Kisah ini terjadi di sebuah dunia alternatif dari sekian banyak dunia paralel yang terbentuk dari awal masa. Dunia alternatif ini berada pada cabang yang cukup awal dari saat alam semesta ini mulai membelah diri, pada saat dadu sejarah makrokosmos mulai dilemparkan, yaitu pada saat terjadinya evolusi besar- besaran. Jika para ilmuwan memang percaya pada Teori Evolusi Darwin dan percaya pada Teori Dunia Paralel, maka seharusnya mereka juga percaya kalau kisah ini memang benar- benar terjadi. Kisah ini mengambil tempat di sebuah dunia dimana tidak pernah terjadi kejayaan primata.
Read more (3366 words)
Malam itu, di sebuah kota mengapung yang menjadi pusat peradaban, Ciko menghempaskan tubuhnya pada sebuah selokan. Manusia malang yang menjadi buronan polisi internasional itu hanya bisa diam sambil melihat ke langit. Ia sesekali meringis menahan rasa sakit sambil memegangi lengannya yang bersimbah darah karena terserempet peluru. Ia nyaris saja mati tertembak. Kalau saja peluru itu tidak meleset, pasti sudah menembus kepalanya.
Ia bangun berdiri. Sambil mengendap-ngendap ia bergerak menyusuri selokan itu. Tubuhnya sudah kotor terkena lumpur dan darahnya sendiri. Namun yang paling tidak bisa ditahannya sekarang adalah perutnya yang sudah kelaparan sejak kemarin. Berlari kesana-kemari menghindari kejaran polisi membuatnya benar- benar kehabisan energi. Nafasnya tersengal-sengal, sesekali terdengar suara erangannya, entah menahan sakit atau menahan lapar. Ia nyaris saja akan pingsan, namun pada saat itulah ia manyadari, bahwa gerakannya yang mengendap-ngendap itu ternyata sudah diketahui seseorang. Ini adalah masalah besar baginya, apalagi sekarang orang itu berdiri di hadapannya sambil menatapnya tajam.
“Kasihan sekali kamu...,” ucapnya pelan.
“Aku mohon..., jangan serahkan aku ke polisi...,” rintih Ciko sambil berlutut di hadapannya. Itulah satu-satunya harapan sekarang.
“Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Ikut aku,” Ucap orang itu sambil menggoyangkan paruhnya, memberi isyarat pada Ciko agar segera mengikutinya.
“Terima kasih banyak...,” Ciko langsung berdiri dan berjalan mengikuti seorang ayam yang baru saja ditemuinya itu.
“Yah..., bukannya aku sok baik atau apa, habis mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa diam begitu saja melihat seekor manusia yang terluka dan hampir mati di samping rumahku. Mungkin juga aku akan memeliharamu, heh, berharap saja.” Ujar ayam itu.
Ciko tiba di depan sebuah rumah yang tidak jauh dari tempat itu. Rumah itu terlihat agak kumuh, tapi masih jauh lebih baik daripada berada di luar. Ayam itu membukakan pintu, menyuruh Ciko masuk, kemudian menutupnya kembali.
“Duduklah,” ucapnya sambil mengambil sesisir pisang yang ada di dalam lemari es. Kemudian ia melemparkan pisang itu ke arah Ciko. Ciko menangkapnya.
“Terima kasih!” Dengan tanpa ragu- ragu Ciko segera melahap pisang itu satu demi satu. Perutnya yang merintih kelaparan itu kini mulai dapat terobati. Kelezatan pisang itu malah membuatnya melupakan rasa sakit akibat luka terkena peluru itu.
“Aku tahu kamu pasti lapar. Dengan luka seperti itu, bisa kutebak kalau kamu habis dikejar-kejar polisi. Yah, percuma juga aku ingin tahu kenapa, soalnya aku tidak mengerti bahasa manusia, dan kau tak akan bisa menjelaskannya,” ucap ayam itu sambil mondar- mandir mencari sesuatu, dan sepertinya akhirnya dia menemukannya, “...nah ini dia, satu set kotak P3K. Tenang saja, aku akan mengobatimu.”
Ayam itu menarik lengan Ciko dengan perlahan, tanpa mengusiknya yang masih asik melahap pisang. Kemudian diobatinya lengan Ciko menggunakan alat-alat yang ada di dalam kotak P3K itu.
“Hmm... sepertinya kamu dikejar polisi karena mencuri makanan ya? Kasihan sekali.... Tapi aku mengerti kok, aku juga pernah mencuri,” ayam itu seolah mengajak Ciko berbicara, “burung- burung itu memang tidak adil. Well, kamu mungkin tidak mengerti, tapi kamu pasti tahu. Masalah diskriminasi selalu mewarnai peradaban ini sejak ribuan tahun yang lalu. Kami, para ayam dan unggas yang tidak bisa terbang lainnya, selalu saja dijadikan warga negara kelas dua. Cuma karena mereka bisa terbang, lalu mereka merasa paling sempurna dan menjadi penguasa dunia. Lalu dibuatlah kota- kota yang mengapung di langit sebagai rumah mereka, sementara kami cuma bisa tinggal di bawah sini, di tempat yang kumuh di antara selokan yang di dalamnya mengalir limbah- limbah keserakahan mereka. Kami dianggap rendah, dianggap budak, dan tidak pernah diikutsertakan dalam pemilu. Kalau sesama unggas saja mereka tidak bisa berbuat adil, apalagi terhadap kamu yang cuma seekor manusia. Aku sering dengar manusia yang diternak, untuk dikuliti dan diambil dagingnya sebagai makanan para unggas karnivora. Kamu masih jauh lebih beruntung karena kau hidup sebagai manusia liar yang bebas. Kamu juga tidak perlu takut, karena aku ini vegetarian, jadi aku tak akan menyantapmu,” ia mengakhiri kata-katanya sambil tersenyum lebar.
Ayam itu kemudian mengambil sebuah gelas dari dapur dan mengisinya dengan air dari wastafel. Kemudian dia berikan segelas air itu kepada Ciko.
Tok! Tok! Tok! Sepertinya seseorang mengetuk pintu dari luar.
“Aku pergi dulu ya, silakan dihabiskan makanannya.” Ayam itu mengelus kepala Ciko beberapa kali, kemudian bergegas membukakan pintu.
Ciko akhirnya berhasil menghabiskan semua pisang yang diberikan oleh ayam itu, kemudian ia meneguk segelas air yang sudah disediakan di sampingnya. Ia merasa benar- benar beruntung, tidak menyangka akan bertemu ayam sebaik itu. Sambil mengelus- ngelus perutnya yang kekenyangan, ia bersenandung ringan.
Ayam yang baik hati itu masih menerima tamu di depan pintu, beberapa meter dari tempat Ciko duduk. Tiba- tiba saja Ciko merasa ada sesuatu yang geli di dalam lubang hidungnya, sesuatu yang seringkali ia rasakan akhir- akhir ini, sesuatu yang amat mengganggu, dan sepertinya membuat nasibnya menjadi sial.
Hatsyiii!!! Ciko tidak dapat lagi menahan bersinnya. Setetes lendir kental keluar dari lubang hidungnya, kemudian ia gunakan punggung tangannya untuk mengelap lendir itu. Ia terdiam sejenak. Perasaan ini selalu saja membuatnya merasa terganggu.
Ckrek! Tiba- tiba saja terdengar suara yang sudah tidak asing lagi bagi Ciko. Suara itu adalah suara senapan yang dikokang, tepat di belakang kepalanya. Ia tidak sanggup menoleh, lebih tepatnya takut untuk menoleh. Setelah hening beberapa saat, akhirnya mereka muncul di hadapan Ciko, dua orang polisi yang merupakan burung elang berpenutup mulut, dan juga ayam pemilik rumah ini yang kini juga memakai penutup mulut yang sama.
“Maafkan aku, manusia yang malang. Tadinya aku bermaksud untuk menolongmu dan memeliharamu, tapi kemudian para polisi datang dan memberitahuku kalau kamu adalah manusia yang berbahaya,” ucap ayam itu dengan wajah yang terlihat sedih.
“Sudah! Jangan bicara dengannya! Tidak ada gunanya!” Hardik seorang polisi.
“Tapi dia berhak untuk tau! Dia harus tahu alasannya!” Balas si ayam.
“Tapi Nona, dia tidak akan mengerti ucapan Anda. Lagipula, dia kan cuma seekor manusia,” ucap polisi yang satunya lagi.
“Biarkan aku bicara!” Si ayam setengah berteriak.
“OK, baiklah, cuma dua menit!” Ujar polisi yang tadi.
Ciko tidak bergerak sama sekali. Ia meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. Kali ini sepertinya ia tidak bisa kabur untuk yang kedua kali, apalagi dengan perutnya yang kekenyangan seperti ini.
“Manusia malang, sebenarnya kamu menderita penyakit yang sangat mematikan dan menular. Flu manusia. Penyakit ini tidak hanya menular kepada sesama manusia, tapi juga kepada unggas. Oleh karena itulah, pemerintah menetapkan untuk memusnahkan setiap manusia yang terbukti mengidap penyakit ini, sebelum timbul korban unggas lebih banyak lagi. Maafkan aku, karena aku tidak bisa berbuat apa- apa..., aku sendiri juga takut tertular penyakit ini.”
“Cepatlah!” Kedua polisi itu tampak sudah tidak sabar.
“Aku tahu kamu tidak bersalah. Kamu adalah manusia yang baik, dan semua ini bukanlah pilihanmu. Semua ini adalah takdir,” ayam itu berusaha tetap tenang dan melanjutkan ucapnnya, “oleh karena itu, kamu jangan takut, Tuhan pasti akan memahamimu. Setelah dimusnahkan kau pasti akan masuk surga. Sadarlah, semua ini demi kepentingan kita semua.”
“Waktunya sudah habis! Sekarang kami akan membawanya!”
Kedua polisi itu kemudian memborgol tangan Ciko dengan paksa dan menggiringnya keluar dari rumah ayam itu. Ciko hanya bisa menurut sambil memikirkan cara untuk kabur. Sambil berjalan pergi, ia masih dapat melihat Si Ayam yang melambaikan tangan sambil meneteskan air mata. Sayang sekali, pikirnya.
Sebenarnya Ciko sudah tahu alasan kenapa ia dikejar- kejar polisi selama ini. Ia juga sudah tahu tentang penyakit Flu Manusia yang ia derita sejak seminggu yang lalu, karena sejak saat itulah ia mulai diburu polisi internasional. Tapi, Ciko, cuma manusia biasa. Ciko hanyalah manusia biasa yang tetap ingin hidup, walau ia sadar ia menderita penyakit yang berbahaya bagi semua orang. Tapi dalam pikiran Ciko, burung- burung itu sangatlah egois. Mereka cuma memikirkan spesiesnya sendiri. Mereka tidak berusaha untuk menyembuhkan Ciko, tapi malah berusaha membunuhnya. Maka Ciko pun tak mau kalah egois dari burung-burung itu. Dia akan tetap hidup, bagaimanapun caranya. Ia akan tetap hidup sampai ia dapat menyembuhkan penyakit mematikan itu, atau sampai ia mati terbunuh oleh penyakit itu sendiri. Ia tidak rela dibinasakan begitu saja.
Kedua polisi itu memasangkan sebuah rantai panjang pada borgol di pergelangan tangan Ciko. Kemudian mereka mengepakkan sayapnya dan terbang sambil menarik rantai panjang itu di dua sisi, membuat Ciko tergantung pada kedua tangannya. Dengan cara begini Ciko tak bisa membuat kontak dengan kedua polisi itu saat berada di udara, hal itu membuat jalan pikirannya menjadi buntu, tidak tahu lagi akal apa yang harus ia gunakan agar dapat lolos untuk yang kedua kalinya.
Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba saja ia melihat sekelebatan sebuah benda kecil yang melesat melewatinya. Benda itu datang dari arah bawah, melesat ke atas, dan Duakk!!! Tepat mengenai wajah salah seorang polisi yang memegangi rantai Ciko. Menahan rasa sakit, polisi burung itu kehilangan konsentrasi dan tanpa sadar telah melepaskan pegangannya terhadap rantai yang menggantung tubuh Ciko. Akibatnya, polisi yang satunya pun menjadi kehilangan keseimbangan.
Walau belum sadar apa yang sedang terjadi, namun Ciko segera memanfaatkan kesempatan itu. Ia menarik satu rantai yang masih menggantung itu dengan sekuat tenaga. Polisi yang tidak terluka masih kebingungan dengan ‘benda’ apa yang telah memukul rekannya itu, ia tidak sadar dengan gerakan yang dibuat Ciko, dan akhirnya rantai itu lepas dari tangannya.
Setelah rantai itu lepas, tak ada lagi yang menahan tubuh Ciko. Ia terjatuh, melesat dengan cepat ke bawah. Ciko tahu, ia mungkin akan mati karena terjatuh dari ketinggian ini, tapi baginya itu lebih baik daripada mati dimusnahkan oleh bangsa burung.
Kedua polisi yang menjadi panik itu kini kembali mengejar Ciko. Berusaha menangkapnya sebelum ia jatuh ke tanah. Meskipun mereka tahu, Ciko pasti akan mati kalau terjatuh dari ketinggian seperti ini, tapi bagi mereka pekerjaan mereka baru bisa dibilang selesai kalau mereka berhasil membawa Ciko ke tempat pemusnahan massal dan membakarnya di tungku raksasa bersama dengan manusia- manusia lain yang juga terbukti mengidap Flu Manusia.
Ciko menutup matanya, ia pasrah apapun yang akan terjadi. Ia berdoa dalam hati. Sebentar lagi ia akan menghempas tanah, pikirnya. Satu detik, dua detik, ia melesat semakin cepat sesuai dengan hukum percepatan gravitasi. Namun... Byuurr!!! Ia merasakan air, bukan tanah. Rupanya ia jatuh ke dalam air, entah sungai entah danau. Namun masalah baru terjadi, rantai dan borgol yang mengikat tangannya membuat dirinya menjadi berat, dan ia semakin cepat tenggelam! Ia tak bisa berenang dalam keadaan ini. Ia berusaha membuka mata, namun tak ada apapun yang ia lihat. Ia berusaha menggerakkan tangan dan kakinya, namun ia tak sanggup. Lama- kelamaan ia tenggelam semakin dalam, semakin dalam sampai kesadarannya pun menghilang.
Semua terasa gelap. Kegelapan yang pekat, yang lama kelamaan menjadi surut dengan perlahan. Dengan samar- samar Ciko seperti melihat seseorang di hadapannya. Entah siapa.
“Ciko! Ciko! Bangun Ciko!” Sebuah suara memanggil- manggilnya.
Ciko berusaha untuk mengingat suara siapa itu. Suara yang sangat akrab di telinganya, namun dalam keadaan sepusing ini ia bahkan tak ingat lagi siapa pemilik suara itu. Sebuah tangan menyentuh keningnya, kemudian mengelus rambutnya. Ia hafal benar suara ini, tangan ini, dan bayangan orang di hadapannya.
Ciko memejamkan matanya sejenak, ia percaya itu akan membuatnya lebih fokus. Beberapa detik kemudian ia buka lagi matanya, kali ini terlihat lebih jelas.
“Kamu nggak apa- apa, Ciko?” Tanya suara itu.
Kini ia dapat mengingat dan mengenalinya. Orang yang ada di hadapannya itu adalah Poki, tunangannya. Orang yang selama ini sangat ia cintai sekaligus orang yang paling ia hindari saat ini. Ia sungguh tak ingin Poki terjebak dalam bahaya bersamanya.
“Poki? Kenapa kamu ada di sini...?” Tanya Ciko sambil berusaha bangkit. Ia baru saja menyadari kalau mereka sedang berada di sebuah gua kecil di samping danau. Pakaiannya basah semua, pasti gara- gara jatuh ke danau tadi.
“Aku dengar kabar kalau kamu menjadi buronan polisi, makanya aku berusaha menolongmu..., syukurlah masih belum terlambat...,” jawab Poki sambil memeluk Ciko dengan sangat erat.
“Jadi kamu yang tadi membuat polisi itu kaget?”
“Ya, aku menembak mereka dengan ketapel. Hebat bukan?”
“Tapi..., itu berbahaya buat kamu! Aku nggak mau kamu terlibat masalah ini!”
“Jadi itu yang bikin kamu menghilang selama ini? Apa sih masalahnya?”
Poki melepaskan pelukannya, kemudian menatap mata Ciko dalam- dalam. Berusaha meyakinkan Ciko untuk menjawab pertanyaannya.
“Aku... menderita suatu penyakit...,” jawab Ciko sambil memalingkan wajahnya.
“Apa?! Penyakit? Penyakit apa? Terus apa hubungannya dengan polisi?” Tanya Poki lagi sambil memegang pundak Ciko.
“Penyakit itu.... pokoknya penyakit berbahaya yang menular! Bukan cuma pada manusia tapi juga pada unggas! Itulah sebabnya mereka mengejar aku....”
Ciko segera berdiri setelah pengelihatannya mulai membaik, sementara Poki terlihat sedang berpikir, berusaha memahami ucapan Ciko. Betina cantik berambut coklat itu tampak sangat khawatir saat mengetahui kekasihnya berada dalam masalah.
“Kamu... kamu nggak akan menyerahkan diri begitu aja kan?! Pasti ada obatnya! Aku yakin! Pasti ada suatu cara!” Ucap Poki sambil ikut bangkit berdiri.
“Ya..., aku juga berpikir begitu. Aku nggak mau dimusnahkan begitu aja oleh spesies egois itu. Aku pasti akan menemukan caranya. Tapi....”
“Tapi apa?!”
“Tapi sampai aku berhasil sembuh, aku nggak mau kamu terlibat! Karena nggak ada jaminan apakah aku berhasil atau nggak, makanya, aku nggak mau kamu ikut menjadi korban!” Ucap Ciko setengah berteriak.
“Ciko...,” Poki memegang tangan Ciko sambil menahan air matanya, “Kamu pikir..., buat apa aku selamat kalau kamu nggak? Buat apa aku hidup kalau kamu nggak?”
“Tolong mengerti..., kamu percaya kan, kalo aku pasti bisa? Aku pasti akan....”
Ciko menghentikan ucapannya. Tiba- tiba saja dia merasa ada yang datang mendekat. Pasti para polisi itu! Tidak salah lagi, pikirnya.
“Ada apa?” Tanya Poki heran.
“Ada yang datang! Ayo sembunyi!”
Ciko segera menarik tangan Poki dan berlari mencari tempat bersembunyi, namun terlambat, kedua polisi itu sudah melihat mereka berdua dan kini berusaha mengejar mereka.
“Hei!! Mau lari kemana kau!!” Teriak seorang polisi, terdengar agak aneh karena suaranya terhalang penutup mulut.
Ciko tidak mempedulikan. Ia dan Poki terus berlari masuk semakin jauh ke dalam gua. Ternyata gua ini lebih besar dari yang ia kira, namun dinding gua itu cukup rapat, membuat mereka agak sulit untuk berlari, tapi mudah untuk bersembunyi. Burung- burung elang itu mengejar mereka dengan sekuat tenaga. Kemudian salah satu dari mereka mengambil pistolnya dan melepaskan sebuah tembakan.
DUAR!!!
Suara tembakan itu bergema dengan sangat keras, membuat dinding gua itu seolah bergetar karenanya. Ciko mendengarnya, tapi berusaha tidak peduli. Sambil menggenggam tangan Poki ia tetap berlari dan berusaha mencari tempat bersembunyi, namun tiba- tiba saja ia menyadari sesuatu, ada yang aneh dengan Poki. Ciko menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Poki. Ia tersentak saat melihat betis Poki yang bersimbah darah.
“Poki!! Kamu..., jangan- jangan kena tembakan tadi?!” Ciko memeriksa kaki Poki yang kini cuma terduduk menahan sakit.
“Enggak apa-apa kok, cuma keserempet aja,” ucap Poki sambil berusaha terlihat tenang, “kalo kamu tetep di sini, mereka akan menemukan kamu! Cepat pergi! Biar aku di sini, aku nggak mau memperlambat kamu!” Poki kembali berucap.
“Enggak, itu nggak mungkin! Kalau aku ninggalin kamu di sini, mereka mungkin akan membunuh kamu!” Ucap Ciko.
“Tapi kalau kamu tetap di sini, kamu yang akan mati! Kamu sendiri yang bilang kalau kamu ingin tetap hidup kan? Kamu nggak mau dimusnahkan oleh spesies egois seperti mereka, iya kan?” Poki menggenggam tangan Ciko dengan sangat erat.
Ciko teridam sejenak.
“Kamu pikir, buat apa aku selamat kalau kamu nggak? Buat apa aku hidup kalau kamu nggak?” Ciko mengulangi ucapan Poki sebelumnya.
Poki terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia berharap semua ini tidak pernah terjadi. Pernikahan mereka seharusnya akan digelar tiga bulan lagi, tapi kini semuanya menjadi berantakan.
“Hahaha!! Akhirnya menyerah juga!!” Kedua polisi itu akhirnya tiba di hadapan Ciko dan Poki.
“Ok, sekarang kita ambil kembali buronan kita.” Ucapnya sambil menatap Ciko tajam.
“Kuakui, untuk seekor primata kamu memang cukup cerdik dan pintar melarikan diri, tapi sekarang lain ceritanya. Kalau kamu sampai mencoba melarikan diri lagi, kami tidak akan segan-segan membunuh betinamu yang cantik ini, hehehe....” Ucap polisi yang bertubuh lebih gemuk sambil menodongkan pistolnya ke kepala Poki.
“Hey, apa- apaan sih?! Untuk apa bernegosiasi dengan binatang? Mereka tidak akan mengerti ucapan kita kan?” Protes polisi yang lebih kurus.
“Tidak apa- apa, aku cuma ingin mencoba saja. Aku pernah baca sebuah buku, katanya para manusia jantan memiliki insting yang kuat untuk melindungi betina. Dengan insting itu dan pistol ini, dia pasti mengerti.”
“Huh, ada- ada saja kau!”
Ciko menatap Poki yang menahan air matanya saat moncong pistol itu menempel di keningnya.
“Poki..., aku tahu jawabannya.” Ucap Ciko pelan.
“Jawaban apa?” Tanya Poki sambil meneteskan air mata.
“Alasan. Alasan kenapa kamu harus selamat walau aku nggak. Alasan kenapa kamu harus hidup walau aku enggak,” Ciko menundukkan kepalanya, “suatu saat, setelah aku pergi, kamu pasti akan mengerti jawabannya.”
“Ciko...! Maksud kamu apa? Jangan bilang kalau kamu mau menyerahkan diri. Enggak kan? Enggak kan, Ciko?!” Ucap Poki, walau ia tak bisa bergerak karena ditodong pistol di keningnya.
Ciko tidak menggubrisnya.ia bangkit berdiri dan menatap kedua polisi burung itu dengan tajam. Ia mendekat dan mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
“Hey, borgol dia!” Polisi yang gemuk memerintah.
Polisi yang kurus segera memborgol tangan Ciko di atas borgol yang sebelumnya sudah terpasang, sehingga borgol di tangan Ciko terhubung dengan borgol di tangan polisi itu.
Sambil memperhatikan tangannya yang diborgol, Ciko mencuri pandang pada Poki. Ia melihat air mata Poki yang mengalir dengan sangat deras. Belum pernah ia meliht Poki menangis sampai seperti itu sebelumnya. Rupanya keinginannya yang kuat untuk hidup telah dikalahkan oleh perasaannya untuk berkorban.
“OK! Beres! Kali ini dia tidak akan kabur lagi!” Ucap polisi yang kurus dengan tegas, “lalu, bagaimana dengan si betina itu, mau kau bawa untuk jadi sandera?”
“Tidak perlu. Aku cuma memanfaatkannya saja. Akan merepotkan kalau kita membawa mereka berdua, bisa- bisa mereka kabur. Biarkan saja dia di sini, toh dia cuma manusia liar dan tidak ada tanda- tanda tertular penyakit itu,” jawab polisi yang gendut sambil melepaskan moncong pistolnya dari kepala Poki.
Kedua polisi itu meggiring Ciko keluar dari gua. Untuk yang terakhir kalinya, Ciko menoleh ke belakang, ingin melihat wajah Poki sekali lagi. Walau sedih harus berpisah, namun di dalamnya hatinya Ciko tidak menyesal, sebab setidaknya Poki selamat. Namun di saat ia menoleh, yang ia lihat adalah Poki yang berusaha berlari dengan kakinya yang masih terluka. Ia berusaha berlari ke arah Ciko. Ciko tersentak melihatnya. Apa yang ingin ia lakukan? Apakah ia ingin mencoba membebaskan Ciko dan melawan kedua polisi burung itu? Itu sangat berbahaya!
Poki akhirnya berhasil berada satu langkah di belakang Ciko, namun sepertinya kedua polisi tidak menyadarinya. Ia menarik pundak Ciko, berusaha membuat Ciko tetap menoleh. Ia melompat ke arah Ciko, dan dengan air mata yang masih mengalir di kedua pipinya ia langsung mencium bibir Ciko. Kedua polisi yang menyadari hal itu berusaha memisahkan mereka.
Poki akhirnya melepaskan Ciko yang tidak berdaya karena tangannya diborgol.
“Itu... ciuman pertamaku lho...,” ucap Poki sambil menunduk.
“Apa-apan sih?!!” Ciko yang baru menyadari apa yang terjadi langsung panik, ia bicara dengan suara keras, “...kamu harusnya tahu, hal yang tadi itu bisa aja bikin kamu tertu—.”
Hatsyiiii!!!
Sebuah suara bersin. Dan kali ini yang bersin adalah Poki.
Ciko terdiam. Ia menunduk lesu. Tanpa terasa air matanya mulai menetes. Kini, semuanya jadi percuma. Pada akhirnya ia tidak bisa menyelamatkan Poki.
“Maaf, Ciko. Mungkin... aku.... masih terlalu bodoh untuk mengerti jawabannya...,” ucap Poki sambil tetap menunduk.
“Kamu sengaja ya? Dasar..., kamu memang bodoh, Poki,” ucap Ciko sambil berusaha menahan tangis.
Kedua polisi itu saling berpandangan.
“Hmm... aku tidak tahu kalau virusnya menular secepat itu...,” ujar polisi kurus.
“Ya..., kudengar memang sangat mengerikan. Bisa terjangkit dalam beberapa detik...,” ucap polisi gemuk.
“Apakah kita aman- aman saja?” Tanya polisi kurus.
“Tentu. Selama kita memakai penutup mulut ini, sepertinya kita aman,” jawab polisi gemuk.
“Huuh...merepotkan sekali! Berarti kita harus membawa mereka berdua?” Si polisi kurus memasangkan satu borgol lagi di tangan Poki.
Polisi yang gemuk mengangguk tanda setuju. Mereka berempat kini berjalan ke arah pintu keluar dari gua, tanpa ada perlawanan dari kedua manusia itu, Ciko dan Poki hanya tertunduk bisu.
“Yah... apa boleh buat? Mungkin mereka berdua akan menganggap kita kejam..., tapi kau lihat sendiri kan? Penyakit ini memang ancaman bagi seluruh dunia. Kita harus segera memusnahkan mereka sebelum semakin banyak yang tertular,” gumam polisi yang gemuk sambil mengepakkan sayapnya saat mereka sudah tiba di luar.
mmm... mungkin perlu diperjelas di awal, itu orang atau ayam?
hehe... tapi lucu juga. dan selalu menarik jika kita coba menceritakan dunia alternatif. masalah muncul ketika kita coba memasukkan semua aspeknya ke dalam cerpen.
ada baiknya lebih fokus pada plot utamanya, dan itu langsung disampaikan sejak awal cerita.
tapi, bagaimanapun, gua suka bacanya...
...(elipsis)
Ah, aku enggak tahu ngomong apa...
Hmm, pasti menarik ya melihat primata berlarian tanpa busana...
Eh, bukan itu intinya, ya? Arh, menurutku, si ciko mestinya menjambak lepas masker-masker polisi itu dan menciumi mereka!