Belajar Berdoa

Kemarin aku membaca puisi dengan judul "kompetisi doa" karya man Atek dan hari ini aku membaca cerpen dengan judul "berhala surga" karya kasurterakhir.

Aku mengutip beberapa kalimat dari puisi; ketika ribuan pikiran bergemuruh penuh peluh hatipun luruh berteduh, jutaan cahaya berkelebat sambung menyambung bagai air bah di saat sunyi, langit menjadi kian gaduh saling yakin doanya sakti menembus penolakan dini; aku mengutip beberapa kalimat dari cerpen; Mulut kita sudah lelah dengan ketidakpahaman apa yang disebut dengan do'a. seorang kakek tua berceloteh ditengah siang yang panas: "Saya itu tidak mudeng dengan apa yang saya lakukan ini." Tangannya masih menengadah keatas sembari berharap sangat dalam.

Tahu tidak kalau tadi malam setelah membaca puisi itu aku langsung membuka Alquran dan mencari tahu apa itu do'a?

Pasti ada yang tahu dan ada yang tidak.

Kubuka surat Maryam.

1. KAF HA YA 'AIN SHAD.

2. (Yang dibacakan ini untuk disadari dan diingat) bahwa kisah ini adalah tentang penjelasan akan rahmat Tuhanmu kepada abdi hidup-Nya Zakariya.

3. (Yaitu) tatkala ia memanjatkan do'a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut perlahan (penuh penghayatan dan ketenangan batin).

Kalimat nidaa-an khafiyyan di terangkan di ayat selanjutnya sampai ayat 15.

Disini keterangan jelas bahwa bila merunut kejadian menurut terjemah harfiahnya menunjukkan suatu sikap positif Nabi Zakariya ketika berdo'a dengan tutur kata lembut dan penuh ketenangan batin tanpa ada sedikitpun prasangka buruk kepada Tuhan sebab do'anya belum juga dikabulkan. Berdo'a sedari muda hingga tua mengharap adanya generasi pelanjut setelahnya. Berapa puluh tahun berdo'a setiap hari dan tanpa berpikir negatif terhadap rencana Tuhan yang tak bisa ditebak oleh manusia manapun.

Pada usia tuanya, datanglah Malaikat memberi kabar gembira bahwa do'anya itu didengar dan akan dikabulkan. Dan bukan perkara mudah dikala itu sebab ada segelintir kerabat yang membicarakan hal yang buruk-buruk di tentang kemandulan istrinya dan ia bersabar dan terus berdo'a bertahun-tahun tanpa berprasangka buruk sedikitpun kepada Tuhan, sebab ia tahu Tuhan memiliki rencana yang baik untuknya yang tidak diketahui olehnya dan manusia yang lain. Ia tetap optimis do'anya akan terkabul.

Aku sendiri belajar untuk seperti itu, ingin tetap berhusnuzhan pada segala apa yang terjadi di kehidupan yang memang nyata ke-tidak-pasti-an-nya di tentang masa depan itu dan aku hanya harus bersikap jangan seolah putus harapan. Ada rencana Tuhan di setiap kehidupan manusia yang oleh si manusia itu sendiri tak dapat diketahui. Masa depan itu memang misteri.

Menjadi pelajaran untukku pribadi yang akhirnya menjadi tahu bahwa setiap apa yang tidak diberikan Tuhan atas apa yang diinginkan tentu ada rahasia besar dibaliknya dan itu juga sebetulnya adalah hal yang baik untuk kita. Bila tak hari ini ya esok bila tak esok ya lusa dan yang penting adalah tidak berprasangka buruk kepada Tuhan atas apa yang tak dikabulkan atau belum dikabulkan itu.

Oh, Iya. Hari ini aku tidak puasa tapi kemarin puasa. Dan seharusnya tak perlu kutulis begini. Tapi ini agar orang tahu bahwa aku bukan orang ahli agama alias hanya orang biasa saja.

*

Apakah semua orang berdo'a seperti lembutnya Nabi Zakariya berdo'a?

*

Oh, anu. Kemarin malam aku juga menonton rtv acara lomba Quro. Aku juga heran kenapa tertarik dengan surat yang dibaca oleh salah satu kontestan. Surat Nur:1-3 kalau tidak salah.

Kemudian seperti ada yang mengarahkan untuk membuka sendiri dan melihat ayat itu dari sudut pandang hukum.

Menjadi sebuah pengertian tentang wacana proses suatu pengadilan.

