SHARDS OF LOVE

38
points
"

Entah kenapa tiba-tiba jadi sentimentil, dan inilah hasilnya...

"

Bunga-bunga bermekaran, meluruhkan embun yang sempat menghinggap di kuncupnya. Hari ini adalah hari kesembilan sejak dimulainya awal musim semi. Dan fajar menjelang, mengiringi langkah Lily di seputaran Bukit Floriens. Sendirian, ia menyusuri sungai kecil yang jernih. Berjalan-jalan diantara rumput berbunga. Lalu menuju sebatang pohon yang mulai berdaun, di puncak bukit tersebut, dan duduk bersandar di sana.

Ia pun tersenyum sembari memandangi mentari yang hendak terbit di ufuk timur. Sementara angin lembut berhembus, meniupkan sisa-sisa hawa sejuk semalam, ke wajah dan sekujur tubuh cantiknya.

Namun tak sedikitpun ia melihat seorang pemuda, yang selalu mengunjunginya di setiap pagi. Bersembunyi di balik semak, pemuda itu menatap Lily yang selalu bersenandung indah di kala mentari terbit.

Ia begitu terpesona pada kecantikan rupa dan suara gadis itu. Seandainya ia bisa, ingin ia mendekatinya. Mengajaknya berbincang sembari melihat matahari terbit bersama. Dan menyampaikan kata-kata sanjungan di setiap pertemuan mata mereka.

.... namun ia tidak bisa. Sebab Shard, begitulah pemuda itu dahulu disapa, kini tak memiliki tubuh lagi. Jasadnya telah remuk dan menyatu dengan tanah, sejak bertahun-tahun silam. Mereka terpisah dalam dunia yang berbeda. Dunia Arwah dan dunia Manusia. Begitu dekat, namun di saat yang sama begitu tak teraih.

Cukup lama Shard menatapi Lily. Ia memperhatikan, dan terus memperhatikan, seolah enggan untuk melepaskan pandangan darinya...

... hingga tiba-tiba gadis itu mengucapkan sesuatu yang sangat mengejutkan-

“Aku sudah lama menunggumu. Kenapa kau masih saja bersembunyi di belukar itu?” ujar Lily dengan mata masih terpaku pada matahari yang beranjak terbit.

“Kau bisa melihatku?” sahut Shard dalam keterperangahan.

Lily tersenyum seraya menoleh ke arah semak tempat Shard bersembunyi. “Tidak, ranting-ranting itu menghalangiku. Tapi aku bisa merasakanmu.”

Shard terkesiap. Serta-merta kepalanya terasa pening. Ia panik. Panik dan gugup karena selama ini ternyata gadis itu sudah tahu akan keberadaannya.

“La-Lalu kenapa kamu diam saja?” tanya Shard, masih belum beranjak dari semak persembunyiannya.

“Karena kamu juga diam saja,” sahut Lily.

Keduanya pun hening untuk beberapa saat.

“Tapi aku adalah hantu..., sudah tidak berjasad, makanya aku tidak ingin membuatmu takut,” Shard berujar.

Lily kembali memasang senyum di wajahnya yang kian cantik diterpa keremangan matahari.

“Sudah kubilang, aku tidak bisa melihatmu. Karena itu, adakah alasan untukku takut padamu?”

“Kalau kau melihatku, tidakkah kau takut? Bukankah orang hidup, takut akan hantu sepertiku?”

“Tidak, tidak semua orang. Aku tidak...”

Dan Shard akhirnya tidak mampu berkata apa-apa lagi.

“Keluarlah. Aku ingin melihatmu,” ujar Lily kemudian.

Dengan ragu-ragu, Shard keluar dari balik naungannya. Ia tak perlu bersusah payah untuk melalui semak tebal itu; ia hanya tinggal menembusnya. Dan ia pun
menampakkan wujudnya: tubuh yang sewarna kabut kelabu dan berasap tipis tatkala berkas sinar matahari menyentuhnya.

Lily menoleh, menengadah menatap Shard yang kini berdiri terpaku di sisinya.

“Bolehkah aku menatapmu dari dekat?” ujar Shard dengan suara lirih.

“Mendekatlah.”

Shard merendah hingga wajahnya sejajar dengan paras Lily, lalu menatap dalam-dalam mata sang gadis yang hijau layaknya zamrud. Lily pun demikian; ia balik menatap mata Shard yang nampak transparan diantara pantulan sinar matahari, namun berkilau indah layaknya batu safir.

Kalau Shard masih seorang manusia, maka pastilah saat ini jantungnya berdegup kencang. Amat kencang.

Serta-merta, Shard mengangkat lengannya. Sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk mencoba menggapai pipi halus Lily.

Lily pun menyambut tangan Shard. Dengan mata terpejam ia miringkan wajahnya, membiarkan pipinya tersentuh oleh jemarinya yang dingin.

Dan pipi manusia itu memang sungguh hangat. Entah sudah berapa lama Shard tidak merasakan kehangatan seperti ini.

“....A-Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Salahkah aku?” tanya Shard kemudian, lirih dan terbata-bata.

Lily tersenyum, lalu menggeleng. “Aku juga menyukaimu, sejak awal kehadiranmu di sampingku...,” sahutnya.

[Degh!] Perasaan Shard menjadi kacau tak menentu. Ia sadar, ia tidak seharusnya jatuh cinta pada seorang manusia....

.... tetapi manusia itu juga mencintainya!

Lalu apa yang harus dilakukannya?!

Haruskah Shard mewujudkan perasaannya?

Atau haruskah ia melepaskannya?

Di tengah kebimbangannya itu, Shard menjadi kian lemah akal. Ia sudah tak sanggup berpikir lagi. Tanpa disadarinya, wajahnya beranjak mendekati Lily.

Lily pun turut mendekatkan wajahnya kepada Shard.

Dan seiring terbitnya matahari, keajaiban itu terjadi. Di saat bibir mereka bertemu, seketika itu juga, sekujur tubuh Shard bersinar terang. Lebih terang dari mentari yang baru beranjak dari peraduannya itu.

Kemudian cahaya keemasan itu memudar. Perlahan dan perlahan, hingga akhirnya berkas yang tersisa menyingkap wujud Shard yang sesungguhnya. Wujudnya di kala ia masih menjadi manusia: seorang pemuda rupawan, dengan rambut hitam dan mata biru cemerlang.

Linangan air mata pun perlahan berkumpul di pelupuk Lily. Dalam senyum haru, ia lalu membelai kepala Shard, saling bertukar pandang dengannya di bawah naungan langit kemerahan dan angin lembut yang berhembus sejuk.

Dengan mata berkaca-kaca, ia lalu berkata pada pemuda itu.

“Pergilah, Shard. Kekasihku. Kau mungkin kehilangan semua ingatanmu, pada saat ajal itu menjemputmu. Kau mungkin tak ingat lagi tentang semua kisah yang pernah kita jalani semasa hidupmu. Dan kau mungkin tak sadar, bahwa Bukit Floriens ini adalah tempat dimana kita pertama kali bertatap mata, tempat kita pertama kalinya saling jatuh cinta, persis lima tahun lalu, kala mentari terbit menjelang....

“....Tapi aku ingin kau tahu, bahwa meskipun kita berbeda dunia, aku tidak akan pernah melupakanmu. Jadi beristirahatlah, Kekasihku. Selamat jalan. Tujulah Surga dan beristirahatlah dengan tenang di sana.”

Sebuah senyum samar pun tersungging di bibir Shard. Lalu perlahan-lahan tubuhnya menjelma menjadi butir-butir cahaya, mengambang bak kunang-kunang, hingga akhirnya tersapu angin, beterbangan ke arah cakrawala dimana matahari pagi ini berada.

“Selamat tinggal, Serpihan Cintaku...”

FIN

Your rating: None Average: 7.6 (5 votes)
dikirim cubic-t 1 year 3 minggu yang lalu
Tag: