Nyanyian Persimpangan

Akhirnya semua berujung di Persimpangan.

Gadis menghentikan langkahnya. Termenung sejenak dan kemudian berjongkok. Matanya kosong menatap lapisan tanah yang kering dan berdebu.

Telunjuknya sibuk membuat guratan-guratan, melukai permukaan tanah berdebu, berakhir menjadi sederet nama. Restu, batinnya mengeja. Sesaat! Kemudian dihapusnya tulisan itu dengan telapak tangan. Telunjuknya kembali membuat guratan-guratan yang melukai permukaan tanah. Wahyu, batinnya kembali mengeja. Sesaat! Kemudian dihapusnya kembali tulisan itu dengan telapak tangan.

Begitu seterusnya: Gadis menggurat sederet nama, menghapusnya, menggurat nama yang lain kemudian menghapusnya lagi. Restu dan Wahyu, nama itu bergantian digurat dan dihapusnya. Entah sudah berapa kali. Ada nafas keresahan yang dihembuskannya keras. Ada perasaan gelisah yang mendera. Ada sesuatu yang riuh menyelip di otaknya. Matahari terus memancarkan panasnya, terik yang mengeringkan permukaan bumi. Angin kemarau menerbangkan debu-debu. Menampar wajah lembut Gadis, memedihkan matanya dan bermuara di dada menjadi sesak.
--- oOo ---

“Kamu telah menyakiti hati Restu. Sadarlah! Haruskah semua berakhir hanya karena kehadiran seorang Wahyu. Instruktur komputermu itu?”

Mata Lusi menatap tajam, seperti ingin mencari kesalahan di wajah Gadis. Kedua tangan Lusi mencengkeram dan menguncang-guncang lengan Gadis.

“Kurang apa Restu selama ini? Kesabarannya menghadapi segala tingkahmu. Dua tahun, ingatlah! Bukankah itu waktu yang cukup lama untuk menilai kesetiaan Restu padamu. Dan kau akan begitu saja melepaskannya, tanpa sebab-sebab yang jelas?”

“Tapi aku tak pernah bisa mencintai Restu sepenuhnya. Bukankah kau sudah tahu itu…,” Gadis berusaha membela diri.

“Yang selalu kau katakan sebagai belas kasihan itu. Gadis… sebagai teman, kadang aku tidak mengerti jalan pikiranmu.”

Gadis mendesah panjang. Ingatanya terbang menuju awal permulaan. Permulaan ketika Restu begitu gigih mendekatinya. Restu yang urakan, biang keributan di sekolah dan kampiun bolos sekolah. Restu yang selalu berada di garda depan bila ada tawuran. Perasaan kasihan dan prihatin melihat tingkah laku Restu membuat Gadis menyerah.

Kalau pada jaman perjuangan tentara Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Gadis menyerah dengan syarat: Restu harus berubah. Begitulah kebesaran cinta Restu pada Gadis telah merubah segalanya. Seratus delapan puluh derajat. Selama berada di samping Gadis, tidak pernah terdengar lagi Restu tawuran, bolos sekolah, ribut di kelas.

“Selama ini apakah Restu pernah menyakiti dan melukai perasaanmu?” Tiba-tiba Lusi, sahabat karibnya seperti sosok hakim yang menelanjangi kesalahan terdakwa.

Gadis menggeleng pelan. Restu memang telah membuktikan semunya. Kesungguhan cintanya pada Gadis. Hingga Restu bisa tampil menjadi anak yang baik-baik, bahkan kadang terlihat terlalu baik. Menjadi semakin rajin dan pintar.

Walaupun begitu, Gadis menjalani kebersamaan itu dengan setengah hati. Padahal begitu seringnya Gadis menyulut konflik, mencari-cari perkara, menyampaikan permintaan yang berlebihan, mengedepankan egoismenya dan lain-lainnya. Tapi Restu menghadapinya dengan penuh kesabaran. Dan Gadis kembali menyerah.

Belas kasihan itu haruskah bersemi menjadi benih-benih cinta?

“Bagaimanapun juga kau akan menghancurkan hatinya. Menghancurkan semuanya. Perubahan itu akan sia-sia. Kalau Restu sampai tahu kedekatanmu dengan Wahyu. Sampai kapan kamu mampu menyembunyikan semuanya?”

“Bukankah aku juga berhak memikirkan diri sendiri, tanpa terbelenggu apa yang dinamakan belas kasihan. Kamu juga harus bisa memahami perasaanku, Lus. Bukankah selama ini berarti aku telah mendustai diri sendiri? Coba kalau kamu jadi aku!” Gadis kembali membela diri.

“Mungkin kepergianku akan menghancurkan hatinya. Tapi aku tak ingin terus menerus memikirkan kesudahannya. Itu hanya akan membuat hatiku lemah. Restu seorang laki-laki. Aku yakin dia bisa tegar menghadapi semuanya. Bukankah ia telah membuktikannya selama ini? Aku akan merasa lebih berdosa kalau terus menerus memberinya harapan kosong. Cinta setengah hati untuk apa?” Kalimat itu tersengal-sengal keluar dari mulut Gadis.

Ah, mengapa harus ada pertemuan dengan Wahyu, Instruktur komputer itu yang masih begitu muda dan simpatik. Kedatangan wahyu ke kota ini akankah merubah segalanya? Hingga Gadis harus berdiri pada dua sisi pilihan, pada sebuah jalan persimpangan.

Sebenarnya tidak akan pernah ada pilihan lain, jika Gadis tetap saja diam tanpa mencoba melakukan pedekatan pada Wahyu. Entah energi apa yang menuntut langkah hatinya. Hingga Gadis merasa terhanyut setiap kali melihat senyum Wahyu. Pandangan mata dan cara bicaranya… Ah, siapa yang tidak terpikat. Termasuk Gadis yang berusaha mencari sebuah permulaan.

Kursus komputer dirasakan Gadis menjadi saat-saat yang indah. Saat dimana dia bisa melihat senyum Wahyu. Tiba-tiba pelajaran komputer terasa begitu mudah. Ada getaran tak menentu yang dirasakannya ketika tidak sengaja jemarinya bersentuhan dengan jemari tangan Wahyu ketika menuntunnya menyusuri huruf-huruf di keyboard. Dan Kursus Komputer menjadi saat-saat yang selalu dirindukannya.

Semua karena keberadaan Wahyu.

Sebenarnya tidak akan ada apa yang dinamakan pilihan lain. Jika Wahyu tetap diam dan sewajarnya. Jika Wahyu tidak memperlihatkan tanda-tanda perhatian yang lain terhadap Gadis. Tiba-tiba mereka bisa begitu dekat.

Kedekatan itu terus berlanjut, ketika Wahyu entah mengapa meminta Gadis untuk menemaninya mengenali kota ini. Gadispun menjadi seorang guide yang begitu manis. Entah sudah berapa kali perjalanan. Entah sudah berapa kali pula Gadis mendustai Restu. Tak apa, toh Restu akan tetap diam dengan alasan-alasan yang dikemukakan Gadis.

Sekali lagi tidak akan ada yang dinamakan pilihan lain. Jika Gadis dan Wahyu tetap diam. Jika hubungan berdua tetap sewajarnya sebagai seorang murid dan instruktur komputer. Perjalanan sepertinya telah menumbuhkan benih-benih cinta. Tumbuh apa adanya, tanpa terbelenggu dengan apa yang dinamakan belas kasihan. Perjalanan itu telah menjadi jalinan yang bergandengan tangan. Tanpa pernah Gadis berusaha menepiskannya. Tanpa pernah Wahyu berusaha melepaskannya. Padahal Gadis sudah bercerita banyak tentang keberadaan Restu.

“Aku tidak akan pernah memaksa. Bila kamu memang lebih mencintai Restu, cintailah dia terlepas dari keterkaitan antara cinta dan belas kasihan yang sering kau bicarakan. Tak usah mengkhawatirkan aku. Cinta bisa berawal dari apa saja. Bila belas kasihan telah menumbuhkan cinta, itulah yang sebenarnya cinta. Ya, bila semuanya tumbuh sewajarnya tanpa pernah dipaksa untuk tumbuh. Dalam cinta tidak ada kata pemaksaan.”

Kalimat yang meluncur dari mulut Wahyu itu justru semakin membimbangkan hati Gadis.

“Bila kamu mau menerima aku. Kamu tidak usah terlalu larut memikirkan kesudahannya. Biarlah cinta itu seperti air yang mengalir. Manusia bisa berubah dan itu sebuah kewajaran dalam hidup ini. Tapi kamu tidak boleh menyakiti hati Restu. Dia telah begitu baik selama ini kepadamu.”

“Semua terserah kamu. Aku hanya menuruti kata hatiku. Aku memang sangat mencintaimu. Kamu juga harus bisa menuruti kata hatimu. Aku akan berusaha tegar menanti kepastian darimu. Walaupun kamu akan meninggalkan aku…”

Begitulah, kata-kata Wahyu seakan mendera perasaan Gadis. Akankah aku menerima cintanya dan melepaskan Wahyu?

“Aku tidak bermaksud apa-apa. Sebagai sahabat, aku tidak rela kamu begitu saja melepaskan Restu. Kita telah bersahabat begitu lama. Restu itu anak yang baik, kamu telah mengetahuinya selama ini. Tapi Wahyu…. Bukankah baru beberapa bulan ini kamu mengenalnya. Bisa saja dia menutupi segala keburukannya dengan topeng kebaikan-kebaikan. Wahyu masih sosok yang asing bagimu.” Kata-kata Lusi kembali menyudutkan Gadis.

“Kamu memang berhak untuk memilih. Aku hanya ingin memberikan saran. Sekali lagi, Restu itu anak yang baik. Kesetiaan dan kesabarannya tidak bisa diragukan lagi. Apa lagi yang kamu cari Gadis!.”
--- oOo ---

Akhirnya semua berujung di Persimpangan.

Debu kemarau telah mengotori rambut Gadis. Angin mengirimkan nuansa kesejukan yang begitu terasa di matanya. Kesejukan yang basah. Lelehan air mata menyadarkan kesendiriannya.

Gadis menghela nafas panjang. Ia harus bisa mengikuti kata hatinya. Terlepas dari saran-saran Lusi, sahabat setianya. Terlepas dari bayangan Restu. Terlepas dari bayangan Wahyu. Apapun jalan yang ditempuhnya nanti, ia harus setia dengan pilihannya.

Gadis berdiri tegak sambil kembali menghela nafas panjang. Ini hanya sebagian dari perjalanan hidup yang panjang. Hanya bagian yang dinamakan babak. Dia tidak ingin berlarut-larut dalam persimpangan hati. Dia harus berani dan tegar menghadapi babak-babak berikutnya.

Gadis menatap tajam ke depan. Perjalanan harus dilanjutkan. Takdir tetap harus dijalaninya. Tidak boleh ada kata menyerah. Gadis mengayunkan langkahnya. Dipejamkan mata dan didengarkan kata hatinya. Biarlah ia yang menuntun langkah.

Persimpangan itu menjadi lengang. Kering dan berdebu. Pada titik pertemuannya, ada dua gumpalan debu yang basah. Di dekatnya ada guratan-guratan yang samar terbaca. Segores nama yang tidak pernah dihapus oleh Gadis yang menggoresnya. Tapi tak ada satupun yang bisa membacanya karena angin kemarau telah meratakannya dan roda waktu menggilasnya.

Sepertinya hanya angin yang tahu kemana Gadis melangkah.
--- oOo ---

Depok Radja, 26 Desember 2005

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer arudoshirogane
arudoshirogane at Nyanyian Persimpangan (7 years 13 weeks ago)

nice

Writer justammi
justammi at Nyanyian Persimpangan (10 years 6 weeks ago)
90

kerrenn..

^^

Writer vitta
vitta at Nyanyian Persimpangan (10 years 16 weeks ago)

wooowww..kereeeen abiiizz..

Writer Bayangkari
Bayangkari at Nyanyian Persimpangan (12 years 10 hours ago)
50

bagus, puitis, tapi kurang seksi (bukan erotik)

Writer azura7
azura7 at Nyanyian Persimpangan (12 years 3 weeks ago)
60

to conquer the battle we need some reason and a quick motivation to declarate the win's. not just claim by laying the guns's. even the gun is too important. when i sae this story, i'd like to say that this story is good for design of the word, but so childist for a true romance.

Writer airy raylight
airy raylight at Nyanyian Persimpangan (12 years 3 weeks ago)
50

temanya nyata banget...
it's generally happen to us...
aku juga pernah...
tapi cara penulisannya bagus jadinya walau temanya biasa aja cerita jadi bagusss

Writer v1vald1
v1vald1 at Nyanyian Persimpangan (12 years 6 weeks ago)
70

Saya masuk ke sini setelah sebelumnya "dikenalkan" dengan nama penulis. Ternyata menulis cerpen juga ya.

Anyhow, salam kenal.

Komen saya tentang cerpen ini tidak berbeda dengan komen2 sebelumnya. Dari segi gaya narasi, karena penulis seorang penyair, harus diakui keindahan bahasa itu jelas terlihat. Dan senada dengan Valen, bagian awal di kala Gadis menorehkan nama2 dia tanah, itu situasi yang indah sekali.

Sayangnya, penulis kurang mampu memainkan konflik. Padahal resiko memilih tema sederhana, haruslah diikuti dengan kepiawaian mendramatisir konflik. Pada akhirnya kebingungan seorang Gadis memang terasa di akhir cerita, namun kalo boleh jujur, "rasa" persimpangan itu masih kurang menghujam, karena miskinnya emosi pembaca diulik2 oleh kelihaian penulis membuat konflik.

Writer imoets
imoets at Nyanyian Persimpangan (12 years 9 weeks ago)
90

bagus banget..
yah cerita, gayanya, tulisan..
pokoknya whole package deh..
kereennn...

Writer edowallad
edowallad at Nyanyian Persimpangan (12 years 25 weeks ago)
60

rasanya semua orang pernah berada di persimpangan.
menarik untuk dikaji
saya sangat suka tema yang riil.

Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at Nyanyian Persimpangan (12 years 26 weeks ago)
50

memang fiksi. tapi bicara soal cinta memang tiada habisnya. Yang perlu ditanyakan. Apa pesan yang ingin disampaikan? Apa hanya antara cinta dan lainnya. Ciptakan dunia cinta yang fiktif dan berada dalam dunia yang lain dari dunia atau kisah nyata. Pasti lebih bagus lagi

Writer masterego
masterego at Nyanyian Persimpangan (12 years 26 weeks ago)
50

(si tokohnya, bukan tulisanmu)

males banget ama karakter kayak gitu.
bikin mood jatuh membacanya.

Writer mamoru
mamoru at Nyanyian Persimpangan (12 years 26 weeks ago)
80

Imajinasi dan kebimbangan yg ditungkan disini, sudah dibawakan/digoreskan dengan apik di halaman ini ^^. kebimbagannya, agak terasa logis yah menurut saya, kurang imajinatif sesuai dengan pikiran seorang wanita yg lebih bermain perasaan

Writer Valen
Valen at Nyanyian Persimpangan (12 years 26 weeks ago)
90

Caranya menggambarkan sesuatu cukup menyentuh. Saya suka saat Gadis menorehkan nama2 di tanah kering itu. It's beautiful! Daya imajinasinya cukup tinggi. good good lah

Writer anangyb
anangyb at Nyanyian Persimpangan (12 years 26 weeks ago)
70

Kenapa ya begitu baca satu kalimat dua kalimat... serasa saya sedang membaca cerpen majalah Femina...? (ini kalimat pujian lho...)
Jam terbang udah tinggi ya..
Tetap semangat ya! Ntar kala cerpenku masuk disini: gantian dikomentarin okey..

Writer dian k
dian k at Nyanyian Persimpangan (12 years 26 weeks ago)
60

Penulis cerita ini sudah bisa bermain dengan bahasa.
Klo menurut aq sih cerita ini jangan dilanjutin, udah bagus sampe di sini :)

Writer ratihsugarzels
ratihsugarzels at Nyanyian Persimpangan (12 years 26 weeks ago)
70

AKU SELALU MEMUJA GAYA BAHASA. GAYA BAHASA ANDA BAGUS, DRAMATIS DAN NYASTRA. SUMTIMES BUATKU ISI CERITA MENJADI NOMOR SEKIAN KALAU GAYA BAHASANYA TOP.ISI CERITA ANDA QUITE SIMPLE, MIRIP SINETRON DAN LACK OF SURPRISING IDEAS (MIRIP CERITA2KU YANG DRAMATIS DAN LEBIH MENGGALI KE DALAM DARI PADA KELUAR-WHICH IS AKU ANGGAP SEBAGAI KELEMAHAN SEKALIGUS KELEBIHAN)TAPI UNTUK BAHASA, I CUD SAY, ANDA PASTI MANUSIA DENGAN KEDALAMAN MAKNA.
SENANG MEMIKIRKAN SESUATU TERLALU DALAM DAN KADANG BERLEBIHAN.
HE2. AGAIN, MIRIP AKU.

Writer cr0n0z
cr0n0z at Nyanyian Persimpangan (12 years 26 weeks ago)
70

i lilke this one... pengggambaran yang tidak linear, membangun suasana dengan dialog... my favourite story so far... keep on writing bro... keep the talent GOD gave you...

Writer firdha gonzy
firdha gonzy at Nyanyian Persimpangan (12 years 26 weeks ago)
50

keren..keren..tapi,,gw jg bingung..si gadis nya pergi kemana ya? nulis lagi ya..

Writer dhan-chan
dhan-chan at Nyanyian Persimpangan (12 years 26 weeks ago)
50

oke banget!!! sebenernya si gadisnya ke mana sih? gw mikirnya, apakah si gadis terbang entah kemana? hahaha. bagus kok!!!!