Angin sore membawa debu debu yang berasal dari tempat dimana hanya tanah gersang yang menghampar, tidak ada pohon atau pemukiman. Hanya tanah sejauh mata memandang, tanah yang berdebu yang sebentar sebentar diterbangkan angin. Angin yang menderu kesegala penjuru, yang mengakibatkan debu debu itu dapat terbang menuju tempat yang debu debu itu mau. Terbang melewati sungai sungai, laut, pulau pulau lalu menempel di batu batu, dinding dinding rumah, sampai akhirnya debu deu itu sampai juga di tempat kami. Menempati ruang yang debu debu itu inginkan, ada yang begitu tiba langsung menghingap di rerumputan tapi ada juga yang masih asik melayang layang diterbangkan angin.
Debu debu itu selalu datang setiap tahun, waktu angin berhembus tidak terlalu kencang, waktu awan awan tidak nampak kelihatan karena angin tidak membawa uap air, tapi debu debu yang beterbangan. Mereka, angin dan debu debu itu, datang bergerombol layaknya kerumunan tawon, namun tidak berdengung hanya suara gemerisik ketika debu debu itu bersentuhan dengan daun daun dan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya.
Dan akhirnya menjadi sebuah tradisi, dimana ketika debu debu itu datang, maka kami akan segera menuangkan teh dan menyandingkan kue kue kecil lau duduk di halaman rumah sambil membiarkan tubuh tubuh kami dikerumuni debu debu yang banyak sekali. Debu yang tidak terhitung, yang sudah pasti akan menutupi seluruh wajah dan tubuh kami. Tapi kami tidak terlalu khawatir seandainya saja debu debu itu memasuki mata dan hidung, karena debu debu itu sama sekali tidak mengganggu pernafasan, dan kami selalu memakai kacamata.
Kemudian setelah seluruh tubuh kami terselimuti debu, kami akan terdiam. Diam dan menajamkan telinga, sebab suara suara dari debu debu itu yang akan menggantikan keindahan sore yang tentu saja tidak dapat kami nikmati karena debu debu terlalu banyak menutupi jarak pandang. Suara suara itu, yang berasal dari debu, selalu kami tunggu tunggu karena debu debu itu akan membisiki kami dengan cerita cerita yang menjadikan tubuh kami seperti tersihir, seolah olah bahwa cerita itu merupakan bagian dari sejarah kehidupan kami meskipun kami belum pernah mendengarnya. Cerita cerita yang terus menerus memukau kami tanpa henti, sampai matahari tak lagi ingin menemani, pulang ke dasar lautan abadi, yang berarrti sudah saatnya debu debu itu pergi ke tempat asalnya dan akan kembali esok harinya untuk kembali menceritakan cerita cerita yang baru kepada kami.
Namun ada kalanya cerita cerita itu berupa cerita yang menyedihkan yang membuat mata kami basah oleh air mata yang berleleran mengalir turun, dan membuat semalaman kami tidak bisa tidur karena hal it uterus saja bermain main dalam pikiran.
Tidak banyak yang tahu dengan pasti bagaimana ceritanya debu debu itu seperti mempunyai mulut, membisikkan cerita cerita kepada kami. Meskipun di benak kami bermunculan pertanyaan pertanyaan yang tetap saja menjadi pertanyaan pertanyaan tanpa adanya sebuah jawaban karena kami tidak tahu bagaimana cara menanyakannya atau kami terlalu takut untuk bertanya karena kami sudah cukup bahagia dengan keadaan seperti itu, sambil berharap bahwa semua itu bisa menjadi abadi.
Akan tetapi bukan takdir seperti itu yang terjadi. Sudah dua tahun debu debu itu, tepatnya debu debu yang bercerita, tidak mengunjungi kami yang menjadikan tahun tahun kami menjadi kurang berarti. Tidak ada lagi cerita yang berbisik mesra di telinga saat teh kami membasahi kerongkongan daam satu tegukan penuh keceriaan. Kami merindukan debu debu itu. Rindu yang kami sendiri tidak tahu mengapa begitu rimbunnya tumbuh di setiap relung jiwa kami. Seperti kerinduan pada kekasih yang tiba tiba saja pergi, tanpa memberikan sebuah kabar atau sekedar pesan perpisahan.
Awalnya kami sempat menunggu, dengan teh dan kue kue kecil, dan terduduk di halaman rumah dengan harapan debu debu itu akan datang. Lalu tiba tiba datang angin sore, sama seperti angin yang membawa debu debu itu geraknnya, hembusannya, semua sama. Hati kami pun segera diselimuti bunga bunga. Tapi bunga bunga itu segera menjadi layu dan berguguran. Kami kecewa.
Debu debu itu sudah berubah tidak seperti dulu lagi, menjadi dingin, menjadi debu debu asing, debu debu yang lembek dan basah, debu debu kelabu yang aangkuh membisu, debu debu yang bukanlah lagi sebagai debu, tapi titik titik noda, debu debu yang kami sebut lumpur. Maka semenjak angin sore pertama membawa lumpur menuju tempat kami, kami tidak lagi menunggu debu debu kami yang pandai bercerita, yang sudah berganti menjadi lumpur. Karena kami tidak suka lumpur.
hem.. iya, kayaknya ada kaitannya dengan lumpur lapindo ya.
nggak yakin ngerti menurutku tulisan ini bagus kok.
kampung halaman keluarga ^^
**** miss worm's blog : pieces Info Kumcer Kemudian
nyante aja, debunya udah tak itung tuh 54 lho, keeereeeen!
aku kurang ngerti, terus menurutku byk pengulangan yg gak perlu, mungkin ini soal lumpur lapindo ya?jadi ingat cerpen Gerobak-nya Seno
mohon komentnya yah..:D
hem.. iya, kayaknya ada kaitannya dengan lumpur lapindo ya.
nggak yakin ngerti menurutku tulisan ini bagus kok.
kampung halaman keluarga ^^
****
miss worm's blog : pieces
Info Kumcer Kemudian
nyante aja, debunya udah tak itung tuh
54 lho, keeereeeen!
aku kurang ngerti, terus menurutku byk pengulangan yg gak perlu, mungkin ini soal lumpur lapindo ya?jadi ingat cerpen Gerobak-nya Seno