Pengumuman seputar migrasi kemudian.com klik pengumuman. Bagi yang ingin melanjutkan chatting, silahkan klik chatting
Kereta yang dinaiki Seiga tampak begitu lenggang saat mendekati stasiun terakhir. Di gerbongnya Seiga hanya melihat seorang ibu dengan anak perempuannya yang duduk tak jauh dari tempatnya. Ibu itu membawa plastik besar belanjaan dengan logo salah satu supermarket yang terkenal di pusat kota. Dari dalam salah satu plastik gadis kecil itu mengambil snack untuk kedua kalinya dan mulai memakan isinya dengan lahap.
sekali lagi, narasinya bagus, kalimatnya cukup efektif dan efisien. tapi deskripsinya, walaupun cukup detil di beberapa tempat, usulku difokuskan saja pada deskripsi yang benar-benar sesuai dengan plot cerita, sehingga cerita bisa berjalan lebih cepat. jadi gak semua hal mesti dideskripsikan, sementara deskripsi yang penting dan bisa lebih dramatis, tentang bagaimana seiga mulai berhubungan dengan jin, sepertinya agak kurang.
untuk awal cerita atau bab pertama, pembaca perlu segera tahu apa sebenarnya masalahnya, dan apa yang dipertaruhkan. memang udah disampaikan dalam dialog, tapi mungkin butuh tambahan emosi.
Ahaha, ini bab yang sangat menarik. Kayaknya Bung Vilam sudah menyampaikan intinya.
Tapi begini saja komentarku:
1)Ada beberapa masalah imbuhan yang perlu diperbaiki, supaya enggak jadi menyebalkan.
2)Aku paham keinginan buat menjabarkan 'dunia' dan enggak masalah bila bikin tokoh bergerak berdasarkan nilai sentimentil. Tapi menurutku, karena beragam hal masih enggak jelas, kita masih belum ngerasain apa-apa dari apa yang dialamin tokohnya. Padahal sayang lho. Adegan yg di kota mati itu bisa dibikin lbh dalem dan berkesan.
Chapter 1 berakhir! Mohon komennya ya.. Ada interlude yang gw sisipin sebelum mulai chapter 2.
Asiik!! hari ini dapet laptop lumayan buat dipake nulis insomnerve..
WAKTU ISTIRAHAT JANGAN KELUAR DULU!
ADA RAPAT KELAS
OPER: DEPAN>BELAKANG
Begitu bunyi kertas pengumuman yang baru saja mendarat di meja Seiga. ... lanjut baca
Sub chapter: Perfect Friend
Entah dari mana, awan mendung tiba-tiba saja datang di atas langit Kiminomachi.. Kehadiran awan itu menghalangi matahar ... lanjut baca
Ternyata hari itu tidak seburuk yang Seiga kira.
Entah kenapa guru matematika yang seharusnya mengajar sesudah Pak Hyun tidak kunjung tiba. Seisi k ... lanjut baca
Kereta yang dinaiki Seiga tampak begitu lenggang saat mendekati stasiun terakhir. Di gerbongnya Seiga hanya melihat seorang ibu dengan anak perempuann ... lanjut baca
The world is finally recovered...
10 years ago almost every nation engaged in a combat to reclaim who’s the strongest of the rest... Armed with d ... lanjut baca
Chapter One : Godslaying Girls
Pagi menyongsong sebuah kompleks perumahan di Jepang. Dari dalam rumah dengan papan nama bertuliskan ‘Koizumi’ ... lanjut baca
Chapter Two: Trapness
Dimana ini?
Aku terbangun dan berdiri. Di sekitarku terbentang padang rumput yang sangat luas. Bunga liar yang bermekara ... lanjut baca
Sketsa dirimu yang kugambar diam-diam sewaktu pelajaran.
Luntur di saku seragam karena lupa kusimpan.
Nyanyian di bangku belakang saat kita pert ... lanjut baca
Apakah tidak apa-apa terus berjalan?
Meskipun sulit untuk menapak dan setiap kali menoleh ke belakang..
Apakah esok lebih cerah daripada hari ini? ... lanjut baca
Aku dan kamu.
Awalnya tidak cocok.
KIta memang mirip sekaligus begitu berbeda.
Aku di matamu bukanlah aku.
Apa yang ada di dalam pikiranku bukan ... lanjut baca
Ternyata hari itu tidak seburuk yang Seiga kira.
Entah kenapa guru matematika yang seharusnya mengajar sesudah Pak Hyun tidak kunjung tiba. Seisi k ... lanjut baca
Dengan hati yang mantap Jired pergi dengan penuh keyakinan bahwa cintanya akan diterima oleh si Ici. Dalam perjalanan menuju kerumah Ici, Jired sengaj ... lanjut baca
Prolog - Kehidupan dan Kematian
Orang besar diingat atas karya besar dalam hidupnya; martir diingat atas pengorbanan dalam kematiannya; seorang pah ... lanjut baca
12 Maret 2007, Telepon Pertama
Ruangan itu tidak terlalu besar. Ukurannya hanya sekitar lima puluh meter persegi saja. Luasnya yang serba tanggung ... lanjut baca
SMU Bintang Senja kedatangan guru baru. Bu Hayati Ningrum namanya. Sebelumnya ia mengajar di SMU Bintang Timur, satu yayasan dengan SMU Bintang Se ... lanjut baca
Stasiun Saga hari itu tak terlalu padat seperti biasanya. Hanya sekitar dua puluh orang yang terlihat di sekelilingku menunggu kereta. Beberapa dari m ... lanjut baca
WAKTU ISTIRAHAT JANGAN KELUAR DULU!
ADA RAPAT KELAS
OPER: DEPAN>BELAKANG
Begitu bunyi kertas pengumuman yang baru saja mendarat di meja Seiga. ... lanjut baca
Sub chapter: Perfect Friend
Entah dari mana, awan mendung tiba-tiba saja datang di atas langit Kiminomachi.. Kehadiran awan itu menghalangi matahar ... lanjut baca
Hari ini kau masih berjalan. Saat, semua masih pulas menggelungi bantal, kau menapak jalanan basah. Kau cium sesuatu yang asing di depanmu, sambil men ... lanjut baca
. . belum terbaca konfliknya. Masih datar, tp gpp, kutunggu saja lanjutanya
sekali lagi, narasinya bagus, kalimatnya cukup efektif dan efisien. tapi deskripsinya, walaupun cukup detil di beberapa tempat, usulku difokuskan saja pada deskripsi yang benar-benar sesuai dengan plot cerita, sehingga cerita bisa berjalan lebih cepat. jadi gak semua hal mesti dideskripsikan, sementara deskripsi yang penting dan bisa lebih dramatis, tentang bagaimana seiga mulai berhubungan dengan jin, sepertinya agak kurang.
untuk awal cerita atau bab pertama, pembaca perlu segera tahu apa sebenarnya masalahnya, dan apa yang dipertaruhkan. memang udah disampaikan dalam dialog, tapi mungkin butuh tambahan emosi.
Ahaha, ini bab yang sangat menarik. Kayaknya Bung Vilam sudah menyampaikan intinya.
Tapi begini saja komentarku:
1)Ada beberapa masalah imbuhan yang perlu diperbaiki, supaya enggak jadi menyebalkan.
2)Aku paham keinginan buat menjabarkan 'dunia' dan enggak masalah bila bikin tokoh bergerak berdasarkan nilai sentimentil. Tapi menurutku, karena beragam hal masih enggak jelas, kita masih belum ngerasain apa-apa dari apa yang dialamin tokohnya. Padahal sayang lho. Adegan yg di kota mati itu bisa dibikin lbh dalem dan berkesan.
Kalo menurutku sih, itu. Ayo berjuang!
Baru bikin interludenya tadi pagi baca ya..