Pathetique

Dan tiba-tiba saja aku merasa terasing di tempat itu.

Kafe Ciccone’s selalu saja penuh dengan pasangan-pasangan penuh cinta, kecuali aku, satu-satunya yang datang tanpa pasangan. Awalnya aku nggak peduli. Aku pede-pede aja masuk ke Ciccone’s dan memilih tempat yang cukup jelas terlihat dari dapur, tempat Javier bekerja. Tapi semenit berikutnya aku menyesal dan merasa Javier bisa langsung menebak tujuanku datang kemari.

Aku melayangkan pandangan ke kiri kanan mejaku. Kulihat pasangan di meja lima belas lengket terus satu sama lain, seperti nggak bisa dipisahkan. Aku sampe menduga ada lem yang kasat mata diantara mereka, makanya bisa terus rapat begitu. Yang di meja tujuh belas juga sama saja. Sekat berupa palang kayu dengan pot-pot berisi tanaman katsuba plastik di atasnya nggak mampu menutupi aktivitas kaki mereka di bawah meja. Kaki kiri si cewek, yang sudah melepas sepatunya, bergerak nakal di kaki cowoknya. Jari-jari kakinya merayap naik sampai ke pipa celana chino pacarnya—MENJIJIKKAN! Apa orang-orang itu nggak sadar kalo mereka berada di tempat umum dan NGGAK seharusnya pamer kemesraan yang vulgar seperti itu?

Tapi ah, kupikir-pikir lagi kayaknya akunya aja kelewat sirik. Kurasa kalo aku punya pacar dan dia duduk di sebelahku sekarang, aku bahkan nggak peduli dengan keberadaan mereka.

Aku dan Javier nggak pacaran.
Aku menyebut hubungan emosional kami adalah cinta platonis. Sebenarnya sih istilah itu bisa-bisanya aku aja yang bikin. Javier nggak pernah memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia ada hati padaku. Dia memperlakukanku biasa saja, nggak lebih dari sikap ramah pelayan pada semua langganan kafe.
Meskipun begitu, aku selalu berbohong pada diriku sendiri dan dengan yakinnya merasa bahwa Javier jatuh cinta padaku, hanya saja dia nggak berani mengungkapkan. Itulah—kebohongan itulah—alasanku bertahan dan terus berharap.
Ah itu dia datang! Nggak peduli secapek apapun aku hari ini, berganti-ganti kostum, meskipun kakiku sudah pegal dan jenuh karena terus-terusan tersenyum selama dua jam terakhir, aku tetap memaksakan diri datang ke Ciccone’s. Aku harus ketemu Javier. Mati setelah inipun jadilah asal aku ketemu dulu dan ngobrol-ngobrol dengannya.

“Syukurlah kau datang,” katanya, menghampiriku dengan buku menu di tangan. “Kami punya menu dessert baru, nggak kalah enaknya dengan Tarte Citron Mama.”

Ah, seandainya dia tau kalo aku bahkan nggak peduli dia bawakan aku sepatu goreng sekalipun, pasti aku makan. Aku bilang aku suka Tarte Citron Mama, padahal itu nggak lebih karena Javier yang merekomendasikannya.

“Bawain apa aja! Aku kemari cuma pengen ngobrol sama kamu kok,” akuku jujur untuk pertama kalinya. Aku sendiri heran dengan keagresifanku yang benar-benar di luar skenario. Jangan-jangan karena aku kecapekan jadi aku sampe lupa berpura-pura?

Javier kembali ke dapur, mengambilkanku Tarte Citron Mama dan sepotong kue yang tak kalah cantiknya. Dia juga menyuguhkan kopi untukku. Capuccino sih tepatnya.

“Aku bisa gendut kalo keseringan makan sebanyak ini!” seruku sambil tertawa renyah. Javier, yang tiba-tiba menyadari profesiku sebagai model dan nggak seharusnya aku makan makanan yang berlemak seperti ini, secara refleks langsung menarik piring berisi cake tadi dan hendak membawanya kembali ke dapur.

“Aku minta maaf. Nggak seharusnya—“
Aku menahannya dan memaksanya duduk kembali. “Nggak pa-pa kok. Kamu duduk aja disini, ngobrol denganku.”

Javier memandang khawatir ke arah pintu dapur yang tertutup.

“Nggak bakal lama kok,” kataku, seperti bisa membaca pikirannya.

“Ya udah,” kata Javier, akhirnya tersenyum. Bahunya pun nggak tegang lagi. “Gimana kalo kita mulai dengan pertanyaan, ‘apa kabar?’”

“Baik,” kataku dengan sangat meyakinkan. “Selalu baik.” Dan dalam sekejap semua lelahku lenyap entah kemana.
* * *

Tema Fuga untuk edisi April adalah Return of The Vintage. Fuga akan menampilkan mode-mode klasik yang kembali digemari. Busana-busana yang kukenakan untuk pemotretan hari ini dimaksudkan untuk menginterpretasikan tema yang mereka ambil. Aku baru saja selesai berganti pakaian dengan gaun berpotongan new look yang sempat populer dan melambungkan nama Christian Dior sebagai perancang busana. Damien Tavares—pasanganku untuk pemotretan cover kali ini—mengenakan kemeja putih berbahan tipis, dipadu dengan setelan jas pas badan berwarna senada.

Penata rias menyapukan blush on atas perintah si pengarah gaya yang cerewet itu.

“Pose, 1, 2, 3…” Lampu blitz berpendar bertubi-tubi ke arah kami. Aku sampai heran, kenapa mereka perlu memotret kami ratusan kali kalo nantinya hanya satu saja yang terpakai sebagai cover. Tapi semua pertanyaanku hanya kusimpan di dalam hati karena apapun yang akan mereka lakukan dengan foto-fotoku nanti, aku nggak bakalan ambil peduli. Toh aku udah dibayar ini.

Damien berusaha mengajakku mengobrol beberapa kali di sela-sela pemotretan tapi aku nggak begitu meladeninya. Pikiranku melayang jauh ke tempat lain. Ke Ciccone’s, ke tempat Javier… Hari ini ulang tahun Javier dan aku udah mempersiapkan kado kejutan untuknya. Jauh-jauh hari aku ke counter Bonia dan membelikan jam bertali kulit asli untuknya. Aku juga berencana membawa sebotol Merlot untuk merayakannya.

“Sayang!” tegur fotografer, agak marah. “Fuga nggak membayarmu untuk melamun. Ayo, senyum!”

Damien menoleh sekilas padaku, lalu menggumam tepat sebelum fotografer menghujani kami dengan bidikan kameranya lagi, “Tenang, cuma pemotretan biasa kok.”

Kamu sih gampang bilang begitu, gerutuku dalam hati. Meskipun nggak terlalu mengikuti perkembangan karirnya, Damien memiliki jam terbang tinggi di dunia model. Beberapa kali aku melihatnya mengisi beberapa majalah mode beken lainnya: Vogue (berpose dengan Rebecca Romijn-Stamos—lucky bastard!), Elle Men, Wallpaper, Flaunt dan lain-lain. Kudengar dia juga direkomendasikan menjadi imej produk parfum Stetson terbaru. Nggak heran pemotretan cover ini dianggap ‘biasa’ olehnya.
Dengan enggan aku membiarkan Damien melingkarkan tangannya ke pinggangku—atas suruhan pengarah gaya. Aku memaksakan diri untuk tersenyum, lalu membiarkan fotografer mengabadikan kemesraan palsu kami.

“Sempurna!” seru sang fotografer dengan senyum puas. Bagus, pikirku. Berarti aku bisa kabur secepatnya dari tempat ini!

Setelah pemotretan aku buru-buru menyetop taksi di depan gedung Fuga dan pergi ke flat Javier. Aku sudah berusaha menghubungi ponselnya, berharap dia mau bersabar menungguku dan menghangatkan makanan sampai aku datang, tapi handphonenya sedang tidak aktif. Sempat kepikiran juga menelepon ke flatnya, tapi aku lupa memasukkan nomornya ke phonebook ponselku.“Sori ya, J,” kataku, meninggalkan pesan di mailbox, “Aku lagi di jalan, mo ke flatmu. Yang sabar ya nunggunya?”

Dan aku mulai mengutuki orang-orang yang kuanggap besalah telah membuatku terlambat. Fotografer dan asisten merangkap pengarah gaya—aku membencinya sampai ke ubun-ubun. Mereka yang membuat pemotretan ini lebih berat dari yang sebelum-sebelumnya. Menyebalkan! Kapan-kapan kalo ada job di Fuga lagi, aku nggak mau mereka berdua terlibat dalam pemotretanku.

Aku menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Napasku terengah-engah, olah raga malam seperti ini nggak cocok untukku yang nggak suka aktivitas gerak otot dalam bentuk apapun. Liftnya rusak, kata penjaga pintu. Hah hah hah hah, sudahlah! Seolah penyesalanku nggak cukup menghukumku, aku sekarang harus membiarkan sepatu Jimmy Chooku menyiksa kakiku pelan-pelan. Kakiku lecet-lecet, itu sudah pasti. Tapi aku nggak berhenti, apalagi menyerah. Aku terus berusaha naik sampai ke lantai empat, tempat kamar Javier berada.

“Thanks, God,” aku menghembuskan napas lega. “Akhirnya nyampe juga…” Tanganku meraih kenop pintu, sempat merasa curiga karena nggak terdengar suara apapun di dalam sana. Lampunya pun dimatikan. Aku jadi cemas, jangan-jangan Javier belum pulang. Tapi ah, masa dia membiarkan pintu flatnya terbuka dari luar seperti ini?

“Javier?” panggilku ragu-ragu. Tumit sepatuku berdetak-detak, menjadi satu-satunya suara yang mendominasi keheningan di dalam flat Javier yang gelap gulita. Tanganku menggapai-gapai saklar lampu di belakang lemari buku. Aku masih ingat posisinya karena Javier pernah mengajakku ke flatnya, tapi murni cuma untuk mengambil novel terbaru John Grisham yang ingin aku pinjam.

Mataku membelalak kaget begitu lampu kamar Javier dinyalakan. Mulutku langsung kubekap dengan kedua tanganku, takut jeritanku bisa membangunkan penghuni bangunan ini. Lututku lemas, seperti baru disetrum. Dan sesaat itu pula aku terpikir untuk bunuh diri. Aku baru saja melihat…

“Kalian… sejak kapan?” Kemarahanku tertahan di tenggorokan dan hampir saja botol Merlot di tanganku terlepas saking shock-nya. Aku membeku disitu, menyaksikan pemandangan yang nggak seharusnya dan nggak ingin aku lihat. Javier juga sama terkejutnya denganku. Dia mendorong cowok yang menindihnya supaya menjauh.

Aku kenal cowok itu! Dia juga bekerja di Ciccone’s dan kalo nggak salah namanya Brent. Javier bilang mereka berdua berteman baik. Brengsek!

“Aku bisa jelaskan,” kata Javier pelan, nyaris berbisik.

“Nggak!” seruku dengan suara serak. Air mataku merusak maskara yang kupakai, membentuk aliran kecil berwarna keruh melintasi pipiku yang memerah. “Nggak ada yang perlu dijelaskan. Semuanya jelas! SANGAT JELAS!!!”

Aku nggak peduli Javier akan mengejarku ato tidak. Aku bahkan nggak peduli tak sengaja membanting pintu cukup keras sehingga membuat seorang wanita yang berjalan dari arah yang berlawanan tersentak saking kagetnya. Yang menyesaki pikiranku sekarang ini adalah betapa bodohnya aku sampai membiarkan diriku hancur sehancur-hancurnya seperti ini. Aku menyerahkan cinta pertamaku yang paling tulus dan paling naif pada seorang gay—cewek idiot mana (selain aku) yang akan bertindak seceroboh itu?!
* * *

Kejadian itu berlalu tiga tahun lamanya dan aku hampir bisa mengenyahkannya dari pikiranku. Setelah menamatkan sekolah, aku pindah ke New York dan mencurahkan seluruh tenagaku sebagai model profesional. Di New York juga aku ketemu Damien untuk kedua kalinya. Setelah beberapa kali kencan dan makan malam, Damien memintaku jadi pacarnya. Tadinya aku sempat ragu, kepikiran bahwa Damien pastinya punya pengalaman banyak dengan model-model cantik yang ditemuinya saat pemotretan dan fashion show—aku merasa bukan apa-apa dibandingkan mereka. Tapi Damien terus meyakinkanku bahwa dia jatuh cinta padaku bukan karena perkara fisik seperti itu. Dia mencintaiku karena aku istimewa. “Kau orang pertama yang membuatku tergila-gila,” akunya.

Kalo sudah begini, gimana aku nggak langsung lumer coba?

Agensi tempatku bekerja memberiku banyak kesempatan untuk berkembang, sampai kemudian akhir tahun lalu aku berhasil menjalin kerja sama dengan produk kecantikan yang sedang hip saat ini. Tadinya kukira aku tak akan punya kans menjadi model iklan CoverGirl.

Saingannya terlalu berat. Beberapa nama model terkenal digosipkan menjadi kandidat. Belum lagi isu yang mengatakan bahwa model berwajah Asia sangat sulit untuk maju di dunia modelling dikarenakan isu rasial yang sangat keras di dunia mode. Para desainer lebih suka memakai model-model Eropa atau Amerika untuk mempromosikan produk mereka, karena lebih menjual ketimbang model-model Asia.

“Tapi buktinya Lucy Liu bisa terkenal,” kataku menangkis isu itu.

Penata rambutku hanya menggeleng sambil tersenyum. “Lucy Liu kan bukan model. Dia aktris, sama halnya dengan Lisa Ling. Kalian bertiga nggak sama.” Lisa Ling adalah presenter The View yang juga merupakan reporter termuda di Channel One News.

Tapi telepon dari agensiku hari ini telah mengenyahkan ketakutanku. CoverGirl sangat menyukai portfolioku dan hasil wawancaraku minggu lalu. Mereka memutuskan untuk mengontrakku setahun penuh. Kebetulan tahun ini CoverGirl mengeluarkan produk lipstik dengan rangkaian warna yang mereka namai Japonaisserie Rhapsody. Aku nggak sabar menunggu pemotretan pertama yang dijadwalkan minggu depan.

Ha ha ha ha ha, nggak nyangka ya aku gadis CoverGirl!!! Model Asia pertama yang menjadi imej produk kecantikan yang terkenal di Amerika Serikat—gimana aku nggak bangga?

Dan ternyata bukan itu saja kejutan yang aku dapat hari itu.

Tepat ketika aku mengangkat gagang telepon dan bermaksud untuk menghubungi Damien, memberitahunya tentang kabar baik ini, bel apartemenku berbunyi. Aku nggak punya firasat apa-apa, mungkin karena pikiranku sedang dipenuhi hal-hal menyenangkan sejak tadi.

“Siapa?” kataku, membukakan pintu untuk orang itu.

Aku terhenyak. Di hadapanku berdiri orang yang tak sudi kutemui sampai kapanpun, yang mengenakan kaus longgar berlogo Armani Exchange dan celana kargo berwarna hijau lusuh. Tiba-tiba aku menyadari bahwa pelarianku dari Brooklyn ke New York sia-sia saja. Masa lalu itu akan selalu menghantuiku, bahkan membuntutiku sampai ke depan pintu apartemenku.

“Halo,” sapa Brent dengan suara gugup.

“Mau apa kemari?!”
* * *

“Aku datang demi Javier,” kata Brent memohon. Aku nggak membiarkan dia masuk ke apartemenku. Kami mengobrol di depan pintu, sekaligus memberi isyarat bahwa aku memang nggak mensyukuri kedatangannya sedikitpun. “Dia bener-bener pengen ketemu sama kamu.”

“Ketemu? Untuk apa?” aku mendengus. “Lagian kalo dia memang tulus mo minta maaf sama aku, mestinya dia dateng sendiri dong. Nggak perlu pake perwakilan gini.”

“Dia pasti datang, Ver, kalo dia bisa.” Wajahnya berubah sedih saat dia menekankan kata bisa. “Javier… sekarat.”

Aku begitu membenci Javier sampe mengharapkan hal yang buruk-buruk terjadi padanya. Aku pernah mengkhayalkan Javier ditabrak mobil, jatuh dari lantai seratus, keracunan makanan dan masih banyak lagi. Tapi AIDS? Terpikir pun enggak.

Rupanya meskipun dia berpacaran dengan Brent, dia tetep nggak bisa meninggalkan gaya hidup bebasnya yang sering berganti-ganti pasangan. Parahnya lagi, Javier paling nggak suka memakai kondom. Nggak puas, katanya. Jadi, virus itu kemungkinan besar berasal dari salah satu pasangan one night stand-nya.

Kesehatan Javier berangsur-angsur memburuk. Berat badannya berkurang drastis dan dia gampang terserang sakit. Waktu dibawa ke rumah sakit, dokter yang menanganinya angkat tangan. Javier pun dipindahkan ke rumah sakit New York yang fasilitasnya lebih lengkap.

“Terus kamu sendiri gimana?” tanyaku hati-hati, nggak mau membuat Brent tersinggung. “Apa kamu, kau tau, tertular?”

“Waktu aku memeriksakan diri ke dokter, hasilnya negatif. Aku harusnya lega, tapi di sisi lain entah kenapa aku nggak bisa mensyukuri hal itu. Keadaan javier benar-benar parah, Ver. Dan dia mengharapkan kehadiranmu.”

Kata-kata Brent membuatku merasa terbeban. Aku nggak bisa begitu aja dijadikan tumpuan hidup seseorang. Apalagi untuk seseorang yang bisa meninggal kapan saja. Aku bener-bener nggak bisa! Tapi Brent dengan tenang berkata padaku, “Kau akan sangat membantu kalo dia bisa mendengar kata ‘maaf’ langsung dari mulutmu.”

Setelah dibujuk-bujuk akhirnya aku mau ikut dengannya ke rumah sakit. Tapi sesampainya di depan pintu aku berhenti. “Brent…”

Dia menoleh. “Hmm?”

PLAK! Brent termangu menatapku, mengelus-elus bekas tamparanku di pipinya. “Ini untuk sakit hatiku karena kau ngerebut Javier,” lalu aku tersenyum lebar—senyum pertamaku untuk bagian dari masa lalu yang selama ini kuhindari.
* * *

Hidupnya kini benar-benar bergantung pada obat-obatan dan infus. Bahkan, setiap orang yang menjenguk diharuskan mengenakan pakaian steril dan masker. Karena Javier nggak mempunyai kekebalan tubuh, kuman-kuman penyakit yang nggak terlalu berbahaya buat orang yang normal, buat Javier malah fatal akibatnya.

“Kau… pasti jijik ya melihat keadaanku sekarang?” kata Javier, suaranya serak. Aku nggak tega melihatnya dalam keadaan mengenaskan seperti itu. Selang-selang infus di sekitarnya, belum lagi bau khas rumah sakit yang memuakkan, membuatku ingin menangis dan ingin muntah secara bersamaan.

“Siapa bilang? Kau kurus—itu bagus,” kataku, mencoba melucu. “Kalo kamu cewek, aku bakalan bilang kalo kamu mirip Twiggy.”

Lelucon Twiggy adalah lelucon terburuk tapi hanya itu yang sempat terpikir olehku. Tapi aku senang Javier sedikit lebih bercahaya daripada sebelumnya. Ato mungkin hanya perasaanku saja—entahlah.
“Maafin aku ya, Ver,” katanya setelah jeda yang cukup lama. Matanya berkaca-kaca, seperti ingin menangis. “Aku bener-bener nggak bermaksud membuatmu terluka. Aku sudah menyadari perasaanku sejak dulu, tapi aku nggak berani berterus terang padamu karena aku terlalu pengecut. Nggak disangka malah jadi rumit begini dan—“

“Sssh, aku nggak mikirin itu lagi kok,” aku memotong ucapannya. “Yang penting kamu sekarang harus terus berjuang melawan penyakitmu. Jangan patah semangat!”

Javier menggeleng pelan. Dia dan aku sama-sama tahu bahwa penyakitnya nggak bisa disembuhkan. Meskipun begitu, dia berkata, “Makasih. Dan sekali lagi, maafkan aku ya?”

“Iya, aku memaafkanmu.”
* * *

Setelah dua bulan dirawat disana akhirnya Javier menghembuskan napas terakhirnya. Orangtuanya yang menginginkan agar Javier dimakamkan di kota kelahirannya, mengirimkan jasadnya ke Brooklyn malam itu juga.

Aku dan Damien sengaja terbang ke Brooklyn untuk menghadiri pemakaman Javier. Brent juga ada disana. Sepanjang prosesi pemakaman, Brent terus-menerus menangis di bahuku. Dia benar-benar terpukul ditinggalkan sahabat sekaligus pasangan yang teramat dicintainya.

