JUDULNYA APA?

Aku membaca kembali RIWAYAT SEPASANG MATA, ingin kuhapus. Itu memalukan. Menunjukan kelemahan. Entah bagaimana perasaan itu tiba-tiba ada. Dulu, aku heran dengan perasaanku. Sekarang juga. Namanya manusia yang tak memahami perasaannya.

Dia sudah memiliki seseorang dan aku tahu itu. Tetapi mengapa bisa ada timbul perasaan sukaku padanya? Itu bagiku cukup aneh. Meski demikian aku tak bersikap ingin memiliki sebab lebih terfokus ke bagaimana aku bisa memiliki perasaan itu. Aku nyaris tak berani untuk bertegur sapa karena perasaanku itu. Mungkin aku memiliki kelainan. Sebenarnya realita semacam itu banyak dijumpai dan setiap orang pun mungkin pernah mengalami.

Aku hanya suka mencuri-curi pandang. Itu saja. Aku terlalu bodoh dan pendiam menghadapi perasaanku yang membingungkan itu. Aku ingat pada suatu ketika ingin memberinya cokelat. Bukan untuk mencuri perhatiannya melainkan karena hanya inginmemberi saja. Dan, itu tak mudah. Aku tak memilki keberanian untuk memberi dengan segala kecemasan di benak pikiran. Kalian tahu, cokelat yang kubeli tetap berada dalam jok motor sampai berhari-hari. Mungkin mau hampir dua minggu. Itulah kelainan yang kumiliki.

Aku memakannya sendiri. Tentu sambil memaki diri sendiri sebab ketidakberanian memberi. Sangat tolol. Aku bahkan merasa idiot. Itu lebih dari tolol. Aku tak pernah lagi mengingatnya. Hanya kadang-kadang saja. Oh, ya ampun. Berarti aku pernah mengingatnya.

Bekerja di tempat yang sama dan setiap hari bertemu tak pernah membuatku berusaha untuk mendekatinya. Itu benar. Aku hanya terlalu sibuk memikirkan tentang bagaimana perasannku itu bisa muncul. Pernah suatu hari aku merasa dikepalaku itu isinya hanya dia dan dia. Aku memikirkannya berhari-hari. Padahal aku tahu kalau dia itu teman dekat juga bukan. Itu aneh. Ceritanya semua sudah bisa menebak bahwa pastinya realita tak seperti yang ada di banyak pikiran orang kebanyakan.

Aku pernah mengingatnya lagi itu ketika aku bermimpi sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Mimpi lucid, kata sebagian orang. Mimpi yang jelas bisa diingat. Aku bermimpi bertemu dengannya dalam mimpi yang memang mimpi yang bisa di ingat. Di dalam mimpi aku dengannya teman sekerja. Tentu saja aku bagian kuli dan dia bukan. Di dalam mimpi aku bekerja di pabrik yang aku tidak ingat. Karyawannya banyak. Pabriknya seperti kahatex yang banyak gulungan kain.

Aku ceritanya mau pulang kerja di dalam mimpi itu. Kalian tahu, aku seperti orang berkebutuhan khusus di mimpi itu alias orang istimewa atau idiot. Aku sendirian mencari-cari sepatuku yang hilang. Aku tidak mungkin pulang tanpa beralas kaki. Lalu, aku bertemu dengan seorang perempuan yang mirip dengannya tetapi lebih tinggi. Kami mengobrol sebentar sambil mencari sepatuku.

"Aku sebentar lagi akan menikah. Kau jangan ikut nakal seperti mereka yang nakal-nakal itu. Aku akan berhenti bekerja dan kita mungkin tidak akan bertemu lagi. Setelah menikah aku akan mengurus suamiku jadi kau harus baik-baik di sini." Katanya.

Singkatnya seperti itu dan lebih singkatnya lagi alias langsung to the point, kami melalui sekelompok karyawan nakal. Sepatuku berada di kaki orang lain. Orang itu mirip tetanggaku di bandung yang namanya Tedi alias Ade anaknya pak Agus dan bu Agus.

"Kau rupanya. Kembalikan sepatunya!" Kata perempuan itu. Orang di mimpiku itu yang mirip tetanggaku melepaskan sepatunya dan mengembalikannya kepadaku. Tamat ceritanya mimpi itu sebab aku bangun.

Lagi-lagi tetanggaku itu muncul di mimpi sebagai orang jahat yang selalu menggangguku. Dulu, sebelum itu, di mimpiku yang lain, perempuan yang mirip anaknya mas Dhe penjual bubur ayam yang menunjukkan orang gila yang telanjang kepada orang gila di mimpiku yang mukanya mirip dengan si Tedi alias Ade itu. Tetangga sebelah di gang wibawa 2.

Aku bermimpi itu bukan hanya bingung tetapi sangat heran. Apa bedanya bingung dengan sangat heran, ya?

Mungkin itu mimpi traumatis. Entahlah. Aku bukan orang pandai yang sekolah tinggi.

Aku menulis begini tanpa skill bergaya-gaya. Sengaja membiarkannya natural seperti orang yang sedang bercerita kepada kawannya alias temannya tentang apa yang ada dalam benak pikirnya.

Rahmat Nur Abdullah, Indra Setiawan, dan entah siapa lagi, mereka itu kemungkinan membaca cerita ini. Atau mereka salah satu dari penguntit-penguntit itu?

*

Aku ingin membuat puisi. Ya, ceritanya hentikan saja dulu. Aku ingin membuat puisi. Puisi untuk diriku sendiri.

neraca hati dan  secelah retak

keadilan itu sejatinya tegak

menimbang dengan terang setiap sendi-sendi si empunya tengkorak

dan keadilan itu sejatinya tegak

bukan dari mulut anjing yang menyalak

jangan jatuh,

kau jatuh setan berjingkrak

*

Aku tak tahu ini puisi jenis apa namanya?

*

Wah, aku ingin tertawa membaca puisi ini. Seolah tertulis begitu saja.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post