Read more (2697 words)
Gemuruh suara guntur terdengar bergejolak bagai air yang bergolak di atas tungku perapian. Angin bertiup semakin kuat, berhembus melewati kaca jendela yang pecah, menciptakan suara desiran yang menyeramkan. Di gedung olah raga ini. Tak lagi terdengar irama mendayu musik dansa. Tak lagi terdengar suara – suara riang para undangan yang bergembira. Tak ada lagi suara tawa serta senyuman yang tersungging di wajah mereka. Udara dalam ruangan ini terasa semakin dingin karena kesunyian mereka, para undangan yang mengunci tatapannya ke lantai atas. Ke tempat di mana sebuah kaca jendela pecah. Tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan kata – kata. Semua terdiam, terpaku melihat apa yang akan terjadi selanjutnya pada dua sosok, seorang lelaki berpakaian ksatria dan seorang perempuan berpakaian hitam memegang pedang besar, yang saling berhadapan satu sama lain.
Wahai darah murni yang suci . . .
Di sudut railing di tepi pelataran lantai dua, Claire mulai tersadar. Dengan berat, ia mencoba menggerakkan anggota tubuhnya dan mulai membuka matanya. Kepala yang pusing, tubuh yang berat dan rasa nyeri di sekujur tubuhnya menyambut kembali kesadarannya. Sesaat matanya telah terbuka lebar ia melihat dua orang, Eric dan Michelle, saling berhadapan. Diam, tak ada satupun dari mereka yang bergerak. Saling mengunci tatapan. Hanya dengan melihat saja, jantung Claire berdetak cepat, seakan hendak berhenti pada saat mereka mulai bergerak.
. . .Selimuti diriku dari dosa yang besar . . .
Michelle mempererat genggaman pada pedangnya. Ia mencoba memperlambat detak jantung yang berdetak sangat kencang. Pandangannya terkunci rapat pada sosok Eric. Hembusan napasnya kencang namun berirama. Ia tak boleh kehilangan konsentrasi walau sedetikpun, karena lengah sedikit saja maka nyawanya akan melayang. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai perkiraan. Ke manakah Eric akan menyerang? Ke atas? Ke samping? Atau gerakan lain yang tak terprediksi? Apapun yang terjadi yang pasti kekalahan bukanlah hasil dari pertarungan ini.
. . . Berikan aku kekuatan untuk melindungi manusia dari makhluk terkutuk.
Eric menatap tajam Michelle. Ia yakin dengan kekuatannya, ia mampu mengalahkan sang Valkyrie dengan sekejap. Berbagai macam keinginan terkumpul dalam pikiran lelaki itu. Ia tahu tujuan utamanya adalah mendapatkan Claire dan melahirkan generasi baru ras Chiroptera. Karena itu kemenangan adalah mutlak diraih demi penantian panjang yang telah ia lalui. Maka tekad itu tertanam kuat pada hatinya. Dengan menghunus cakar yang panjang dan tajam setajam silet, ia siap membunuh semua lawannya.
BLAAARRR
Seketika kilat halilintar menyambar bumi membelah udara. Menyelimuti semuanya dalam cahaya putih, menyilaukan semua mata yang menatap. Menggetarkan ruangan dengan suaranya yang menggelegar memekakkan telinga. Saat itulah Michelle dan Eric bergerak. Melesat kencang saling mengarahkan senjatanya masing – masing.
Sraattt
Diiringi hentakan suara para undangan yang terkejut, mereka memulai pertarungan.
***
Bagaikan sambaran halilintar, Michelle melesat menuju sosok Eric yang juga menghunus cakarnya. Setiap sang Valkyrie mengayunkan pedangnya yang besar dan berat, Eric selalu berhasil menghindar. Ia mengelak ke tempat yang tak jauh dari Michelle lalu mencoba menyerangnya dari sisi yang tak terlindungi. Sebaliknya, setiap gerakan yang berhasil dibaca Michelle, selalu ditangkis dengan sisi pedangnya yang tebal.
Trang trang
Tak jarang api terpercik dan suara berdentang keras terdengar ketika senjata mereka berbenturan. Tak ada dari mereka yang mengendurkan pertahanan. Keduanya ingin menang. Tak boleh membuat celah sedikitpun dan tak boleh melewatkan celah lawan sedikitpun, itulah yang ada dalam pikiran mereka.
