Read more (1731 words) Memang nasib manusia tak dapat ditebak. Sahabat kami Pendi yang ceria, senang berkelakar, mahir bermain drum, harus wafat di usianya yang ke-17.Teringat ketika kami begadang di rumah Abie, Pendi yang pada malam hari membuat berisik seluruh ayam warga satu kampung waktu itu dengan ciri khasnya yang dapat meniru suara ayam. “Peut, peut, petok-petok. Keook, keook !!” Pendi yang membangunkan dokter gigi tetanggaku waktu kepalaku bocor ketika bermain ayun-ayunan. “Gila lo Pen! Itu kan dokter gigi! Mana bisa bantu dia?!” Ujarku dengan panik saat itu. Tapi disitulah memang letak kelebihan dia yang disenangi oleh kami. Rasa solider dan setia kawan yang sangat tinggi sebagai anak SMU.
Ketika kami membicarakan musik, betapa sukanya dia oleh band yang bernama SKID ROW . Bahkan dia mengubah namanya menjadi Boland, dikarenakan dia sangat mengidolakan drummer dari SKID ROW yang bernama Rachel Boland . Lama setelah Pendi tiada, baru kutahu ternyata Rachel Boland bukanlah pemain drum, melainkan pemain bass di SKID ROW .
16 september, 1997
Mata yang memerah serta bibirnya yang tidak bisa berhenti bergetar , aku tahu betapa jengkel nya Pendi saat itu. Sudah cukup lama aku mengenal sikapnya yang seperti itu. Well, sebenarnya kita semua anak-anak satu basis Ciputat semua diliputi perasaan yang sama saat itu. Betapa tidak! Karena hari sebelumnya aku habis dipukuli oleh anak-anak sekolah lain. Dan yang paling tragisnya lagi, aku dipukuli ditempat biasa aku dan teman-teman kumpul sebelum berangkat sekolah.
“Dimana harga diri kalo gini caranya!” Sahut Capoenk saat itu memecah keheningan disaat pikiran kami menyesali keadaan. “Kenapa anak-anak pada diem aja sih!? Kalo kita lawan juga belum tentu kalah lagian juga!” Memang betul apa yang dibilang Capoenk saat itu. Apa boleh buat, yang terjadi sudah terjadi.
Bukan aku saja yang merasakannya, tetapi beberapa teman yang dekat dengan pendi juga bisa melihat dan merasakan ada perubahan pada dia hari itu. Pendi yang biasa ceria dan senang berkelakar dengan kami jadi begitu pendiam dan sesekali hanya tersenyum kecil yang terasa dipaksakan ketika beberapa anak mencoba bergurau dengannya. Pada jam istirahat sekolah, Pendi mengingatkan semua anak-anak yang biasa ikut tawuran sekolah untuk membalas perbuatan yang telah dilakukan oleh anak-anak sekolah lain itu. Gentar juga aku mendengar permintaannya saat itu. Masalahnya adalah kami anak-anak basis Ciputat berarti harus naik patas yang pergi kearah Jakarta. “Berapa sekolahan yang kita lewatin nanti nih ?” Pertama anak Thamrin yang mukulin Kamplenk kemaren, terus di perapatan PGA ada anak YPM, belom lagi anak borcild ntar di lampu merah Papilon.” keluh Doni.
Harus diakui memang mengerikan rute yang akan kami lalui nanti. Terutama saat nanti harus berhadapan dengan anak YPM di persimpangan PGA. Selain berhadapan dengan mereka, kami juga terpaksa harus berhadapan dengan warga yang memang tidak bisa dibilang suka dengan kami. Dan kalaupun nantinya kami terpaksa mundur karena kalah, kami harus lari sejauh 5 km untuk sampai di persimpangan Papilon. Dan kalau sedang sial akan menunggu anak Borcild disana.
17 September, 1997
Doa ku terkabul. Kemarin kami batal berangkat untuk membalas dendam. Dikarenakan Bapak Kepsek yang sudah mengantisipasi gelagat buruk anak-anak yang berkumpul ramai didepan sekolah. Lalu memaksa kami agar langsung pulang hari itu. Hari ini pun aku berharap emosi Pendi sudah reda. Tidak sesuai harapan, Pendi tetap berinisiatif untuk membalas dendam. Tak pelak lagi, aku dan beberapa teman yang ragu terpaksa harus menuruti permintaannya.
Memang sial tak dapat ditebak. Siangnya disaat kami kumpul lagi untuk berangkat sekolah, terjadi lagi hal yang membuat Pendi tambah geram. Beberapa anak sekolah yang menggunakan atribut-atribut Pelayaran mencoba mencari masalah dengan kami. Abie yang merasa tak dapat menerima perlakuan mereka, mencoba melawan. Habislah kami bertarung dengan tangan kosong melawan mereka. Disamping postur tubuh kami yang kalah jauh dengan anak-anak Pelayaran itu, kami pun kalah jumlah saat itu. Aku bisa mengerti kenapa Pendi tambah geram saat itu. Selain Pendi dan Abie kawan dekat, mereka memang berasal dari SMP yang sama. Yang tambah membuat hal ini semakin parah adalah Abie babak belur ketika kami bertarung dengan anak Pelayaran tersebut.
Pukul 17.30
“Bakal kejadian juga nih!” pikirku. Berbondong-bondong kami keluar sekolah dengan perasaan tegang. Sekitar 30 orang teman-temanku menaiki patas pertama yang penuh sesak dikarenakan jumlah kami yang cukup banyak. Aku yang ragu untuk berangkat, memilih untuk menaiki patas kedua yang akan tiba. Sepuluh menit berlalu. Tiba juga patas kedua yang akan membawa sekitar lebih dari 30 orang berangkat kearah Jakarta. Semakin tak menentu perasaanku saat itu.
Sepanjang perjalanan aku berusaha tertawa dengan teman-teman, mencoba menghilangkan perasaan takut, tegang dan khawatir yang terus menimpa diri ini. Tepat sepanjang mata memandang, terlihat patas pertama yang ditumpangi teman-temanku berhenti di tempat murid-murid YPM yang ramai berkumpul. Dari kejauhan dapat kulihat beberapa murid YPM merangsek maju dengan senjata tajam terhunus. Panas juga hatiku saat itu melihat teman-temanku yang bertarung didepan, melawan musuh yang terus mengalir dalam jumlah banyak seperti air. Tetapi tiba-tiba supir patas yang kami tumpangi membanting setir bus nya kekanan dan terus masuk kearah tol Pondok pinang yang baru selesai dibangun saat itu. “Sial lu pir!” Satu orang mulai memaki. Bahkan semua teman-temanku memaki sang supir patas yang berusaha menghindari tawuran ini.
Tidak dapat disalahkan memang, karena bagaimanapun juga minimal kaca-kaca bus yang dikemudikan si supir patas akan hancur kalau dia tetap mengikuti patas pertama yang ditumpangi teman-temanku di depan sana. Kami hanya dapat memandang dari jauh, walau tidak tampak jelas apa yang terjadi disana. Kami tahu bahwa teman-teman kami disana kalah dikarenakan jumlah lawan yang terlalu banyak. Setelah kami turun dari bus dan berjalan kaki kearah Lebak Bulus sambil khawatir menunggu kabar teman-teman kami yang terlibat tawuran tersebut, kami beristirahat sebentar. Karena terlalu lama, beberapa kawan ada yang memilih pulang. Dan akhirnya kami pun berpisah. Tinggal aku dan Emen yang tetap menunggu di Pasar Jumat malam itu.
“parah tuh!” si Pendi kena tadi!” Penjelasan salah satu kawan kami membuat hatiku berdegup kencang saat itu. “Terus gimana keadaannya?” Tanya emen. “gua kurang tau, tapi tadi dia diantar Abie ama Ipenk ke RS. Fatmawati!” Tanpa menuggu lama aku dan Emen segera berangkat ke RS. Fatmawati saat itu juga.
Sekitar pukul 19.30 kami tiba disana dan menemukan teman-teman kami yang tertunduk lemas. Dari kejauhan kudengar suara perempuan menangis. “itu ayu.” Pikirku. Mulai gelisah hatiku saat itu. Dan tiba-tiba dikagetkan aku oleh suara tangisan Ayu yang bertambah keras disertai tangisan teman-temanku yang lain.
“Pendi meninggal !!”
Mulai menangis sejadi-jadinya lah kami semua saat itu. Satu persatu polisi datang, lalu pihak media bergantian mewawancarai Ipenk dan yang lain malam itu. Jadilah tanggal 17 september 1997 menjadi hari yang sangat membawa duka yang dalam di hati kami semua. Satu teman baik kami telah merenggang nyawanya akibat tawuran sekolah.
Ipenk yang paling tidak dapat melupakan kejadian tersebut saat itu. Dialah orang yang berada didekat Pendi saat peristiwa tersebut terjadi. Dengan mulut bergetar Ipenk menjelaskan saat itu Pendi maju sendiri menghadapi lawan yang berjumlah banyak. “Begitu dia liat anak-anak dibelakangnya nggak ada, terus pendi lari ngejar bus kita yang terus jalan cepat.” Ujar Ipenk. “Sialnya, saat Pendi lari mengejar patas dan berusaha naik ke pintu depan, tangannya berhasil menggapai baju gua, Tapi kakinya gagal mendapat pijakan. Terus Pendi jatuh dengan Tangannya yang menarik keras baju gua sampe copot kancing-kancingnya!!” Lanjut Ipenk. Tak ayal lagi ban belakang bus patas yang dipenuhi oleh penumpang yang sangat banyak itu melindas tubuh Pendi yang terjatuh dalam posisi telungkup. “Terasa pak guncangannya dari dalam bus!” Beberapa orang teman-teman yang lain memberi penjelasan kepada Polisi saat itu.
18 September, 1997
Sekolah diliburkan satu hari. Untuk menghadiri pemakaman Almarhum Pendi. Terutama untuk kami anak-anak kelas dua. Untuk anak-anak seumuran kami yang biasanya selalu senang bercanda dan tertawa untuk hal-hal yang tidak jelas, saat itu kami semua diam membisu. Pedih rasanya melihat seorang sahabat yang masih muda harus dibaringkan di liang lahat. Tempat peristirahatannya yang terakhir. Menyaksikan wajah ibunda Almarhum yang terlihat tenanglah yang menambah rasa sakit ini. Walau bagaimanapun, kami tahu betapa sedihnya hati sang ibundanya saat itu. Pendi adalah putra satu-satunya didalam keluarganya. Harapan keluarga satu-satunya.
Hal inilah yang membuat kami semua terdiam membisu. Masing-masing berpikir. Andaikan aku atau salah seorang temanku yang berada di liang lahat tersebut. Bagaimana perasaan orang tua kami saat ini? Mati konyol diusia belia yang disebabkan oleh tawuran antar pelajar. Hanya untuk mempertahankan gengsi, harga diri semu atau hanya gejolak ego masa muda yang berakibat fatal.
Setahun kemudian
Keceriaan meliputi hati kami semua. Semua murid-murid seangkatan dinyatakan lulus. Walau banyak juga yang lulus dengan hasil NEM yang rendah, yang terpenting untuk kami semua adalah lulus. Seperti pada umumnya murid-murid SMU, kami merayakan kelulusan dengan mencoret-coret seragam sekolah kami. Setelah puas merayakan kelulusan disekolah, beberapa teman mengajak untuk merayakan kelulusan dengan mabuk-mabukan. Ada yang menyarankan untuk konvoi dan mencari-cari masalah dengan sekolah lain. Bahkan pula ada yang menyarankan untuk melakukan kedua hal tersebut.
Namun Abie menyarankan untuk melayat ke makam Almarhum Pendi. Dan berkunjung sebentar kerumah orangtua Almarhum. Langsung saja kami semua menyetujui saran Abie tersebut. Harus kuakui, aku menjadi takut untuk kembali ikut tawuran antar pelajar semenjak Almarhum Pendi menjadi korban. Bahkan aku yakin banyak diantara teman-temanku yang merasakan hal yang sama. Setelah semua sepakat, kami langsung menuju ke makam Almarhum Pendi.
Apa yang kami saksikan di makam Almarhum Pendi saat itu ternyata sangat mengejutkan kami. Makam beliau yang tidak terawat, nisan kayu hancur dimakan rayap dan gundukan tanah yang mulai amblas. Sambil menaburi bunga yang kami beli di pasar Ciputat dalam perjalanan kesini, kami semua tertunduk sedih. Bahkan beberapa teman yang sebelumnya terus tertawa-tawa karena mabuk, akhirnya menunduk terdiam begitu melihat kondisi makam sahabat kami yang menyedihkan.
Selesai mengunjungi makam, kami menyempatkan diri berkunjung kerumah orangtua Almarhum. Setelah bercakap-cakap dengan kedua orangtua Almarhum, kami berencana untuk menyisihkan sedikit uang kami untuk membantu memperbaiki makam Pendi yang telah rusak. Ya, paling tidak hanya itu yang dapat kami lakukan untuk membantu meringankan beban kedua orangtua Almarhum Pendi. Satu hal positif yang pernah kami lakukan bersama saat itu sebagai siswa pelajar SMU yang terkenal bukan karena prestasinya, melainkan terkenal dikarenakan reputasinya yang suka tawuran, mabuk-mabukan dan segala hal-hal negatif yang menjadi Trade mark sekolah kami saat itu.
Kehilangan seorang sahabat dekat, menjadi pelajaran buat yang lainnya. Selamat jalan Pendi. Sahabat, teman dan saudara kami yang telah mendahului kami.
Pendi Febrianto in memoriam 1980 - 1997
seddihhhhh.........
jdi pgen nangiss.
hikz...
masa-masa itu ya.. saiia masih anak kecil. hehehe :D
good story!
