Keluarga Ironik(2)

Sikap mayoritas anak Bapak dan Ibu Ndang Matyo kepada orang tuanya tak lepas dari perlakuan Pak Ndang berdua yang selama ini begitu memanjakan mereka dengan uang dan harta kekayaan yang berlimpah ruah. Mungkin terdengar klise, namun itulah kenyataan yang terjadi di keluarga Ndang Matyo. Hal itu dilatarbelakangi oleh masa lalu kelam Pak Ndang.

Ibunda Pak Ndang wafat tak berapa lama sehabis melahirkan dan sang ayah setengah menyalahkan anak kandungnya itu. Tak heran jika dia diberi nama ‘Ndang Matyo’ yang berarti ‘lekas matilah’. Sejak kecil Pak Ndang tak pernah tinggal bersama ayah kandungnya, yang menolak merawatnya. Dia dirawat bergantian oleh kakek neneknya, pakdenya, dan pakliknya. Bertahun-tahun kemudian, pemuda Ndang Matyo telah menjelma sebagai seorang pekerja keras yang sukses secara materi. Dia menikahi gadis yang dicintainya dan anak-anak pun menjadi bagian kebahagiaan barunya. Ibu Ndang pun seorang wanita karir yang sukses.

Pak Ndang tak ingin mengulangi sikap buruk ayah kandungnya kepada dirinya. Setelah pekerjaannya menghasilkan harta yang bertumpuk, tak pernah tanggung-tanggung Pak Ndang dan isterinya membagikannya kepada anak-anaknya. Pak Ndang percaya bahwa itulah yang akan membuat seluruh keluarganya bahagia. Kenyataannya, seluruh anaknya masing-masing sukses dalam bidangnya dan mengikuti jejaknya menjadi orang kaya.

Setelah beranjak tua, barulah Pak Ndang dan isterinya merasakan kehampaan tanpa perhatian anak-anak mereka, yang saat itu satu-persatu meninggalkan rumah karena telah menikah. Runi dan Ragil adalah yang terakhir meninggalkan rumah keluarga Ndang Matyo. Rita menikah mendahului kakaknya karena terpaksa, berhubung dia telah hamil dulu empat bulan. Beruntunglah Runi dan Ragil, beruntunglah pula kedua orang tua mereka yang akhirnya mendapat balasannya. Kedua anak tersebut mendapatkan lebih banyak curahan perhatian dan kasih sayang orang tua, yang tak melulu berupa harta kebendaan.
***

Wajah Eko Subondo berseri-seri di bawah sorotan kamera televisi dan jepretan kamera digital para wartawan. Mewakili perusahaannya, dia memberikan bantuan puluhan juta rupiah kepada korban gempa. Di belahan dunia yang lain, Dwi Suharto tengah berasyik masyuk di sebuah klub di pantai Pattaya. Sebelumnya, sejumlah buah tangan telah dibelinya untuk isteri dan anak-anaknya di rumah. Kebetulan dia tengah bertugas menerbangkan pesawat ke negeri gajah putih. Sang anggota dewan, Tri Adikuwoso sedang berkunjung ke sebuah panti asuhan dan berpetuah kepada anak-anak penghuni panti tersebut. Entah, apa dia tahu atau tidak makna petuah yang dibacanya.

“Meski kalian tidak tahu siapa orang tua kalian, juga di mana mereka berada kini, tapi kalian jangan lupa untuk mendoakan mereka senantiasa,” ujar Tri mantap. Tak jauh dari tempat itu, Rita bersama ibu-ibu teman arisannya pun tengah mengadakan bakti sosial ke sebuah panti jompo.

Sementara itu Ibu Ndang Matyo akhirnya diizinkan pulang setelah sempat dua pekan mondok di rumah sakit. Runi meminta ibunya untuk sementara tinggal dulu di rumahnya, hingga kesehatannya pulih benar nanti. Ibunya setuju dan Pak Ndang pun bersedia mendampingi isterinya di rumah anak keempatnya itu.

“Runi, Bapak ndak tahu mesti ngomong apa lagi sama kamu. Kamu dan adikmu Ragil sudah baik banget sama Bapak dan Ibumu, “ kata Pak Ndang.

“Bapak, yang namanya anak itu ya harus berbakti sama orang tuanya. Apa yang Runi lakukan itu ‘kan sekadar usaha Runi membalas kebaikan Bapak dan Ibu kepada kami,” sahut Runi.

“Iya, tapi mas-mas dan adikmu satu itu ndak bisa seperti kamu. Kenapa ya, dulu Bapak dan juga Ibumu ndak bisa mendidik mereka dengan bener, supaya bisa jadi anak yang berbakti,” sesal Pak Ndang.

“Sudahlah Pak, ‘kan masih ada saya dan Ragil. Lagipula saya percaya, sebetulnya Mas Eko, Mas Dwi, Mas Tri, dan juga Rita itu juga sangat menyayangi Bapak dan Ibu kok. Cuma mereka mungkin bingung mesti gimana caranya,” ucap Runi mencoba menenangkan hati bapaknya.

bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer brown
brown at Keluarga Ironik(2) (12 years 14 weeks ago)
60

bab ini blm banyak berbicara. masih terkesan aman2 saja. kuharap ada sst yg berbeda di bab 3 (bab terakhir ya?)

Writer eagle2401
eagle2401 at Keluarga Ironik(2) (12 years 24 weeks ago)
70

Gue demen banget cerita elu tapi sekaligus penasaran nih

Writer KD
KD at Keluarga Ironik(2) (12 years 24 weeks ago)
100

Karakter anak yang berbakti dimatiin satu aja, dan akhirnya yang lainnya sadar.
***************************
Bisa juga yang anggota dewan kena kasus korupsi sehingga teringat pada orang tuanya.