Read more (3772 words) “Apa!?”
“Tenang dulu Na.”
“Gimana bisa tenang sih Ma, masa’ tiba-tiba begini sih?”
“Nana, Papa tau ini memang mendadak dan mengejutkan. Tapi kalau kamu masih sayang sama Papa dan Mama, tolong kamu terima pertunangan ini,” pinta Papa pada anak bungsunya, Nana.
“Papa curang, kalau Papa bilang begitu aku kan jadi nggak bisa nolak,” rengek Nana.
“Lagian kenapa nggak kak Leni aja sih yang ditunangkan!?” lanjutnya.
“Enak aja, aku tuh udah minta sama Papa supaya pertunangan ini dialihkan ke kamu. Soalnya, kamu tau kan kalau aku sedang dalam masa percobaan di Sekolah untuk mikirin masalah tunangan, bisa dipikir nanti,” sahut Leni nggak terima.
Leni, kakak Nana yang juga anak pertama dari keluarga Harjono memang baru diterima kerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah swasta internasional. Sedangkan Nana sendiri, adalah seorang mahasiswi jurusan Sastra Jepang yang baru akan memasuki semester ketiga.
“Halah, itu kan cuma alasan kakak aja. Iya kan?”
“Si, siapa bilang?”
“Sudah, sudah, jangan ribut lagi. Nana, kali ini aja Papa benar-benar minta tolong sama kamu. Kamu nggak mau kan keluarga ini hancur?” ucap Papa. Perkataan Papa ini semakin membuat pikiran Nana jadi kacau.
Perusahaan milik Pak Harjono, papa Nana, memang sedang mengalami masa krisis. Dan untuk menyelamatkan perusahaan papanya, papa mengatur sebuah pertunangan dengan partner bisnisnya yang berasal dari negeri sakura, Jepang.
“Iya Na, sekalian aja tuh praktekin bahasa Jepang kamu. He, he,” kata Leni.
“Dasar, umurku kan baru 18 tahun. Belum juga genap 20 tahun.”
“Emang apa hubungannya?” Tanya Leni.
“Je, jelas aja ada.”
“Sudah, kalian berdua ini. Pokoknya sudah diputuskan kalau Nana lah yang akan menjalani pertunangan ini,” tegas Papa.
“Oh ya, jangan lupa siap-siap Na. Soalnya minggu depan kamu harus berangkat ke Jepang untuk menemui tunangan kamu,” tambah Mama.
“APA?” Nana makin histeris aja.
“Iya, kamu akan pergi ke Jepang untuk menemui tunangan kamu. Calon besan Papa, Pak Masaru Morinaga juga sudah menyiapkan sebuah apartemen untuk kamu tinggali selama di sana.”
“A, apartemen!?”
“Iya, kamu kan 5 hari lagi udah libur. Daripada libur 2 bulan lebih kamu nggak ngapa-ngapain kan lebih baik pergi ke sana untuk perkenalan. Itung-itung sekalian liburan.”
“Hah?”
“Kamu itu, sebenarnya ngerti nggak sih yang Papa omongin?” Tanya Papa.
“He, he, ngerti kok Pa.”
“Enak nih, liburan ke Jepang, aku juga mau.” Kata Leni.
“Ah…, ide bagus tuh. Kamu juga ikut aja, sekalian memastikan agar Nana menghadiri pertemuan dengan tunangannya.,” kata Mama.
“Wah, senangnya. Liburan ke Jepang nih, hu, hu,” wajah Leni tampak senang.
“Senangnya di kamu sengsaranya di aku,” ucap Nana sewot.
“Lagian orang Jepangnya pasti pendek, gendut, sipit lagi,” lanjut Nana asal.
“Hus, sembarangan aja ngomong,” kata Papa.
“Terus orangnya kayak gimana dong Pa?” Tanya Leni.
“Nggak tau ya, Papa juga belum liat.”
“Hu…,” koor Leni dan Nana kompak.
Itu kejadian seminggu yang lalu. Sekarang, Leni dan Neni sudah berada di bandara Narita, Tokyo, Jepang. Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul satu siang.
“Aduh, lama amat sih Kak, jemputannya,” ucap Nana kesal. Diacung-acungkannya lagi sebuah kertas bertuliskan kanji yang kalau diartikan bunyinya ‘Menunggu jemputan Pak Morinaga’.
“Nggak tau deh, padahal kita udah nunggu dua setengah jam lebih di sini. Apa lupa kali ya?” Leni ikutan sebel. Dan mereka berdua sama-sama terdiam melihat sekeliling. Ini pertama kalinya mereka ke Jepang. Di sekeliling banyak orang Jepang berlalalu lalang, pemandangannya tampak begitu asing di mata mereka.
“Oh iya!” teriak Leni tiba-tiba mengagetkan Nana yang sedang melamun.
“Apaan sih Kak?”
“He, he, aku baru ingat kalau kemarin Papa kasih aku nomor-nomor yang bisa dihubungi di sini, kalau-kalau kita dapat masalah katanya.”
“Ya udah, kita hubungi sekarang aja,” ucap Nana nggak sabar. Leni pun segera mengeluarkan handphone-nya.
“Aduh Na.”
“Apa?”
“Low bat,” ucap Leni sembari cengar-cengir.
“Dasar, makanya kalau pergi segala sesuatunya tuh disiapin. Nih,” Nana menyodorkan handphone-nya pada Leni.
“He, he, sorry deh,” Leni mengambil handphone dari tangan Nana dan menekan angka seperti yang tertera di blocknotenya.
“Hallo, oh this is Mr. Harjono’s daughter. Hah, o, ok no problem,” Leni mengambil bolpen dari tasnya dan mencatat sesuatu di blocknotenya.
“oh…, ok we’re fine. Thank you,” setelah menutup teleponnya, Leni menghembuskan nafas berat.
“Kenapa Kak?”
“Katanya kita disuruh naik taksi, karena mereka nggak bisa jemput. Ini alamatnya, itu tadi yang terima telpon pesuruhnya.”
“Hah!? Masa’ jemput calon mantu aja nggak bisa sih, bukannya orang kaya itu banyak pembantunya!?” ucap Nana sewot.
“Ah, udahlah kita pergi sekarang aja yuk!” ajak Leni. Nana cuma mengangguk mengiyakan.
Leni dan Nana berjalan keluar bandara sambil membawa barang bawaan masing-masing.
Sampai di luar, udara terasa agak hangat, karena di bulan Juni akhir memang di Jepang sedang peralihan musim, dari musim semi ke musim panas.
“Eh Kak,”
“Apaan?’
“Kita jalan-jalan sebentar yuk, nanti kita kan tinggal cari taksi doang.”
“Mmm…, beneran nih nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa kok. Ayo, bentar juga nggak papa kan?”
“Iya deh, iya deh, tapi jangan terlalu lama ya, soalnya udah pegel nih!”
“Heeh!” jawab Nana sambil mengangguk-angguk mantap.
Dengan semangat ’45, Leni dan terutama Nana jalan kaki sambil tengok kanan kiri mengagumi keindahan kota Tokyo.
“Wah, rame banget ya Kak!?”
“Ya jelas, namanya juga pusat perbelanjaan.”
“Eh, tapi emang rame kan!? Banyak orang yang jalan kaki sampai-sampai agak berjubel.”
“Iya, ya,” jawab Leni. Di jalan yang merupakan pusat perbelanjaan itu, ramai sekali dengan orang-orang Jepang yang berjalan-jalan, belanja, dan bahkan ada juga musisi jalanan.
Leni dan Nana berjalan sambil melihat toko-toko yang ada di situ. Mereka melihat-lihat barang dagangan berupa aksesoris dan pernak-pernik lucu.
“Wah, ini lucu banget kan!?” Nana tampak gemas melihat cincin yang lucu dan bagus-bagus.
“Jangan beli dulu ya!” ucap Leni.
“Kenapa?”
“Besok aja. Kita balik aja dulu yuk, capek nih.”
“Iya deh….” Nana kelihatan manyun. Nana dan Leni pun kembali berjalan di jalanan yang berjubel dan penuh orang. Mereka mau cari taksi, pergi ke apartemen dan istirahat dengan segera.
“Duh!” Nana hampir jatuh karena dia terdorong dari belakang. Tas kecil Nana yang berisi uang, dan lain sebagainya jadi terjatuh karenanya. Nana mencoba membungkuk memungut tasnya jang terjatuh, tapi tasnya terinjak-injak dan ketendang-tendang. Nana yang sudah susah buat jalan saking banyaknya orang, akhirnya kehilangan jejak tasnya.
“Kak, tasku nggak ada,” kata Nana sambil menoleh kae tempat kakanya berada.
“Lho, Kak, Kak Leni!” Nana tampaknya juga kehilangan jejak Leni. Mendadak dia ketakutan, kalau sampai nggak ketemu kak Leni, bisa gawat. Apalagi dia kan nggak tau sama sekali tentang kota Tokyo ini.
Nana mencari-cari sosok kakaknya di antara kerumunan orang-orang. Tapi sosok kakaknya tidak bisa ditemukannya.
“Duh, hu, hu,” saking takutannya, Nana jadi menitikkan air matanya. Dia berjalan terburu-buru sambil tengok kanan kiri. Tapi tetap aja dia tidak bisa menemukan kakaknya.
“Kak Leni!” teriaknya, tapi usahanya sia-sia saja. Sampai keluar dari pusat perbelanjaan yang penuh sesak itu, Nana belum juga menemukan Leni.
***
Nana terduduk lesu di atas kopernya di pinggir trotoar. Badan Nana terasa pegal-pegal dan perutnya keroncongan. Di kopernya ada dua lembaran uang seratus ribuan dalam bentuk rupiah, mana bisa itu dipakai? Uangnya yang sudah ditukar, hilang bersama tas kecilnya tadi.
“Oh iya, goblok…, aku kan bisa nelpon Kak Leni,” Nana merogoh kantong celananya, untuk mengambil handphone. Tapi sialnya, kantong Nana kosong nggak ada apa-apanya.
“Lho, lho,” Nana meraba-raba seluruh saku yang ada di pakaian dan celananya.
“Kok nggak ada sih? Hu…,hu…,” tangis Nana semakin menjadi-jadi. Tidak peduli berapa pasang mata yang menganggapnya aneh. Nana baru ingat kalau tadi handphone-nya dipinjam Leni dan belum dibalikin.
Sebenarnya tadi dia melihat ada telepon umum, tapi dia kan nggak ada uang. Ditambah lagi dia kan nggak hafal nomor telepon siapa-siapa, nomor handphone-nya sendiri aja dia nggak ingat.
Nana memang malas menghafal nomor-nomor telepon penting. Pernah dia ditegur sama Leni soal itu, soal bergunanya menghafal nomor telepon penting di saat-saat tak terduga. Tapi Nana malah beralasan.
“Nomor telepon kan bisa bisa disimpan di memory phonebook. Apa gunanya dong ada fasilitas phonebook kalau kita musti repot-repot menghafal nomor telepon,” sekarang Nana jadi nyesel setengah mati.
“Dasar nasibku emang sial, kenapa juga dulu aku nggak nurutin Kak Leni. Kalau semua ini udah berakhir aku janji deh, akan menghafal nomor-nomor telepon sampai pusing sekalian,” ucap Nana di sela-sela tangisnya. Dan sekarang Nana cuma bisa pasrah menanti apa yang akan terjadi padanya nanti.
Nana sudah menunggu di trotoar kira-kira selama satu jam. Dan selama itu, Nana terus menangis sambil menundukkan kepalanya.
“Sumimasen, genki desu ka? ” tiba-tiba sebuah suara dengan logat Jepang yang kental mengagetkan Nana. Nana mendongakkan kepalanya dan dilihatnya seorang pemuda Jepang yang kelihatan jangkung. Nana nggak tau kenapa pemuda itu tertawa lirih saat dia mendongak. Padahal, kalau Nana bisa bercermin dia pasti juga akan tertawa.