Cerita yang harus diambil hikmahnya...
uwwwhhh...
sedihnya,,,
moga2 anak2 muda yg lain lbh terkontrol emosinya dan bisa lebih bijak mengambil keputusan...
aq prihatin bgt bacanya...
Hahaha..., rangga seumuran ama aku!
Tragedi2 yang terjadi mirip sama, konflik2nya khas banget tahun itu....
jadi nangis nih... hiks
Sedih banget pak! Hiks hiks hiks....
semoga Pendi beristirahat dgn tenang...
numpang nimbun point yak buat resensi
especially Rain dart si panah hujan..
jgn sungkan dong ksh komen soal masalah teknisnya.. aku butuh bgt itu. biar bs diedit lg..
Thnx lho. ;)
hingga tak tegalah diriku berkomentar mengenai teknis..
tapi mau gimana lagi, udah terlanjur berloncatan nih teks2 dlm kepala..
beginiyh, kata guru B.I. saya, penggunaan "di" untuk menunjukkan tempat
penulisannya dipisahkan, sedangkan "di" merujuk kepada "predikat",
barulah disambung penulisannya..
lalu mengenai "merenggang nyawa", seharusnya "meregang"..
(terlepas dari itu semua)
suer.. daku merinding di kala membacanya... ingin menangis, takdir ternyata
bisa sekejam ini, ya?
(kebayang ngerinya, sebab daku merasakan pula menjadi ortunya)
daku juga anak tunggal, dan daku bisa membayangkan bagaimana sedihnya
perasaan ortunya kehilangan putra semata wayang... tragis.
(cara kepergiannyapun)
menyedihkan. tak kubayangkan sebelumnya. dirimu tahu ini tragis? mengapa
masih diposting jua? kan habislah air mataku untuk menangisi ini, ya..
(untungnya nggak nangis, saking keringnya kelenjar air mata ini)
ah sudahlah,,, diriku jadi makin tak enak nih buat komentar ini..
(makin merinding plus mencium bau2 aneh..)
hiks... *ngabuuuuuuuuuuuuuuurrrrr...........
oh ya, salam kenal....
bener-bener nyentuh banged bro and semoga temen ente ntu diterima disisi-Nya,,
Amieeeeennnn !!!
^_^
be a good boy bro !!^^
tragedi masa SMU yang... wuih, bikin merinding... untungnya gue gak pernah tuh ngalamin yang gitu gitu... *secara cupu, heuheu^___^
eh, lo angkatan 1997 yah.... wah, berarti udah tua dong lo^^ heuheu... pisss....
eh, eh, ada yang ngganjel nih di kalimat ini:
"Ketika kami membicarakan musik, betapa sukanya dia oleh band yang bernama SKID ROW. "
duh... kok ribet amet sih, gimana kalo jadi gini:
"ketika kami membicarakan musik, dia terlihat sangat antusias, terutama jika sudah membahas band favorit-nya: SKID ROW"
heuheu... itu sih secara gue ye...^^
tau deh yg udh jd sesepuh sombret amat comment ke gw bnyk2.. hehehe tp bagus siy biar gw jg tmbh bnyk.. =)
true story nih
gile...
terharu niiyh....
cerita yg menyentuh sekali.
saya kasih 10 deh utk mengenang Pendi. Semoga Pendi diterima disisi Tuhan.
Pengalaman ini harus dikabarkan pd semua org, agar tdk ada lg tawuran.
hmm....Untung gw dah lama lulus....lg juga sekolah lu emang terkenal "galak" sih....any way hidup basis ciputat !!!
bagus....bagus....bagus (n_n)
bagur bro
menggetarkan hati my bro *_*.
beruntung kau masih hidup saudaraku jadi kita bisa ketemu dan nge-jam bareng.
mudah2an saudara kita Pendi diterima di sisi-Nya.
menyentuh skali. yang penting, pelajaran itu janganlah dilupakan.
ini menyentuh banget, true story pula. betul-betul tragedi masa smu
cerita yang menyentuh sekali. kadang2 kita ngga sependapat sama takdir. tapi bagaimana pun kita harus menerimanya kan? oia, ada beberapa kesalahan di ejaan, tapi ngga begitu prinsipil ko. bagus.
rangga...kayanya gw tau deh ceritanya^^..secara anak ciputat juga..sedih euy..huks huks
sedih banget bang...
apa lagi kemasanya menambah tragis cerita...
cerita ini begitu hidup...sungguh mengharukan jika mengenang sahabat, semoga dia lebih tenang dari kita yang disini bro! saran saya paragraf pertama agak sedikit kurang enak..dibacanya...saya tidak tahu mungkin penataan kalimat..atau..idenya yang terlalu banyak...