Ini posting pertama say di Kemudian. Masih berantakan nih. Tolong komennya ya teman2.Apa aja, saya senang di-komen kok. He he he...
"Pukul 13.30. Irene bergegas memasuki lift dengan tangan kanan mengapit kantong plastik hitam. Satu menit kemudian ia sudah menghambur ke dalam ruangan Divisi Marketing, tempat kerjanya.
Mengendap-endap ia menuju kursinya di pojok ruangan. Ah, untung saja Pak Arya, bossnya belum kelihatan.
“Irene, kamu dari mana saja?” Suara Anya, sahabatnya melabraknya sebelum Irene sempat menyentuh kursinya.
Irene menyilangkan telunjuknya pada bibirnya. Waduh, si Anya ini. Bisa-bisa seisi ruangan melirik ke arahnya gara-gara volume suaranya itu.
“Ah, beli DVD lagi ya?” Tanya Anya dengan suara yang lebih rendah.
Irene memasukkan bungkusan yang dibelinya ke dalam laci meja kerjanya, namun jemari Anya lebih sigap. Dengan segera bungkusan hitam itu pindah ke tangannya.
“Anya, nanti dulu!” Irene berusaha merebut kembali. Anya menghindar.
“Hmm..Brokeback Mountain, Formula-17, Eating Out…Latter Days..Irene, kamu beli film gay lagi?”
“Memangnya kenapa? Film-film itu kan box-office, ceritanya bagus, actingnya prima? Siniii!” Seru Irene sambil merebut kembali DVD itu dari tangan Anya.
“Mungkin benar begitu. Tapi…ada apa denganmu?” Mata Anya membulat menatap sahabatnya. “Rasanya aku tak pernah lagi melihat kamu menonton film yang bukan seperti itu?”
“Cuma masalah selera, Anya…”
“Selera? Are you nuts?” Anya menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri dengan geram.”Kalau kamu bilang itu selera, berarti kamu punya selera yang menyimpang, Irene…?"
“Sudahlah, Anya...kok kamu meributkan urusan gue sih? Sudah sana, kerja….” Gerutu Irene yang dibalas Anya dengan melengos kesal.
Malam hari di kamarnya, Irene melirik DVD di atas meja tulisnya yang baru dibelinya tadi siang. Kisah dua orang cowboy yang bekerjasama menggiring domba-domba, dan kemudian mereka saling jatuh cinta. Dimasukkannya keping dvd itu ke dalam player dan mulai menyaksikan film itu.
Dengan segera ia terbuai. Such a touching story! Ada sesuatu yang mendebarkan detak jantungnya dan memacu adrenalinnya kala menyaksikan adegan dimana kedua pemuda tampan itu saling berpelukan dan berciuman saat mereka bertemu kembali setelah empat tahun lamanya berpisah.
Entah mengapa, adegan mesra antara dua orang pria selalu memberi rasa tersendiri buat Irene. Diulangnya berkali-kali adegan itu hingga matanya terasa pedih. Tak terasa sudah jam satu dini hari. Ah, ia harus segera tidur kalau tidak mau terlambat kerja esok pagi.
Enggan, Irene mematikan televisi. Sejenak Irene termenung. Percakapan siang tadi dengan sahabatnya itu mengusik pikirannya.
Menyimpang? Apakah benar kata Anya bahwa ia mengalami penyimpangan? Tapi, dalam hal apa?
Irene merasa dirinya normal. Ingatannya melayang beberapa tahun lalu, pada seorang pria tampan yang pernah menjadi kekasihnya.
(To be continued)
Tag:











