2012

Melihat judulnya mungkin orang sekilas akan beranggapan akan membaca cerita tentang kiamat seperti film 2012, padahal bukan. Cerita ini tentang mimpiku di tahun 2012, mimpi waktu itu masih kuingat sampai sekarang dan mimpi itu aku tidak mengerti. Aku bermimpi berada di suatu ruangan kelas, ada seseorang di depanku berpakaian putih dan bercelana putih dengan sepatu putih yang berwarna putih. Aku menceritakannya dengan warna komedi agar tak bosan dan wajar bila tak jelas jadinya. Aku di suatu ruang kelas dan orang didepanku memandangiku cukup lama lalu ia bangkit dari duduknya dan mendekati papan tulis. Kemudian ia menulis kata "Hollum" dengan spidol hitamnya. Sudah, begitu saja mimpinya.

Sudah, begitu saja mimpinya.

Seperti kebiasaan sebelumnya, aku menggunakannya untuk belajar. Apa yang harus kupelajari dari mimpi konyol itu, ya?

Aku kemudian mencari informasi di google dan aku membaca artikel tentang "Hollum". Ternyata itu tempat wisata di Belanda. Tapi aku mencari informasi yang kubutuhkan, jadi bukan itu maksud dari mimpi itu. Lalu, aku mencari informasi sejarah "Hollum" . Dan aku tak mendapat informasi penting dan untuk apa aku bermimpi seperti itu?

Kemudian aku membalikan kata itu menjadi "Mulloh". Ternyata yang muncul itu kata "Mullah". Lalu aku membaca artikel dari Republika yang berjudul 'Mengenal Istilah Mullah'. Istilah Mullah dilekatkan untuk tingkatan jabatan ulama di Iran. Menurut Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, penggunaannya berlaku sejak Periode Shafawiyah (907-1145H/1501-1722M).

Singkatnya, sebagai sebuah kelompok sosial yang sadar akan dirinya, mullah memainkan peran pentingnya dalam sejar4ah sosial Iran, setidak-tidaknya sejak periode Qajar. Keikutsertaan mereka dalam Revolusi Konsitusional berlanjut hingga abad 20. Revolusi Iran tahun 1979 umumnya dipelopori oleh para mullah. Istilah itu menjadi berkonotasi negatif dan diartikan miring oleh orang-orang sekuler.

Sampai distu saja aku sudah bertambah informasi dan mengetahui apa yang tadinya belum kuketahui. Jadi, aku belajar dan belajar karena aku bermimpi. Entah apa maksud mimpi itu tetapi aku menjadi membaca apa yang tadinya belum kubaca. Aku selalu begitu. Yang bagi sebagian orang itu tak berarti tetapi bagi sebagian yang lain mungkin berarti.

Sebagai orang indonesia yang awam tentang (perbedaan prinsip agama dan istilah agama dalam satu agama yaitu agama islam yang tak mengetahui) asal muasal perbedaan sunni-syiah tentu menjadi paham bahwa Indonesia bukan Iran bukan pula Arab Saudi. Indonesia adalah Indonesia dengan islam Indonesia yang tak sama dengan Arab Saudi dan Iran. Aku membaca sesuatu yang kecil sesuatu yang mungkin masuk dalam informasi ringan dan itu menambah pengetahuanku dan aku tak peduli perbedaan sunni-syiah. Aku hanya mencari informasi untuk memahami mimpi dan jadi sering membaca artikel di internet. Apa itu keburukan bagiku? Tentu tidak. Itu hal baik dan itu kebaikan.

Ada mimpi yang lain. Didepanku seorang berkumis tipis menggambar gambar singa. Tentu masih di suatu ruang kelas. Dia lalu menyuruhku menggambar singa yang persis dia gambar. Aku menggambar dan dia bilang bagus. Lalu ia memberi pesan: "Seperti itulah kau harus menceritakan mimpimu, apa yang kau impikan harus kau ingat dan harus diceritakan sesuai mimpinya tanpa ada penambahan maupun pengurangan. Kau tahu, berapa banyak orang yang menggambar singa tetapi oleh orang lain dianggap gambar kucing? Ini bukan tentang gambar yang berubah dari aslinya, ini bukan soal otentik atau tidak otentik, ini soal mengingat tentang apa yang seharusnya tak diingat."

Wah, aku waktu itu bersikap masa bodoh. Lagipula aku tak mengenal siapa orang-orang yang pernah kutemui di alam mimpi. Tapi aku mengingat sebagian, sebab terlalu banyak mimpi. Hidupku terbengkalai gara-gara terlalu banyak bermimpi dan siapa yang peduli dengan fenomena mimpi, tak ada? Ada?

Aku bukan ingin bercerita tentang mimpinya tetapi tentang efek dari mimpi itu yang membuatku mencari-cari bacaan untuk dibaca di internet dan aku jadi dimusuhi si pendengki. Siapa si pendengki? Polisi tahu atau tidak? Aku sendiri tidak tahu pasti apalagi polisi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post