Pengumuman seputar migrasi kemudian.com klik pengumuman. Bagi yang ingin melanjutkan chatting, silahkan klik chatting
Sebuah pesan tertulis dari seseorang yang belakangan diketahui menghilang:
Tak salah lagi. Apa yang kuperkirakan selama ini ternyata benar-benar terjadi. Ketakutan terbesar kita dalam waktu dekat ini akan menjadi kenyataan. Dunia kita, atau lebih tepatnya, gugusan bintang di mana dunia kita berada, berada di ambang kehancuran.
cukup bisa dimengerti cuma keganggu aja sama bahasanya mungkin lebih bagus kalau kata-katanya lebih baku kayak 'dapet' dirubah menjadi 'dapat'. nggak salah juga kok namanya juga diary tapi cuma sekedar saran aja. ditunggu lanjutannya ya.
aduh, kok italic hurufnya? bacanya jadi ikut miring nih... huhuhu...
eh, mending kalimat pengantarnya diganti. value your own work. jangan tulis 'silakan baca kalo mau...', atau 'ada ide lain yang lebih menarik'. ini menarik, kok.
latar belakang ceritanya cukup menarik yang jelas. beneran.
tapi gua gak tau kenapa kamu milih penceritaan dengan diary, dengan gaya bahasanya yang bebas. ya mungkin ada pertimbangan khusus.
tapi gua mungkin lebih suka kalo tetap dengan narasi bercerita biasa aja.
Tenang, bagian italic ini cuma buat bagian surat-suratan aja kok. Surat di awal sekali itu sebagai pembuka cerita, sedangkan yg dream diary itu cuma muncul di awal tiap bagian.
kalau Bung Vilam bilang begitu, maka akan kuubah. Bukannya aku enggak menghargai karyaku sendiri, secara pribadi ini karya favoritku. Cuma cerita ini udah terlalu sering bikin aku stres...
Soal bahasa enggak baku itu, aku sebelumnya bikin pakai gaya yg lbh baku, tapi serius, jadinya malah aneh.
Sebuah cerita lama yang lagi mentok dan belum kulanjutkan lagi karena... lagi ada lebih banyak ide yang lebih menarik (bohong, karena bikin cerita ini bisa bikin stres juga). Yang berikut ini adalah bagian pembukaannya beserta pendahuluan bagian pertamanya. Mungkin kurang asyik bacanya karena keterbatasan pengetahuan HTML-ku. Mohon ingat bahwa ceritanya lumayan panjang dan pengembangannya lambat.
Bab Pendahuluan
Jangan memejamkan mata.
Kalimat itu yang dikatakan Iwan berulangkali dalam hati sampai makna kata-kata tersebut menggema di dala ... lanjut baca
Bab 1: Gadis itu…
Iwan pernah dengar cerita; saat upacara penerimaan murid baru di SMA, tatkala Hania melintasi lapangan, pandangan semua orang s ... lanjut baca
Elwin
“Aku kagum sama orang yang berani jual croissant kosong, dia punya keyakinan kalau croissant yang dijualnya bakal laku. Artinya, dengan kat ... lanjut baca
Almaida
“Aku… aku bisa bikinin!” ucapku tergagap, suaraku lebih kecil dari biasanya dan pandanganku serta merta tertunduk. “Aku bisa bikini ... lanjut baca
Nuri
Aku sedang berada di jalan pulang waktu itu. Aku lagi melamun tentang omongan-omongan Rani siangnya di sekolah. Dia menyuruh aku mencari naska ... lanjut baca
Inggita
Waktu di SMP, selama jam-jam sekolah, aku dan Alma selalu sama-sama. Makanya saat kami berdua menjadi murid SMA, aku kira aku sudah tahu se ... lanjut baca
Sebuah pesan tertulis dari seseorang yang belakangan diketahui menghilang:
Tak salah lagi. Apa yang kuperkirakan selama ini ternyata benar-benar ... lanjut baca
Sisi Depan - Pertama
Rumah di Kota di Kaki Sebuah Bukit
Semua dimulai dengan bunyi denting-denting logam yang tiba-tiba saja terdengar. Tak ... lanjut baca
***
Ada sebuah kota di kaki sebuah bukit, dikelilingi sebuah sungai sebagai tanda batasnya. Seluruh kota beserta bukit dan sungai yang menjadi batas ... lanjut baca
***
“Francooo! Franccoooo! Franco, di mana kamu?”
Teriakan-teriakan itu menggema dan menggema kembali seakan setiap suku kata yang digemakanny ... lanjut baca
***
Ada sebuah kota di kaki sebuah bukit, dikelilingi sebuah sungai sebagai tanda batasnya. Seluruh kota beserta bukit dan sungai yang menjadi batas ... lanjut baca
***
“Francooo! Franccoooo! Franco, di mana kamu?”
Teriakan-teriakan itu menggema dan menggema kembali seakan setiap suku kata yang digemakanny ... lanjut baca
Hari-hari biasa. Pukul 18.35
Satu-satu nyamuk hinggap, yang lainnya bersliweran—di dalam rumah, dalam kamar, dapur, halaman belakang, wc, got, ba ... lanjut baca
Bibir tak mampu berucap
Kata tersembunyi di hati
Kata demi kata tertimbun di dada
Menyesakkan hingga tak mampu bernafas
Hati merangkai kata-kat ... lanjut baca
cerita ini disadur dari sebuah booklet souvenir pernikahan seorang teman baik.
ada seorang hamba yang memohon kepada Tuhannya, lalu mengalami diskusi ... lanjut baca
Di sini hari ini
Kita semua berkumpul
Dari segala tingkat usia...
Dari berbagai tempat...
Dan dari segala macam jenis
Ada yang tua, ada yang ... lanjut baca
Sisi Depan - Pertama
Rumah di Kota di Kaki Sebuah Bukit
Semua dimulai dengan bunyi denting-denting logam yang tiba-tiba saja terdengar. Tak ... lanjut baca
“ Inet. “ Inet membalas uluran tangan seorang cowok yang berdiri di hadapannya. Jantungnya yang semula tenang – tenang saja tiba – tiba jadi b ... lanjut baca
Sudah berbilang hari kata-kata tak jua berkunjung
Palka dan geladak sepi puisi, sepi di hati siapa peduli
Angin buritan megirimkan duka
Tanpa ga ... lanjut baca
Tuhan mengirimi ku
Sebuah pesan paling singkat
Berisi sebuah kartu
Dan harap yang lekat
Ada firasat
Ada ingatan sesaat
Dia hadir
dalam sebu ... lanjut baca
cukup bisa dimengerti cuma keganggu aja sama bahasanya mungkin lebih bagus kalau kata-katanya lebih baku kayak 'dapet' dirubah menjadi 'dapat'. nggak salah juga kok namanya juga diary tapi cuma sekedar saran aja. ditunggu lanjutannya ya.
aduh, kok italic hurufnya? bacanya jadi ikut miring nih... huhuhu...
eh, mending kalimat pengantarnya diganti. value your own work. jangan tulis 'silakan baca kalo mau...', atau 'ada ide lain yang lebih menarik'. ini menarik, kok.
latar belakang ceritanya cukup menarik yang jelas. beneran.
tapi gua gak tau kenapa kamu milih penceritaan dengan diary, dengan gaya bahasanya yang bebas. ya mungkin ada pertimbangan khusus.
tapi gua mungkin lebih suka kalo tetap dengan narasi bercerita biasa aja.
Tenang, bagian italic ini cuma buat bagian surat-suratan aja kok. Surat di awal sekali itu sebagai pembuka cerita, sedangkan yg dream diary itu cuma muncul di awal tiap bagian.
kalau Bung Vilam bilang begitu, maka akan kuubah. Bukannya aku enggak menghargai karyaku sendiri, secara pribadi ini karya favoritku. Cuma cerita ini udah terlalu sering bikin aku stres...
Soal bahasa enggak baku itu, aku sebelumnya bikin pakai gaya yg lbh baku, tapi serius, jadinya malah aneh.
Makasih, nanti aku kirim lanjutannya dulu y.
I love italics