Hari telah beranjak senja. Langit berwarna lembayung mengiringi matahari kembali ke peraduannya. Dari balik jendela samar kusaksikan semua keagungan Tuhan itu sambil melintas menjelajahi dunia imajiku.
Kau memang sahabatku...
Kau memang teman baikku...
Dan aku...jatuh cinta padamu...
Read more (2463 words)
Aargh...kenapa lagu itu yang diperdengarkan? Aku merasa tersindir oleh lagu itu. Kuraih remote kontrol bermaksud merubah gelombang radio itu, tapi kuurungkan niatku. Peduli amat dengan lagu itu!! Kembali aku menjelajah ke dalam ruang imajiku.Tiba-tiba tanpa permisi, melintas seraut wajah dengan senyum mahalnya. Wajah itu, telah memenuhi ruang imajiku akhir-akhir ini. Rey, nama pemilik wajah itu. Sudah lama aku mengenalnya namun baru sekitar setahun terakhir ini aku dekat dengannya. Kedekatan kamipun terjadi tanpa sengaja. Aku, Anti, Rey, Aldi, Dilla, dan Raka telah bersahabat sejak lima tahun lalu. Dulu kita satu SMA cuma beda tingkat aja. Kemana-mana kami selalu berssama, nonton, shopping, jalan-jalan, pokoknya kemana aja. Saat itu serasa ada jarak yang terbentang antara aku dan Rey. Dia begitu pendiam, misterius, dan susah ditebak. Aku seperti tak mengenal dia. Sampai akhirnya suatu hari Rey memutuskan untuk kuliah Diploma tiga diluar kota. Dari sinilah kedekatan kami berawal. Berawal dari sekedar sms nitip salam buat anak-anak lain sampai akhirnya saling curhat. Tiga tahun Rey tinggal di luar kota, cuma pulang kalau lebaran. Setelah sekian waktu jarang ketemu, ternyata dia nggak berubah masih pendiam, misterius, dan susah ditebak. Tapi kita berdua jadi makin akrab. Rey juga sering main kerumah. Tanpa kusadari dia telah mencuri hatiku. Tiba-tiba handphone ku berbunyi pertanda ada pesan yang masuk.
Rey :
Halo cewek..! gi ngapain neh?
Aaah..pesan khas milik Rey dan hanya Rey yang mengawali smsan dengan kalimat semacam itu.
Rara :
gi nyantai neh. Ada apa ?!
Rey :
Nggak koq cuma mau tanya kalo ntar aq maen kerumah boleh nggak??
Rara :
“Tumben cuma mau maen aja pake minta ijin?? biasanya aja dateng nggak diundang pulang minta diantar, hehe..
Rey :
Ya nggak apa-apa kan sekali-kali minta ijin, abis sekarang kamu sibuk banget, susah dihubungi lagi.. ya udah ya..sampe ketemu ntar malem ya cantik..!!
Aneh..dia selalu bisa membuat hatiku melayang nggak karuan. Seperti kejadian beberapa hari yang lalu.
***
Hari itu aku benar-benar lagi suntuk, lagi banyak masalah. Seperti biasa aku dan anak-anak ngumpul di rumah Rey,sejak dulu rumah Rey selalu jadi basecamp kami. Sekedar ngobrol dan bercanda kesana kemari. Aku pun ikut nimbrung juga meski kadang diselingi ngelamun. Yang jelas aku berusaha menutupi kalau aku lagi ada masalah. Aku nggak mau anak-anak tahu masalahku. Tanpa aku sadari ternyata Rey memperhatikan sikapku. Tiba-tiba aja dia udah duduk disampingku dan membuyarkan lamunanku.
“Kenapa Ra?kok nggak kayak biasanya?” kata Rey sambil ngelus rambutku. Oh Tuhan..!jantungku berdegup kencang. Kenapa dia berbuat begitu? Gimana kalau anak-anak punya persepsi yang lain dengan pemandangan ini?
“Nggak kok, biasa aja lagi. Aku nggak kenapa-kenapa”jawabku meyakinkan dia.
“Masa sih, jangan bo'ong!!kamu tuh nggak kayak biasanya. Pasti lagi ada masalah, cerita dong!!”
“Bener aku nggak kenapa-kenapa kok. Perasaan kamu aja kali..”
Sungguh, Rey selalu tahu kondisi perasaanku dan aku selalu sulit untuk berbohong kepadanya.
“Alah Rey..Rara emang suka gitu, suka sok misterius!” sahut Anti
“Paling-paling lagi patah hati..neh ada plester kalau mau!?” Aah..si Dilla ikut-ikutan nimbrung disusul gelak tawa anak-anak. Andai kamu tahu Rey, kalau aku emang lagi patah hati dan orang yang sudah buat aku patah hati adalah kamu.
“Siapa sih yang bisa bikin Rara patah hati? Kalaupun iya, aku orang pertama yang dikasih tahu!!” sambung Anti bersungut.
Kamu benar An, kamulah orang pertsama yang aku kasih tahu kalau aku ada masalah. Tapi tidak untuk masalahku yang satu ini, tentang perasaanku terhadap Rey. Biarlah aku sendiri menyimpannya. Mendengar hal itu Rey hanya tersenyum seperti biasa.
***
Benarkah aku telah jatuh cinta pada Rey? Benarkah aku telah melanggar prinsip persahabatan kami, dimana kami tidak boleh saling jatuh cinta? Aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan. Yang jelas aku merasa hatiku sangat perih ketika Rey bercerita bahwa dia sedang PDKT dengan teman kuliahnya dulu, namanya Keysha. Apa ini yang disebut orang “cemburu”? Bahkan aku sempat menangis karenanya. Ini pertsama kalinya aku punya perasaan semacam ini dan Rey adalah cowok pertsama yang bisa membuat aku menangis. Selama ini pula aku menganggap Rey seperti kakakku sendiri, semua tahu itu. Orang tuaku juga telah menganggap Rey dan yang lainnya seperti anak mereka sendiri.
“Ra...ada yang nyariin nih..!!” teriak ibuku dari luar.
Entah sudah berapa lama aku melamun karena tanpa kusadari diluar bumi telah berpayung malam berhiaskan bintang-bintang. Anginpun membelai lembut rumput-rumput di taman.
“Ya..Bu..!!”sahutku seraya melangkah keluar.
Deg. Oh My God!! Aku lupa kalau Rey akan datang kerumah. Mana aku masih acak-acakan gini. Ya sudahlah mau gimana lagi. Sekarang dia sudah didepanku tersenyum dengan senyuman termanis yang dimilikinya.
“Bangun tidur ya? Kusut samat..”
“Nggak kok, cuma lagi males aja. Ada apa nih? Ada kabar apa?”
“Kok nanya gitu? Ya ngapel lah malem mingguan gitu lho..he..he..!!
“Ngapel?? nggak salah neh, rumah Keysha kan bukan disini.”
“Sapa juga yang mau ngapelin Keysha? Aku kan ngapelin kamu Ra, nggak boleh ya?? atau udah ada yang mau ngapel?”
Iih..ni anak nyebelin banget sih. Tolong jangan perlakukan aku seperti ini. Jangan sampai lentera di hatiku menyala semakin besar.
“Terserah deh kamu mau ngomong apa, asal bercandanya jangan kayak gitu. Aku nggak suka.”
“Sapa yang bercanda Ra? Aku serius ngapelin kamu kok.”
“Tuh kan mulai lagi, kalau kamu lanjutin mending kamu pulang aja!!”
Aku setengah berteriak karena aku benar-benar takut aku tak bisa mengintrol perasaanku. Akhirnya semua terdiam. Aku membisu begitu pula Rey. Tiba-tiba Rey menggeser duduknya.
“Ra..!!”panggilnya lembut. Melumerkan emosi di hatiku.
“Apa?”
“Sebenarnya cerita tentang Keysha hanya bo'ong belaka.”
“Apa maksud kamu Rey? Aku nggak ngerti..!”
“Sebenarnya udah lsama Ra aku nyimpen perasaan ini. Aku suka ssama kamu Ra..!!”
Melayang. Aku merasa melayang ke angkasa mendengar Rey mengucapkan kalimat itu. Dalam hati aku berteriak kegirangan. Bintang-bintang di langit tampak semakin bersinar cerah. Rey meraih tanganku menyadarkan aku dari lamunan sesaat.
“Gimana Ra? Kamu mau nggak jadi pacarku??
Ingin aku mengiyakan, tapi kini wajah sahabat-sahabatku yang lain melintas di benakku. Haruskah aku berkhianat? Aku masih terdiam membisu.
“Aku tahu kamu bingung Ra. Tentang Keysha, itu hanya karanganku belaka. Hanya untuk melihat apa kamu akan cemburu kalau tahu aku deket sama cewek. Tapi ternyata aku salah, kamu nggak kasih respon seperti yang aku harapkan.”
Pengakuan itu mengalir lancar dari mulut Rey. Membuatku semakin bingung. Perasaanku tak karuan, semua bercampur aduk jadi satu. Dan lagi-lagi aku masih membisu. Aku tak tahu harus bilang apa. Kurasakan air mataku mengalir membasahi pipiku.
“Tolong Rey, aku pengen sendiri sekarang.”ucapku sambil berlari masuk ke ksamar.
***
Semenjak malam itu, setiap kali bertemu Rey aku hanya bungkam. Kalaupun dia bertanya sesuatu aku hanya menjawab sekenanya. Anak-anak sampai heran dengan perubahan sikapku pada Rey. Apalagi Anti yang tahu banget kalau aku yang paling sering bermanja-manja ssama Rey.
“Kamu sama Rey ada apa sih Ra kok nggak kayak biasanya? Lagi marahan ya?” tanya Anti suatu hari dalam perjalanan pulang kerja.
“Nggak kok An, biasa aja. Mungkin karena aku lagi nggak mood aja.”
“Masak sih? Aneh deh Ra, akhir-akhir ini Rey sering tanyain kamu lho..!! tadinya aku cuek tapi sejak kita ngumpul dirumah Rey waktu itu, aku jadi kepikiran.”
“Oh ya? Emangnya tanya apa aja dia kok kamu sampe kepikiran gitu..?”
“Banyak. Waktu kita ngumpul dirumah Rey itu kan kamu datangnya telat, berkali-kali dia tanya kamu kemana, anak-anak juga pada ditanyain. Trus dia juga sering tanya, Rara kenapa sih kok mukanya kusut terus, dia juga tanya apa bener kalau kamu lagi patah hati, dan bla..bla..bla..deh pokoknya yang ditanyain tuh yang aneh-aneh.”
“Trus kamu jawab gimana?”
“Ya kubilang aja kalau kamu lagi ada masalah sama keluarga kamu tapi kamu nggak bisa cerita detailnya, ya seperti yang kamu bilang tempo hari.”
“Waktu dia tanya apa aku lagi patah hati, kamu jawab apa?”
“Ku bilang kalau kamu tuh nggak lagi patah hati. Sapa sih yang bisa bikin seorang Rara patah hati?”
“Rey..”
“Maksud kamu Ra..?”
Aku membisu. Tak sanggup lagi aku menjawab pertanyaan Anti. Genangan airmata yang sejak tadi tertahan akhirnya tercurah dalam tangis.
“Kamu kenapa Ra, kok nangis??”tanya Anti sambil menepikan mobil lalu merengkuh pundakku, memelukku. Tangisku pun semakin menjadi dalam pelukan sahabatku ini. Akhirnya aku bisa menenangkan diri dan kuputuskan untuk menceritakan semuanya pada Anti.
“ Aku minta maaf ya An, juga sama anak-anak. Aku udah berkhianat.”
“Minta maaf? Berkhianat? Maksud kamu apa sih Ra, aku jadi tambah nggak ngerti?”
“Kamu mau tahu kenapa tempo hari aku suntuk dan sering uring-uringan? Bukan karena masalah keluarga An, tapi karena emang aku lagi patah hati. Dan Rey adalah cowok yang udah matahin hati aku.” jawabku memulai pengakuan.
“Apa..!!??” tercengang Anti mendengarnya hingga hanya kata itu yang terlontar.
“Kamu dan anak-anak boleh marah sama aku. Tapi inilah kenyataanya, aku jatuh cinta sama Rey. Hatiku sakit banget waktu Rey cerita-cerita kalau dia PDKT sama Keysha.” lanjutku.
“Oh My God, jadi dugaanku selama ini bener kalau kamu suka sama Rey?”
Aku hanya mengangguk lemas. Terasa lebih ringan sekarang beban di pundakku.
“Terus Rey tahu tentang perasaan kamu?”
“Dia juga ngrasain hal yang sama An. Malem minggu kemaren dia kerumah dan dia nembak aku.”
“Aku ingat dulu Aldi pernah cerita kalau dia pernah mergokin Rey lagi ngliatin foto kamu lama..banget. Trus apa jawaban kamu?”
“Aku belum jawab, aku bingung An mesti jawab apa.”
“Lho..kalian kan sama-sama suka? Kenapa mesti bingung? Kenapa nggak kamu terima aja?”
“Dulu kita kan udah sepakat untuk nggak saling jatuh cinta, kamu lupa?”
“Ya sih...tapi kan kalian saling suka, pasti anak-anak bisa ngerti..”
“Tau ah An..eh dah sampe rumah nih, kamu mampir dulu kan?”
Tanpa sadar ternyata udah ada di depan rumahku. Kuusap sisa airmataku lalu keluar dari sedan hitam milik Anti.
“Nggak Ra, aku mesti ngantar ibuku ke supermarket, ntar malem aja yah..?!”
“Ntar malem kamu mau kesini?”
“Kamu lupa? Ntar malem kan kita mesti ke ultahnya Aldi?”
“Iya..ya aku lupa. Kamu jemput aku ya, soalnya mobilku masih dibengkel, please..?” aku memohon.
“Ok, sampe ketemu ntar malem ya..bye..”
Kupandangi sedan hitam itu hingga hilang ditikungan.
***
Kupandangi pantulan wajahku di cermin. Kusisir kembali rambutku sambil menunggu Anti menjemputku. Pikiranku kembali melayang. Nanti di rumah Aldi pasti aku ketemu Rey. Apa yang mesti kulakukan? Aku nggak bisa terus menghindar darinya. Diapun pasti takkan membiarkan aku lepas dari sudut pandangnya. Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunanku. Itu pasti Anti, akupun segera keluar.
Sebuah mobil Kijang Kuda warna black silver berhenti di depan gerbang. Itu bukan mobil Anti tapi mobil...Rey. Aduh kok Rey? Bukan Anti?
“Mau bengong sampe kapan? Anak-anak udah pada nungguin tuh!! teriak Rey dari depan mobil.
Dengan malas kuayunkan kakiku menuju mobil. Rey menyambutku dengan membukakan pintu mobil.
“Anti mana?”tanyaku ketika Kijang ini mulai bergerak merayap memasuki jalan raya.
“Anti lagi dijemput sama Raka. Tadi dia telphone, katanya mobilnya mogok jadi dia minta dijemput. Dia juga bilang kalau kamu belum ada yang jemput,”
'Oooh gitu..?”jawabku. Jujur aku masih malas menghadapi apa yang terjadi.
***
Dirumah Aldi semua udah ngumpul. Hanya pesta kecil, hanya ada orang tua, adiknya, dan kita sahabatnya. Setelah menyerahkan kado dan memberi ucapan pada Aldi aku lalu menyusul Anti yang duduh di bangku taman.
“Hey tega kamu nyuruh Rey jemput aku.”protesku padanya.
“Sory Ra, tapi aku juga nggak tahu kalau yang jemput kamu Rey..Trus gimana?”
“Gimana apanya?”
“Ya kamu sama Rey tadi dijalan, secara kondisi kalian sekarang ini, eh Rey ngliatin kamu terus tuh..!!”
belum sempat aku menjawab pertanyaan Anti, Dilla udah nimbrung. Jadi ku urungkan jawabanku.
“Hey pada ngrumpi apaan nih?” tanya Dilla yang dasar anaknya suka ngrumpi.
“Kita disini lagi ngomongin kamu, yang makin hari makin jarang keliatan aja.” jawab Anti
“Kenapa pada kangen ya..biasalah emang nggak rame kalau ngga ada aku..he..he..he..” dasar narsis.
“Justru kita bersyukur nggak ada kamu, nggak ada yang ngajakin ngrumpi.” balas Anti.
“Enak aja..liat aja ntar kalau kamu nyariin aku ..” sambung Dilla sambil bersungu-sungut.
“Udah-udah acaranya dimulai tu. Kita kesana yuk..!!” ajakku .
Akhirnya acara demi acara selesai. Kini tinggal kita berenam duduk di taman di bawah naungan langit berhiaskan bintang. Hening. Semua diam larut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Rey memecah kesunyian itu.
“Aku mau nanya nih sama kalian semua, boleh nggak?” katanya memulai.
“Tanya aja Rey, pake minta ijin segala. Kayak lagi ngadepin dosen.” sahut Dilla. Tuh anak emang selain suka ngrumpi juga suka nyolot.
“Soal kesepakatan kita dulu, yang kita nggak boleh sailing jatuh cinta, apa masih berlaku?”
“Emang kenapa Rey? Aku malah udah lupa kalau kita punya kesepakatan kayak gitu.” jawab Raka.
“Iya aku juga udah lupa.” sambung Dilla. Aldi juga mengiyakan hal itu. Ternyata anak-anak udah pada lupa.
“Kalau aku masih ingat tapi udah nggak peduli lagi. Toh dulu waktu buat kesepakatannya kita kayak nggak serius.” kata Anti.
“Kayaknya emang udah nggak berlaku deh abis udah pada lupa dan nggak peduli.” lanjut Aldi.
“Emang kenapa sih Rey..? janganbikin penasaran donk!!” lagi-lagi si tukang ngrumpi nggak sabaran.
“Gini, kalau memang udah ngga berlaku aku pengen kalian semua, taman ini, dan langit diatas sana jadi saksi aku malam ini.”kata Rey.
Deg. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang berpacu dengan aliran darahku. Jangan-jangan dia mau buat pengakuan sama anak-anak?
“Jadi saksi apaan sih Rey? Emangnya kamu ngapain kok butuh saksi segala,.?” Dilla nyolot lagi.
“Sebenarnya udah lama aku nyimpen perasaan ini dan sekarang udah nggak ketahan lagi. Aku mau bilang kalau sebenarnya aku tu suka sama Rara.”
Bener dugaanku, dia ngakuin semua. Anak-anak pada tercengang nggak percaya.
“Malem minggu kemaren aku udah ungkapin semua sama Rara, tapi Raranya belum jawab. Katanya Anti, itu karena Rara bingung soal kesepakatan kita dulu. Tapi sekarang udah jelas, jadi aku mohon Ra, kasih jawabannya sekarang, kamu mau nggak jadi pacarku?” kata Rey lagi seraya menggenggam tanganku.
Sungguh aku nggak bisa berkata-kata. Tenggorokanku tercekat dan lagi-lagi airmataku tercurah. Kupandangi satu per satu wajah sahabatku meminta pertimbangan. Satu per satupun mereka mengangguk tanda setuju. Akupun tersenyum lalu mengangguk mengiyakan. Tanpa peduli kanan-kiri Rey memelukku erat, tangisku semakin menjadi. Tapi kali ini adalah tangis bahagia yang tercurah. Akupun berbisik di telinganya, aku sayang kamu Rey. Dan Rey semakin erat memeluk tubuhku.
“Ehm..ehm..mentang-mentang udah jadian...pelukan terus..” teriak Dilla menyadarkan aku dan Rey. Segera kulepaskan pelukan Rey.
“Kamu pengen La? Sini aku yang peluk..he..he..” sahut Raka
“Enak aja kamu, mending aku peluk tu pohon mangga daripada peluk kamu..huuh.” tukas Dilla
“Ya udah peluk tu pohon mangga..ha..ha..ha..” sambung Aldi. Dilla hanya manyun sedang yang lain tertawa. Aku dan Rey saling pandang lalu tersenyum. Digenggamnya jemariku. Ini malam yang terindah yang kualami, pikirku.
Nice banget koq
cerita manis..mungkin juga real terjadi...hanya boring bacanya soalnya topik klasik dengan penuturan klasik pula,mungkn kalo cara berceritanya agak beda dikit ..topik klasik gini bakalan suangat bagus..
just my comment, sama sama belajar
nice sajak...
tp jadinya melebar..tlalu panjang ya...
spt makan tongseng (makanan kesukaan ku)tp kebanyakan..Mmmmm...
overall, nice
perasaan thd sahabat...spt yg ku rasain skarang
aku setuju dengan tedjo dan gueru..^^
coba permanis diksinya.. pasti jadi cerita cinta yg cantik..
met kenal ya..
---------------
----
More about Sefryana Khairil and her books, klik here:
Sefryana Khairil Official Website
Read and give your comments..
sefry's stories & poems at k.com
Thank's buat komentarnya...
maklum masih belajar...
lanjuutt...
“Bangun tidur ya? Kusut samat..”
hehe..
selebihnya,,,
bagus...
ada lanjutannya atu neng?
yang panjang ya...
rasanya baru pertama kali aku sanggup baca cerita segini panjang sambil menghayati...