Risa, Sepi, dan Asa

38
points

10 Februari

Kenyataan itu. getir!

+

Setiap keluarga tentu sangat senang ketika Tuhan menganugrahinya seorang anak. Begitupun saya, rasa gembira mengembangkan hati ketika Risa menginjakan kakinya di bumi ini. Ahh…tapi sayang, Risa tidak seperti bayi lain, ketika keluar dari rahim ibunya dia tidak menangis. Saya khawatir, apalagi melihat Risa seperti itu. Bidan menggantung tubuhnya dengan posisi terbalik, lalu menepuk-nepuk pantatnya.

“Oh..ada apa suster?”

“Aneh, anak Bapak tidak juga menangis, tapi dia hidup”.

“Apa itu berarti buruk?”

“Saya akan panggil dokter segera”

suster itu, langsung memanggil dokter. Saya lihat Lisa penuh keringat, napasnya terengah-engah, masih ada sedikit senyum di sudut bibirnya. Tapi itu hanya sementara karena dia mulai khawatir.

“anak kita laki-laki atau perempuan Mas?”

“Perempuan sayang, dia cantik seperti ibunya” aku coba menenangkannya, tapi tetap saja dia khawatir.

“kok..nggak ada suara tangisannya? kemana anak kita Mas?”

saya bingung, bagaimana menjawabnya.

-
Puih…alangkah leganya dunia ini, setelah perjuangan berat bertaruh hidup akhirnya Risa lahir juga. Dalam lelah masih bisa juga aku membayangkan Lisa seorang ibu yang telah punya anak. Ya..aku sudah tiga kali keguguran, dalam usia 8 tahun rumah tanggaku dengan mas Eri. Tapi dia tidak pernah marah, kami terus mencoba dan berdoa lagi. Tiga kali kegagalan tidak juga membuatnya putus asa. Semangatnya terus menyala di balik kelembutannya. Entah kehidupan seperti apa yang membentuknya.

Mas Eri memang lembut, dia bisa memberikan suasana hangat di sekitarnya. Senyumnya tak pernah lepas dari bibir berkumis tipis itu. Selama kehidupan rumah tangga kami hampir bisa dipastikan tidak ada keluhan sama sekali. Setiap keinginanku pasti dia usahakan, meskipun tidak semuanya terpenuhi, tapi aku mengerti karena Mas Eri hanya mempunyai dua tangan dan satu kaki. Dia bukan dewa, tapi dia lebih dari sekedar manusia biasa bagiku.

Tapi…aku tak mendengar tangisan Risa. Kemana dia? Kutanya suamiku dia diam saja. Aku takut, berbagai macam kekhawatiran menyeruak dalam benakku. Mas Eri terlihat gelagapan, apa yang terjadi? Aku pun ikut khawatir. Tapi, tak tega juga kutanyakan lagi. Kucoba alihkan pembicaraan “Kalau perempuan, namanya siapa ya?” tanyaku sambil menunjukan senyum sebisanya.

“Dewanti Arisa Putri, seperti yang kamu inginkan” Mas Eri menjawab dengan senyum pula. Tapi kebimbangannya tak bisa disembunyikan.

Ah…apa yang terjadi?

Ada apa dengan Risa. Haruskah kembali kutanyakan pada Mas Eri, tapi tegakah aku kembali membuatnya kebingungan. Ya..harus kutanyakan. Tetapi, ketika kata itu akan keluar juga, Mas Eri dipanggil ke ruang Dokter. Legakah aku? Tentu saja, karena Mas Eri terlihat langsung beranjak seakan meraih sebuah harapan. Setidaknya dia merasa akan mendapat jawaban, atau sekedar tempat menumpukan harapan. Tanya masih terpendam dalam pikirku, bercampur kekhawatiran yang menakutkan.

+

“apa dok! Rumpang Otak?” hatiku mulai panas

“ya..ini memang sering terjadi. Umumnya bayi dengan penyakit ini hanya bisa bertahan beberapa hari.”

“artinya?”

“artinya…Bapak harus bersabar menerima hal ini”

Apakah itu sebuah jawaban? Saya kira tidak. Beberapa hari! Apa yang harus saya lakukan? Pasrah saja? Tidak, harus ada yang dilakukan. Bagimana dengan Lisa? Apa yang harus ku katakan?

Saya tak sanggup untuk melangkah, apa yang harus saya katakan pada Lisa. Dia pasti sangat terpukul. Ah…tapi ini harus saya katakan. Lalu…bagaimana selanjutnya?

Dalam suasana kalut seperti ini tiba-tiba muncul di hadapanku seseorang.

“Pak Eri ya?”

“Ya..tapi Bapak siapa?”

“Saya Dewi, boleh saya bicara sebentar? Tolonglah! ini penting”

“Apakah menyangkut putri saya?”

“Ya!”

“Baiklah, tapi mohon jangan terlalu lama karena ada yang harus saya sampaikan pada istri saya.”

Duka itu.Perih!.

-

Akhirnya Mas Eri datang juga. Tetapi, raut mukanya…oh..tidak…jangan.. jangan seperti itu..sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Seburuk apa? Apakah aku.. ohh…jangan sampai.., jangan sampai aku kehilangan Risa. Tiba-tiba aku melihat seseorang menghampiri mas Eri. Dengan jelas bisa ku lihat di balik jendela samping. Sekejap mas Eri menoleh padaku dan berusaha menyunggingkan senyum. Dengan lemas ku balas senyumannya. Meskipun ku tahu kebingungan masih menghantuinya. Oh…Tuhan berikan aku kekuatan untuk sekedar bisa meringankan kebingungannya. Sepertinya pembicaraan mereka menjadi penting. Sepenting apa? Apakah lebih penting dariku hingga Mas Eri membiarkan aku tersiksa dalam penasaran. Mm…..tak mungkin, pasti memang sangat penting. Mas Eri tak mungkin membiarkan aku tersiksa seperti ini kalau bukan hal yang sangat penting..aku percaya itu.

Agak lama mereka berdua bicara, Mas Eri terlihat mengangguk. Apa yang mereka bicarakan. Oh…Mas Eri terlihat sangat serius, mungkin ini menyangkut Risa? Pasti..pasti menyangkut Risa. Jika bukan, tidak mungkin dia seserius itu. Oh..tubuh ku mulai kelelahan, pandanganku menguning.

Ada apa ini! dadaku serasa ditindih gunung ach..dalam gelap kulihat bayangan Risa menangis. Risa kah? Aku belum melihat anakku
“ya..itu Risa” suara itu menjawab, ku tengok ternyata Mas Eri. Sekonyong-kongong tubuh Risa hancur berkeping-keping.

“oh..tidak…Risa..Jangan…Jangan!!!” Teriakku.

+

Jeritan Lisa membuatku terkejut. Setelah seharian dia tak sadarkan diri akhirnya dia bangun juga. Entah aku harus senang atau justru tambah gusar, ketakutan tampak jelas di wajahnya yang bermandikan keringat. “Lis, akhirnya kamu sadar juga. Tapi ada apa?” Lisa langsung memeluku erat, dia memang tampaknya ketakutan.

“Mas, aku..aku mimpi buruk mas. Aku melihat tubuh Risa berpencar-pencar”

“tenang Lis, itu hanya mimpi. Tak usah kau pikirkan. Tuh lihat, buktinya, Risa masih ada di sampingmu” jawabku sambil menunjuk tubuh mungil yang terbaring tenang di ranjang bayi. Sekilas, Lisa tampak lega. Atau bahkan senang, ia terlihat menyunggingkan senyum kelegaan dan mencoba untuk bangkit.

“sudahlah Lis, kamu baru saja sadar. Masih kelelahan. Jangan terlalu dipaksakan” cegahku.

“aku ingin melihat Risa, Mas”

Ku bimbing dia mendekati Risa. Demi melihat bayi mungil yang lucu sedang tertidur itu Lisa langsung berbunga-bunga. Dia seakan menemukan lagi kehidupannya. Tapi malah membuatku semakin bingung. Haruskah ku katakan bahwa Risa tak punya rumpang otak, bahwa otak kiri dan kanannya tidak ada, bahwa meskipun organ tubuhnya bekerja tapi dia takkan pernah punya kesadaran, bahwa beberapa hari lagi entah kapan itu dia akan meninggal juga, bahwa aku sudah merelakan seluruh organ tubuh lainnya yang masih baik untuk disumbangkan pada bayi lain yang membutuhka? Ah…mungkin lebih baik aku tak mengatakannya, Lisa tampaknya belum siap mendengar kenyataan ini. Berbagai alternatif alasan coba ku susun agar Lisa bisa percaya. Celaka..dia melihatku dengan heran, apakah dia curiga. Ya Tuhan..tolong jangan buat dia merasa seperti itu.

Pandangan Lisa berubah menjadi keheranan, rasa senangnya tiba-tiba sirna begitu saja berubah menjadi raut penuh selidik dan berusaha menelanjangiku.

“Ada apa Mas? Tampaknya Mas menyembunyikan sesuatu.” Ah..dia curiga juga, aku harus bilang apa? Bagaimana ini. Tuhan berikan aku petunjuk…

“Prak!!”

Angin behembus menerpa tirai memecahkan vas bunga merah kesayangan Lisa.

-

Tidak..aku tidak percaya ini. Tega sekali Mas Eri melakukan itu padaku, apalagi pada Risa putrinya sendiri. Ya..aku punya firasat buruk terjadi sesuatu pada diri Risa. Ternyata benar, Risa tidak seperti bayi yang sempurna. Meskipun berat, aku harus menerimanya dengan sabar. Toh, aku sudah 3 kali keguguran tidak begitu masalah jika memang harus kehilangan sekali lagi. Saya tahu bahwa jika Risa sudah meninggal, seluruh organnya memang akan rusak, berarti jika ingin ditransplantasi harus ketika organ itu masih baik. Saya juga tahu bahwa banyak bayi yang membutuhkan organ-organ itu agar bisa bertahan hidup. Tapi..kenapa mas Eri mau membunuh putrinya sendiri. Bukankah menyumbangkan organ tubuhnya pada bayi lain berarti harus membunuh Risa. Ibu mana yang akan tega membiarkan itu terjadi. Hati ibu terlalu lembut untuk bisa menerima itu.

Entah seperti apa jalan pikirannya. Kucoba untuk membujuk Mas Eri agar bisa berubah pikiran. Tapi dia bersikeras, dia..ah..bukan Mas Eri yang biasanya ku kenal. O..ya..aku ingat, pertemuan dengan wanita itu pasti yang telah membuat Mas Eri-ku menjadi seperti ini. Ya..pasti dia seorang petugas sosial, entah ilmu apa yang digunakannya hingga bisa membuat mas Eri-ku jadi tidak ku kenali. Bayangan Mas Eri seakan menjauh, menjauh, menjauh, hingga menjadi titik redup di persimpangan jalan.

+

Sial!…sial..sial…siaaal! kenapa saya malah mengatakan yang sebenarnya. Ke mana alasan-alasanku. Bukankah aku seorang ahli dalam bidang alasan beralasan. Tapi..kenapa aku tak bisa membohongi istriku. Batinku mengaduh. Sorot mata Lisa membuatku tak berkutik, apakah aku merasa bersalah? Tentunya. Saya bersalah karena menyakiti hati Lisa. Tapi..bukan berarti itu membuat saya berubah pikiran.

Membunuh..apakah dengan menyumbangkan organ tubuh Risa berarti membunuhnya. Apakah tak punya kesadaran seperti masih dianggap hidup. Tidak.. bagi saya tidak seperti itu.. Risa tak pernah hidup. Dia tak punya kesadaran. Aku mengerti sekali Lisa tak tega, tapi akupun tak tega melihat Risa tersiksa seperti itu. Bukankah kondisi menggantung seperti ini justru malah menyiksa batin Lisa juga. Aku tetap yakin. Keputusanku sudah bulat. Organ tubuh Risa akan di sumbangkan.

