SEMALAM DI RUMAH KARDUS (KARTINI YANG DIRINDUKAN)

Namanya Kartini. Malam ini, seperti malam kemarin dan malam sebelumnya. Perempuan itu terduduk lesu menghirup bau keringatnya sendiri di salah satu sudut keremangan ibu kota. Dia tak sendiri, disampingnya seorang lelaki bukan suaminya berdiri menatap langit hitam yang terasa kelam walaupun penuh bintang.

*

"Hampir empat tahun kau hidup dengannya. Apa yang telah ia berikan padamu?" Tanya lelaki itu pada Kartini.

"Apalagi yang kau pikirkan? Putuskanlah untuk berpisah dengannya dan menikahlah denganku. Ku akui telah salah. Kini, izinkan aku membayar keslahanku, Tin!" Pintanya mengharap.

Mereka saling bertatapan sejenak sebelum akhirnya Kartini menundukkan kepalanya. Airmatanya jatuh tak tertahan.

*

Lelaki itu membiarkan Kartini menangis hingga habis sedihnya. Ia tahu luka yang ia berikan teramat sakit dan Kartini tahu bahwa itu juga bukan murni kesalahan lelaki itu. Lukanya karena keadaan atau juga karena kesalah-pahaman. Ia tak menyalahkan siapa pun atas masa lalunya yang meninggalkan luka begitu dalam. Sangat dalam.

*

Setelah beberapa lama, Kartini kemudian berdiri lalu membalikkan punggung dan melangkah pergi hendak meninggalkan lelaki yang pernah dicintainya itu. Lelaki itu mencoba mengubah langkahnya namun Kartini tetap melangkah meskipun lelaki itu terus memanggilnya sembari meminta maaf. Permintaan maaf yang terlambat. Sepanjang jalan batin Kartini menjerit meratapi lika-liku hidupnya. Di satu sisi ia menginginkan hidup layak bersama lelaki yang pernah dicintainya itu sedang di sisi lain ia tak ingin menodai cita cintanya untuk menjadi istri yang baik yang penuh bakti terhadap suaminya.

Cintanya pada lelaki yang pernah dicintainya itu sepertinya tak lekang oleh waktu sebab meski lama tak jumpa ternyata ia merasa bahagia bisa bertemu lagi dan perasaan cintanya itu timbul kembali. Ia merasa cintanya itu seperti cinta Juliet pada Romeo. Ia buru-buru menepis semua perasaan yang bergejolak di batinnya itu. Ia ingin mendengki saja untuk lelaki itu dan ia hanya ingin mencinta suaminya saja. Tetapi cinta terbaik hanya untuk yang terbaik.

"Siapa yang terbaik, lelaki itu? suamiku? Suamiku! Suamiku!" Ia berbicara di hatinya sambil menyusut airmata yang sempat membasahi pipinya.

*

Kartini adalah anak seorang guru sejarah yang meninggal karena ikut demo guru honorer padahal nyatanya sedang sakit. Tak ada apapun yang ibunya wariskan selain kesemangatan hidup. Ia selalu ingat kisah-kisah pahlawan nasional perempuan yang selalu diceritakan ibunya saat ia kecil dahulu. Kisah-kisah sejarah tentang Cut Nyak Din, R.A. Kartini, Dewi Sartika, dan perempuan-permpuan hebat lainnya di belahan bumi yang lain. Mereka adalah perempuan-perempuan cantik dalam arti yang sesungguhnya.

*

Setibanya di rumah ia membaringkan tubuhnya disamping anaknya yang tertidur pulas. Suaminya belum pulang dan sepertinya tak pulang malam ini. Mungkin, belum dapat cukup rupiah. Memang tak mudah mengais rupiah di atas tumpukan sampah. Ia memandanginya wajah anaknya cukup lama kemudian memeluknya. Anaknya lelaki, usianya baru dua setengah tahun, hasil pernikahannya dengan suaminya. Anak pertamanya hasil pernikahan pertamanya belum lama meninggal terkena sakit demam berdarah. Ia menyesal tak memberi tahu perihal sakit anak pertamanya itu pada ayah anak pertamanya.

Jauh di dasar lubuk hatinya ada rasa takut. Takut suatu saat nanti anak lelakinya akan mengikuti jejak bapaknya menjadi pemulung sampah. "Apa jadinya bangsa ini.." Ucapnya lirih dan pelukannya pada anak lelakinya semakin erat saja. Ia sangat menyayangi anak lelakinya itu.

*

TOK TOK TOK

"Mas Paimin?" Tanya Kartini pada seseorang di balik pintu di luar sana.

"Ini aku." Sahut lelaki itu.

Kartini kaget. Itu bukan suara suaminya. Ia kenal betul suara itu. Segera ia bergegas membuka pintu.

"Mas ngapain kesini?" Tanya Kartini gugup sedang lelaki itu tak mengeluarkan sepatah kata pun.

"Ini sudah larut, mas. Nggak enak dilihat orang. Aku tak bisa mengambil keputusan secepat itu. Pulanglah, besok aku akan memberimu jawaban." Ucapnya lirih takut mengganggu tetangganya.

*

"Mana suamimu! Suruh dia keluar!" Setengah teriak lelaki itu menghardik. Matanya sedikit basah.

"Ssssst! Jangan teriak, mas. Anakku sedang pulas." Pinta Kartini.

Lelaki itu menarik nafas dalam-dalam.

"Ia berjanji menjaga anakku ternyata ia abaikan sampai anakku meninggal. Dan kau, tak memberitahuku perihal sakitnya." Kata lelaki itu pada Kartini dan tetangganya keluar sebab mendengar suara ribut-ribut tetapi kembali menutup pintu dan tak ingin ikut campur.

"Tidak, bukan begitu. Suamiku orang baik. Aku yang meminta agar kau tak tahu dan tak perlu diberitahu. Maafkan aku, mas. Jangan salahkan suamiku." Kata Kartini sambil menangis dan anaknya tetap pulas hampir terbangun.

"Suami macam apa yang membiarkan anak istrinya tinggal di tumpukan kardus begini." Kata lelaki itu.

"Aku selalu membantu mentrasfer uang dan uangnya buat apa? Buat mabuk-mabukan? Judi?" Katanya lagi.

"Suamiku tidak begitu lagi sejak hari itu. Dan kau juga tahu, mas." Kata Kartini.

"Dan.. Dan.. Ini rumah bukan sekadar tumpukan kardus. Ini rumah. Rumah kami." Kata Kartini lagi sambil menangis sambil ditahan sebab takut anaknya terbangun.

"Menikahlah denganku dan akan kutunjukan apa itu rumah!" Kata lelaki itu memaksa.

"Cukup..." Kata Kartini dan airmatanya perlahan turun lagi dan lagi.

"Ayolah, Tin.." Kata lelaki kembali memaksa.

"Kuminta kau pergi dan jangan pernah datang lagi. Aku dengki padamu melebihi siapapun itu." Kata Kartini mencoba mengusir lelaki itu.

"Hey, itu kata-kataku padamu saat ku memintamu pergi. Itu aku sedang khilaf, Tin.." Kata lelaki itu.

"Tin, kau perempuan terpelajar dan tak pantas hidup seperti ini." Katanya lagi. Ia menarik nafas dalam-dalam.

"Tapi lebih tidak pantas lagi bila aku mengkhianati suamiku. Jangan salahkan suamiku atas apa yang menimpaku. Menimpa anakku, anak kita. Dia suami yang baik. Beberapa tahun yang lalu ekonomi kami baik-baik saja. Tapi, semuanya berubah setelah datang kabar penggusuran itu. Tak lama, lapak dagangan suamiku porak-poranda oleh satpol PP. Dalam keadaan itu kami harus merelakan sepeda motor kami raib dicuri orang. Aku bersyukur suamiku tak gelap hati dan melakukan apa yang dilakukan pencuri motor itu. Kau tak berhak memaki suamiku." Kata Kartini pelan sambil menangis.

"Aku.. Aku.. Tak bermaksud begitu, Tin. Hanya saja, nanti apa tanggapan orang-orang di kampungmu bila bunga desa mereka bersuamikan pemulung kota." Kata lelaki itu.

"Mas, aku mencintai suamiku seperti aku mencintai bangsa ini. Mengkhianati suamiku berarti mengkhianati bangsa ini." Kata Kartini.

"Iya, dan karena itu aku membenci suamimu sama seperti aku membenci para pemimpin bangsa ini yang mengingkari sumpahnya sendiri untuk menyejahterakan rakyatnya, untuk memberi hak-hak hidup layak bagi perempuan-perempuan sepertimu." Kata lelaki itu.

"Hey, kau benci saja orang-orang yang kau sebut para pemimpin negeri itu. Tapi, jangan suamiku!" Bentak Kartini dan anak lelakinya terbangun.

Lelaki itu sedikit kesal dan membuang muka. Percakapan mereka terhenti dan ia tak henti menarik nafas dalam-dalam.

*

"Baiklah, aku pergi. Maaf sudah mengganggu malam ini." Kata lelaki itu.

Kartini kemudian membuka pintu setelah anaknya kembali tertidur.

"Tak ada yang perlu kumaafkan sebab aku yang seharusnya minta maaf, mas." Kata Kartini melanjutkan percakapan mereka. Namun, sepertinya percakapan takkan terjadi begitu lama.

"Kau benar-benar mencintaiku?" Tanya Kartini. Lelaki itu mengangguk.

"Kau benar-benar membenci para pemimpin itu?" Tanya Kartini lagi dan lelaki itu mengangguk lagi.

"Buktikan padaku." Kata Kartini sambil menutup pintu.

---------------------------------------------------------------------

Seminggu kemudian, suami Kartini mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lumayan. Suaminya itu tak mengetahui bahwa ia bekerja di cabang perusahaan milik si pengusaha yang pernah menjadi suami istrinya. Suaminya tak tahu bahwa mantan suami istrinya membuktikan kata-katanya yang pernah dia ucapkan pada istrinya saat ia belum pulang mengais sampah ibu kota.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post