The Matter of Love (Part 5)

Damien duduk di dekat ranjang, mengamati wajah Ari yang masih belum sadar. Ia kembali berpikir betapa waktu begitu berharga. Hanya butuh lima menit saja sebelum pria itu benar-benar kehabisan darah, lima menit dan nyawanya takkan terselamatkan.

Damien baru saja berhenti menangis, kini ia hanya menunggu dengan doa-doa terucap tanpa henti di dalam hatinya. Pak Naryo menunggu di luar, begitu sedih sampai tak berani menengok ke dalam.

Damien menjaganya sepanjang malam. Sesaat ia akan terlihat menggenggam tangan pria itu, tanpa berbicara apapun, sesaat kemudian ia akan menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang karena kelelahan, dan tertidur selama beberapa menit.

Pak Naryo akhirnya memasuki ruangan, membawakan Damien rantang besar, bungkusan berisi buah dan botol minuman, namun ia hanya meletakkannya di atas meja. Ia mengamati Ari sebentar dan Damien yang sedang menggenggam tangannya, sebelum keluar lagi dengan air mata menggenang.
---

Keesokan harinya, Ari membuka pelupuk matanya untuk pertama kalinya dan mendapati tangannya dalam genggaman seseorang, ia melihat Damien tertidur dengan kepala di tepi ranjang. Ari masih sangat lemah untuk berbicara. Ia hanya tersenyum saat melihat wajah Damien yang kelelahan di dekatnya, dan orang itu hanya seorang teman yang baru saja ia kenal.

Ari menggerakkan sedikit tangannya, membuat Damien mendadak terbangun. Pria itu seketika melepaskan genggaman tangannya dan tersenyum—antara malu dan lega. Ari membalas tersenyum.

“Kau menjagaku selama ini?” Tanya Ari lemah.

Damien mengangguk pelan, “Dan Pak Naryo, beliau menunggu di luar.”

“Maafkan aku,” kata Ari sedih.

“Tidak apa-apa,” gumam Damien tersenyum. “Aku lega sekali kau baik-baik saja.”

Dengan bantuan Damien, Ari bangkit dan duduk di ranjang dengan bersandar pada bantal, Damien mengambilkannya segelas air dan membantunya minum. Tubuh pria itu terlihat sangat rapuh.

“Tunggu sebentar,” gumam Damien, berdiri dan meninggalkan ruangan. Ia kembali beberapa menit kemudian dengan baskom dan handuk putih kecil di lengannya.

Ari hanya membiarkan saja ketika pria itu mulai membasahi handuk dengan air hangat dalam baskom dan menggunakannya untuk membersihkan wajah, leher dan lengan dan tubuhnya. Kemudian, setelah selesai, Damien membantunya berganti pakaian.

“Maaf, aku sangat merepotkanmu Damien,” kata Ari akhirnya, mengamati pria itu terus. Damien hanya menunduk, ia sedang mengupas buah mangga yang dibawakan Pak Naryo.

“Aku kebetulan berada di sana,” kata Damien, memberanikan diri memandang wajah pria itu. “Aku tidak tahu beban apa yang kau pikul, Ari. Aku memikirkannya sejak saat itu.”

Kini Ari menunduk. Damien menusuk potongan buah mangga dengan garpu dan menyuapi pria itu. Ia mengunyahnya pelan. Damien menyuapi potongan yang kedua, dan bulir-bulir air mata mengalir di pipi Ari.

Damien meletakkan piring dan garpu ke atas meja dan berhambur memeluknya.

dikirim hephaistion 49 weeks 1 day yang lalu
Tag: