Setiap orang yang sedang jatuh cinta pasti ingin terlihat lebih ‘sempurna’ segala-galanya di depan orang yang mereka sukai. Ini juga terjadi pada Dina, cewek paling cuek bin jutek se-Bina Bangsa. Walau dia tetap terlihat nggak ngeh alias acuh bebek saja pas ngelihat betapa digila-gilai plus dipuja-pujanya cowok yang dia sukai itu oleh cewek-cewek di sekolahnya, tapi sesungguhnya dia gundah.. dalam hatinya, dia selalu mencari-cari cara supaya cowok pujaannya itu, walaupun sedikit saja... melirik ke arahnya. Karena itu, dia harus menyusun strategi. Jalan pertama, belajar dari buku.
Setumpuk buku yang semuanya ‘berbau’ cinta, bertumpuk di meja belajar Dina. Sudah sejam. Hanya ditatapnya saja tumpukan tinggi buku-buku itu, seribu kali.. bahkan lebih. Apa ini memang kodrat? Apa merasakan cinta adalah sebuah kodrati? Sebelumnya dia nggak pernah peduli tentang masalah cinta. Pas dulu kakak-kakaknya -yang kebetulan cewek semua- membicarakan masalah ‘cinta’, dia lari kebirit-birit, ogah dengerin. Pas dulu temen-temennya satu kelas ngomongin masalah ciuman pertama, kencan pertama, atau gebetan-gebetannya, dia malah nyetel musik di ipod-nya keras-keras. Dulu dia jijik setengah mati, alergi kepati-pati, benci meraga-sukma sama yang namanya cinta.. tapi sekarang, mau ditaruh di mana wajahnya kalau dia kepergok lagi ‘jatuh cinta’?!!
Urrrrrgggh, dipikirkannya lagi, berulang-ulang kali. Siapa sih yang nggak kenal dia? Cewek yang oleh seisi sekolahnya diidentifikasikan sebagai ‘makhluk ajaib’. Juara di segala bidang mata pelajaran, pemenang semua olimpiade yang pernah diikutinya, peraih juara debat plus juara diskusi se-Jakarta, jago segala jenis alat musik, mahir bicara hampir semua bahasa -lancar Bahasa Inggris, fasih Bahasa Jepang, Jerman, Belanda, dll.-, padahal dia sudah merasa tenar plus populer seantero Bina Bangsa karena itu, padahal tiap papasan sama siapapun, dari angkatannya sendiri sampai adik-adik kelasnya, nggak ada yang pernah lupa untuk menyapa dia dan hampir semua mengenalnya, eh ternyata.. malah cowok yang dipuja-pujanya setengah mati -yang diharapkannya menjadi orang yang paling tahu semua hal tentang dia- lah yang nggak mengenalnya.
“Dina? Siapa, ya?” itu komentar yang diterimanya, pas seminggu yang lalu menelepon ‘cowok pujaan’nya itu untuk mengabari masalah les sekolah yang kebetulan harus diundur. Padahal sebelumnya, dia sudah melonjak-lonjak kegirangan ketika tahu dialah yang menangani urusan pemberitahuan batalnya les sekolah hari itu ke semua murid yang mendapatkan jadwal les hari itu, terutama dia sangat tahu bahkan sangat hafal hari-hari apa saja cowok pujaannya itu mendapat jadwal les. Tapi ketika ternyata cowok itu nggak tahu namanya.. sirna sudah kegembiraannya.
Dua tahun sudah Dina menyimpan hatinya untuk satu orang, yang nggak pernah tahu akan isi hatinya. Buru-buru tahu akan isi hati Dina, cowok itu bahkan nggak kenal sama sekali dengan cewek yang namanya ‘Dina’. Sedih, gundah, merana, sudah pasti. Tapi Dina nggak akan putus asa, nggak akan patah semangat, nggak akan mundur teratur. Dia adalah cewek yang tegar, kuat, bermasa depan. Chayoo Dina!!!
Dengan semangat berapi-api, diselesaikannya juga sebuah buku setebal 300 halaman. Dengan raut wajah sekusut jeruk purut, dia menggerutu kesal, “Buku apaan ini.. tebelnya sampai 300 halaman, eh nggak nyimpen kalimat mujarab satu bijipun.”, digeleng-gelengkannya kepalanya, “Cinta itu nggak harus memiliki.”, itu kalimat terakhir yang dibacanya dari buku itu, kalimat basi bin kadaluarsa. Dia juga tahu, dia bahkan hampir selalu mendengar itu -semboyan cinta di hampir tiap negara-, tapi dasar wong edan.. orang lagi jatuh cinta kok ditawarin semangat patah hati?
Buku kedua, dibacanya lebih teliti. Ketiga, hanya memanadangi gambar-gembarnya saja. Sampai akhirnya buku kedelapan, dibolak-balikannya saja. Sampul-sampulnya bagus-bagus, hampir kesemuanya didominasi warna merah jambu, dengan hiasan dan gambar-gambar yang menarik. Tapi kok hampir semua berisikan kalimat basi tak mujarab? Padahal dia ingin sekali menemukan satu buku saja.. yang bakal memotivasi dia. Untuk jatuh cinta, jatuh cinta, jatuh cinta, dan jatuh cinta terus sama ‘cowok pujaan’nya. Dia ingin menemukan satu strategi saja.. yang besok bisa digunakannya untuk menarik perhatian sang ‘cowok pujaan’.
“Nggak ketemu-ketemu juga strategi yang bagus. Emang gue yang rada sial kali, ya?” diseruputnya segelas susu yang terdampar begitu saja di mejanya, sudah dingin. Dipandanginya jam dinding yang terpajang apik di dinding sebelah selatan kamarnya, jam 2 pagi. Gara-gara jatuh cinta, dia terpaksa menjadi penderita insomnia kelas berat.. plek, salah satu dari beberapa buku yang belum dibacanya, terjatuh. Sebuah halaman, berisi gambar cewek yang jutek nggak ketulungan, di sebelahnya berisi kalimat “cowok akan selamanya menyukai cewek yang sulit mereka raih.” Ini dia. Ini baru gue banget.. Strategi pertama, here it is.. “Jual Mahal”.
dikirim panah hujan 47 minggu 2 hari yang laluTag:







