Meier : Everlasting Love 3

25
points
"

Thanks buat apresiasinya buat cerita ini.

"

Seno memasuki apartemennya. Dihempaskan badannya ke sofa, tangannya meraba atas meja mencari remote. Segera alunan instrumental jazz ringan memenuhi ruang yang temaram itu. Meneduhkan dan menenangkan. Sesaat kemudian ingatan Seno melayang pada suatu masa dimana musik jazz yang ia suka hilang dari hari harinya. Perempuan itu tidak membenci musik jazz hanya saja ia tidak bisa mendengarkan bebunyian yang melengking dan baginya jazz identik dengan hal itu. Lengking alat musik menghadirkan sensasi yang menakutkan untuk dirinya dan entah bagaimana awalnya dia jadi seperti itu.

Sejak dua tahun yang lalu Seno membuat sebuah studio musik di sebuah komplek ruko yang berjarak kira kira dua ratus meter dari apartemennya. Selain untuk mengutak atik perangkat sound system, studio ini juga ia gunakan untuk bermusik bersama teman temannya. Seno dalam kelompok band yang dinamai Sourmash memilih untuk memainkan bass meski ia dan teman temannya mampu memainkan beberapa jenis alat musik yang berbeda dengan baik. Menurut Seno bass adalah alat musik yang mencerminkan dirinya dalam dunia nyata, sepintas tidak dominan namun mempunyai peran penting dalam menjaga tempo dan memberi warna dalam musik.

Sourmash didirikan empat belas tahun yang lalu oleh Seno dan tiga orang sahabatnya, yakni Gunawan, Darrent, dan Tan. Mereka mendirikan band ini hanya karena mereka suka bermain musik, dan sebagai pengisi waktu luang mereka. Gunawan adalah penyanyi utama dan gitaris kedua dalam band ini yang menciptakan sebagian besar lagu lagu Sourmash. Darrent, penabuh drum yang pendiam adalah seorang realis yang cenderung pesimistis. Serta Tan gitaris utama, jurnalis yang militan dan pekerja keras. Mereka berempat saling mengenal di bangku kuliah dan saat ini mereka adalah empat orang yang sudah seperti saudara sendiri.

Seno sendiri sebenarnya sedikit sedikit mampu menciptakan lagu, namun karena tidak percaya diri maka lagu lagu hasil ciptaannya tidak pernah ia beritahu kepada teman temannya di Sourmash, biarlah ini menjadi konsumsi pribadi dirinya begitu pikir Seno. Ada sebuah lagu yang Seno pernah ciptakan dan lagu tersebut ia beritahukan kepada seseorang dengan tujuan untuk mengenang apa yang mereka jalan saat itu. Sebuah lagu sederhana namun dengan jiwa yang begitu kuat.

Saat nada ini melantun maka ingatlah Aku disini senantiasa berjaga dan menantimu Dibagian ini Seno yang bernyanyi

Bila nada ini kau dengar maka ingatlah Kau selalu ada bagiku dengan seluruh cintamu Pada bagian ini perempuan itu yang bernyanyi.

O sungguh hati ini bahagia Cintaku dan cintamu, bersama kita berdua Teruslah ada bagiku, Ku akan terus ada bagimu Tentu dibagian ini mereka bernyanyi bersama. ***

Pagi ini menjadi awal hari yang berat bagi Seno, ia tidak ingin melakukan apapun dan ia enggan bertemu dengan siapapun. Namun sadari tadi sekretarisnya tidak berhenti menghubungi untuk mengingatkan kegiatan, janji, dan rapat rapat yang sudah dalam status darurat karena memang sudah dua hari ini dia coba menghindar dari dunia.

***

...and i don't want the world to see me, coz' i don't think that they understand…

Iris dari Goo Goo Dolls mengiringi Seno dalam perjalanan menuju kantornya di daerah Kemang. Ya, dunia tidak perlu tahu karena ia yakin mereka tidak akan mengerti bahwa Seno ingin bersamanya, hanya dirinya.

Ramah yang sedikit dipaksakan, Nina, sekretarisnya menyambut dengan serentetan kalimat yang tidak jelas ia dengar. Pikirnya melayang kepada sosok perempuan yang entah dimana kini.

Sesampainya di dalam ruangan ia berkata kepada sekretarisnya.

"Nin, tolong kamu atur jadwal hari ini agar semua selesai sebelum jam sebelas”.
"Saya rasa itu tidak mungkin Pak" Nina menjelaskan bahwa semua ini tidak akan dapat selesai sebelum jam sebelas, menurut perkiraan dan jadwal yang di pegangnya semua aktifitas baru selesai pukul delapan malam nanti.

Seno menegaskan kepada Nina sekali lagi dan sesaat kemudian sekretarisnya pun segera berkutat dengan telepon dan memilah milah setumpuk kertas kertas.

Pukul sepuluh tiga puluh lima Seno dengan tergesa berangkat menuju kantor Andrea. Lalu lintas Jakarta selalu tidak dapat diduga dan ia tidak ingin terlambat berada disana.

***

"Lima menit lagi aku tiba di depan pintu masuk kantormu".
"I'll be there, bye".

Terlambat sedikit dari yang ia ucapkan, kemudian terlihat Andrea memasuki sedan mewah Seno.

"Kamu mau makan dimana? "
"I don't know "
"Hmm, jawaban yang tidak aku harapkan sebenarnya. So, let us see apakah kamu setuju dengan pilihan aku "

Seno dan Andrea meluncur ke arah Plaza Semanggi.

***

Bersambung.

Your rating: None Average: 6.3 (4 votes)
dikirim meier 1 year 2 minggu yang lalu
Tag: