Fallen Angel ~ Part 01

Bagian satu ~ part one

 

Apakah kalian tahu, ketika malaikat melakukan satu kesalahan, sekecil apa pun itu, dia kemudian akan dijatuhkan ke bumi?

 

“Aku sudah memberikan kalian pilihan, dan kalian yang telah berjanji pada-Ku.” Kata Tuhan, memandang kepada Blanc dan Noir.

Blanc dan Noir hanya dapat menunduk. Ada kerutan dalam di antara alis Noir. Wajahnya menunjukkan bahwa Noir ingin mengatakan sesuatu tetapi ditahannya. Berbeda dengan Blanc, Blanc hanya memandang kakinya dengan tenang seakan tahu benar kesalahannya.

“Apa yang ingin kau katakan pada-Ku Noir?” Tanya Tuhan. Noir tersentak, dia sadar tak ada yang bisa ia sembunyikan dari Tuhan.

“Kami tidak bersalah.” Ucap Noir lirih tanpa berani mengangkat wajahnya.

“Kau tahu kesalahanmu Blanc?” Tanya Tuhan kemudian, mengalihkan pandangan-Nya pada Blanc.

“Ya, Tuhanku. Aku tahu kesalahanku.” Kata Blanc tenang. “Tapi ini murni kesalahanku. Noir sama sekali tidak bersalah. Akulah yang pertama kali melakukannya.” Lanjut Blanc mengagetkan Noir atas perkataannya.

Tuhan memandang Blanc. Malaikat cantik itu tetap menunduk menunjukkan kepatuhan yang mendalam kepada tuhannya dan Tuhan tahu akan itu. Tuhan juga tahu bahwa dibalik ketenangan sikap Blanc, ada setitik kegelisahan dalam hatinya.

“Itu tidak benar Tuhanku!” Jawab Noir keras. “Blanc tidak bersalah! Akulah yang memulainya!” lanjutnya lagi.

“Cukup. Tanpa kalian menjelaskan pada-Ku pun Aku sudah mengerti.” Jawab Tuhan tegas. Blanc dan Noir terdiam, tertunduk semakin dalam. “Kalian sudah tahu apa akibatnya jika kalian mengingkari janji kalian. Karena itu kalian berdua akan kuhukum.” Lanjut-Nya lagi. “Kalian berdua akan kuturunkan ke bumi.”

 

Empat bulan lagi menuju pernikahan Verde.

Verde memandang kalender yang bertengger di atas meja kerjanya. Hari ini Verde berencana ke designer kenalannya untuk mempersiapkan gaun pernikahannya. Persiapan pernikahannya sudah selesai hampir 50%, sayangnya keperluan yang lain harus menunggu karena tunangan Verde harus pergi ke luar kota untuk bekerja.

Verde menuangkan kopi hitam ke cangkir kesayangannya dan menghirupnya sedikit. Waktu baru menunjukkan pukul 07.00 sedangkan pukul 09.00 Verde baru akan menemui designer-nya. ‘Masih ada waktu’ pikir Verde. Verde membuka-buka koran paginya sambil menikmati kopi hitamnya. Tidak ada satupun berita dalam koran yang dapat menarik perhatian Verde. Setelah meletakkan koran paginya, Verde memutuskan untuk keluar dan berjalan-jalan di pasar pagi dekat rumahnya. Dengan mengenakan jaket tebal dan syal kesayangannya, Verde kemudian keluar rumahnya dan mulai berjalan menuju pasar tersebut. Verde menarik jaketnya lebih rapat untuk menutupi tubuhnya. Pagi ini terasa sangat dingin meskipun matahari sudah tinggi. Angin yang berembus juga terasa membekukan, tetapi Verde selalu menyukai musim dingin seperti ini.

Verde menyempatkan dirinya berhenti dan membeli sup jagung hangat dan sekantung kastanye asin. Suasana pasar pagi ini tidak begitu ramai, mungkin karena dinginnya pertengahan musim dingin di sini. Verde berniat mencari tempat untuknya duduk dan menikmati pagi. Di ujung jalan setapak yang dilalui Verde terdapat taman mungil dengan beberapa tempat duduk yang nyaman, Verde kemudian berjalan menuju taman tersebut, hanya saja ada sesuatu yang kemudian menghentikan langkahnya dan menarik perhatiannya. Sehelai bulu yang panjang dan sebening embun tergeletak dengan cantiknya di dekat celah bangunan yang gelap.

Verde berjalan mendekati bulu indah itu. Belum pernah sekalipun Verde melihat benda seindah itu. Ketika Verde berusaha meraih bulu transparan itu, terasa di jari-jari Verde betapa rapuhnya bulu cantik itu. Hanya dengan sentuhan ringan bulu itu dapat hancur. Semakin dekat Verde melihat, ternyata tidak hanya satu bulu yang tercecer. Ada beberapa bulu lain yang tergeletak disekitarnya. Verde berpikir, hewan macam apa yang memiliki bulu secantik ini?

Ruang diantara dinding bangunan itu menarik Verde untuk mendekat. Seperti magnet yang menarik kuat besi, Verde berjalan perlahan menuju ruang gelap itu.

Sosoknya tersembunyi di balik bayang-bayang dinding yang dingin. Sinar matahari tak dapat meraih tubuhnya yang seputih porselen. Rambutnya yang sepanjang bahu berwarna emas dan berkilauan bahkan tanpa pantulan sinar matahari. One piece putih yang membalut tubuhnya tampak kotor. Kakinya yang telanjang menampakkan kulit dan lekuk yang indah. Sepasang sayap transparan menyembul layu dari balik punggungnya. Verde terpana memandang makhluk dihadapannya. Dia adalah makhluk paling cantik yang pernah dilihatnya.

“Hei…” panggil Verde. Tak ada reaksi apapun dari makhluk cantik itu. Verde memperhatikan dengan seksama. Dengan one piece setipis itu udara dingin ini tak akan tertahankan, belum lagi kakinya yang tak terlindungi sama sekali. Entah apakah dia tengah tertidur atau lebih buruk dari itu, Verde perlahan melepaskan syalnya dan mengalungkannya di leher makhluk cantik itu, saat itu lah perlahan mata makhluk itu membuka.

“Kau… tidak apa-apa?” tanya Verde. Verde memandang mata cantik makhluk itu yang membalas memandangnya. Warnanya biru seperti langit yang cerah dan tampak sangat lembut.

“Selamat pagi.” Jawabnya pelan.

“Se-selamat pagi.” Balas Verde, kaget dengan jawaban yang diberikan makhluk itu.

“Terima kasih syalnya, aku merasa lebih hangat sekarang.” Katanya lagi, tersenyum. “Namaku Blanc.”

“Verde.” Jawab Verde.

 

Siulan panjang terdengar dari teko logam milik Verde. Wangi teh jasmine memenuhi ruangan segera setelah Verde menuangkan air panas kedalam teko teh cantik miliknya. Verde juga sudah menyiapkan selembar roti dengan telur untuk Blanc selagi Blanc membersihkan dirinya. Entah bagaimana Verde berakhir dengan mengajak Blanc untuk singgah ke rumahnya. Verde hanya merasa bahwa Blanc terlalu murni untuk melakukan kejahatan ataupun membahayakan dirinya –atau mungkin terlalu cantik untuk orang jahat?- Yang Verde ingat hanyalah dia mengulurkan tangannya dan mengajak Blanc untuk ikut dengannya apabila Blanc tak punya tempat tujuan.

Blanc merendam tubuhnya dalam air hangat. Tubuhnya terendam sampai sebatas bibir, menyebabkan gelembung-gelembung kecil saat Blanc mengeluarkan udara dari mulutnya. Sudah hampir 72 jam Blanc berada di dunia manusia. Hari-hari pertama Blanc di dunia manusia sungguh kacau. Blanc banyak bertemu dengan pendosa-pendosa sejak kakinya menginjak tanah di bumi. Dunia yang kotor. Blanc merasa lelah dan kedinginan. Sayapnya terasa ngilu karena dinginnya udara di bumi, atau mungkin karena sayap Blanc telah dipatahkan sebelum Blanc menginjak bumi. Aah, mungkin karena keduanya. Blanc benar-benar merasa terselamatkan karena dipungut Verde.

Segera setelah Blanc selesai membersihkan dirinya, Blanc mengenakan pakaian yang diberikan Verde padanya dan keluar menuju ruang tengah dimana Verde berada.

Verde mempersilakan Blanc untuk duduk dan menuangkan teh untuk Blanc segera setelah Verde melihatnya memasuki ruangan. Blanc kemudian meminum teh yang dituangkan Verde untuknya dan berhenti sejenak. Verde memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Blanc. Bukan kegiatan Blanc yang menarik perhatian Verde sebenarnya, tapi tiap inci tubuh Blanc.

Verde memperhatikan bahwa Blanc memang memiliki tubuh layaknya manusia biasa, tapi kesan murni pada Blanc sangat terlihat jelas. Blanc terlihat seperti manusia sekaligus tampak berbeda dari manusia, terutama karena adanya dua benda yang menyembul dari balik punggung Blanc. Verde awalnya tak yakin bahwa itu adalah sepasang sayap, tapi kemudian setelah Blanc membersihkan badannya dan berada di tempat dengan penerangan yang cukup, sepasang sayap itu terlihat semakin nyata. Sepasang sayap yang layu, tak berdaya, rapuh, tetapi sangat indah. Verde terus memperhatikan Blanc dengan seksama, hingga akhirnya dia tersentak kaget saat menyadari Blanc balas memandangnya.

Verde tertunduk malu karena tertangkap basah sedang memandangi ‘tamu’-nya. Sekilas terdengar kata maaf dari arah Verde, hal ini mengembangkan senyum pada wajah Blanc.

“Tidak perlu meminta maaf,” kata Blanc, “tak ada satu manusia pun yang tidak bertanya-tanya saat melihatku.” Tambahnya. “Kau pasti ingin tahu, siapa aku sebenarnya.”

Verde menganggukkan kepalanya. Sedikit bingung, karena Blanc menyebutkan kata ‘manusia’ seakan Blanc bukanlah salah satu dari ‘manusia’ itu sendiri.

“Tuhan menyebut kami Obeissant, sedangkan kalian para manusia menyebut kami malaikat.” Kata Blanc, mengawali ceritanya. “Tuhan menjelaskan kepada kami, bahwa Dia menciptakan kami tak lain supaya kami taat menuruti semua keinginan-Nya. Itu adalah tugas utama yang Tuhan ciptakan untuk kami. Selama berabad-abad, bahkan sebelum kaum manusia diciptakan, kami hanya melakukan apa pun yang tuhan perintahkan kepada kami tanpa kami punya keinginan untuk melakukan selain perintah-Nya. Setidaknya sepanjang yang kami ingat.’

‘Kami, para obeissant diciptakan tidak pernah menua. Kami dapat hidup ratusan bahkan ribuan tahun, karena tuhan menciptakan kami abadi. Tuhan tidak pernah memberikan kami kehendak ataupun nafsu, itulah yang membuat kami obeissant berbeda dengan kalian manusia. Well, selain dari bahwa kalian menua dan akan mati nantinya.’

‘Akan tetapi, pada suatu waktu, Tuhan membuat perjanjian terhadap kami. Apa kau tahu Verde, ketika sebuah perjanjian dibuat, maka hukuman pun akan ikut terbentuk.”

“Perjanjian?” Tanya Verde, memotong cerita Blanc.

“Ya. Perjanjian yang kami, para obeissant, minta kepada Tuhan” Jawab Blanc.

“Perjanjian apa?” Tanya Verde lagi.

“Sebuah perjanjian yang akan menaikkan kemuliaan kami,” jawab Blanc. “dan apabila kami melanggar perjanjian itu, maka Tuhan akan menghukum kami.”

Verde mendengarkan dengan seksama. Setengah tidak percaya, karena bagaimanapun cerita yang diutarakan Blanc sulit untuk dipercaya. Cerita yang didengarnya saat ini, terasa seperti ide pembuatan novel fantasi yang penuh dengan hal-hal di luar logika.

“Lalu, apa hubungannya perjanjian ini dengan keberadaanmu di sini?” tanya Verde. Mendengar pertanyaan ini Blanc tersenyum. Senyuman Blanc tampak begitu lembut, tapi tampak oleh Verde senyum yang ditunjukkan Blanc padanya menyimpan penyesalan dan kesedihan yang dalam.

“Tuhan menurunkanku ke bumi untuk menebus dosa yang telah kulakukan. Aku telah melanggar perjanjian yang tuhan berikan pada kami.” Kata Blanc.

Verde terdiam. Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam pikirannya saat mendengar penjelasan Blanc, tapi senyum penuh kesedihan Blanc menghentikannya. Verde merasa bahwa pertanyaannya mungkin saja menyakiti makhluk cantik ini lebih dari yang dirasakannya sekarang. Verde kemudian mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari lentik Blanc. Seakan mengerti dengan apa yang dilakukan Verde, Blanc tersenyum dan balas menggenggam tangan Verde.

***

Read previous post:  
35
points
(126 words) posted by Kuro_kaze@akiba 3 years 30 weeks ago
70
Tags: Puisi | fantasi | #drama #tragedy #love
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Fallen Angel ~ Part 01 (4 weeks 1 day ago)
80

Cerita tentang malaikat nyasar ke bumi terus kolaps ngingetin sama satu cerpen Italia: https://www.wordswithoutborders.org/article/tana (enggak merekomendasikan dibaca selagi puasa, tapinya, heuheu),
dan ketika disebutkan Blanc jalan2 terus ketemu pendosa2, malah jadi inget sama video Dewa 19, "Kirana" XD (terus jadi pengin muter lagu itu habis ini).
narasinya lancar, bisa lebih rapi dengan membaca lagi pedoman EyD khususnya tentang penulisan tanda kutip serta imbuhan/kata depan "di".
Eh, publish cerita di St*r**l juga enggak sih?

Writer nusantara
nusantara at Fallen Angel ~ Part 01 (3 weeks 4 days ago)

St*r**l apaan itu ya?
orang kampung ikut pusing ini?!

Writer nusantara
nusantara at Fallen Angel ~ Part 01 (4 weeks 2 days ago)
70

BAGUS banget ini