Tujuhbelas Tahun ++ ( part 2 )

Aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Satu minggu aku nggak bisa tidur. Satu minggu juga aku nggak doyan makan. Alhasil, aku lemas dan terserang demam hebat. Suhu badanku tinggi .
Bak anak kecil, ayah dan ibu membujukku untuk minum obat turun panas.
Tidak pahit kok obatnya , ada rasa anggur lho! bujuk ibu sambil menuang ke sendok . Nggak mau ! nggak mau ! Aku menggeleng.
Tak mempan membujuk, baru mereka mengancam dan memaksa dengan memvonis aku bukan anak yang berbakti kalau tak mau minum obat, karena dilihatnya demamku tak turun-turun. Dan bukannya menirukan iklan TV, mereka sampai tanya ke Pak RT segala mengenai gejala demam ku itu.

“wah, hati-hati itu Pak, mungkin itu demam berdarah ! “ ujar pak RT yang sok tahu itu menakuti ayahku.

“Masak sih” ayahku kaget

“ lha, memangnya situ nggak lihat Breaking News barusan di Metro TV, rumah sakit aja udah kebanjiran pasien ! “

Jadilah satu keluarga geger dan kerja bakti menguras bak mandi. Lalu kehebohan merembet ke lingkungan RT, menjalar ke RW dan memuncak ke Kelurahan hingga Pak Lurah mengeluarkan instruksi mendadak tanpa di depan kamera untuk diadakan fogging (yang masih awam : penyemprotan asap) untuk menghajar dan memberantas si Nyonya Aedes ke seluruh wilayah.

“ brengsek tuh nyamuk !.. untung aja baru satu orang yang kena wabah! “
“ iya. Tapi biasanya cepat nular. Nyamuk sekarang kan gesit-gesit kaya calo “
“ buat jaga-jaga apa perlu si Pras kita karantina “
“ itu lebih baik ! Kalau perlu kita pasung aja , biar nggak bisa kemana-mana .“

“bunuh aja sekalian…bunuh!” ujarku jengkel mendengar komentar para tetangga yang ribut . Dan bukannya reda, komentar justru berkembang mendengar jawabanku itu. Mereka mengira aku mengigau dan kerasukan Jin kantor.
Tadinya salah satu dari mereka mau memanggil Ki Joko Bodo buat mengusir Jin itu. Tapi yang lain mencegah. Takutnya infotainment mencium kasus ini, dan akan tambah heboh nantinya .

Wahai ! Ayah ibu yang baik, kalian tak tahu kalau anakmu ini tersandung ranjau gairah cinta yang membabi buta ,hingga si babi ... eh, aku tak bisa melihat lagi ada jurang yang kini menelanku dalam kegalauan yang merantai (wow, puitis abis !).

Wahai ! Tetangga yang budiman, andai kalian mengerti, inilah yang seperti diungkapkan pujangga jawa sebagai ketaman asmoro, nandhang wuyung, tertancap asmara, terbeban rindu. Dan si Evie Tamala memberi resep, bila rindu, obatnya ya harus ketemu.

Wahai ! Wulan dan Endah yang sama moleknya, kalian Adalah simpul tali kebingungan yang membelitku hingga tak tahu lagi , bagaimana aku melangkah. Jangankan melangkah, bangun dari tempat tidur saja kini aku tak bisa.

Endah adalah gairah cinta di usia tengah hari ku, yang membuat jiwa ini melayang dalam maya euforia pubertas . Berkelana bebas dalam keindahan yang liar, dan keliaran yang indah.

Wulan, tepatnya Wulandari adalah Bidadari ku di masa lalu, yang berenang di telaga kenangan, kemudian selendang nostalgi nya itu kucuri dan tetap kusembunyikan di lumbung kalbu, hingga si Bidadari tak bisa terbang bebas meniti pelangi.
Bidadari itu tetap menghuni sepersepuluh ruang Hardisk hatiku di Folder yang paling bawah. File memory itu Tertumpuk perjalanan hidup ku yang minus kehadiran wanita. Namun saat berjumpa tempo hari, reload terasa cepat sekian ratus kilobite per second.

Wahai masa lalu !

Wahai Asmara !

****

.
Endah sendiri memang beberapa kali datang kerumah menjengukku. Tapi setiap kali dia datang, dan melihat wajah jelitanya, terbayang pula Wulan dalam bayang seumuran Endah. Dan semakin itu pula mataku bagai melihat pisau bermata dua yang menusuk jiwa bergantian. Untuk menghindari pisau itu menusuk jiwa, aku menunduk dan sibuk melahap goreng bakwan yang dia bawa, yang memang kesukaanku.

“ Mas,…mas kenapa sih,…sakit apa ? “

Aku tak menjawab, karena tengah berjuang menelan bakwan yang aku hajar dengan cabe rawit tiga buah.

