Teknik Membalik Piring

17. Teknik Membalik Piring

Ketika sedang dalam perjalanan pulang, saya memutuskan untuk mampir ke alfamart. Ingin ngadem karena siang itu rasanya panas sekali.

Alfamart saat itu ramai. Banyak ibu bapak belanja kebutuhan harian yang lupa dibeli saat belanja bulanan. Sementara anak kecil berkeliaran minta mainan. Saya langsung berjalan ke bagian minuman dalam kulkas.

Setelah mengambil sebotol yogurt yang diskon, saya pun menuju kasir. Antriannya menjadi lebih panjang dibanding saat saya masuk. Saya ada di urutan paling belakang. Bapak-bapak mengantri, sementara ibu-ibu mengambil ini itu di detik-detik terakhir, menambah panjang durasi. Saya harus berterima kasih kepada mereka. Berkat mereka, tujuan saya ngadem pun jadi sempurna.

═══════════════

23. Yang Datang Paling Awal

Ini pertama kalinya saya salat Id di tempat lain. Saya sampai di mesjid pukul enam, menjadi orang pertama yang masuk ke bagian perempuan.

Apakah saya kepagian? Apakah di sini orangnya memang sedikit? Alangkah sayangnya bila hanya sedikit yang datang! Padahal pengurus mesjid sudah menggelarkan banyak sajadah berbagai motif dan warna yang indah-indah. Dengan kikuk dan agak kesepian, saya duduk di baris keempat.

Untungnya perlahan orang-orang berdatangan. Beberapa saat kemudian, seorang ibu mencolek saya. Ia menatap saya. Saya membalas tatapannya. Ia masih menatap. Apakah ia ingin inisiatif bermaaf-maafan? Hampir saja saya menyambut tangannya, kalau ia tidak segera berkata, "Ini sejadah sayo."

═══════════════

24. Lali

Semenjak ikut postcrossing, saya jadi mendalami dunia kartu pos. Salah satu seri yang menjadi koleksi adalah Lali, kartu pos ilustrasi dengan gambar kecil-kecil.

"Gambarnya jenis kartu pos lali," balas I, ketika saya meminta bantuan menghadapi give away teka-teki punya Mbak A.

Saya hampir-hampir menyerah, ingin berhenti saja. Setelah bersabar dan berikhtiar, saya berhasil menyelesaikannya. Namun, kartu Lali yang I bilang tidak bermotif kecil-kecil. Apakah ada kartu pos Lali seri lainnya?

"Kartu Lali-nya udah ketemu, thanks yo. Tapi masih nggak paham clue. Berarti emang harus cek satu-satu."

"Karena lupa dalam Bahasa Jawa adalah lali," balasnya, membuat saya menyesal telah berterima kasih.

═══════════════

27. Rumah Baru

Umurku baru sebelas tahun ketika pemerintah mengusir kami dari rumah. Ayahku adalah pejabat tinggi yang loyal. Meskipun sudah berjasa banyak kepada partai, tiba pula masanya ia menjadi musuh kelas dari pemerintahan yang selalu was-was. Setelah memangkas habis kaum kapitalis, mereka menyasar kaum pejabat dan cendekiawan. Namun partai tidak langsung melenyapkan Ayah, yang diam-diam masih mereka butuhkan.

Partai menentukan rumah kami yang baru. Bagaimanakah nasib kami nanti? Apakah harus tinggal di gang sempit tanpa jendela? Apakah harus tidur beralaskan tanah? Kekhawatiranku tidak terbukti, sebab ketika masuk rumah baru, yang pertama kali kulihat justru meja marmer di tengah ruangan, besar dan berkilauan.

=====

"Keindahan dikutuk habis-habisan hingga keluarga kami dipindahkan ke rumah yang cantik itu sebagai hukuman." - Jung Chang, Angsa-Angsa Liar.

═══════════════

29. Pasangan

Kalau tidak sekelas, mungkin saya tidak akan pernah mengobrol dengannya. Rasanya tidak ada topik kesukaan kami yang saling beririsan. Namun ia lumayan baik dan ramah, sering menyapa orang, termasuk orang seperti saya. Ia selalu menegur duluan, sementara saya balas melambaikan tangan.

"Citaaa sendirian aja," begitu biasanya ia berkata.

Meskipun masuk universitas, bahkan fakultas yang sama, kami jarang sekali berpapasan. Setelah ratusan purnama berlalu, akhirnya kami bertemu lagi dengan tidak sengaja pada siang yang terik itu, di dekat atm BNI. Kali ini saya memberanikan diri jadi yang terlebih dahulu menyapa, dengan kalimat sapaan khasnya yang saya putar balikan,

"Ratuuu! Raja-nya mana?"

═══════════════

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Teknik Membalik Piring (1 week 2 days ago)
70

seratus kata yang apik