Melihat Dengan Kacamata Kuda

Aku pergi ke pasar Sokawera membawa dua ekor entok muda jantan dan satu itik muda betina tadi pagi. Hasil penjualan Rp. 140.000. Uang hasil penjualan itu kubawa pergi ke pasar Sumpiuh untuk membeli endel empat ekor. Disana harga endel per ekor Rp. 12.000. Aku pulang membawa empat ekor endel (anak entok).

Sampai di rumah, nenekku ingin membeli endel juga. Aku kemudian pergi lagi ke pasar Sumpiuh dengan membawa seekor entok muda jantan yang lebih muda dari yang pertama kujual. Terlihat dari bulu-bulu di kedua sayapnya yang belum rapat. Meski muda tetapi cukup besar dan harganya tidak terlalu rendah. Mungkin.

Nenekku itu memberiku uang Rp. 50.000 untuk membeli empat ekor endel. Kulakukan tukar tambah dan ternyata menambah Rp. 12.000, itu berarti harga entok muda jantan yang kubawa berharga Rp. 36.000 alias seekor untuk tiga ekor sedang yang pertama kujual berharga Rp. 50.000.

Aku kemudian pulang dan itu berarti tak berlama-lama di pasar lalu di tengah perjalanan mampir ke pom bensin dan mengisi  Rp.15.000. Untuk membeli rokok dan kopi sekitar Rp. 12.000, itu juga beli setelah sampai rumah. Uang hasil penjualan itu untuk mencicil utang warung di warung saudara Rp. 50.000. Sisa di saku sekitar Rp. 50.000 sedang sisa hutang masih banyak. Sedikit demi sedikit saja. Dan, aku harus mengurangi rokok. Aku berhutang untuk membeli rokok sebab pecandu rokok. Sudah tentu itu salah satu keburukanku. Sudah penghasilan tak menentu bahkan hampir minus tetapi masih merokok. Sangat bodoh memang. Tetapi aku tentu juga tak hanya memiliki keburukan. Aku punya kebaikan atau kelebihan yang tak dimiliki oleh orang lain. Tapi aku tidak tahu kelebihanku apa.

Kalau kupikir-pikir ternyata bila menginginkan laba yang besar maka harus punya banyak. Minimal 100 ekor. Bila laba per ekor kisaran Rp. 2000. Maka untuk laba 100 ekor tinggal dikali 100. Bila untuk 1000 ekor tinggal dikali 1000. Butuh uang banyak untuk jumlah hasil yang banyak. Sayangnya aku tidak mampu membeli banyak. Bila mampu membeli banyak tentu harga bibit endel per ekor dibawah Rp. 12.000. Bisa jadi Rp. 10.000 atau dibawahnya. Entahlah. Dan laba akan lebih banyak sebab sebanding dengan tingkat kesulitan mengatur pakan untuk hewan ternak dalam jumlah besar. Maksudnya, kalau banyak itu tentu pakan beli per karung sedang kalau punya sedikit pakan beli per kilo dan harga bibit tak bisa murah.

Aku inginnya fokus kedepan seperti kuda. Bila kuda menggunakan kacamata kuda agar melihat terus kedepan saat berjalan dan berlari, seharusnya aku begitu. Memang tidak semua kuda, hanya kuda yang menarik gerobak yang menggunakan kacamata kuda atau andong alias delman. Aku ingin tak melulu melihat ke belakang dan fokus ke depan sesulit apapun itu agar segala pengaruh fitnah di masa lalu tak berpengaruh banyak kepada diriku.

Maka, aku berhayal menggunakan kacamata kuda yang dipakai oleh kuda di kepala dan aku hanya ingin tertawa sedikit. Tidak terlalu lucu membayangkan kacamata kuda di kepala. Terkadang aku suka begitu, menghayalkan yang lucu-lucu atau konyol dan kocak dan tersenyum sendiri atau tertawa sendiri pelan-pelan tak terdengar. Bila terdengar or5ang lain bisa disangka gila lah. Kan, ada lagunya, begitu kejam prasangka orang, itu lagu dangdut.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Melihat Dengan Kacamata Kuda (4 weeks 1 day ago)

HARGA ENTOK MUDA JANTAN YANG KUBAWA BERHARGA ......
hehehehe
ada yang komentar begini,
ini orang pura-pura salah atau sengaja salah, kok berharga, seharusnya seharga,
hehehehehe
ah, berarti dibaca sama penguntit saya mungkin, hehehehe
tapi tidak tahu siapa.