Penjelasan sederhananya begini merunut terjemahannya dan dilihat dengan kacamata ilmu hukum:

1. Inilah suatu surat/surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan menjalankan hukum-hukumnya, dan Kami turunkan  didalamnya tanda-tanda kebesaran Allah yang jelas agar kamu sadar diri membangun kesadaran (hukum) dalam kehidupan.

2 dan 3. -Zaniyah itu istilah buat pelaku pelecehan hukum (pelaku kriminal atau pelaku korupsi yang memiliki kekuatan uang untuk membeli hukum).

-Zaniy itu istilah buat penegak hukum yang nakal (hakim mata duitan dan pengacara mata duitan yang menjual diri dan ilmu hukumnya untuk otak-atik gatuk hukum demi keuntungan uang dan bukan demi kemanusiaan dan keadilan).

-Nikah itu suatu istilah untuk kesepakatan se-iya se-kata se-tujuan dalam jual beli hukum tersebut.

-Musyrik itu suatu istilah buat mereka yang menuhankan hawa nafsunya dan menghamba pada kekayaan dan kekuasaannya seolah hukum dan keadilan itu ada di tangan mereka.

-Hukuman seratus dera bagi keduanya sama seratus. Itu menunjukkan pelaku kejahatan dan pembela pelaku kejahatan sama nilai kejahatannya. Bahkan hakim-hakim dan pengacara mata duitan harus dinon-aktifkan dari dunia peradilan dan hukum.

3. Zaniy itu menunjukan laki-laki, laki-laki itu pemimpin, jadi bagi pemimpin sidang dan perangkatnya, dijelaskan bahwa hakim-hakim mata duitan dan pengacara-pengacara mata duitan itu membela yang bayar. Jadi, mereka itu tidaklah menikah (se-iya se-kata se-tujuan) melainkan dengan pelaku kejahatan berkantong tebal yang mereka tawari beberapa keringanan dalam hukum yang ditukar dengan segepok uang. Zaniyah itu ya menunjukkan perempuan artinya yang dipimpin sidang. Pemimpin sidangnya ya hakim dan jalannya sidang juga dipimpin berjalan antara pengacara dan hakim itu.

4. Wacana hukum bagi penuduh terhadap calon terdakwa, yang tak benar-benar berbuat jahat atau buruk; mereka berani menghukum dan main hakim sendiri tanpa ada saksi alias tanpa proses pengadilan. Berani menghukum tanpa melalui proses pengadilan. Didera 80 kali. Mereka pencari kambing-hitam. Menghukum orang yang tak bersalah. Mereka orang fasik.

5. Kecuali mereka tobat.

*

Pada abad 7 apakah di Arab ada polisi, hakim, pengacara?

Sepertinya badan hukum dirancang kemudian setelahnya islam diterima menyeluruh?

Entahlah.

*

Apa yang kutulis hanya melihat dari sisi lain. Dari yang berbisik halus. Tapi ini bisa diartikan macam-macam soal yang berbisik halus ini. Apalagi kalau yang membaca orang kampung sebab orang kampung dengan orang kota tak sama dalam membacanya dan memahaminya.

*

Ada yang berpendapat saya terlalu jauh, ada yang berpendapat bahwa saya sedang menulis dan menelanjangi diri, ada yang berpendapat saya menulis ingin menghina penguntit dan pengintip kamera keledai cabul dan pelacur ilmu. PELACUR ILMU. Lagian berani ngintip kamera sembunyi-sembunyi, jadi dapat julukan keledai cabul dari saya. Siapa mereka? Mereka adalah sekumpulan orang keki. Siapa? Sepertinya kalian tahu siapa yang selalu mendiskreditkan saya, entahlah.

*

Zaniyah dan Zaniy untuk pengertian pelacur ilmu itu bukan untuk hakim-hakim dan pengacara-pengacara yang sudah di non aktifkan oleh KPK saja, pokoknya orang yang menguasai ilmu dan mengutak-atik untuk kepentingan pribadi yang menjunjung duniawi itu disebut pelacur ilmu. PELACUR ILMU.

*

Zaniyah di depan kalimat berarti bisa jadi itu menyindir persidangan yang sudah diseting oleh hakim dan pengacara nakal itu dan jadinya "zaniyah" itu yang harusnya dipimpin sidang oleh hakim malah jadi pemimpin sidang. Jadinya si terdakwa di persidangan menjadi hakimnya oleh sebab hakimnya diberi segepk uang untuk mengurangi masa hukuman atau bahkan menjadi tidak bersalah dan pihak korban menjadi terdakwa. Eit, deh. Haduh, aduh. Macam cerita-cerita ala film India itu jadinya. Film India dulu.

*

Kubuka surat Hud: 84

84. Dan Kami utus kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib, dia berkata (dalam dakwahnya): "Wahai kaumku, sembahlah Allah, tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan baik (makmur). Dan aku khawatir kalian akan ditimpa adzab pada hari yang membinasakan (kiamat)".

-Bukankah hakim-hakim dan pengacara nakal mata duitan itu membela yang bayar dan memastikan diri mereka mengurangi TAKARAN dan TIMBANGAN dalam peradilan sesuka-sukanya mereka. Korban pun bisa mereka jadikan tersangka di pengadilan.

*

Kubuka surat Hud:91

91.  Mereka berkata: "Wahai Syuaib! Kami tidak banyak mengerti tentang yang kau katakan itu, nyatanya Kami memandang engkau adalah orang uang lemah diantara Kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu telah Kami rajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang berpengaruh di lingkungan kami!"

-Mereka itu serupa perangai kaum Nabi Syuaib yang menganggap kekuasaan dan kekayaan mereka sanggup membeli dunia, membeli apa saja termasuk masalah hukum. Bila demikian maka tentu banyak orang kecil berteriak: "Dimana keadilan buat kami!"

*

Melihat berita lawas....

Tahun 2014, kasus pembebasan Satinah. TKW. Diat bertambah artinya tambah uang untuk menukar nyawa seorang Satinah.

Sepakat di 7 juta riyal atau sekitar 21 milyar rupiah. Orang-orang sekarang sudah lupa kasus itu atau pura-pura lupa?!

Entah benar atau tidak disana ada mafia pancung? aku tidak tahu.

*

Waduh, takutnya nanti ada provokator yang mengadu-domba dengan siapa yang ingin dia adu-domba. Misalnya di adu-domba ke Arab Saudi. Baca Al-quran sama tetapi penerapan hukum berbeda dengan Indonesia. Terus nanti dijadikan alat propaganda dan nanti takutnya seperti Jamal Kasogi. Dan nanti akan dibunuh. Oh, itu pikiran terlalu berlebihan mungkin.

*

Aku tak tahu siapa yang salah dan yang benar dalam kasus Satinah, aku hanya membaca berita dan memerhatikan ke arah mana berita diarahkan untuk memengaruhi penonton berita. Itu saja. Tetapi, yang lebih tahu tentu adalah Tuhan itu sendiri. Ada keterangannya di Al-zalzalah:7-8. Al-haqqah:18-29. Al-infithar:10-14. Fushilat:22. Dan lain-lain.

Manusia tak baik melakukan tindakan aniaya terhadap orang yang DIANGGAP paling salah sebab itu berarti merasa paling benar dan menjadi benar menurut sendiri. Akhirnya melakukan tindakan aniaya yang sudah barang tentu masuk kategori perbuatan keji. Bagaimana kabar penghasut dan penguntit dan pemitnahku, ya? Aku tak ingin berbuat aniaya pada mereka. Itu tak baik. Manusia itu hanya diberi kewenangan menasehati dalam kebenaran dan kesabaran seperti dalam keterangan Al-'ashr:1-3.

Tapi jangan salah sebab ada sabar negatif. Sabar yang sia-sia. Sabar yang membawa pada panasnya Nar. Apa itu kesabaran negatif?

Sabar dalam berbuat perampokan atau pencurian. Ya, perampok juga bersabar menunggu waktu yang tepat agar tak ketahuan dan agar mulus dalam melakukan kegiatan perampokan atau pencurian. Memikirkan dengan matang semuanya dan itu tentu dengan kesabaran. Sabar yang sia-sia sebab tak ada berkah untuk akhirat. Seperti dalam film Ocean Eleven dan sejenisnya. Film itu tentu menyenangkan sebab sebuah tontonan. Namun bila nyata ada demikian prosedur sabar sang perampok begitu itu. Ya, sabar yang sia-sia. Bisa saja lolos dari jeratan hukum dunia tetapi tidak di akhirat. Fushilat: 24.

*

Fushilat: 24. Meskipun mereka bersabar, maka nerakalah tempat tinggal mereka. Dan jika mereka meminta belas kasihan, maka mereka itu tidak termasuk orang-orang yang dikasihani.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post