Mata Nana jadi sembab karena kebanyakan nangis. Abis itu, mukanya belepotan dengan air mata dan ingus. Nana memandangi wajah pemuda yang masih berusaha menahan tawa itu. Mata pemuda itu kelihatannya tidak terlalu sipit, tubuhnya juga jangkung.
Setelah bisa menguasai diri dari rasa geli yang menggelitiknya, pemuda itu menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna putih kepada Nana. Nana agak ragu menerimanya, tapi tetap saja dia menerimanya dan segera mengusap wajahnya dengan sapu tangan itu.
‘Kok ada ya cowok sebaik ini, sampai-sampai mau ngurusin orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Apa memang semua orang Jepang seperti ini?’ ucap Nana dalam hati.
“Arigatô gozaimasu , srooot!” Nana mengeluarkan ingus dari hidungnya dengan sekuat tenaga. Pemuda itu cuma tersenyum memandang tingkah laku Nana.
“O genki desu ka?” pemuda itu mengulangi pertanyaannya yang belum sempat terjawab tadi. Nana yang cukup mahir berbahasa Jepang pun berusaha menjawab.
“Watashi wa gaijin desu , dan saya sekarang tersesat.”
“Bbff…, ha, ha, ha, ha,” sekali lagi pemuda itu tertawa.
“Logatmu aneh sekali,” ucap pemuda itu di sela-sela tawanya.
“Dari mana asalmu?” Tanya pemuda itu lagi setelah puas tertawa.
“Watashi wa Indoneshiajin desu .”
“O…, bbf…,” pemuda itu tampak menahan tawa lagi. Nana pun jadi agak kesal dibuatnya.
“Maaf, aku belum pernah mendengar logat yang seaneh itu,” mendengar itu Nana malunya setengah mati.
“Jadi sekarang kamu mau bagaimana?” Tanya pemuda itu lagi. Nana cuma menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Memangnya tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi?” tanyanya lagi. Sekali lagi Nana menggeleng-gelengkan kepala sambil mengeluarkan air mata.
“Oh…, mmm…, lebih baik kamu ke pos polisi saja. Itu di sana,” pemuda itu menunjuk ke sebuah bangunan kecil yang terletak di ujung jalan.
‘Duh…, masa’ harus ke kantor polisi sih?’
Nana yang paling takut ke kantor polisi itu kini jadi makin pusing. Mendadak dia jadi teringat perihal pertunangannya dengan putra Pak Morinaga. Kalau mengingat hal itu Nana jadi tambah segan untuk ke pos polisi itu.
“Kamu bisa ke sana sendiri kan!? Sayônara ?” setelah berkata begitu, pemuda itu beranjak pergi.
“Tunggu! Kamu mau ke mana?” ucap Nana.
“Tentu saja aku mau pulang,” jawab pemuda itu. Setelah itu, dia melanjutkan langkahnya. Nana yang berpikir ‘lebih baik tersesat dan pergi bersama orang asing untuk sementara waktu, daripada bertunangan’ itu segera mengambil kopornya dan membuntuti si pemuda asing.
Si pemuda yang merasa dibuntuti buru-buru menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Nana. Nana pun hanya bia menundukkan kepala.
“Kamu mau apa?” Tanya si pemuda.
“Mmm…, anu, saya pikir ke kantor polisi pun percuma, karena saya sendirian saja di sini,” ucap Nana.
‘Duh…, maaf deh, terpaksa bohong.’
“Tidak ada saudara, teman, atau orang yang kamu kenal di sini!?”
“I, iya.”
“Kamu di Negara yang asing sendirian?” tanya pemuda itu heran. Nana mengangguk dalam-dalam.
“Ngg, jadi…,” kata Nana menggantung.
“Apa?”
“Bo, boleh numpang di rumahmu untuk sementara waktu tidak?” Tanya Nana nekat. Nana sendiri tidak tau kenapa dia jadi senekat itu. Tapi yang pasti, Nana tidak mau cepat-cepat ditemukan oleh kakaknya karena di hatinya yang paling dalam, Nana menolak rencana pertunangannya.
“Apa!?” pemuda itu tampak kaget.
“Tidak bisa!” jawab pemuda itu setelah berpikir sejenak.
“Tidak bisa?”
“Iya, tidak bisa!” jawab pemuda itu dengan kasar.
‘Huh, tadi aja sikapnya manis. Tapi kok sekarang jadi galak gitu sih? Nyesel deh, sudah menganggapnya baik hati.’
“Ayolah, kamu tidak kasihan ya pada gadis malang yang sebatang kara dan tidak berdaya ini?”
“Po, pokoknya tidak bisa. Kamu pikir rumahku itu panti?” ucap pemuda itu sambil buru-buru pergi tanpa menunggu jawaban dari Nana.
“Dasar sial!” Nana mengikuti pemuda itu sambil menjinjing kopornya yang berat dari kejauhan. Saat pemuda itu berbelok di suatu gang, Nana berlari-lari kecil karena takut kehilangan jejak.
Nana terus membuntuti pemuda itu sampai pemuda itu berhenti di depan sebuah rumah yang sederhana tapi tertata rapi. Nana mengamati pemuda itu dari balik pagar yang ada di perempatan dekat rumah itu.
“Nggak usah sembunyi deh, cepat keluar!” ucap pemuda itu tiba-tiba.
“Deg.”
‘Jangan-jangan yang dimaksud aku.’
“Iya, kamu yang sembunyi di balik pagar itu cepat keluar!”
“Deg.”
‘Kok dia tau sih?’
Sembari mengibarkan sapu tangan putih (penuh ingus), tanda perdamaian, Nana keluar dari persembunyiannya sembari cengar-cengir kayak orang nggak punya dosa. Nana menghampiri si pemuda yang wajahnya tampak kesal.
“Mau kamu apa sih?” Tanya pemuda itu.
“Mau numpang.”
“Huh, sudah dibilang tidak boleh kan!”
“Kenapa tidak boleh?”
“Tentu saja tidak boleh. Coba, kalau di tengah jalan kamu bertemu dengan orang asing yang aneh dan mendadak dia minta numpang di rumahmu, memangnya kamu mau terima?”
‘Orang asing yang aneh!? Memangnya aku aneh?’
“Hei!” tegur pemuda itu.
“Eh, tentu saja tidak, uph…” Nana segera membungkam mulutnya sendiri setelah sadar kalau jawabannya tadi itu sama juga dengan menggali lubang kuburannya sendiri.
“Ha, ha, ha, sama kan!?” ucap pemuda itu sambil tertawa penuh kemenangan. Nana hanya bisa manyun di depan pemuda itu.
“Grek!” tiba-tiba pintu gerbang di rumah si pemuda terbuka. Lalu muncul seorang wanita yang kira-kira usianya 40 tahunan. Tubuh wanita itu agak gemuk, rambutnya digelung rapi, dan wajahnya tempak ramah.
“Haha .”
‘Jadi itu ibunya ya.’
“Konnichiwa .” ucap Nana sambil sedikit menundukkan kepalanya.
“Konnichiwa,” balas ibu itu sambil tersenyum.
“Ano kata wa donata desu ka ? Kok tidak disuruh masuk?” Tanya wanita itu pada si pemuda.
“Di, dia…,”
“Sa, saya mau minta ijin untuk numpang di sini sementara waktu,” ucap Nana.
‘Nekat, nekat deh, yang penting aku bisa kabur dari pertunangan dan memperoleh tempat tinggal sementara waktu.’
“Eh?” wanita itu tampak agak kaget lalu menoleh pada si pemuda.
“Ja, jangan pedulikan dia Bu, dia cuma gadis yang kabur dari rumah.”
“I, itu tidak benar, saya sendirian di sini, saya tersesat dan uang saya hilang,” Nana mati-matian mencoba meyakinkan wanita itu.
“Jadi kamu mau menumpang di sini sementara waktu?” Tanya ibu itu, raut mukanya tampak berubah.
“I, iya.”
“Enak saja mau menumpang, iya kan Bu!?” kata si pemuda yang merasa di atas angin karena raut muka ibunya nampak kesal.
‘Dasar, nyesel, nyesel tadi udah nganggap kamu orang baik Kayaknya ibu itu nggak mau nerima aku, kalau nggak boleh numpang aku harus gimana?’
“Ah, senangnya…, kamu boleh menumpang di sini kok. Aduhh… manisnya.”
“Gubrak!”
“A, apa!?” ucap pemuda itu dan Nana bersamaan. Mereka berdua nampak kaget.
Wajah ibu itu tampak begitu gembira dan gemas. Dia menghampiri Nana yang terbengong-bengong, lalu mencubit kedua pipinya.
“Eh, ma, makasih tante,” kata Nana. Dia masih tidak percaya kalau dia akan numpang di rumah orang asing dan di tempat yang benar-benar asing baginya.
Setelah mendengar jawaban ‘iya’ dari tante itu, Nana tersadar kalau semua perkataan dan perbuatannya yang minta mau numpang itu sangat bodoh dan hal itu seperti dilakukannya tanpa sadar.
“Ibu, kenapa mau menampung dia sih?” Tanya pemuda itu. Dia benar-benar tidak menyangka ibunya akan menerima Nana. Sekarang dia merasa kalau ibunya itu benar-benar ceroboh.
“Tidak apa-apa, ibu kan sekali-kali ingin tau rasanya punya anak perempuan yang manis dan melupakan anak-anak laki-laki ibu yang bandel dan tidak bisa diandalkan,” ucap ibu itu dengan wajah sumringah. Pemuda itu tampak makin kesal saja.
“Ayo kita masuk dulu, kamu tampak kelelahan!” ajak ibu itu dengan ramah sambil menggandeng tangan Nana. Nana segera mengambil kopornya dan mengikuti ibu itu.
“Duh, kopornya ditaruh saja. Kamu kan kelelahan, ibu jadi malu sendiri punya anak laki-laki tapi tidak jantan dan tidak bisa diandalkan,” ucap ibu itu sambil melirik sinis dan garang ke arah si pemuda.
“Iya, iya,” dengan terpaksa pemuda itu membawakan kopor Nana.
Nana mengamati keadaan rumah yang dimasukinya, rumah pemuda itu. Lantai rumahnya tampaknya dari kayu, pintu-pintu di bagian dalam rumah adalah fusuma sama seperti yang Nana lihat di foto, dan film-film kartun jepang kesukaannya.
Sebenarnya Nana juga pernah baca-baca buku tentang Jepang. Soalnya dia sangat mengagumi Negara kepulauan yang maju ini. Rumah orang Jepang memang tidak terlalu banyak perabotnya. Makanya, ruangannya sendiri sebenarnya lebih multifungsi.
“Ayo sini duduk dulu,” ibu itu mempersilahkan Nana untuk duduk begitu sampai di dalam sebuah ruangan.
‘Wah, ini ya rumah orang Jepang!? Nggak nyangka bisa ada di sini.’
Nana melihat ke arah sebuah zabuton yang ada di bawahnya. Nana tahu kalau orang Jepang memang biasa duduk di lantai. Tapi Nana bingung mau duduk seperti apa, dia kan belum pernah duduk di atas bantal. Dia cuma pernah melihat sekilas dari tayangan-tayangan di TV.
Mendadak si pemuda duduk di atas bantalan duduk yang ada di samping Nana. Nana mengamati si pemuda lalu dia mengikuti sikap duduk si pemuda dengan agak canggung.
‘Apa dia tau ya, kalau aku tadi bingung?’ Nana melirik ke arah si pemuda, pemuda itu tampak tenang-tenang saja.
‘Ih…, nggak nyaman banget duduk kayak gini.’
“Jadi namamu siapa anak manis?”
“Watashi no namae wa Nana Anindatama desu. Anata wa? ”
“Midori Endo.”
“Kalau dia?” tanya Nana sambil menunjuk ke arah si pemuda.
“Panggil saja Shinchan ho…, ho…, ho….”
“Ibu, Sudah kubilang kan jangan panggil aku seperti itu. Aku kan bukan anak kecil!” teriak ‘Shinchan’. Wajahnya tampak merah.
“Shinchan, mana shiro?” Tanya Nana mengejek.
“Kau juga jangan ikut-ikutan Bodoh! Awas kalau bilang seperti itu lagi!” teriaknya lagi. Nana cuma bisa tersenyum geli melihat ekspresi ‘Shinchan’.
“Namaku Shinosuke Endo, ingat baik-baik!” teriaknya lagi.
“Plakk!!” mendadak sebuah harisen mendarat di kepala Shinchan.
“Aduuh, Ibu!! ” Shinosuke mengelus kepalanya yang sakit.
“Tidak sopan berbicara kasar pada seorang gadis, memangnya ibu tidak pernah mengajarimu ya!?”
“Ibu mau menampung dia di sini, memangnya dia mau ditaruh dimana?” Tanya pemuda itu sewot.
“Tentu saja di kamar Hiro.”
“La, lalu Hiro?”
“Tentu saja di kamarmu.”
“Apa? Pokoknya tidak bisa.”
“Memangnya kamu yang memutuskan? Kalau kamu tidak mau sih boleh saja, tapi uang sakumu ibu potong setengahnya.”
“A, a, aku…,”
“Jadi sudah diputuskan ya!”
“Terima kasih Endo-san.”
“Sama-sama, tapi jangan panggil aku seperti itu. Kesannya kan sudah tua.”
“Lalu?”
“Panggil saja Midori, ha, ha.”
“Eh, ta, tapi…,”
“Ibu, jangan bilang yang aneh-aneh seperti itu. Sudah Nana, kamu tidak usah memperdulikan omongan ibu.”
“Aduh…, kamu ini selalu saja sewot kalau melihat ibu senang.”
“Kalau yang bikin senang aneh begitu tentu saja sewot.”
“Oh iya Tante, soal… biayanya,” kata Nana menggantung.
“Eh?” tante Endo dan Shin terlihat agak kaget dan bingung.
“Mmm…, saya tahu saya memang tidak punya uang. Tapi kalau nantinya saya sudah menemukan kakak saya, saya pasti akan membayar biaya makan dan kamar saya.”
“Kakak!? Menemukan kakak?” tanya Shin.
“Eh, a, anu maksudku bertemu dengan kakak setelah pulang ke Indonesia, he, he,” kata Nana sambil cengar-cengir.
‘Huh, daya pikirnya cepat juga. Salahku sendiri juga sih, padahal bilangnya sebatang kara, tapi pakai kata ’menemukan’ segala. Kan kesannya kakakku ada di sini.’
Nana melirik ke arah Shin. Ternyata pemuda itu melihat ke arahnya dengan dahi agak berkerut, tampaknya dia masih agak curiga. Nana yang melihatnya jadi serba salah dan cuma bisa cengar-cengir.
“Tadi kamu bilang soal biaya?” tanya tante Endo tiba-tiba.
“I, iya Tante.”
“Ha, ha, kamu tidak usah bingung soal itu. Keluarga ini kan termasuk keluarga yang berkecukupan. Kalau untuk biaya makan kamu sih masih bisa.”
“Bu, bukan itu masalahnya Tante. Saya tidak ingin merasa tidak enak atau canggung nantinya.”
“Mmm…, baiklah kalau begitu. Kamu harus membantu pekerjaanku, menemaniku jalan-jalan dan juga belanja sebagai imbalannya.”
“Eh, ba baiklah.”
“Fu, fu, fu, bagus. Akhirnya ada juga orang yang bisa aku ajak belanja bersama.”
“Ibu!?” mendadak muncul seorang anak laki-laki yang kelihatannya berumur sekitar 6 tahunan, dia anak yang bernama Hiro.
“Ibu sudah belanja ya, Kenapa cepat sekali?” tanya anak itu.
“Ah…, Ibu lupa kalau mau belanja untuk makan malam.”
“Ibu memang ceroboh.” Kata Shinosuke.
‘Makan malam? Aku jadi ingat kalau sedang lapar.’
“Krriiuuuuk!” tiba-tiba perut Nana berbunyi. Semua tampak kaget men-dengarnya.
“Eh, ternyata Nana juga sudah lapar ya?” ucap Endo-san.
“He, he,” Nana cuma bisa cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
‘Duh… malunya, kenapa bisa bunyi sih?’
***
Saat ini waktu menunjukkan pukul 17.30 menurut waktu Jepang. Nana dan keluarga Endo sekarang sedang makan malam bersama. Anggota keluarga Endo terdiri dari Ayah, Ibu, Shinosuke, dan Hiro. Nana bersyukur karena kursinya punya kaki seperti biasa, jadi dia bisa duduk dengan tenang.
Ayah Shinosuke adalah seorang pekerja kantoran. Orangnya juga menye-nangkan sama seperti istrinya. Nana melirik ke arah Shinosuke yang duduk di dekatnya. Wajahnya tampak masih kesal karena dia harus berbagi kamar dengan Hiro gara-gara Nana. Padahal Hiro senang-senang saja saat disuruh tidur di kamar Shin.
Nana jadi ingat lagi kejadian tadi sore. Shin jadi tambah kesal karena dia disuruh ibunya untuk membawakan kopor Nana yang berat ke kamar hiro yang ada di lantai dua dan membuatkan mie instant untuk Nana yang perutnya bunyi. Nana jadi merasa agak tidak enak pada Shin.
“Jadi kamu datang ke sini untuk keperluan apa?” Tanya Paman Endo.
“Eh, u, untuk liburan Paman.”
“Oo….”
“Bagaimana pekerjaan Ayah di kantor tadi?” Tanya Tante Endo.
“Biasa saja.”
“Memangnya Paman bekerja di mana?” Tanya Nana.
“Di perusahaan Pak Morinaga.”
“Uhuk, uhuk…, uhuk…,” Nana yang kaget menjadi tesedak.
“Eh, kamu tidak apa-apa?”
“Tidak tante, cuma sedikit tersedak, uhuk….”
“A, anu, ngomong-ngomong kalau boleh tau, pimpinannya siapa ya?” tanya Nana penasaran. Firasatnya mengatakan kalau yang dimaksud Pak Morinaga itu pasti adalah calon mertuanya.
“Tuan Masaru Morinaga.”
‘APA!? Kenapa bisa kebetulan begini sih, tiba-tiba sekali? Aku tahu dunia ini memang terlalu sempit, tapi kenapa harus ada kebetulan seperti inisih!? Aku kan belum mau ditemukan atau menemukan orang yang mengenalku.’
“Eh, oh…, begitu ya,” jawab Nana dibuat sewajar mungkin.
“Kenapa memangnya?”
“Ti, tidak apa-apa Paman.”
Setelah makan malam, Nana membantu tante Endo mencuci piring. Tante Endo jadi tambah senang. Dia bilang kalau punya anak perempuan ternyata memang menyenangkan. Dan Shin semakin manyun saja karena lagi-lagi disindir oleh ibunya.
Setelah itu Nana segera pergi ke kamarnya karena badannya benar-benar tidak bisa diajak kompromi lagi. Di dalam kamar sudah digelar futon yang lagi-lagi digelarkan oleh Shin. Tapi Nana berjanji besok tidak akan merepotkan Shin lagi.
Masalahnya dengan Shin, masalah dengan calon mertua, dan lain sebagainya yang ada di pikiran Nana sekarang, kalah dengan rasa kantuknya yang amat sangat.
“Hari ini benar-benar melelahkan. Besok akan jadi seperti apa ya? Ah…, udahlah, ngantuk,” Nana menguap lebar-lebar dan dalam waktu sekejap dia sudah tidur pulas.
Menurutku kalau ditambah sedikit hal-hal yang detail cerita ini bakal lebih bagus. Keep up the good work ya