Sekedar cerpen awal saja.... Masih mencoba menjajaki apa sebenarnya warna apa yang aku miliki untuk membuat cerpen....
"Aku masih duduk termangu di peron stasiun kereta api Tugu, tempat paling nyaman saat aku butuh satu refleksi diri. Aku suka dengan suasananya. Hiruk pikuk suara penumpang, lengkingan peluit kereta, gemuruh mesin lokomotif. Ahh, suara-suara itu sungguh menenangkan. Sembari aku menghisap rokok mild, pelan-pelan aku hembuskan setelah sarat di tenggorokanku. Lepas rasanya. Dan, masalah sedikit terabaikan.
Penjual koran datang menghampiriku dan menawarkan korannya. Ada berita pembunuhan pejabat katanya. Setengah acuh, aku meneruskan hisapan rokokku sambil memandang kearah rel kereta yang masih lengang. Penjual koran itu masih berada di dekatku. Malah kali ini dia menawarkan lebih agresif lagi.
"Mas, beli korannya dong. Ada berita pembunuhan pejabat nih. Cuma seribu doang." Katanya sambil senyum kecut.
Aku mulai merasa risih dengan perilakunya yang sok akrab dan menatapnya dengan pandangan tak senang. Tapi akhirnya aku merogoh uang dari sakuku juga. Menyerahkan uangnya dan mengambil korannya. Wajah si penjual koran tampak sumringah, dan berlalu sambil mengambil uang dari tanganku.
Koran aku letakkan di sampingku. Aku menghidupkan rokokku kembali, menghisapnya sampai dalam. Tak lama kemudian, Kereta api jurusan Jakarta ternyata sudah tiba di depanku. Beberapa penumpang turun, antri dan sibuk dengan barang bawaannya. Benar-benar pemandangan yang mengasyikkan.
Tanpa sengaja aku menatap pintu kereta no.7 yang berada tepat di depanku. Seorang gadis usia sekitar 23 tahun, turun dari pintu kereta itu. Bercelana jeans, berbaju ketat warna hitam, membawa tas punggung. Rambutnya hanya diikat dan dibiarkan bergerak-gerak saat ditiup angin. Aku terkesima hebat dan merasakan aura kehadiran seorang dewi. Sungguh meghadirkan satu fenomena hati yang sulit dilukiskan.
Aku terus menatapnya tanpa berkedip. Langkahnya semakin dekat dan tiba-tiba dia menoleh kearahku. Aku terkejut dan merasa malu saat terjebak menatapnya. Dia semakin mendekat kearahku, membuka kaca mata hitamnya. Dan astaga.... Dia menyapaku!
"Aby. Kamu Aby kan?" Katanya semakin mendekat dan menatap persis di depanku.
Aku makin terkejut bercampur keterkesimaan. Aku mengenal suara itu, kenal dengan desahan suara itu. Siapa? Siapa ini? Pikirku dalam hati.Tanpa sadar rokok di tanganku mengenai tanganku justru aku berhasil mengingat wajah berparas dewi di depanku. Aku tersentak setengah berteriak.
"Latisha......?." Mulutku terucap spontan.
Gadis itu mengangguk sambil tertawa. Rambut hitamnya semakin bergoyang-goyang saat dia mengangguk.
"Ya ampun, sha. Lo berubah banget?." Kataku sambil berdiri dan menjabat tangan mulusnya.
Latisha menyambut tanganku dan menanyakan kabarku. Wajahnya terlihat senang sekali. Rona merah di wajah putihnya semakin menambah kecantikannnya. Dan aku selalu suka ini sejak dulu, sejak kami di bangku SMA.
"Aku kembali ke Jogja. Ada pekerjaan disini menungguku." Katanya.
"Terakhir kan, kamu kerja di Singapore? Di perusahaan kosmetik terkenal itu kan?." Kataku ingin tahu.
"Iya. Tapi gimanapun, Jogja tetap tempat terbaikku." Katanya sambil tersenyum.
"Aku minta no HP kamu dong." Katanya lagi.
Aku memberikan no HPku. Tak lama kemudian Latisha pamit dan berjanji akan menghubungiku secepatnya. Aku melambaikan tangan dan Latisha membalasnya. Sebelum menghilang kearah pintu keluar, aku masih sempat melihat dia menoleh kearahku sambil menunjukkan senyum terbaiknya. Ahh, senyuman paling manis setelah 5 tahun terakhir ini. Apalagi rona merah itu.....
Aku kembali ke kontrakanku setelah sore mulai merayap naik. Aku menaruh tasku dan koran yang aku beli di stasiun tadi di atas meja. Koran aku lemparkan begitu saja kearah meja dan tanpa sengaja mengenai gelas kopiku yang belum sempat aku cuci semalam. Tak urung, korannya juga jatuh ke lantai dan gelas kopi itu malah tumpah di atas koran itu. Ceroboh, dan aku malas sekali membersihkan sisa kopi ini.
Aku membungkuk mengambil gelas itu. Koran ku ambil dan coba aku bersihkan dari sisa ampas kopi tadi. Pas, halaman utama koran itu yang kena noda ampas kopi tadi. Sial sekali, pikirku. Aku meraih koran itu dan bermaksud membuangnya saja.
Tak sengaja, aku membaca halaman utama yang terkena noda kopi tadi. Disitu tertera berita : 'Pejabat BN ditemukan tewas di hotel M dalam keadaan mengenaskan.' Di duga, korban dibunuh oleh pelaku dengan cara meminumkan racun ke tubuh korban.' Sementara ini, pelaku masih buron dan polisi belum mendapatkan informasi lengkap tentang pelaku pembunuhan ini.'
Aku menutup koran itu dan melemparkannya ke tempat sampah tanpa ada minat untuk membaca halaman berikutnya. Apalagi kondisi koran itu sudah kotor oleh noda kopi itu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Latisha, gadis cantik yang pernah membuat anak-anak cowok di SMA waktu itu bermimpi mendapatkannya. Anaknya cerdas, ramah, jago main basket lagi. Dibesarkan dari keluarga mampu, terpandang dan papanya seorang diplomat negeri ini. Nyaris sempurna kodratnya sebagai cewek. Sejak lulus SMA, Latisha melanjutkan kuliahnya di Essex University, Inggris. Dan kabar terakhir aku mendengar kalau dia bekerja di Singapore, sebagai salah satu staf penting di perusahaan kosmetik.
Setahuku, dia menolak semua cowok di SMAku yang pernah bermimpi mendapatkannya. Benar-benar figur cewek yang sangat diinginkan. Masa itu, aku juga salah satu cowok yang pernah berjuang mendapatkan cintanya. Sekaligus salah satu cowok yang ditolaknya. Tragis, tapi aku sadar.
Tapi kenyataan sekarang sangat berbeda dengan dulu. Dan aku sangat diuntungkan dengan kenyataan sekarang. Betapa tidak, sejak pertemuan di stasiun kereta itu, hubunganku dengan Latisha semakin akrab. Keberadaannya di Jogja ternyata mampu membangkitkan semangat lama yang hampir terbuang. Pasti, Semangat untuk mendapatkan cintanya kembali. Dan sekarang, aku sedang berusaha untuk kesekian kalinya berjuang untuk itu.
Sore itu, Latisha mengajakku makan sate sapi di daerah kota gede. Di depan kontrakanku, dia memarkir mobilnya dan turun dari mobil. Aku sudah menunggunya di teras depan. Aku masih duduk di teras, menunggu Latisha berjalan kearahku. Aku sungguh menikmati pemandangan ini.
Langkahnya lurus tanpa terhalang
Kakinya seolah terbang tanpa sandungan
Dan aku melihat senyum sempurnanya kearahku
Rona merah di pipinya seolah tanda kesempurnaannya
Langkahnya makin mendekat
Sungguh, aku sangat memuja dia
Berharap mendayung satu bahtera bersama dia
Gadis dengan dengan segala keceriaannya...
"Aby. Ayo dong, malah bengong aja kamu." Katanya tiba-tiba sudah berada di depanku persis.
Aku tersadar dari kagumku. Bergegas aku menyambutnya. Baju putih dengan jeans biru memang membuat gadis ini sungguh menarik. Apalagi rambutnya yang panjang sebahu dibiarkannya terurai bebas. Sungguh, dia nyaris seperti dewi dalam buaian pelangi.
Di lapangan Karang daerah Kota Gede, kami berdua menikmati sate sapi kesukaan Latisha. Dia kelihatan senang sekali menikmati pemandangan di sekitar lapangan itu. Hiruk pikuk orang, asap sate yang membumbung keatas, dan silih bergantinya pengamen yang datang menghampiri kami.
"Aby......."Katanya tiba-tiba.
Aku menoleh spontan ke Latisha.
"Kamu tidak pernah berubah. Penampilanmu yang apa adanya, nyeni. Dan aku suka itu dari kamu dari dulu." Katanya menatap manis kearahku.
Aku tersenyum mendengar pujian itu.
"Ah, kamu bisa aja, sha. Dari dulu juga kamu udah ngerti kan kalo aku sudah lama suka sama kamu. Masa lalu." Kataku pura-pura acuh.
Dia memandangiku sekali lagi. Matanya terlihat bersinar bundar dalam keremangan malam itu. Persis dua buah bulan kembar.
"Tapi aku seneng banget lho karena kamu orang pertama yang aku temui di Jogja ini. Setelah sekian lama ya. Berapa tahun kita nggak ketemu? Sepuluh? delapan?." Katanya bercanda.
"Baru 6 tahun juga, sha. Kamu tuh." Kataku tertawa ringan.
Kami berbincang sampai lama sambil tertawa dan mengenang masa-masa SMA dulu. Aku bahkan betah untuk berbincang sampai pagi kalau bersama gadis ini. Kehadirannya sungguh menumbuhkan harapanku kembali. Tiba-tiba semuanya jadi lebih ringan, smooth, dan apa saja yang kami bicarakan selalu jadi lebih indah dan membuatku enggan untuk beranjak dari tempat itu.
Saatnya kami pulang. Latisha mengantarku sampai pagar depan kosku. Dia memarkir mobilnya.
"Aby. Sorry aku nggak mampir yaa. Thanks lho, udah nemenin makan sate kesukaanku." Katanya sambil tersenyum.
Aku turun dari mobil dan melihat wajah dewi ini dari balik kaca jendela yang terbuka. Aku melambaikan tangan dan masih sempat melihat senyum gadis itu. Mobilnya berlalu meninggalkan jejak-jejak basah bekas hujan pagi tadi. Dan aku menyempatkan diri menatap mobilnya sampai menghilang di ujung jalan. Sama seperti rasanya saat aku menatapnya di stasiun beberapa minggu lalu. Seperti ada yang aneh, tapi aku mengacuhkan ini. Bagiku, Latisha sudah kembali lagi ke Jogja. Itu yang penting.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Menyimpan satu harapan sama dengan menyimpan emas dalam tanah. Pasti tak akan cepat rusak atau hancur dimakan usia. Aku setuju dengan istilah ini. Karena harapan yang aku simpan untuk memiliki Latisha, masih aku simpan dalam-dalam di dasar hatiku. Tapi sepertinya aku harus berjuang lebih keras lagi. Perjuangan seorang Ksatria tanpa kuda. Itu yang sering aku istilahkan buat diriku.
Sejak pertemuan terakhir di lapangan Karang Kota Gede, aku sudah jarang sekali berkesempatan bertemu Latisha. Hpnya juga sudah tidak aktif sampai hari ini. Aku mencoba menghitung hari sejak kami makan sate itu. Astaga, 3 bulan sudah berlalu. Dan kami sudah tidak lagi berkontak.
Aku mulai mencari tahu keberadaan Latisha. Rumah kontrakannya di jalan Kaliurang sudah aku datangi. Tapi ternyata pembantunya bilang kalau Latisha sedang keluar kota dan tidak tahu kapan kembalinya. Ahh, Latisha. Apa aku harus mengejar kamu lagi seperti dulu? Tapi kemana arah kamu? Bahkan jejak kakimu saja tak pernah aku bisa lihat lagi. Atau mungkin sudah tumbuh sayap di balik dadamu? Dan aku semakin kehilangan kamu.
Aku mulai terusik lagi dengan kepergian Latisha yang tanpa jejak. Dan kebiasaanku mulai kambuh lagi. Pergi melamun ke stasiun Tugu dan duduk di kursi peron paling ujung. Kebiasaan lama. Memandangi lalu lalang penumpang, lengkingan suara sirene kereta, dan gemuruh mesin lokomotif. Tapi kali ini aku mulai mendengar semuanya berbeda dari dulu. Dan aku tersu melamun dan memikirkan Latisha.
"Mas........" Satu suara membuatku terkejut.
Aku menoleh ke arah suara itu. Ah, si penjual koran yang dulu. Aku memasang muka angkuh kearahnya, berharap dia mengurngkan niatnya menawarkan koran.
"Korannya dong. Seribu aja nih. Udah sore soalnya." Katanya sambil tersenyum menjengkelkan.
Entah kenapa tiba-tiba tanganku seperti bergerak sendiri merogoh saku celanaku untuk mengambil dompet. Aku mengambil uang seribuan dan menyerahkannya ke si penjual koran. Dia memberikan korannya dan menerima uang seribu dari tanganku tanpa mengucapkan terima kasih. Persis seperti 3 bulan lalu. Dasar!
Aku melihat ke halaman utama koran tadi. Beritanya hampir tidak ada yang menarik perhatianku. Hanya seputar politik, bencana alam, kunjungan menteri, dan pembunuhan pejabat!
"Pembunuhan pejabat"????.... Kataku dalam hati.
Aku mengulangi halaman yang menampilkan berita pembunuhan pejabat Indonesia di Singapura. Disitu tertera berita :
"Lts, 22 th, berhasil ditangkap oleh kepolisian Singapura karena terbukti melakukan pembunuhan terhadap GS, pejabat kementrian RI. Korban ditemukan tewas dengan mulut berbusa. Dari keterangan polisi setempat, Lts juga terkait dengan pembunuhan pejabat BN, pejabat ST dari Malaysia, dan pejabat RH dari Singapura. Belum ditemukan motif pembunuhan yang dilakukan Lts. Lts diancam hukuman mati karena terbukti melakukan pembunuhan berencana........."
Aku menatap wajah tersangka di halaman koran itu. Itu wajah Latisha. Aku terperangah dan tak mampu berbicara sampai beberapa menit. Sekujur tubuhku lemas dan pandanganku tak lagi sempurna. Hanya itu saja yang aku rasakan. Dan aku masih memikirkan Latishaku.....
dikirim mr.jay 1 year 3 minggu yang laluTag:








