Namaku Habibah, dalam bahasa Arab artinya yang terkasih. Aku memang menjadi yang terkasih, anak bungsu dengan dua kakak laki-laki. Aku primadona Ayah, putri kecil Ibuku. Tak pernah ada yang membiarkanku sendiri, semua menyayangiku. Ayahku sering menggodaku, katanya setiap nama memiliki pasangannya, dan suatu saat Aku akan bertemu dengannya, menikah dan bahagia sampai tua. Saat umurku semakin bertambah, Aku tak percaya lagi pada dongeng itu hingga bertemu dengannya di suatu sore.
Saat itu, halte sedang kosong, daun-daun coklat menari di atas tanah, bersama debu-debu jalanan. Gerah, rasanya ingin segera tiba di rumah dan mengikis lapisan debu yang menjadi lapisan kulit keduaku. Dia datang dengan menenteng gulungan karton, sebuah tas ransel yang agak kumal dengan berat yang spertinya berkilo-kilo bertengger di punggungnya. Rambut berantakan dengan sedikit cambang di sepanjang dagunya, membuatnya terlihat agak brutal. Lengan bajunya yang panjang, digulung dengan rapi hingga siku, celana jins yang agak kumal dan sendal jepit hijau dengan merek yang sudah terhapus, membuat penampilannya semakin menarik untukku. Dia juga memakai kacamata dengan bingkai hitam yang tipis, sangat kontras dengan penampilannya yang sedikit urakan. Sesekali Aku meliriknya, berharap mendapatinya sedang mencuri pandang ke arahku. Tapi sampai lirikan ke sepuluh Aku tak menemukan pandangan itu. Akhirnya kucoba sedikit bersuara, batuk-batuk kecil walaupun teggorokanku tak gatal, gumaman panjang sampai helaan nafas yang dalam, dan dia tak juga menggerakkan lehernya.
Akhirnya sebuah bis datang, tapi bukan yang biasa menjemputku. Itu bis yang berlawanan arah dengan jalan rumahku. Tiba-tiba dia berdiri, memanggul tas dan menenteng karton, tak lupa memperbaiki letak kacamatanya. Aku tak mungkin membiarkannya pergi, Aku belum tau namanya, rumahnya, nomor telponnya, atau apapun tentangnya. Kata Ibuku, kesempatan bukanlah hal kebetulan. Tak ada waktu lagi untuk berpikir, kali ini atau tidak sama sekali.
“Naik, Dek???” tanya serang kondektur yang melihatku tertegun melihat sosoknya menghilang di pintu bis. Aku menatapnya, menutup segala rasionalitasku, nilai-nilai normal tentang perempuan yang sebaiknya menunggu bukannya menjemput kekasihnya. Aku mengangguk dan tersenyum pada kondektur yang membukakanku pintu.
Bis itu hanya dihuni beberapa manusia yang sedang sibuk bermain dengan dunianya masing-masing. Tak sulit menemukannya, karena sepertinya radarku hanya mendeteksi keberadaannya. Dia duduk di bangku ketiga di belakang supir, apakah Aku harus duduk di depannya, di belakangnya atau bangku yang berseberangan dengannya???
“Duduk cepat, Dek!!!” kondektur bus menegurku dan kuputuskan untuk duduk tepat di sampingnya.
Kepalaku sibuk menyusun kata-kata, ada kata yang pas tapi hatiku malu, ada kata yang sesuai tapi mulutku tak mampu membuka. Tak terasa sudah setengah perjalanan, dan Aku belum bersuara sedikitpun, dia juga hanya diam dan memandang keluar jendela. Aku sepertinya sudah menyerah, daripada sibuk menemukan kata yang tak mungkin juga kuucapkan, lebih baik kunikmati saja perjalanan ini.
Dia memiliki rambut yng agak ikal, beberapa bahkan menjuntai di depan telinganya. Bau parfum khas maskulin semakin membuatku sibuk mengamatinya, hingga tiba-tiba dia berbalik, melihatku terpana memandangnya, dengan mulut membentuk huruf O. Sel-selku menjadi kacau, sinyal-sinyal bertabrakan, gen-gen salah mentranskripsi kode, Aku tak menemukan diriku.
“Saya Habibi,” dia memandangku, mengulurkan tangannya untuk dijabat. Aku menjadi gagu.
“Namamu siapa?”tangannya masih setia menungguku.
“Habibah,”jawabku dengan susah payah sambil menjabat tangannya.
“Nama kita memang berjodoh,”Dia tersenyum, dan Aku semakin jatuh cinta. Dia percaya pada ayahku.
***
Lebih sebulan, kujalankan rutinitas baruku. Pulang kuliah, menunggunya di halte, naik bis bersamanya hingga dia turun, dan Aku akan kembali ke halte, pulang ke rumah. Tiap hari bagiku adalah hari baru, hari pertama Aku melihatnya dan jatuh cinta. Rasanya seperti seseorang memukul genderang perang di dada, lagu perang dimainkan dimana semua indera bersiaga menjaga sosoknya tetap dalam pandanganku.
Bagiku dia adalah secangkir teh hangat di sore hari, menyengatku dengan aromanya dan menidurkanku dalam kepekatan warnanya hingga suatu hari dia membuatku terbangun dengan aroma teh yang berbeda. Tiba-tiba saja, dia tak lagi menawarkanku teh hangat, yang suatu hari kuharap akan dicampurnya dengan sesendok madu agar lebih manis, sepotong jahe untuk membuatnya lebih segar ataupun sekerat jeruk nipis untuk membuatku meringis. Dia memberiku secangkir kopi pahit, tanpa krim ataupun gula.
Ini sore yang sama dengan kemarin. Angin bertiup perlahan dengan sedikit mendung di sudut langit. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Aku berlari-lari kecil ke halte, berharap dirinya masih berada di sana karena sore ini Aku agak terlambat menunggunya. Katanya, hari ini dia akan memberiku kejutan. Mungkinkah...ramalan ayahku terwujud???
Dengan sedikit terengah, dan tersenyum lega Aku menghampirinya. “Dia menungguku,” hatiku berseru kegirangan.
“Hei...kamu terlambat!!” dia menegurku sebelum Aku sempat menyapanya.
“Ada kuliah tambahan,” kataku.
“Sayang...Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.” Dia memanggilku sayang??
“Hai...saya Habibah,” seorang perempuan tiba-tiba telah berdiri di sampingnya, mengulurkan tangan dan menyebut namaku.
“Ini...kejutan yang kujanjikan,” ujarnya riang, dan akupun hanya bisa memandangnya tanpa keriangan.
“Habibah...juga.”
“Nama kita sama,” ujarnya setelah Aku menyambut tangannya, dan merekapun tertawa. Dia mengenalkanku pada perempuan yang dicintainya, pada nama yang membuatnya tersenyum saat mengenalku. Langit semakin mendung saja, pandanganku juga semakin kabur karena gumpalan air yang menggenang di sudut mata. Untunglah waktu tak lama menyiksaku karena bis yang akan membawanya pergi telah datang.
“Habibah... naik???” dia menegurku sesaat sebelum menghilang di pintu bis.
Aku tersenyum menggeleng. Kulambaikan tangan pada mereka yang semakin menjauh dan hujan pun turun menemani air mata yang perlahan mengalir di pipiku.
“Bisnya sudah penuh,” jawabku dalam hati.
***
Aku terisak satu-satu, sayup bagai nyanyian pilu diantara riak gembira percikan hujan di aspal. Untunglah, halte sedang kosong, hanya ada Aku dan kesakitan ini yang sedang menunggu tumpangan untuk segera kembali ke pelukan ibuku dan menceritakan tentang pria baik yang mengenalkanku pada kepedihan. Di kejauhan terdengar sumpah serapah yang didahului akar-akar yang bercahaya dari langit. Tak seperti biasanya, kali ini Aku tak menutup telinga, Aku ingin mendengarnya baik-naik, meresapinya dalam hatiku dan membiarknnya ikut merasakan pedih yang dititipkan pria itu. Aku ingin ia membaca tiap garis-garis kebencian yang membentuk wajahnya, mengingatnya dan mencarinya di tiap sudut kota, dan mungkin menghanguskannya dengan satu kilatan, melemparnya dengan satu gertakan, dan menenggelamkannya dengan satu semburan.
“Hakhahahaha..ha…ha..” Kata orang, tertawa adalah bukti kebahagiaan, tapi kali ini tidak untukku. Aku tertawa sampai rahangku sakit, sampai dadaku sesak kelebihan CO2, sampai kelenjar lakrimasiku memeras tetesan terakhirnya. Ternyata tak perlu meringis untuk menangis, dengan wajah sumringah pun bisa. Tarikan nafasku dalam, menetralisir toksin yang memenuhi paru-paruku. Aku masih butuh hidup, walau Aku tak tau bagaimana akan melewatkan pagi. Beberapa orang yang melintas, menyempatkan untuk berpaling, mudah-mudahan tak ada yang mengenali air mataku karena Aku tak suka dikasihani apalagi ditertawai. Biarlah hanya Aku yang tertawa.
Kupeluk tubuhku lebih erat, berharap ada kehangatan yang menelusup di hatiku yang perlahan beku bersama yang dinginnya udara. Beberapa bagian bajuku basah terkena cipratan ar hujan. Pasti Aku terlihat sangat sengsara dengan pakaian basah, rambut yang terlepas satu-satu dari ikatannya, plus wajah yang sedikit sembab. Kupalingkan wajahku ke arah bis biasanya datang, tapi tetap tak ada tanda-tanda kalau dia akan datang menjemputku, bahkan klakson panjang dari ujung jalan juga tak terdengar. Sepertinya hari ini semua orang mencoba menguji hatiku. Tak terasa Aku kembali terisak, rasanya tak ada lagi energi yang tersisa untuk menyumbat ductus lakrimasiku, lagi pula katanya air mata yang menguap suatu saat bisa menjadi hujan, kalau jatuh ke tanah, dia kan meresap dan mengalir di antara bebatuan menuju sungai. Mmmhh, pikiran aneh yang tetap membuatku merasa sangat sengsara, sama sengsaranya dengan mengetahui kalau dongeng ayah bukan untukku.
Tag:











