Berpikir sejenak setelah membaca sms dari istriku, menerka nerka apa ini hanyalah lelucon atau memang benar adanya. Lalu kudapati diriku mengalah pada logika, tidak mungkin ia pergi ke bulan. Bulan yang sempurna di atas sana, yang selalu kesempatkan diri mengaguminya.
Read more (1086 words)
Pasti istriku sekarang sedang berada disuatu tempat menertawai kebingungan yang bertamu dikepalaku. Padahal tidak sedalam itu kenyataannya, aku hanya memerlukan jeda sedikit saja sebelum akhirnya aku tahu itu semua hanya tipu daya. Yah, siapa yang percaya kalau ada orang yang mengaku sedang berada di bulan, menunggu dijemput, meskipun orang itu adalah istri sendiri.
Kemudian kudiamkan saja sms itu, memilih meluruskan punggung diatas kasur sambil mencoba untuk tertidur. Sebentar lagi ia pasti akan datang menemuiku, pura pura kesal karena aku membuatnya menunggu, yang ternyata sia sia, lalu aku pura pura tidak tahu, tidur, membiarkan ia mengomel tidak karuan yang kemudian diteruskan mencubit bagian mana saja dari tubuhku yang membuat diriku terpaksa bangun dan menahan tangannya untuk tidak melakukan hal itu lagi dan ia pun tidak terima lalu memberontak, saling menahan yang akhirnya menjadi sebuah pergumulan kecil, lalu kita pun bercinta seperti biasa.
Jadi yang akan kulakukan sekarang hanyalah tertidur, menunggu sampai istriku datang.
Berisik dering handphone menyentakkan kembali tubuhku pada dunia nyata. Rupanya aku tertidur. Hm, berapa lama aku tertidur? Pasti cukup lama karena saat ini malam benar benar sunyi kurasakan.
“Halo”
“Sayang kamu lama banget sih, memangnya lagi ngapain?”
Ternyata istriku. Hey, dimana ia, kenapa selarut ini belum pulang. Ah, ya, aku ingat. Bukankah ia tadi sms menyuruhku menjemputnya di bulan.
“Sayang kok malah diam sih.”
“Eh, ya..ya..kamu dimana sayang?”
“Tadi khan aku sudah sms kamu aku ada dimana.”
“Ah kamu jangan becanda. Sudah malam, cepetan pulang.”
“Kalau kamu engga percaya ya sudah. Pokoknya aku akan menunggu kamu disini, di bulan. Titik!”
Tut! Tut! Tut!
Perempuan itu memang keras kepala, berusaha membujukku agar aku percaya apa yang dikatakannya.
Maksudnya apa dengan bersikeras bahwa ia berada di bulan. Entah karena penasaran atau hanya menuruti emosi yang tertahan, aku pun melangkah keluar. Mencari bulan, yang dengan gamblangnya sedang bertengger diatas kepalaku. Bulan itu masih sama, bulat terang dan jauh, tidak mendekat sedekat dekatnya dengan bumi. Sehingga aku yakin istriku tidak mungkin berada di sana.
“Hai, kamu mau kesana juga?”
Laki laki berambut ikal tetangga rumahku tampak sudah berdiri di sampingku. Sedikit heran karena jarang sekali kulihat tetanggaku itu keluar rumah saat malam sudah hampir separuhnya ini.
“Maksudmu?” Aku bertanya menanyakan kembali maksud perkataannya tadi.
“Bulan. Kamu mau kesana juga?”
“Memangnya bisa?“
“Kenapa engga. Sekarang aku akan kesana, kita bisa berangkat bersama kalau kamu mau.“
Pertama istriku, sekarang tetanggaku nanti siapa lagi. Orang orang yang percaya bisa pergi ke bulan. Memangnya bulan itu dekat. Mau naik apa kesana. Apa dia punya pesawat ulang alik, tapi tidak mungkin mobil saja dia tidak punya apalagi sebuah pesawat.
Mungkin menyadari kalau aku sedang bingung dan tidak percaya kepadanya, tetanggaku itu lalu memilih pergi sendiri. Berjalan memebelakangiku. Menatap lekat keatas, ke bulan itu menurutku.
Sret!
Melongo seperti sapi ompong, dengan mata yang kutajamkan meneropong. Laki laki tetanggaku itu tiba tiba memiliki sebuah sayap. Ya itu sebuah sayap.
Sayap kelabu baru saja keluar dari balik punggungnya. Aku tahu kalau itu sayap karena bentuknya memang seperti sayap. Rangkaian seribu bulu yang menyatu. Ringan menendang angin ke depan dan kebelakang.
Tetanggaku, seperti tidak terjadi hal istimewa, seperti menganggap bahwa menumbuhkan sayap adalah hal yang biasa, menoleh kepadaku.
“Aku duluan ya. Kasihan istriku sudah menunggu. Sampai ketemu di bulan.“
Kembali aku dikelilingi kabut imajiner yang memburamkan pikiran, antara mempercayai dan tidak mempercayai, tapi aku melihat sendiri kejadian itu yang memaksaku untuk membenarkan yang baru saja terjadi.
Bahwa sekarang aku percaya, mungkin ada kehidupan di bulan, seperti aku mempercayai bahwa tetanggaku telah terbang setelah dua sayap membentang di punggungnya. Tapi, bagaimana caranya?
“Om, lagi ngapain?“
Keponakanku yang beranjak remaja mendatangiku, dan seperti tetanggaku tadi, keponakanku itu juga memiliki sayap.
Sayap miliknya berwarna putih, lebih mirip sayap merpati karena bulunya begitu halus meskipun aku belum menyentuhnya tapi dengan melihatnya saja, aku sudah bisa menerka.
“Kamu juga punya sayap?“
“Ya, Om juga punya khan“Memandang sayapnya yang putih, sambil menatapku.“Om, mau ke bulan juga?“ Tanyanya lagi.
“Aku tidak tahu.Aku belum pernah memakainya.“
Sebelum aku menjawab pertanyaannya yang kedua, keponakanku itu sudah bicara lagi.
“Semua orang pergi ke bulan Om, terbang dengan sayapnya masing masing. Seperti yang akan aku lakukan.“
Punggungnya ditekukkan kedepan hingga dua sayap miliknya mengepak sempurna.
“Caranya gampang Om. Tinggal membayangkan wajah orang yang Om cintai saja, lalu tunggu sebentar, pasti dua sayap seperti ini akan Om miliki. Sudah yah Om, aku pergi dulu.”
Keponakanku berbicara mendahului apa yang akan aku tayakan sehingga aku tidak perlu bertanya lagi bagaimana caranya menumbuhkan sayap.
Tidak masuk di akal memang, tapi terkadang kita memang dihadapkan pada sesuatu yang mau tidak mau harus kita terima, karena hal itu memang kenyataan yang jelas jelas berada dihadapan. Aku pun lalu mengikuti metodenya, konsentrasi mengingat wajah istriku dan tentu saja hal itu sangatlah mudah mengingat setiap waktu aku selalu memikirkannya.
Sret!
Kurasakan ada sesuatu yang menembus kulit pungungku, dan segera aku merasakan ada sesuatu yang menggelayut disana.
Sebuah sayap. Ternyata keponakanku tidak bohong. Aku punya sayap. Tapi kok lain, tidak terbentuk dari kumpulan bulu yang menyatu, tapi seperti kain yang menyatu, dan berwarna merah dengan lingkaran hitam yang menyerupai mata. Aha, aku tahu sayap apa ini.
Sayap kupu kupu. Tapi kenapa?
Tanpa berusaha memikirkan jawabannya, aku pun segera terbang. Hanya menggerak gerakkan pundakku kedepan dan belakang , maka kedua sayapku akan mengepak dan aku pun terbang.
Tapi aku sedikit kecewa. Aku tidak bisa terbang secepat keponakanku. Pasti karena yang kupunya hanya sayap kupu kupu. Ah, pasti ini gara gara istriku yang sering menyebutku sebagai kupu kupu.
Angin menggigilkan seluruh persendian saat aku baru saja melewati gupalan awan. Aku terbang perlahan dengan pikiran melayang, pasti istriku marah lagi karena aku akan sangat lama sampai di bulan.
“Hai, lama amat sih kamu!“
Terkejut, kudongakkan kepala keatas. Seorang perempuan berambut panjang melayang dengan sayapnya yang berwarna warni seperti pelangi. Istriku.
“Hai, kamu bersayap kupu kupu?“ Istriku mengamati sayapku, memegangnya dengan lembut.
“Pasti gara gara ini yah, kamu jadi lama.“
Seakan mengerti keadaanku, istriku kemudian tidak mempersoalkan masalah ini lagi.
“Aku menyusulmu karena aku bosan menunggu. Sekarang mari kita pergi!“
Tangannya menggenggam tanganku, lalu melayang kesampingku hingga kedua sayap kami bersentuhan.
Kami lalu terbang berdampingan ke bulan.
“Dengan sayapku yang seperti ini, tentu akan memakan waktu yang lama sekali yah.“ Aku berkata kepadan istriku.
“Tidak apa apa, asalkan bersamamu.“
Aku segera menghentikan kepak sayapku, berhenti diudara, lalu memeluknya. Lalu memandangi matanya yang seakan akan aku melihat replika angkasa disana, dengan bulan dan bintang bintang.
Kami pun lantas meneruskan perjalanan. Terbang menuju bulan.
terima kasih atas komentnya :D
dilanjutin?
saat ini blm terpikirkan,lihat nanti saja:)
berani dilanjut..?
Rien tunggu ya...
keep writing
nice story..
Untuk imajinasinya aku salut! Meskipun agak absurd, aku rasa setiap orang bisa merasakan 'keindahan' dalam cerita ini; meskipun tidak mengerti arah cerita ini.
Manis sekali!
Tinggal dirapikan sedikit lagi ya, penulisan, ejaan, dan penggunaan tanda bacanya :)
Jika dieksplorasi lebih lanjut sehingga ada alasan-alasan tertentu mengapa orang-orang terbang ke bulan (dan mungkin ada orang-orang yang tidak bisa terbang ke bulan), seperti yang dikatakan fortherose, mungkin akan lebih 'mengena'.
Aku jadi ingat Einstein's Dreams-nya Alan Lightman waktu baca cerita ini :) Elemen absurditas dan keindahan bahasanya sudah 'dapet'! Tinggal pesannya saja yang masih mengambang ;p
Great!
...suka cerita tentang bulan^^.
sayang, tidak diungkapkan, ada apa di bulan? apa yang mereka lakukan di sana? apakah para tokoh ini penghuni planet bidadari? *halah^^*
eniweii... sepertinya masih perlu diedit untuk penggunaan kata 'di' (^^)
===
Kumcer Kemudian
jadi gak gitu ngerti nih...
tapi nice idea...
mau dilanjutin gak nih?
akhirnya beres juga petualangannya. bener2 Fantasy bro..
:)
slain itu, penggunaan kata2 yang puitik bro yang bikin salut...
keep writing
^_^
sebenarnya cerita ini indah, cm aku rasa terlau pendek dan suasananya kurang terungkapkan. mengapa sang itri menunggu'y di buan.
anyway nice story.