Kuhirup segarnya udara pagi.
Begitu hening dan damai.
Bisa kurasakan dinginnya air pagi ini.
Seolah membekukan darah hangatku.
Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, kurasakan air merasuk ke dalam kulit.
Bila kurasakan dinginnya air ini, ingin rasanya mengeringkan wajah, kaki dan tanganku.
Merasakan kehangatan lagi.
Yang kudengar sekarang hanya pertanyaan yang terus berulang setiap harinya.
Apa aku bisa merasakan dinginnya air ini lagi?
Apa aku dapat bernafas dan menghirup udara pagi seperti ini lagi?
Mungkin saat ini aku masih bisa membiarkan diriku dibalut kehangatan.
Tapi, mungkinkah aku akan hangat selamanya?
Mungkin saja esok hari tubuhku akan membeku dan tidak bisa merasakan kehangatan lagi.
Selamanya.
Dan kubiarkan dingin ini menusuk tulangku.
Hanya kain panjang dan kain putih yang menutupi rambut dan tubuhku ini saja yang dapat menghangatkan diriku saat ini.
Kutundukkan kepalaku.
Kuucapkan satu kalimat, janji yang mengikatku.
Sujudku hanya padaMu.
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
bisa kok, karena kematian bukan akhir dari segalanya...
masih ada kehidupan lain disana yang menanti..
namun penentuannya tergantung kehidupan kali ini...
apakah disana kita akan merasakan kehangatan dan keindahan..
atau malah merasakan "panas yang teramat sangat panas"
catatannya bagus ko mba...
dengan mengingat mati akan mendorong kita untuk berbuat lebih baik dalam kehidupan kita.
di hari setelah matilah kita akan mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita. perbanyaklah menggimgat mati. btw, para koruptor ingat nggak ya akan mati?
Ini Rina hendak sholat subuh ya?
Jarang ada orang ingat mati disaat bangun tidur. Biasanya orang inget mati disaat mau tidur. Karena ada pepatah, beribadahlah kamu seolah detik ini kamu akan mati, dan bekerjalah kamu seolah kamu hidup selama-2nya (bener nggak ya ^_^).
Malam adalah waktu yang tepat untuk ibadah, mangkanya doa sebelum tidur ada hubungannya dengan mati.
Hari adalah waktu yang tepat untuk bekerja, mangkanya doa abis bangun tidur ada hubungannya dengan kehidupan.
Jadi saya rasa setting plot awal puisi ini yaitu pagi hari kurang tepat.
ah, udah bagus kok. renungan apapun, isinya papaun, bisa dilakukan kapan pun.
Nggak salah pagi ingat mati, apalagi kaitannya dengan subuh yang menusuk tulang.
bahasanya menurutku kurang puitis, rina (subyektif)
bagus juga. dalem