“Gimana caranya aku bisa hidup?” kata Brent dengan tersedu-sedu. “Javier meninggalkanku untuk selamanya. Aku… nggak… akan… pernah… melihat… senyumannya… lagi….”

“Tapi kau HARUS hidup, Brent. Javier nggak akan senang di alam sana kalo kamu nggak bisa merelakan kepergiannya.” Kedengarannya aku tegar kan? Seolah kesedihan Brent—dan orang-orang yang ada di pemakaman siang itu—nggak cukup membuatku tersentuh. Padahal aku juga sama terlukanya dengan Brent. Aku pun sebenarnya nggak rela ditinggal pergi Javier.

Dan lebih daripada itu, kurasa aku mencintainya.

Masih—bahkan sampai detik ini.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer abil
abil at Pathetique (11 years 1 week ago)
60

Writer balthazor66
balthazor66 at Pathetique (11 years 21 weeks ago)
80

mengharukaaaann. =') keep up the good work yaaaa!

Writer vegna
vegna at Pathetique (11 years 26 weeks ago)
80

I never see you online

Cuma buka2 lembaran lama
Bagus juga

Awalnya aku kira pemain utama adalah lelaki
hehe

NICE

Writer heaven_waiting
heaven_waiting at Pathetique (11 years 38 weeks ago)
70

bener kata v1vald1, nggak-nya itu jadi bikin nyangkut..

Writer v1vald1
v1vald1 at Pathetique (12 years 20 weeks ago)
70

Kok gw keganggu banget ama kata "nggak" nya ya??
--
Dari komen2 di bawah, gw paling setuju dengan komen Chaz. Tapi menurut gw, latar yang kamu sentuh dan angkat dah mayan matang. Soal komen edo, gw pikir gak usah terlalu berlebihan juga. Deskripsi kamu mengenai Javier yang terkena Aids tidak janggal. Lagian kamu hanya bercerita sebagai orang awam, jadi tidak perlu terlalu mendetil. Sayang, konflik dalam cerita ini kurang mantap.

Writer v3ndy
v3ndy at Pathetique (12 years 25 weeks ago)
80

arahnya sudah oke sih. tapi riset tentang medisnya mungkin agak2 kurang. keep it up.

Writer KD
KD at Pathetique (12 years 26 weeks ago)
100

I love tragedy

Writer chaz
chaz at Pathetique (12 years 26 weeks ago)
50

Datar. Perspektif orang pertama susah untuk dilakukan karena hasilnya biasanya tidak meyakinkan, seperti yang tercermin di cerita ini.

Segala macam merk-merk itu memang memberikan deskripsi tentang dunia tokoh utama, tetapi tetap saja dangkal karena tidak didukung oleh kenyataan yang lebih dalam.

Tadinya aku mengharapkan lebih; mungkin karena judulnya mengingatkanku pada Sonata-nya Beethoven. Tetapi setelah membaca setengah, akhir ceritanya langsung kelihatan.

Ya, sisi positifnya sih setidaknya penceritaannya di atas rata-rata. Keep it up.

Writer Ayo_e
Ayo_e at Pathetique (12 years 26 weeks ago)
70

hmm.. mengalir.. True story ?

Writer edowallad
edowallad at Pathetique (12 years 26 weeks ago)
70

aids tidak selalu karena homosexual, walupun di USA homosexual adalah salah satu penyebab utama AIDS. tapi kalau di Indonesia, HIV/AIDS paling banyak diakibatkan oleh injection drug users. sedangkan heterosex tanpa menggunakan kondom bahkan punya resiko yg lebih sedikit dibanding itu. tapi sebab seseorang terkena HIV AIDS sebaiknya jangan diperdebatkan. yang mesti kamu riset lebih jauh adalah masalah riset infeksi oportunistik yag mungkin hadir kaena AIDS.
'kuman-kuman penyakit yang nggak terlalu berbahaya buat orang yang normal, buat Javier malah fatal akibatnya.'
kalimat seperti ini akan terasa cetek bila dibaca orang AIDS. ada intrik yang banyak dalam menilik masalah epidemik ini seperti jumlah CD4 (satuan daya tahan tubuh) penderita, dan penyakit penyakit infeksi oportunistik yang datang seperti tbc, pcp, toxo, mac, cmv, dll yang mudah menyerang pada saat daya tahan tubuh berkurang sangat drastis