“maaf kalau kejadian kemarin bikin Mas, kaget…Endah pikir Cuma kaget sedikit, nggak tahunya sampai begini parah…”

“aku nggak apa-apa Ndah…mungkin stress dan cape di kantor ”

Aku bersyukur, Wulan, Ibunya, tak menceritakan siapa aku sebenarnya, dan tentang masa lalu kami yang sedikit banyak telah terjalani kisah asmara semusim dengan bumbu manis pedas bersama. (sedikit asin juga sih, soalnya kami pernah berenang di laut Karang Bolong)

“ Ibu mu nggak apa-apa ? “
“ nggak apa-apa…kalo Cuma kaget begitu, sih dia udah biasa, kuat…jangankan Mas Pras,..tukang kredit tiga orang dateng nagih hutang bebarengan juga , Ibu tetap kuat.”

Ah, lugu sekali gadis ini. Dan malang sekali nasib ibunya. Selalu berhadapan dengan tukang- tukang kredit yang kadang bengis tanpa ampun saat menagih uang panci atau kompor nya.

Dia duduk sopan di tepi ranjang. Perlahan kugerakkan tangan menyentuh jemarinya. Dia membalas dan menaruh tanganku di pahanya.
Seolah seorang suster bijak macam tokoh di kisah English Patient, tangannya jatuh meraba dahiku, lalu turun ke dagu, turun lagi ke dada. Mungkin kalau aku dalam keadaan sehat waras, tangannya akan aku suruh turun kebawah dan kebawah lagi. (bener-bener nih buaya! Sudah sekarat masih juga PikTor )

Melihat perkembangan yang ada, akhirnya aku memutuskan mengambil cuti full dari kantor. Aku pamitan pada ayah ibu, kalau aku akan pergi berlibur menenangkan hati. Mereka senang karena anaknya telah sembuh dari masa kritis. Dan tentu saja menyambut dengan sorak gembira tentang acara liburanku. Padahal mereka tidak aku ajak, lho.

“ Kamu mau kemana, Pras…”
“ liburan, Bu…cari suasana tenang”
“ liburan kemana, …puncak lagi longsor, Bali sudah nggak indah lagi kebanyakan Cafe,…Singapur juga jangan, salah-salah kamu dikira bawa duit negara lalu kabur ke sana…. Baiknya kebun Binatang Ragunan aja. Gorila nya lucu-lucu, dan buaya nya sudah nambah tuh ! kamu kan suka sama buaya !”
“ ah, Ibu,.. aku memang pecinta wanita, tapi aku bukan buaya, Bu….Nggak ah, Aku mau ke tempat eyang aja ,… Gombong “

Syahdan, ayah ibu memang berasal dari sana. Gombong. Sementara aku pernah lima tahun bersekolah di sana dan tinggal bersama eyang. Di sana pula aku mengenal Wulan. Teman satu sekolah SMA swasta di Gombong.

Seperti kini aku pacaran dengan Endah, dengan Wulan pun sebenarnya kami tak cocok dalam kesukaan. Aku suka nonton bioskop, dia suka nonton kethoprak jawa. Aku suka musik rock macam Roling Stones, Nazareth dan Aerosmith, Wulan justru mengidolakan Dian piesesha, Ria Angelina dan Ira Maya Sopha. Aku suka singkong, dia suka ketela, (ini sih cuma beda nama! ).
Alhasil, dia hanya terbengong tak mengerti secuilpun ketika aku mengumbar cerita tentang kehebatan Dirty Harry dengan magnum 44 nya menumpas tanpa ampun para bandit di Dead Pool atau kebrutalan Tony Montana menghabisi sobat karibnya karena memacari adiknya di Scarface .(padahal yang nafsu adek nya tuh !)
Tak mau kalah, Wulan gantian mendongengkan aku tentang heroiknya si jagoan Tuban Ronggolawe yang dikeroyok mati teman-teman Majapahit seperjuangannya sendiri di Kali Brantas, atau romanticnya si Opportunis cinta ,
Jaka Tarub yang nyolong selendang si Dewi Nawang Wulan yang kala itu mengekspose pornografi, mandi bugil di telaga desa . Padahal di Puri Khayangan Estate telah disediakan kolam renang pribadi lengkap dengan pelayanan Spa.
Kalau bercerita tentang dongeng ini, Wulan amat attractive dan mengeluarkan pesona kenes-nya seolah dialah sang Bidadari Nawang Wulan itu. Dan aku sedikitpun tak ada yang nyangkut soal dongeng nya, yang ada aku hanya menikmati kemolekan tubuh dan pesona kenes dirinya.

Dan masalah dengerin lagu, lebih konyol lagi. Dia tutup telinga dan menggigit bibir karena Honkytonk Woman si Stones menggemuruh dari tape recorder yang kami bawa ketika wisata ke Karang Bolong. Sementara giliran selanjutnya, aku tertidur terbuai dayu lembut Birunya Rinduku si Ria Angelina.

Tapi falsafah cinta mengajarkan, bahwa cinta bukanlah pertemuan dua hati untuk saling menghilangkan perbedaan, tapi memahami perbedaan itu dan menerimanya dengan ikhlas. (ini aku baca di buku Chicken Soup and Golden Soul yang sampulnya warna pink itu)

Begitulah gelora cinta kami bak gelombang Karang Bolong nan abadi. Hingga di kelas dua, dia terpaksa keluar karena akan dinikahkan oleh orang tuanya pada anak rentenir karena berhutang banyak dan tak bisa melunasi. Dan sebagai anak berbakti, dengan gagah berani Wulan menerima perkawinan itu. (masih ada ya tradisi begini! dengan setulus hati aku mengutuk rentenir itu smoga disambar gledek nyasar !).

Ironis memang, saat peristiwa itu berlangsung, hilang karakterku yang berselera musik keras. Aku menangis tergugu bersandar pada pohon. Dan Wulan, kulihat tegar tanpa berkedip mata menerima nasibnya. Kami tak bisa berkata. Dan terakhir, aku melihatnya melangkah dewasa berjalan meninggalkanku yang masih menangis. lalu beberapa langkah menoleh kearahku dengan adegan slow motion teriring dayu pilu Dian Piesesha di tape recorder.

Mimpi mimpi tinggal mimpi
Tak satupun yang menjadi nyata
Janji sehidup semati
Kini tinggal janji di bibirmu

Kau pergi biarkan diriku
Kau tinggal..tinggal aku sendiri

*) Perasaan, lagu ini dicipta oleh Pance Pondaag th.1983, dan disenandungkan oleh Dian Piesesha dengan suara rintih nan menghiba

Demikianlah pembaca setia, kini aku kembali ke masa lalu, seorang diri. Aku pamitan pada Endah bahwa aku pergi sebentar untuk ziarah ke makam Eyang. Semula dia mau ikut. Takut kalau mendadak sakit ku kumat lagi di tengah jalan. Tapi aku menolaknya. Aku bilang, aku cuma sakit panas dan bukan epilepsi, jadi tak mungkin kumat.
Sempat sikap anak kecilnya singgah, dia bilang aku sengaja mau menghindar darinya. Tapi aku yakinkan, kalau aku tak ada niat untuk meninggalkannya. Ini Cuma masalah waktu.

Mungkin beberapa hari tinggal disana, membuatku tenang dan bisa menentukan apa yang akan aku putuskan pada Endah

*****

Menyusuri jalan itu, menyusuri pantai itu, seribu gerimis kenangan jatuh satu-persatu membasahi dahaga romansaku. Pantai itu masih bergemuruh. Karang masih tegar di keroyok ombak. Dan pohon kelapa tak lelah menari memayungi lintas generasi yang berganti berpacaran di bawahnya . sedikit iri sih, (dan aku menyesal mengapa tak mengajak Endah ).

Iseng, aku singgah di satu warung kecil yang terpisah dari keramaian. Turun dari mobil, beberapa anak menghampiriku dengnan seikat ikan cumi dan memintaku membelinya. Aku bilang nanti. Aku baru datang. Dan mereka berkumpul tak jauh dari warung itu.

Kini, dengan satu gelas teh tubruk dan goreng singkong, aku menikmati pantaiku dulu yang hanya berjarak sepuluh meter dari tempatku duduk.

Seorang nelayan melempar jala, lalu menariknya. Kulihat, tak ada ikan yang di dapat. Dia marah-marah pada laut. Dan pergi kearahku sambil mengelus-elus sabatang rokok.
Usai meminta api pada sipunya warung, dia duduk disampingku menghisap rokok dan membenahi jaringnya yang kusut. Barulah dia sadar kehadiranku di situ.

“ dapet banyak Pak, ikannya”
“ wah, lagi sial, Dek…dari pagi Cuma dapet sepuluh. Itu juga bawal kecil “

Dia meminta gelas, dan menuang teh poci ku. Kulihat wajah lugu dan guratan lelah akan hidup.

“ minta teh nya Dek…dari jakarta, ya “
“ iya, Pak…”
“ lagi liburan ? “
“ iya , sambil nengok kuburan Eyang “
“ anak saya juga di jakarta….sudah lama juga tidak ada kabar. “

Aku mengambil singkong.

“ kalau ingat saya jadi nyesel sendiri, dia anak perempuan saya satu-satunya….saya nyesel kalo dulu nggak ikut-ikutan dan gila judi, nggak bakalan saya punya hutang sama lintah darat itu…”

Aku mengunyah singkong makin cepat.

“padahal, menang tidak, apalagi kaya ,tapi harta ludes kejual semua sampai perahu yang saya buat kerja ikut kejual…dan yang sungguh saya berdosa, …..”

Aku menuang teh.

“ saya serahkan anak perempuan saya agar bisa dinikahkan pada anak lintah darat itu, yang memang lama naksir sama anak saya...”

Aku berhenti meneguk teh.

“ Anak saya menerima jodoh itu, tapi dia nggak mau lagi ngomong sekecap pun sama saya sampai sekarang. Sampai si lintah darat itu mati kesamber gledek , ( Duh Gusti, kok kejadian bener,ya ! ) dan harta nya habis buat ngobatin anaknya yang strees di jakarta. …”

Aku tak bergerak di tempat

“ sekarang dia sudah janda. anaknya sudah tiga. Saya kirim surat, saya ngaku salah, ….dan minta dia supaya mau pulang kampung. Kasihan anak-anaknya. Toh, kalau masih jodoh, saya mau nikahin dia sama pacar sekolahnya dulu, itu juga kalau pacarnya masih ada dan mau, kalau nggak, anak pamannya ada yang duda, Cuma guru SD sih….”

Aku mati rasa.

“ kalau adek dari Jakarta, berarti kenal sama anak saya..”
“ apa, pak…oh..(gelagapan)..anu..wah,…ja..jakar ta…kan luas, Pak…mana…
mana saya tahu..”
“ ooh,., kali aja kenal,…kalo kenal tolong salam sama dia, suruh pulang ke Karang Bolong namanya …. Wulandari..”

Aku sudah tak mendengar kalimatnya terakhir, karena aku sudah berlari menuju laut, menuju ke tengah, dan ketengah lagi. Berharap supaya aku tenggelam ditelan gelombang laut selatan, atau di culik pasukan Nyi Roro Kidul yang sexy.

Aku berlari dan mengadu pada pantai, aku berlari dan berteriak pada hutan,
( pecahin saja gelasnya supaya ramai !..supaya tetangga dengar !…)

Aku berteriak dan megap megap. Tapi gelombang membawaku ke pinggir lagi. Dan Nyi Roro Kidul tak sudi menculik Jomblo macam aku (mungkin stok lelaki macam aku sudah punya)

Tak menunggu lama, aku sudah ada di mobil menuju Jakarta lagi.

Kutinggalkan Karang Bolong pemilik sah sertifikat kenanganku, kutinggalkan pantai yang bersorak berharap aku akan kembali membawa gadisku lagi padanya, kutinggalkan kota Gombong dengan membawa Cinta…entah untuk siapa !

Jelang Valentine ‘07

Read previous post:  
94
points
(2460 words) posted by rinojoe 7 years 36 weeks ago
67.1429
Tags: Cerita | cinta | endah | warung
Read next post:  
Writer KD
KD at Tujuhbelas Tahun ++ ( part 2 ) (7 years 32 weeks ago)
100

ha...32x (dua pangkat lima)

Writer Harsya
Harsya at Tujuhbelas Tahun ++ ( part 2 ) (7 years 32 weeks ago)
70

mas asyik juga nih, lanjutkan..!!!

Writer Valen
Valen at Tujuhbelas Tahun ++ ( part 2 ) (7 years 32 weeks ago)
70

Yang ini ciamik, bung! Kata-katanya uenak dibaca. ngalir. agak puitis juga. Di bawah 17 juga boleh baca nih?

Writer Ayo_e
Ayo_e at Tujuhbelas Tahun ++ ( part 2 ) (7 years 33 weeks ago)
80

he he .. segar

Writer ananda
ananda at Tujuhbelas Tahun ++ ( part 2 ) (7 years 33 weeks ago)
70

lucu ... deh

kayak boim lebon

Writer v1vald1
v1vald1 at Tujuhbelas Tahun ++ ( part 2 ) (7 years 33 weeks ago)
80

Huehehe, jauh lebih bagus gaya bertuturnya dari posting pertama. Bahasanya konsisten kocak. Tapi yang ini lebih kocak. Gw asyik bacanya.

Writer Faris
Faris at Tujuhbelas Tahun ++ ( part 2 ) (7 years 33 weeks ago)
80

Hahaha. Cerita yang keren juga. Ga ada kekurangan yang berarti yang bisa gw liat sih. Top deh. Gw suka gaya tulisan humor seperti ini, istilahnya ngelucu dengan muka dead-pan ala buster keaton. Hihihi

Writer pianoloco
pianoloco at Tujuhbelas Tahun ++ ( part 2 ) (7 years 33 weeks ago)
40

lucu juga, ini komedi kan?