Aku Dan Idul Fitri

Membahas diriku dan hari raya tak perlu begitu panjang lebar. Aku belum merasa menjadi muslim yang baik tapi aku tetap menyambut hari raya dengan cukup baik. Tidak sangat baik namun cukup baik.

Aku bahagia keluarga bisa berkumpul terkecuali adikku yang nomer dua yang lahir setelahku sebab hanya adikku yang terakhir yang lahir setelah adikku yang kedua saja yang bisa datang untuk berkumpul bersama di hari raya. Tapi aku tetap bahagia meski tak semua bisa berkumpul seperti mereka-mereka yang keluarganya semua berkumpul. Ada juga tentunya mereka-mereka yang lain yang keluarganya tak berkumpul semua karena beberapa halangan yang tentu halangan itu adalah menurut halangannya masing-masing. Oh, iya. Ada juga adik-adik dari ibuku yang ikut berkumpul di hari raya kini.

Aku merasa bahagia bisa bersama kedua orang tua di hari raya meskipun aku tak memperlihatkan kebahagiaanku itu kepada siapapun. Aku tahu banyak yang tidak mendapatkan momen sepertiku sebab kedua orang tuanya sudah tiada atau salah satunya yang tiada. Jadi aku bersyukur dan sangat mensyukurinya. Aku berpikir, bagaimana nanti? Dan nanti tetaplah nanti yang misteri, sebab tahun depan adalah misteri. Semoga tahun depan tetap bisa berkumpul bersama dalam keadaan sehat dan diberkahi rizki.

Aku tahu yang ada di pikiran semua keluargaku tentu ada kesamaan yang sama yaitu di tentang perbaikan ekonomi dan pendamping hidupku. Aku ingin semua orang berpikir jujur tentang siapa yang harus dipersalahkan atas sedikit ketakseimbangan yang kualami ini.

..........................................

Aku sedikit meluangkan waktu untuk belajar menulis dan aku tak peduli orang berpikiran yang tidak-tidak sebab itu menjadi tanggung jawab mereka sendiri. Pikiran buruk dan persangkaannya menunjukan buruknya seseorang itu begitupun sebaliknya.

Aku sedang tidak menghinakan diriku sendiri ataupun mereka yang merasa terhina atau tersindir, aku menyampaikan kejujuran diriku bahwa aku belum menjadi muslim yang baik begitupun mereka orang-orang yang sama denganku atau lebih buruk dariku.

Mereka yang benar-benar puasa akan senantiasa mentotalitaskan dirinya, tidak saja dari makan, minum dan syahwat; tetapi juga mempuasakannya dari segala yang merusak pahala puasa. Pahala itu adalah ganjaran dari suatu perbuatan baik dan itu bisa rusak. Diantaranya itu adalah perbuatan berbohong (berdusta). Bila tak mampu 11 bulan hidup jujur maka jujurlah satu bulan penuh untuk melatih diri bersikap jujur. Dusta dalam banyak hal tentunya dan setiap kegiatan dusta tentu bernilai dusta dan setiap dusta merusak pahala. Fitnah pun bagian dari dusta, membicarakan kejelekan orang lain juga bagian dari dusta sebab bila mau jujur tidak ada satu orang pun yang suka diperbincangkan kejelekannya. Bila puasanya terjaga dari itu semua maka puasa semacam itulah yang mampu menggugurkan dosa-dosa masa silam.

Aku belum total berpuasa, kamu?

Setiap orang pernah melakukan kesalahan dan dosa dan ingin menjadi bersih tetapi tidak semua orang sanggup untuk merasa banyak kesalahan dan dosa dan merasa hina dihadapan Tuhan.

Aku merasa hina, kamu?

Itulah aku dan Idul Fitri.


------------------------------------------------------------

Aku rupanya berpikir salah, kukira adikku yang nomer dua tak bisa datang benar-benar. Ternyata datang beberapa hari kemudian. Ia datang bersama suaminya dan ibu mertuanya dan kakak iparnya yang lelaki beserta anak-anaknya. Jadi, sebetulnya apa yang ada di benakku tak pasti akan halnya di tentang kepastian pun di benak orang lain berlaku sama sepertinya.

Aku senang melihat semuanya dalam keadaan sehat. Adikku tak lama, menginap semalam saja dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Sidareja ke keluarga dari suaminya.

-----------------------------------------------------------

Sedikit berbagi apa yang kutahu tentang Idul Fitri, 'id berarti kembali dan fithri berarti suci adalah pengertian kurang tepat.

'Id berarti kembali menunjuk pada hari dimana hari itu akan berulang setiap tahun.

Fitri dan fitrah adalah berbeda, fitri itu berbuka atau tak lagi berpuasa ramadan.

Merujuk pada hadis menyegerakan berbuka: "...." (HR. AHMAD 9810, ABU DAWUD 2353, IBNU HIBBAN 3509, status hadis hasan)

Ada juga yang ini: "ASH-SHAUMU YAUMA TASHUUMUUN WAL FITHRU YAUMA TUFTHIRUUN." (HR. IBNU KHUZAIMAH)

Sumber informasi ini dari: KonsultasiSyariah.COM.

Bila ada yang keberatan tentang info ini konsultasikan saja ke pihak terkait.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post