kehancuran.

-Dengan pemaham sederhana menjadi seperti ingin berkata' "saat ini bukan ajal dari peradaban bangsa kita, dengan Alquran kita memulai peradaban kita."

-Di Al-quran dikisahkan firaun yang bersikap ingkar terhadap wahyu Allah dan akhirnya Allah binasakan. Itu nasib firaun dan kaumnya tapi bukan nasibnya kaum yang didakwahi Nabi Muhammad sebab menyadari bahwa perubahan itu penting dan dapat menghindarkan mereka dari kebinasaan.

6. Dan mereka (orang-orang yang ingkar sebab gelap hati) berkata: "Wahai, orang yang kepadanya Al-quran diturunkan, sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah benar-benar orang gila."

-Mereka ini adalah orang-orang yang merasa dihinakan sebab apa yang disampaikan Muhammad seolah menghinakan mindset mereka tentang kehidupan dalam  berkebangsaan dimana mereka itu merasa sudah mapan dengan falsafah nenek moyang mereka yang diajarkan turun-temurun itu. Padahal, tak jarang di antara suku-suku yang sering terlibat peperangan itu adalah karena alasan sepele dan menjadi larut dalam peperangan yang tak perlu, dan itu adalah warisan yang buruk bagi generasi mereka di kemudian hari. Mereka mengatai gila dan pembangkang nenek moyang.

7. (Mereka melanjutkan perkataan mereka). "Mengapa tak kau datangkan Malaikat kepada kami, jika engkau memang orang yang benar?!"

-Mereka ini meminta Malaikat Jibril yang memberi wahyu kepada Nabi Muhammad agar langsung saja menyampaikan kepada mereka dan jangan melalui Nabi Muhammad. Mereka meragukan Malaikat Jibril mendatangi Muhammad, mereka mengira itu hanya akal-akalan Nabi Muhammad agar banyak orang yang mengikutinya.

-Tentu sekarang tahu hadis tentang larangan melihat siapa yang bicara yang berbunyi: "lihatlah apa yang dibicarakan dan jangan melihat siapa yang mengucapkannya."

8. Kami tidak menurunkan Malaikat melainkan dengan kebenaran (untuk membawa adzab) dan mereka ketika itu tidak diberi penangguhan.

-Kalaulah Allah mau kirimkan Malaikat maka itu bukan Jibril tapi Malaikat pembawa adzab bagi mereka kaum yang sombong dan penuh kedengkian itu yang mengatai Nabi Muhammad seorang yang benar-benar gila.

9. Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-quran dengan nama lain Adz-dzikr, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.

-Adz-dzikr itu mengarahkan pada pengertian kondisi sadar, jadi Alquran itu untuk membuat manusia menjadi sadar bukan menjadi gila, sadar siapa dirinya di hadapan Allah dan menjadi tahu diri bukan menjadi lupa diri apalagi menjadi lupa Tuhan.

-Dan setiap wahyu yang disampaikan itu disampaikan dalam keadaan sadar dan bukan seperti orang yang kerasukan atau seperti orang yang sedang hilang kesadaran.

10. Dan sungguh Kami telah mengutus Rasul-Rasul sebelummu (Muhammad) kepada umat-umat terdahulu.

-Malaikat Jibril memberi tahu banyak hal di banyak kisah kehidupan pendahulu-pendahulu Nabi Muhammad untuk memahami situasi dan kondisi yang akan dihadapi dan mencontoh sikap positif para pendahulunya dalam mengahadapi sikap negatif orang-orang yang memusuhinya.

11. Dan setiap kali seorang Rasul datang kepada mereka, mereka selalu memperolok-oloknya.

-Kebanyakan Rasul itu dari golongan rendah yang dianggap tak berarti dan kurang dihargai karena manusia biasa dan disebabkan ada golongan yang lebih tinggi dalam kekuasaan dan kekayaan, maka olok-olokan selalu menjadi hal yang dipastikan akan selalu diterima oleh setiap Rasul.

-Banyak di ayat lain diajarkan mengucap "anaa illa basyarun mitslukum."

*

Lagi belajar, semoga tidak ada yang berpikiran yang tidak-tidak...

*

12. Demikianlah Kami menyingkapkan olok-olok (akibat kedengkian itu menjadi isi hati mereka) di dalam kegelapan hati golongan para pendosa.

-Mujrimun itu orang yang berbuat buruk dan berdosa dan disebut pendosa tetapi mereka tak merasa menjadi pendosa dan merasa tidak berdosa bila berbuat buruk.

-Mereka yang mujrim bisa menghalalkan apa saja untuk kepentingan sendiri atau segolongan. Berani melanggar Hak Asasi Manusia dan berani melanggar asusila atau melakukan pelecehan. Jahat seperti firaun tetapi tak merasa seperti firaun.

-Buka surat Al-qalam:35. "Maka apakah patut Kami jadikan perilaku orang-orang yang berserah diri terhadap ajaran Allah bagaikan perilaku orang-orang yang menghamba hawa nafsu yang gemar berbuat dosa."

13. Mereka tidaklah berpandangan dan bersikap hidup dengan Al-quran (sebagai satu-satunya pedoman hidup mereka) padahal telah berlaku ketetapan terhadap orang-orang terdahulu (sebelum mereka).

-Karena Al-quran itu wahyu dan sama dengan kitab pendahulu-pendahulunya yang mengajarkan manusia tentang baik dan buruk, tentang hati yang terang dan hati yang gelap, tentang hati yang sehat dan hati yang sakit; dan ada sebagian manusia mengingkari kebenaran itu dan tak meyakini Al-quran itu wahyu dari Tuhan sedang sebagiannya mengimaninya bahwa itu dari Allah SWT.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Oh, iya..
buat yang baca dari golongan ustad tolong jelasin di Al-hijr:1, apa alasannya setelah "wa" kalimat berikutnya dalam keadaan majrur (wa quraanin mubiinin)?

saya itu merasa bodoh, orang bodoh, beneran,
bertanya juga beneran,
bukan saya pura-pura tidak tahu ilmu nahwu dan sharaf,
nanya beneran..