Purwokerto,
Dalam tarikh dua puluh enam
Di bawah naungan bulan Februari
Di balik selubung tahun dua ribu enam.
Menjumpai yang telah lama tak bersua dalam suatu jumpa.
Aku adalah selembar risalat, yang ditulisi sebaris dua kata-kata hati dari ujung pena kalbu dengan tinta nurani. Aku tercipta dari rahim kesunyian, tumbuh dan berkembang dalam buaian dan asuhan kesepian dan kesendirian. Aku terlahir sebagai bukti dari pada sebuah penungguan, penungguan akan – ada yang menyebutnya sebagai – sebuah ketidakpastian.
Dan, aku – selembar risalat – terutus untuk sekedar mengingatkan sang masa, bahwa hari ini – hari dimana aku tercipta dan terlahir – telah pernah mendahuluiku akan sebuah kelahiran yang sehingga kini masih abadi. Sekedar memohon pada sang masa ‘tuk sudi dalam henti sejenak, memberi satu kata ucap dan tinggalkan sebongkah kado harapan yang terbungkus rapi do’a-do’a dan terikat pita semoga-semoga, yang terkirim dalam sepenggal kata, beralamat pada tuanku putri dalam istana, dari salah satu pemujanya yang tengah menikmati deritanya dalam jurang cinta, yang terbelenggu dalam pasung-pasung kesepian dan kesendirian, yang batinnya hancur oleh lecutan cemeti penantian. Dan kini, ia tengah mengerang dalam sakaratnya. Nyawanya telah teronggok antara kesetiaan dan ketidakpastian. Sekedar berharap mampu melihat sang tuanku putri dengan senyum saat kematian merangkulnya.
Aku – selembar risalat – tak mampu lagi ‘tuk memanjang lebar kata. Karena bagaimana mungkin seorang buta ‘kan dapat mengungkapkan isi batinnya dalam goresan-goresan lembut pena, sementara untuk menceritakannya ia pun tak mampu, karena sekaligus ia seorang yang bisu. Sehingga ia tak bisa membuat orang lain mendengar ataupun ia sendiri yang mendengar isi batinnya, karena pada saat yang sama ia adalah orang yang tuli. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Satu-satunya yang ia bisa lakukan hanyalah menanti saat sebuah uluran rasa menyentuh sejuk kalbunya, karena akan mustahil sebuah uluran tangan akan menyentuhnya, sementara ia kini tak lagi berraga, hanya sebuah jiwa yang terlepas dari belenggu jasadnya.
26 Februari 2006
Selamat ulang tahun kuucapkan, s’moga segenap harapan, impian, cita dan cinta akan engkau raih kelak di sekemudian masa.
Rating
Comments: 46
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
Kerennnnn, Btw liat pnyku juga disini
:) aah....
kwereen Bo!
salam,
Keren!
wuihhh.. kerren !!
cukup memberi hikmah
'dari pada' di paragraph pertama tidak menujukkan pembandingan, jadi 'dari' saja sudah cukup.
mo jiplak kek mo enggak kek..
bagus.. kok..
gitu aj????
wah..wah...
kurang euy,
lagilagilagilagilagilagi 'n lagi dunk
ndak ngerti euy
11003 reads
!!
oemji oemjii.. *supergawat sendiri*
plok..plok..plok..
tapi aku masih bingung :))
heppi birthday buat yg ultah berharap terus menjadi yang terbaik deh..
kata memang punya rasa,
kata memang banyak mewakili.
berhubung tanggal 17 desember kemaren aku ulang taun thanx ya buat ucapannya hehe
satu kata ja!!!
wonderfull!!!
Kyentt,,
baguss
baguss
waw !!!! sangat lembut ... juara deh ...
oke lahh happy b'day yup
god....god....god...
gw suka gaya lo.....
adem bahasanya dan menyentuh....
Wah! Ucapan selamat ultah yang indah ^^
Top dah!
Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^
selalu saja menanti.....
emangnya apa sih gunanya menanti????
itulah pikiran egois yang kadang merasuki pikiran picikku...
hehehe...
but aku suka kok. daleeemmm...
terutama kemaren ini ga ada yang ngasih ucapan ultah buatku.
hiks....hiks.....hiks.....
Berhubung baru kemaren Ultah 28 Okt jadi ini aja dech yang pas buat dimensi hati gw....
prosa yG bagus, Kak! tp kok kayaknya ada yg kurang sreg, ya? apa cuma' perasaan aja?(halah..)
oke,,terus menulis yawh^_^
Menghibur
Berikan saja nilai berdasarkan rasanya.
Baca komentar-komentar lain jadi pusing. Malah bingung untuk menentukan pilihan, apakah aku ikut yang pro atau kontra?
yang bener "risalat" atau "risalah"? Tanpa merasa lebih pintar, tapi setahuku KBBI hanya mengenal kata "risalah".
trus, itu ceritanya udah selesai atau belum? soalnya aku merasa tulisanmu putus di tengah jalan. ditambah lagi tulisan terakhir tentang ultah itu rasanya ditulis tidak pada waktu bersamaan, sehingga aku merasa ada dua versi tulisan yang dipaksa untuk digabungkan.
dan kuanggap ini prosa yang bernyanyi. bukan prosa. bukan pula puisi. tak ada masalah dengan yang satu ini.
Rangkaian kata kamu bak pujangga .. cool
Maaf ya, benar-benar minta maaf, tulisan kamu bagus. Tapi aku memberi nilai berdasarkan "taste" subyektifku. Dan kebetulan, aku tidak suka genre tulisan spt ini. Aku tidak suka bahasa pujangga. Tapi ini betul subyektif diriku loh, sungguh!
anda benar-benar merangkai kata BUNG!!