terjaga tengah malam, dingin yang menusuk tulang.
anakku terdidur pulas, istriku di sampingnya.
sementara tak tahu apa yang kuperbuat
kutekan tombol merah remote TV
ah yang itu itu juga nampak di layar
bergegas kuambil air wudhu
biarkanku sejenak dalam dekapanMU
Rating
50
points
Views: 319 reads
Comments: 9
Rating:
Comments: 9
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
Sayang, kau jadikan Kekasih Sejatimu sebagai alternatif terakhir. Tapi puisi Anda memang berbicara tentang sifat manusia.
MenghadapNya cuma upaya pelarian dari dinginnya malam, sehingga tak mampu memejamkan mata. Seandainya ada pertandingan bola...
mungkin klo dituangkan lebih sentimentil dan puitis akan lebih menyentuh...dan bisa membuat yg membacanya ingin bangun tengah malam dan berada dalam "dekapanMu" ^_^
Hal yang paling jitu bila dalam keadaan bingung.Paling tidak ada yang diperbuat darpada tambah bingung.
Dijah
menurut saya ini cerpen, atau bagian dari cerpen.
biasa aja
semoga yg lain terinspirasi dengan cerita ini ya
Puisi seharusnya bisa bercerita. Dan cerita biasanya terdiri dari 3 alur --> latar belakang - peristiwa - hasil.
**
latar belakang di sini lemah, dan dia dengan peristiwa dan hasil tidak punya kesatuan.
**
tidur, mengapa tidak ikut tidur juga?
sholat -- benar-benar terpisah dengan acara nonton.
**
Efek religius dari puisi ini juga dangkal, karena si tokoh pergi sholat karena tidak ada acara tv yg menarik. Coba ada acara yang menarik, si tokoh berarti duduk diam dan menyaksikan.