“oh…tolong Lisa, mengertilah. Keputusan ini bukan hanya untuk orang lain tapi untuk kita dan Risa. Toh Risa takkan merasa dirugikan!”

-

Tak Merasa dirugikan? Benarkah Risa tak merasa dirugikan? Aku kok tak yakin. Ah..andai saja Risa bisa bicara..apa yang kira-kira dikatakannya mendengar dirinya akan dibunuh oleh ayahnya sendiri. Mungkin cerita ismail yang akan disembelih Ibrahim terlalu luhur dibandingkan ini. Tapi..Ismail bisa berkata, dia punya kesadaran. Tidak seperti Risa. Ismail telah mengecap kehidupan, yang tidak sebanyak Risa. Ismail anak kecil waktu itu, bukan Bayi seperti Risa. Oh…Risa bukan Ismail mas. Mas sendiri juga bukan Ibrahim yang diperintah langsung oleh Tuhan.

Tidak, tidak bisa seperti itu. Aku harus bertindak. Tak kan kubiarkan Mas Eri melakukan itu. Tapi apa..apa yang harus kulakukan? Mas Eri jadi orang yang keras kepala seperti itu. Aku harus melakukan sesuatu. Apapun itu.

+

Ah…Lisa. Kenapa kamu nggak bisa melihat hal ini lebih jauh. Lebih tenang. Kenapa kamu jadi egois seperti itu. Tolonglah!! Jangan biarkan aku bingung seperti ini. Rumah sakit ini jadi makin sempit saya rasakan. Melihat Lisa yang masih terisak seperti itu, batin ini juga tak tahan rasanya. Lisa, seorang wanita paling sempurna yang pernah saya temui, kali ini membuat saya bingung. Sulit untuk memutuskan seperti ini. Membiarkan Risa tersiksa seperti itu menunggu ajalnya, ataukah memaksa transplantasi tanpa perdulikan Lisa. Oh…ini sulit. Tuhan, tolong berikan aku petunjuk..apa yang harus ku lakukan?

Tiba-tiba Dewi, petugas sosial itu datang dengan berbagai macam dokumen di tangannya. Langkah kakinya tak beraturan. Mungkin rok ketat yang dikenakan itu membuatnya tidak leluasa bergerak. Dengan senyum dia langsung menyalami dan tanpa ada basa-basi dia menanyaiku.

“Maaf pak, bagaimana keputusan finalnya?”

“Wah, maaf bu. Saya belum bisa memutuskan. Istri saya tidak setuju..lagian saya tidak yakin bayi sekecil itu bisa di bedah”

“Bapak tidak usah khawatir, Dokter dari German telah datang ke sini. Dia siap melakukan operasi kapan saja”

“Bu..bukankah saya belum memutuskan. Tapi kenapa dokternya sudah datang?”

“Maaf bu, dokter itu tidak datang hanya karena kesediaan Bapak. Masih ada urusan lain, tapi segalanya ada di tangan Bapak”

“Tolong bu, jangan buat saya bingung!”

“Begini pak. Banyak pasien bayi yang sekarang sangat kritis karena punya kelainan. Di rumah sakit ini saja ada beberapa nama. Agung, seorang bayi dari keluarga miskin tidak mempunyai jantung yang sempurna, Tulus Bayi yang cacat di bagian lambungnya. Windati, bayi yang hampir sama kelahirannya dengan putri Bapak tidak punya bola mata. Jika semua itu dibiarkan, dalam hitungan jam pun, mereka akan meninggal.”

“Kenapa sekarang ini banyak bayi yang cacat seperti itu?”