Suara hembusan terdengar setiap kali senjata diayunkan membelah udara. Kecepatan mereka sangat luar biasa untuk ukuran manusia. Tidak, mereka memang bukan manusia. Mereka bergerak bagai kelebat angin badai melawan kelebat petir yang mengejar pucuk pohon.
Ruangan gedung ini menjadi arena pertempuran tertutup. Mereka sangat lincah melesat kesana kemari. Saling mencari posisi bertempur ideal dan mencari titik kelemahan masing – masing. Rasanya seluruh ruangan dikuasai oleh mereka tanpa sedikitpun yang terlewatkan dan tak ada jalan keluar untuk siapapun.
Claire dan para undangan tak kuasa memalingkan pandangan dari pertempuran mereka. Mata mereka terkunci pada sosok keduanya hingga secepat apapun pergerakannya, bola mata itu akan terus mengikutinya.Tak peduli terlambat, mereka akan terus mengejarnya. Gadis itu hampir lupa untuk bernapas setiap kali terjadi saat yang kritis dimana salah satu hampir terkena serangan fatal atau melintas tepat di dekatnya.
”Cuma ini kemampuanmu Valkyrie?” Eric berujar di sela – sela pertempuran dengan nada mengejek.”Bahkan ujung pedangmu belum menyentuhku sekalipun.”
”Oh ya?” Michelle membalas.”Cakarmu juga tumpul hingga tak mampu memotong sehelai rambutku.”
Pertarungan mereka semakin dahsyat bagai dua badai yang saling berbenturan. Semua orang yang melihatnya terpaku, takjub dan terkesima hingga tak satupun kata terucap. Hingga kemudian dua petarung melompat tinggi, melayang di atas mereka.
Keduanya menumpu kaki pada plafon gedung, menciptakan efek pegas untuk meluncur dengan kecepatan tinggi. Mereka menukikkan diri mengarah pada masing – masing lawannya, menghentakkan kaki, meluncurkan tubuh mereka secepat burung elang yang menyambar tikus di tanah.
CRAASHH
Semua mata terbelalak, semua napas tertahan tepat saat keduanya beradu. Kejadian itu begitu cepat, sangat cepat hingga saat mereka menyadari, kedua pertarung itu sudah mendarat di lantai dua, saling membelakangi dengan senjata telah terayun. Claire, para undangan, tak ada satupun dari mereka yang melihat apa yang terjadi tepat pada saat mereka beradu. Siapakah yang terkena serangan? Eric? Michelle? Keduanya? Atau bukan keduanya?
Tes
Butir – butir darah menetes dari tempat Eric mendarat. Sebuah luka sayatan panjang merobek dada lelaki itu dari kiri ke kanan. Rupanya serangan Michelle mengenainya. Serta merta ia jatuh berlutut, meringis.
Michelle berbalik ke arahnya.
”Seranganku masuk telak. Ternyata kau tidak sekuat yang kubayangkan.”
Semua pandangan kini tertuju pada Michelle yang berpeluang memenangkan pertarungan. Kasak kusuk pun mulai terdengar di antara para tamu. Berbagai ocehan dan gumaman mengudara.
Michelle berjalan perlahan mendekati Eric yang terlihat tak berdaya. Sambil mengangkat pedang, ia mendeklarasikan kemenangan dalam bahasa Jerman.
“Wurfel, sie verdamten tier! (Matilah kau, makhluk terkutuk!)”
Lalu ia mengayunkan pedang Claymore ke tubuh Eric. Dengan ini berakhirlah misi Michelle.
BRAAANGG
Sang Valkyrie melihat pada ujung pedangnya dan menemukan Eric menghilang.
“Ha ha ha ha!”
Ketika semua menganggap pertarungan telah selesai, terdengar suara orang tertawa. Michelle terkejut, suara itu adalah suara Eric.
”Bagaimana bisa?Aku yakin aku telah menebasnya.”
”Kau sama bodohnya dengan valkyrie lain.”
Suara Eric terdengar lagi. Saat Michelle mengangkat kepala, ia menemukan Eric berdiri tegap di hadapannya. Ia tampak bugar seperti tak terluka sedikitpun, padahal di dadanya luka sayatan itu jelas terlihat menganga.
”K-kau?” Michelle seakan tak percaya apa yang dia lihat.
”Aku adalah Nosferatu, bukan makhluk rendahan yang selama ini mudah kau bunuh.” sambung Eric.”Kau tidak akan bisa melukaiku karena kau tidak dapat melihat ”garis”ku”
Sesaat Michelle teringat sesuatu. Ia menyadari bahwa ”garis” yang dimaksud adalah ”garis retakan” yang jadi kelemahan chiroptera, dan hanya seseorang yang memiliki ”Eye of vortex”lah yang mampu melakukannya.
”Dengan kata lain.” lanjut Eric seiring luka di dadanya berangsur – angur menutup kembali. ”Seranganmu tak mempan bagiku.”
CRASSHH
Tiba – tiba pakaian Michelle terkoyak dan berbagai luka terkuak. Luka - luka itu adalah akumulasi dari serangan – serangan Eric yang berhasil mengenai tubuhnya.
”Akh!”
Michelle batuk darah. Hampir sekujur tubuhnya mengalami pendarahan. Kekuatannya hilang seketika. Sang Valkyrie ambruk. Pedangnya terlepas dari genggamannya.
”Nah.”
Eric berbalik pada Claire yang dirundung ketakutan yang amat sangat. Saking ketakutannya ia tak mampu menggerakkan tubuhnya. Ia tak bisa melakukan apa – apa kecuali meringsut mundur seiring lelaki itu berjalan mendekatinya. Eric sang pangeran ksatria tampan telah hilang digantikan oleh monster jahat.
“Tolong, kumohon. Jangan dekati aku.” Claire menjerit dengan suara yang tidak terlalu keras. Sementara para undangan lain tak ada yang berani mendekat karena dilanda ketakutan.
”Nona Claire.” Eric menghentikan langkahnya. ”Aku tak bisa bersembunyi lagi. Kau telah melihat diriku yang sebenarnya.”
Sejenak Claire terdiam atas kata – kata sopan dari Eric. Ia kemudian melihatnya mendekap dirinya sendiri.
”Akan kuperlihatkan wujudku yang sebenarnya.”
Lelaki itu mulai meringis. Menahan sesuatu yang dahsyat yang timbul dari dalam dirinya. Sesuatu terjadi pada tubuhnya. Urat – urat di sekujur tubuhnya menonjol dan bertambah besar, begitu juga otot lengan, kaki, leher dan anggota tubuh yang lain. Badan utama Eric membesar dan merobek pakaian zirah yang dikenakannya. Warna kulitnya berubah menjadi abu – abu gelap. Dari kedua belikat punggungnya sepasang tulang yang panjang muncul, mencuat menembus kulit dari dalam. Jari – jari tangannya memanjang begitu juga dengan cakarnya
”GGGRRRAAAAAA!”
Eric menggeram, kekuatan yang muncul semakin dahsyat. Garis – garis wajahnya terlihat semakin jelas menonjol. Taring – taring tajam bermunculan dari mulutnya. Bola matanya berubah menjadi merah membara. Daun telinganya meruncing.
Claire dan seluruh undangan terbalalak takjub dan menahan napas melihatnya. Dari sepasang tulang yang mencuat di punggung Eric, mengembang tulang – tulang yang lebih kecil sejajar dan di sela – selanya terdapat selaput kulit hitam berlapis tebal yang menghubungkan tulang satu dengan lainnya kemudian membentangkannya seperti sayap kelelawar raksasa.
Sesaat kemudian Eric menenangkan diri. Ia berhenti meringis tetapi ia tidak tampak seperti sesosok Eric sebelumnya. Ia bertransformasi menjadi Nosferatu yang sesungguhnya, Pemimpin Chiroptera. Yang terkuat di antara sesamanya.
Claire masih menahan napas. Ia tak percaya apa yang ia lihat. Seseorang yang dulunya manusia berubah menjadi monster tepat di depan matanya. Ia sangat ketakutan sekaligus takjub. Gadis itu berharap ini semua adalah mimpi dan ingin segera terbangun darinya. Sayangnya kenyataan tidaklah seperti apa yang ia harapkan.
Sementara itu, perubahan wujud Eric membuat para undangan takut. Mereka mulai menjerit panik. Teriakkan mereka terdengar jelas oleh Nosferatu dan ia bereaksi.
”Tak akan kubiarkan.”
Iblis itu menyeringai. Walau tidak menghilangkan wajah manusia seluruhnya, tetapi ia berubah menjadi makhluk menyeramkan.
”KHRIEEE!”
Nosferatu berteriak dengan suara melengking. Orang – orang yang panik itu terdiam sejenak. Sesuatu yang aneh terjadi. Berbagai macam suara lengkingan terdengar menyambut teriakan itu dalam jumlah yang banyak dari luar gedung. Perasaan yang tidak enak melingkupi udara di ruangan ini. Sepertinya sesuatu yang mengerikan dan banyak akan datang.
BRANG BRANG BRANG
Tiba – tiba seluruh kaca jendela yang ada di gedung itu pecah dan pecahan kacanya menimpa orang – orang yang berada di bawahnya. Bersamaan dengan itu, puluhan ekor chiroptera merangsek masuk dari jendela tersebut bagai kawanan kelelawar yang masuk ke dalam mulut gua. Dengan nafsu membunuh dan rasa lapar mereka memburu, mengincar sekelompok manusia - manusia yang tak berdaya di hadapan mereka. Yaitu para undangan yang ketakutan.
***
“Tolong, tolong aku!”
“Ayah, ibu, aku mau pulang!”
”Tidak! Jangan!”
Teriakan, jeritan histeris membahana seketika setelah para chirotera berhasil memasuki bagian dalam gedung. Keadaan menjadi sangat kacau. Mereka berlari terbirit – birit menuju pada satu – satunya pintu akses masuk-keluar gedung olah raga. Mereka panik, berlarian tak terkendali, saling berdesakkan. Ketika salah satu dari mereka terjatuh maka ia adalah sasaran empuk chiroptera.
Seorang remaja wanita terlepas dari tangan kekasihnya lalu terjatuh. Seekor chiroptera melihatnya. Segera monster itu menyambar wanita tak berdaya tersebut. Di depan mata kekasihnya, wanita itu dicabik-cabik dan dagingnya dilahap hidup – hidup. Darah mulai menggenangi lantai.
Di tempat lain, seorang remaja terpisah dari kerumunan dan dikepung oleh beberapa chiroptera. Ia tidak mempunyai jalan keluar lagi. Seluruh bagian tubuhnya kemudian ditarik oleh masing - masing chiroptera hingga terpisah dari badannya.
Sementara itu, mereka yang berhasil mencapai pintu, terkejut ketika menyadari pintu tak bisa terbuka. Terkunci di dalam. Kepanikan mereka semakin menjadi – jadi. Tak ada yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini kecuali menggedor – gedor pintu dan berteriak sekeras – kerasnya. Satu per satu mereka menjadi santapan para chiroptera. Darahpun bermuncratan menutupi dekorasi indah dinding ruangan.
”Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Di salah satu sudut. Acie terlihat panik dan bingung. Di depannya berserakan potongan – potongan tubuh manusia. Beberapa chiroptera duduk melahap tubuh mayat – mayat tersebut sedangkan yang lain terbang berputar – putar di atas kerumunan orang kemudian menyambar mereka satu per satu.. Pemandangan ini menyerupai adegan burung laut yang mencari mangsa di antara sekumpulan ikan sardin dalam film dokumenter. Dari sini Acie menyadari bahwa belum satupun dari mereka menyadari keberadaannya.
Ya tuhan. Tolonglah hambamu ini. Selamatkan diriku ya Tuhan. Engkaulah Maha Pelindung . . .
Acie mengendap – endap menuju locker siswa kemudian mengunci diri di sana. Dari kisi – kisi pintu locker, ia melihat pemandangan yang sangat miris. Orang – orang yang berkerumun itu semakin sedikit. Makhluk itu membuatnya terpencar bagai semut yang dirusak sarangnya kemudian satu per satu, ia membantai mereka. Sebuah pesta dansa berubah menjadi adengan pembantaian masal. Di dalam locker yang gelap ia hanya bisa berharap tak menjadi salah satu dari mereka.
Drap
Tiba – tiba bulu kuduk Acie berdiri tegang. Ia mendengar geraman dan langkah kaki. Gadis itu merasakan salah satu dari Chiroptera berada di dekatnya dan mungkin sedang mencarinya.
Oh tidak, Ya Tuhan, tolong lindungilah aku . . .
Mata Acie terbelalak, lehernya terkunci, tangan tak dapat digerakkan, jantung berdetak kencang dan suaranya terdengar keras. Acie sangat ketakutan. Ia berusaha untuk menghilangkan tanda – tanda kehadirannya sebisa mungkin, bahkan hembusan napas sekalipun.
Grr. . .shh. .
Makhluk itu semakin dekat. Geraman dan dengusan napasnya semakin terdengar. Acie dilanda ketakutan yang amat sangat. Giginya gemertak, napasnya tersenggal, dan sesuatu yang hangat membasahi celananya. Ingin rasanya semua ini segera berakhir namun kenyataannya tidak secepat itu. Chiroptera tersebut terlihat dari kisi – kisi pintu. Acie bisa melihat wajahnya yang mengerikan. Di mulutnya terlihat darah yang berceceran dan potongan usus manusia yang tersangkut di sela – sela gigi.
Grr. . kriee
Acie mencoba memalingkan pandangannya ke atas. Apapun yang terjadi, ia hanya bisa pasrah. Tetapi suara makhluk itu semakin mengecil. Keberadaannya terasa semakin menjauh. Mungkin makhluk itu telah pergi karena ia tak terlihat lagi dari kisi – kisi.
Acie menghembuskan napas lega. Ia menenangkan diri. Setidaknya ia telah lepas dari kejaran makhluk buruk itu. Iapun mendekatkan diri ke pintu untuk melihat situasi dari kisi – kisi.
Zleb
Tiba – tiba ia merasakan perasaan aneh dari perutnya. Rasanya seperti sesuatu sedang memegang isi perutnya dan rasanya hangat. Sekonyong – konyong ia menoleh ke bawah dan menemukan dua lengan besar menembus pintu locker dan menusuk perutnya. Iapun histeris.
”KYAAAA!”
Chiroptera yang berada di dekatnya ternyata menyadari keberadaannya. Ia menarik keluar Acie dengan tangannya yang tertancap di perut. Kemudian dengan tenaga yang dahsyat, ia merobek tubuh gadis itu menjadi dua bagian hingga seluruh isi tubuhnya berhamburan ke lantai.
***
Potongan otak, ginjal, gumpalan usus, lambung, dan jantung berserakan di lantai dansa yang telah dibanjiri oleh lautan darah merah. Puluhan manusia tak berdosa terbantai, termutilasi oleh makhluk – makhluk yang terkutuk. Jeritan, teriakan, rintihan serta erangan meraka mewarnai pesta dansa yang sangat kelam ini. Malam kegembiraan berubah menjadi malam tragis.
“Makanlah sepuas kalian! Bantai manusia – manusia sebanyak – banyaknya!” Nosferatu berteriak menyemangati anak bauahnya. ”Kita para Chiroptera adalah makhluk yang terkuat. Habisi semua manusia di bumi ini!”
Sementara itu, Claire terduduk menggenggam erat besi railing. Mulutnya mengatup – ngatup, air mata tumpah dari matanya yang memerah. Tak satupun kata terucap dari mulutnya. Di bawah sana adalah pemandangan yang amat mengerikan, memiris hati, merusak hati nurani dan pikiran. Pemandangan dimana manusia bagai hewan ternak yang dimangsa kawanan serigala buas. Atau mungkin lebih dari itu.
Sreett
Samar – samar gadis itu mendengar sesuatu. Seperti suara besi yang diseret ke lantai. Saat ia menoleh ke arah suara itu bersumber, ia melihat Michelle bangkit.
Dengan sisa kekuatannya, valkyrie mencoba berdiri kembali. Menggunakan pedang sebagai tumpuan, ia bersusah payah mengangkat tubuhnya yang terluka parah. Badannya gemetar. Terlihat jelas di wajahnya ia meringis, menahan rasa sakit yang ia terima sejak serangan terakhir itu.
Nosferatu menyadarinya, ia berbalik ke arahnya dengan pandangan sinis.
”Rupanya kau masih hidup, Valkyrie.”
Perlahan tetapi pasti, Michelle bangkit berdiri. Napasnya terengah – engah. Tubuhnya terasa berat.
”Lihatlah ke bawah.” Nosferatu merujuk pada lantai dasar yang menjadi ladang pembantaian. ”Inilah bukti bahwa kau tak bisa melindungi mereka. Tak satu nyawapun. Bahkan kau hampir kehilangan nyawamu sendiri.”
”Jahanam!” teriak Michelle. ”Kubunuh kau!”
Nosferatu menggeleng – gelengkan kepala.
”Sayang sekali. Aku sudah bosan melayanimu. Lihat dirimu, bahkan untuk berdiri saja kau kesulitan.”
Michelle menggeram penuh amarah. Tapi apa yang dikatakan iblis itu benar. Ia sudah hampir kehabisan kekuatan. Rasanya hampir tak mungkin untuk bertarung lagi.
”Maaf, kami sedang ingin berdua saja.” Lanjut nosferatu. “Kamu bermain sajalah dengan anak buahku di bawah sana.”
Iblis itu menjentikkan jari. Seketika seekor chiroptera menyeruak dari bawah. Secepat kilat ia menyambar Michelle dan menariknya ke lantai dasar tanpa sempat menyadarinya.
”Tidaakkk!”
Claire berteriak sesaat setelah valkyrie itu menghilang dari pandangannya. Kegaduhan membahana di lantai bawah. Sepertinya makhluk – makhluk itu mendapat mangsa baru untuk diperebutkan.
Selesai sudah. Tak ada harapan lagi bagi Claire untuk selamat. Bahkan ponsel pun tidak dapat digunakan sejak Signal Blocker dinyalakan. Ia hanya tertunduk lesu. Tak ada lagi yang dapat ia lakukan. Tak ada yang menyangka festival ini akan berakhir sangat tragis.
Nosferatu menyeringai. Kemenangan telah didapatnya. Penantian selama beratus – ratus tahun usai sudah. Ia akan menjelma sebagai makhluk terkuat di dunia dan melahirkan generasi baru chiroptera. Tawa kemenangan menyeruak ke udara seiring turunnya hujan dan petir yang menyambar. Tawa dari seorang iblis yang mengerikan, membuat merinding semua yang mendengarkannya.
Fajar kegelapan akan terbit bagi umat manusia di dunia.
--E n d (Alternate version)--
following the "True Ending" path --> To be continue. . .
Wew, what a hard scene
Ini adalah alternate ending dari Altered Blood. Sekarang aku ingin tahu pendapat pembaca sekalian
*Puaskah anda jika cerita ini tamat sampai di sini ?
Jika jawaban anda adalah tidak puas , VQ sudah mempunyai outline untuk kelanjutan cerita ini hingga True Ending.
Thx for reading. Remember to review and rate it ^_^
bisa gua bayangin adegannya dengan jelas.
what a bloody scene!
yeah, salut juga atas keberanianmu, vq. walaupun sering adegan yang lebih berdarah muncul di kepala gua, biasanya gua gak pernah kuat menulisnya sampe sedetil ini.
so, technically, it's well written.
soal ending, hyaaah... jelas gak puas lah...
bukannya gak boleh kok akhirnya adalah sesuatu yang gelap kayak gini. dalam beberapa cerita, memang ending begini yang justru cocok.
hanya saja, di sini agak tidak sesuai dengan plot cerita yang telah dibangun sebelumnya. setelah sebelumnya berbagai macam karakter dibangun, dan berakhir begini, para pembaca pasti melongo, "what?! you just destroy it like this? all of it? you cheat!"
heheh... jadi, mari kita lihat versi ending yang lainnya.
but again, excellent work, btw.
Enggak ada yang nolongin Claire, garing, basi, bagian tentang Acie-nya sama sekali enggak penting. Intinya selain darah daging dsb, ga ada sesuatu yang bikin kepala berputar dan menahan nafas.
Saya percaya bung vq sebenernya bisa bikin bad ending yang lebih mengesankan. Alurnya juga sebenarnya masih bisa dibikin lebih menegangkan lagi.
ayo lanjut viq...deg2an kok bacanya^^
VQ, dalam segi penulisan aku puji kamu. Aku suka banget sama adegan pertarungannya. Itu baru oke! Deskripsinya pas banget! Enggak ada deskripsi yang enggak perlu seperti siapa menebas siapa lalu siapa menghindar lalu siapa menusuk..(cape deeeh).
Dalam segi cerita, aku enggak ada komentar. Itu hak absolut kamu mengakhiri cerita seperti apa. Eniwey, endingnya sangat bergaya anime yach. I like it. No sweet ending rocks!
Btw, aku pengen baca ending versi lainnya. Diposting dooonk
Fly Again. Guys, comments, please ^^
amazing,,,brilliant,,,oh my God!
kalau end nya di sini. bad moves. wokeh, mari baca yang ngga alternate