Balada Sang Don Juan

Aku cukup sadar kalau raut wajahku tampan. Setiapkali melintas, berpasang-pasang mata wanita mengerling ke arahku. Menatapku dengan binar-binar cahaya yang meski tak kulihat, tapi kuyakin maknanya. Penampilanku atletis dan barangkali juga bisa disebut seksi. Jaket denim yang selalu melekat di tubuhku menambah keren penampilan, membuat mata mereka menari-nari mengikuti gerak langkahku hingga menghilang dari pandangan. Diantara mereka ada yang terang-terangan, ada yang mencoba mencuri pandang malu-malu. Tapi, semuanya bernada serupa. Menyiratkan keinginan untuk dihampiri dan barangkali juga dipeluk olehku. Hmmm…Aku menikmati pemandangan itu. Ada satu kepuasaan berpendar di hati ini kala melihat mata-mata wanita itu menatapku penuh kekaguman dengan hasrat ingin memiliki. Wanita dengan beragam coraknya. Dari yang cantik seksi tinggi semampai hingga ibu-ibu yang bertubuh gemuk, bahkan nenek-nenek yang sudah keriput. Ya, aku memang punya pesona dan gemar pula menebar pesona…
Bukan hanya terhadap wanita, malah…
Seandainya, ya seandainya saja aku gay, mungkin aku sudah terbang ke awan saat Kevin, temanku yang tampan itu menatapku tak berkedip. Tapi, tentu saja aku tak berniat mendekatinya. Karena aku pria normal, pria tulen, sekaligus perkasa.
Hah! Perkasa!
You know what I mean?
Perkasa bagiku, berarti si penakluk wanita. Dan, memang begitulah.Tak terhitung berapa banyak gadis yang takluk di bawah kakiku. Kekasih? Dalam sekejap aku bisa memperoleh kekasih baru, yang bersedia menuruti apa pun yang kupinta, hanya dengan sebaris kalimat janji dariku untuk tetap di sisinya.
Baru-baru ini aku mengencani seorang gadis, adik teman sekelasku. Cantik, bertubuh indah dengan pinggang ramping yang menawan. Jantungku langsung berdegup kencang saat pertemuan pertama itu, dan dalam hati ini timbul sebuah tekad. Dia harus menjadi kekasihku! Aku begitu yakin ia akan menerima ‘pinanganku’ itu, seyakin reputasiku sebagai sang penakluk wanita. Dan ternyata, keyakinan itu memang cukup beralasan. Ia menerimaku sebagai kekasih tanpa syarat. Ah, betapa bahagianya hati ini…
Sayangnya, gadis itu old-fashioned dan lugu. Kubilang lugu, karena ia belum pernah berpacaran sebelumnya, meski usianya sudah lewat dua lima. Jangankan sampai ke taraf tinggi yang biasa kuarungi di malam-malam sepi dengan mantan-mantan kekasihku, ciuman pun ternyata ia belum pernah. Aneh bukan? Hari gini? Gadis secantik dia belum pernah melakukannya? Naluri lelakiku mencuat ke permukaan. Tiba-tiba saja merasa terpacu menjadi yang pertama baginya. Biasalah…
Begitulah selanjutnya. Malam Minggu selalu apel ke rumahnya, meski jarak antara rumahnya dengan tempat kosku seperti dari Sabang hingga Merauke, karena jauhnya. Tapi tak menjadi soal buatku. Jika cinta sudah merasuk di dada, kutub utara pun serasa hanya selangkah. Tapi apa benar itu cinta?
Dengan sabar aku mengencaninya. Kencan pertama dan kedua laksana kencan semasa SD, hanya sebatas jalan berdampingan seperti berbaris. Tanpa diwarnai sentuhan. Malam Minggu diisi dengan pergi menonton film komedi di bioskop, tertawa bareng hingga mata berair dan perut terasa melilit. Sehabis terpingkal-pingkal bersama, lalu berakhir dengan makan malam di sebuah restoran, masih juga sembari tergelak-gelak menertawakan adegan di film tadi. Setelah perut kenyang dan derai tawa pun usai, kencan diakhiri dengan mengantar gadisku pulang kembali ke tempat kosnya dalam keadaan utuh tak tersentuh.
Waktu terus bergulir...
Aku menunggu dan terus menunggu...

Bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Super x
Super x at Balada Sang Don Juan (12 years 19 weeks ago)
40

Kebetulan kali ye. Mirip banget dengan pengantar cerita yang baru aja gw baca di 1*t*h*n.com... ooops ketauan deh hobby gua apaan... :) semoga lanjutannya tidak sama seperti di situs itu. hiw2...

Writer meier
meier at Balada Sang Don Juan (12 years 19 weeks ago)
70

val, g tunggu lanjutannya..mau diapain tuh cewe...koq g deg deg-an ya..hahaha...hus!yg eksotis ya,jgn vulgar.

Writer Ayo_e
Ayo_e at Balada Sang Don Juan (12 years 19 weeks ago)
80

Duh bikin penasaran.. don juan menunggu apanya yah?
Hmm...sambungannya jangan di sensor nanti yah ...

Writer Valen
Valen at Balada Sang Don Juan (12 years 19 weeks ago)

V1vald1: Hua ha ha...Ini Don Juan kere tapi keren.
Sambungannya? Ada, tapi not to be posted. Takut kena sensor. Maybe!

Writer v1vald1
v1vald1 at Balada Sang Don Juan (12 years 19 weeks ago)
70

Huehehe, Don Juan yang kere. Hare gene don juan masih ngekost :p Yang tertarik wanita kelas mana dulu kaleee...
Tapi gaya berceritanya asyik, nyimaknya enak. Makanya sayang banget pas ternyata bersambung, eh ini dah ada sambungannya lom ya?

Writer niwatori
niwatori at Balada Sang Don Juan (12 years 23 weeks ago)
70

Bagian favorit: "Jika cinta sudah merasuk di dada, kutub utara pun serasa hanya selangkah. Tapi apa benar itu cinta?" , lanjut??

Writer KD
KD at Balada Sang Don Juan (12 years 25 weeks ago)
100

teringat kekasih pertamaku, amigo

Writer niawmiaw
niawmiaw at Balada Sang Don Juan (12 years 25 weeks ago)
80

Kenapa itu harus dipotong? Huhuuhuh.. jadi pengen tau deh kisahnya Juan. Coba yah kalau perempuannya selain lugu tapi juga jelek. Playboy idola perempuan seantero jagat raya naksir ama cewek jelek cukup bikin shock massa (baca: pembaca) deh kayaknya.
Wah.. gk sabar nunggu gw.. :D

Writer F_Griffin
F_Griffin at Balada Sang Don Juan (12 years 25 weeks ago)
70

Good Cut!
Narasi konsisten.
Untung pendek. Kalau rapat dan panjang... mata bisa cepat lelah.
Lanjutannya ditunggu.

Writer diorisnotgucci
diorisnotgucci at Balada Sang Don Juan (12 years 25 weeks ago)
50

hu hu hu hu... kayaknya cerita ttg playboy lagi musim ya? hmm... sejauh ini asik2 aja ceritanya, tapi nanggung. masa belum apa-apa udah bersambung. Bete!

Writer edowallad
edowallad at Balada Sang Don Juan (12 years 25 weeks ago)
50

kena tanggung lagi gue
don juan.aku suka sekali nama juan. begitu juga nama ana. makanya walau udah ganti cerita nama tokoh tetap ana dan juan. gek kreatif kalau menyangkut soal nama kali ya. hehehehe