“Saya tidak tahu pasti. Tapi menurut dokter dari German itu, hal ini karena pola hidup manusia modern yang sering mengonsumsi zat-zat kimia”

Saya menarik napas sedalam-dalamnya. Mudah-mudahan hal itu bisa membuatku sedikit tenang. Apa yang harus saya lakukan

“Begini saja Bu, mari kita temui istri saya. Saya serahkan keputusan ini padanya”

Saya dan Dewi memasuki ruangan Lisa. Dia masih terbaring, matanya masih berkaca-kaca, dan dia tidak menoleh kepada saya. Mungkin Lisa marah.

“Lisa, kamu marah sama masmu ini?” Eri bertanya tapi Lisa tak juga menoleh.

“Tolonglah Lis, semua bisa kita bicarakan dengan tenang”

“Tenang..!!maksud mas apa? Apakah seorang ibu yang darah dagingnya sendiri akan dibunuh oleh ayahnya bisa tenang begitu saja, apakah segala sesuatu yang di perkirakan dokter itu selalu benar? Bisa saja kalah..lagian mas bukan Ibrahim khan?”

Hujan pertanyaan masih terus menyerang diiringi suara tangisan Lisa di tengah keramaian.

“baiklah..saya bukan Ibrahim, Risa bukan Ismail. Itu hanya kisah nabi, tapi bukankah itu teladan yang harus kita tiru?” Lisa malah tertawa kecil, maksudku senyum yang meremehkan, senyum yang mengejek, tapi lama-kelamaan tangisnya terus berlanjut kembali. Dewi di sampingku terpaku, dia terus-menerus melihat jam tangannya. Ya sudah, aku tak punya pilihan lagi.

“Bu Dewi, kami setuju” wajah Bu dewi terlihat sumringah. Tapi Lisa tidak. Napasnya benar-benar memburu, tidak seperti biasanya.

“tidak…tidak. Mas jangan seperti itu. Saya tidak setuju…saya tidak mau. Jika mas lakukan itu saya akan pergi. Mas tak hanya kehilangan Risa tapi juga kehilangan saya” ancaman Lisa terlihat sungguh-sungguh. Ditengah air mata yang terus berjatuhan, keberaniannya menyeruak.

-

Ya, aku akan melakukan apa saja. Demi Risa aku harus rela kehilangan Mas Eri. Mas Eri sudah seperti orang lain bagiku, dia bukan lagi Mas Eri yang ada dalam diriku. Ku lihat mas Eri kebingungan, oh…jangan keluarkan ekspresi memohon seperti itu, aku…aku tak akan tega…eh…aku harus kuat, aku harus nekat..aku harus ambil resiko ini. Ini demi Risa.

“Lisa, tolonglah…waktunya makin mepet. Agung harus segera diselamatkan”

“Mas!! Mas lebih mementingkan Agung…Siapa Agung?” tanyaku keheranan.

“Dia seorang bayi yang punya kelainan jantung. Dia butuh jantung Risa untuk bertahan hidup. Dokter dari German sudah datang dan Hidup Agung tinggal beberapa jam lagi. Jika tidak ditolong. Dia..akan meninggal” jawab Dewi serta merta..

“Aku tak peduli..bayi manapun yang akan mati. Yang penting aku tak mau anakku dibunuh” jawabku..

“Oh…Lisa, kamu jangan seperti itu. Cobalah untuk menerima kenyataan Lisa. Anak kita lambat laun akan meninggalkan kita juga”

“lambat laun! Seyakin itukah mas. Belum tentu..kan? masih ada…masih ada harapan bagi Risa untuk tetap hidup” jawabku yakin. Bukankah memang Risa masih hidup. Itu kenyataan. Risa masih hidup, belum mati. Dia masih berhak untuk hidup. Titik. Mas Eri semakin kebingungan. Aku memaksa bangkit dari tempat tidur. Tak pernah aku merasa sekuat ini. Tak pernah aku merasa se berani ini. Ini demi kamu Risa. Lihat Papamu nak, dia sudah putus asa, dia pesimis. Dia menganggap kamu tidak berhak hidup.

+

Oh…kenapa Lisa jadi keras kepala seperti itu? Apa yang dipikirkannya. Matanya..oh…dia memusuhi saya..jangan..jangan seperti itu Lisa. Bagaimana lagi saya harus mengatakannya.

“Sudahlah Lis, meskipun hidup..dia tidak punya kesadaran. Ingat, dia tidak punya otak kiri dan kanan. Walaupun jantungnya berdetak, darahnya mengalir, semuanya normal, tapi dia tak punya jiwa. Dia akan tersiksa..tersiksa Lisa. Jika kamu sayang padanya, tolong!!..relakanlah dia”

“Tidak!!…sekali lagi Tidak!! “ Lisa berteriak histeris. Oh…kenapa jadi ruwet seperti ini. Tapi…oh tidak…dia serta merta berlari keluar kamar, saya coba menahannya, tapi dia terlalu kuat. Dari mana dia punya kekuatan itu. Dia membanting pintu dan berlari di koridor. Saya coba mengejar, Dewi masih terpana..ah..tak usah dulu saya acuhkan. Lisa..ke mana dia..

Saya langsung berlari mengejar Lisa. Belum satu blok saya lewati, saya melihat Lisa terjatuh dan tak bangun-bangun lagi. Buru-buru saya dekati, langsung memeluknya. Oh…apa yang terjadi.

“Lisa!…Lisa!! kamu tidak apa-apa sayang” saya goyang-goyangkan tubuh Lisa, tapi dia tak bangun juga.

“Lisa..!! Lisa!! Bangunlah, jangan buat aku seperti ini”

Angin dingin menghembus tak seperti biasanya..bayangan hitam menutupi pandanganku. “Ah…..Lisaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”


14 Februari

Asa itu. Biru.

Senja bisu, langit bisu, ranting bisu, rumput bisu, lahat bisu, diiringi kicau ragu burung gereja, sepasang sejoli terpasung kaku di hadapan nisan Risa yang membatu. Angin meyebarkan semerbak kamboja yang mulai layu di tetesi air mata penuh luka. Lisa tak bisa menahan tangisnya. Wajahnya merah padam dibalik pakaian hitam. Eri mematung seakan dirinya sudah tak bernyawa lagi. Bayangan Risa terus berkelindan dalam pikirannya, dalam hatinya hingga menerobos sumsum dan merobek urat nadi.

“Lis, Maafkan saya. Saya menyesal, jika saja saya tidak melakukan ini, pasti Risa masih ada dipangkuan kita.” Suara Eri setengah berbisik seakan hanya ingin terdengar oleh istrinya.

“Tak usah minta maaf mas, toh aku yang salah. Mas benar. Bahkan sekarang aku merasa bahwa Risa masih hidup” jawab Lisa di tengah segukan tangisnya yang tak juga berhenti.

“Ya..dia masih tetap hidup di hati kita.”

“Bukan itu maksud saya”

“Maksudnya?”

“Saya merasakan Risa masih tetap hidup, dalam diri Agung, diri windati, diri Tulus, diri…”

“Sudahlah Lis, jangan kau sebut-sebut nama bayi yang diselamatkan Risa”

“Ya..mas, dalam 3 hari kehidupan Risa, dia telah jadi pahlawan. Dan itu semua berkat mas.”

“Yah…terserah kamu lah, yang penting kamu tidak lagi bersedih”

“Sedih! Saya tidak sedih mas, saya terharu, saya bahagia pernah mempunyai seorang pahlawan.”

“Ya..sayapun bangga. Sayang kita hanya punya satu pahlawan”

“Kita baru punya satu pahlawan. Tidak menutup kemungkinan kan jika kita diberikan pahlawan-pahlawan kecil lainnya” jawab Lisa sambil menyunggingkan senyum penuh arti. Ya…penuh dengan arti dan hanya mereka berdua yang tahu artinya. Eri mendekap Lisa dengan erat dan membawanya pergi menuju pagi.

Your rating: None Average: 7.6 (5 votes)
dikirim haramiosa 1 year 2 minggu yang lalu
Tag: