Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini

Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini
Teks. Edo Wallad

Tidak ada linangan air mata, tidak pula jerit menyesal. Aku hanya bisa terhenyak. Dua hari yang lalu tes HIV metode Elisa menyatakan aku negatif. sedangkan Dokter Didi spesialis penyakit dalam yang menanganiku, yakin bahwa aku sudah positif. Gejalanya jelas. TBC yang menyerang paru-paruku, jamur di lidah, dan Toxo. Malahan kata Ditya, orang yang sudah terinfeksi 3 macam penyakit itu sudah dibilang AIDS. Karena kebanyakan kasus, mereka hanya dapat menginfeksi orang dengan daya tahan tubuh yang sangat lemah.

Seperti aku.

Akhirnya metode western blot, metode yang lebih detail, menyatakan aku positif. Dan malam itu aku habiskan dengan memikirkan siapa yang menularkanku.

Aku memang junky suntik, Pengguna Napza Suntik atau Penasun, singkatan resmi dari pemerintah bagi para pemakai injection drug. Tapi itu dulu kala kuliah semester awal hingga akhir. Dan terakhir kali aku menyuntikan putau ke dalam tubuhku adalah 7 tahun yang lalu.

‘HIV positif memang tidak menunjukan ciri-ciri khusus, itu yang berbahaya. Dan ketika kita tersadar dan daya tahan tubuh drop sampai ke titik batasnya, infeksi-infeksi sudah menyerang tanpa ampun. Itulah masa AIDS. Seperti yang kamu alami sekarang.’

Terang Dokter Didi.

‘Jangan dipikirin siapa yang nularin, Ju, gak ada habisnya.’

Aku teringat kata Ditya teman kuliah yang juga terjangkit HIV.

Malam berikutnya aku habiskan dengan memikirkan siapa yang mungkin saja aku tularkan. Ah… nama Cempaka, Nadya, Tika, Putri, DJ dan Ana berseliweran di kepalaku. Dan adzan Subuh yang menyambut pagi baru menyadarkan aku kalau tidur tidak mampir ke tubuh lunglaiku malam itu. Sedangkan kata Dokter Didi, istirahat yang cukup dan makan yang banyak serta sehat adalah yang aku paling butuhkan.

*****

Akhirnya tes CD4 atau satuan yang menyatakan jumlah daya imun tubuhku keluar. Dan angka yang terpacak disana hanya 7. Sedangkan orang normal itu bisa berkisar antara 600-1200.

Aku sekarat.

*****

Sejak itu aku hidup dalam kenangan. Masa kini adalah kenyataan yang meninju-ninju lek-lekan di ujung tenggorok. Membuatku tak bisa bersuara. Aku membayangkan wajah Ana ketika mereka mengetahui hal ini. Apakah ia akan membenciku? Apakah ia ikut terinfeksi? Apakah ia masih menyayangiku sebesar kemarin? Dan aku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti selaik aku disayangi Ana. Aku benar-benar mencintai Ana. Begitu dalam cintaku pada dia. Bahkan aku bisa mengabaikan kepentingan terpentingku hanya untuk melihat dia melekukkan senyum yang indah itu. Dan itu adalah kurva terindah yang pernah mataku saksikan. Apalagi kalau dibandingkan apa yang digambarkan guru matematika SMA se-Indonesia.

Ana, oh Ana…

*****

Esoknya Ana yang baru megandung dua bulan menyusulku ke Rumah Sakit Carolus. Memang aku merahasiakan rasa sakitku selama ini darinya. Tapi akhirnya dia tahu juga akan hal ini karena pihak Rumah Sakit menghubunginya.

‘Aku sudah tahu semua Ju dari Dokter Didi. Kita hadapin sama-sama ya sayang’

Aku hanya bisa menangis tak bersuara di pangkuan Ana.

Toxo yang bersarang di otak kiriku mengakibatkan separuh tubuhku yaitu bagian kanan lumpuh total. Bahkan MAC bakteri yang umum ada di tubuh manusia telah aktif dan berbahaya berkembang biak di seluruh tubuhku. CMV virus yang menggangu mata dan lebih dikenal dengan virus sitomegalia juga mulai mengganggu penglihatanku.

Ana terlihat sangat kuat menghadapi semua ini. bahkan ia langsung ikut terapi VCT sebuah terapi konseling sebelum tes HIV.

Kemudian atas rekomendasi Ditya, aku di pindah ke Rumah Sakit Dharmais Jakarta. Di sana ada Profesor yang memang khusus menangani HIV dan AIDS. Dan Ditya mempercayakan rekam mediknya pada Profesor dan berkonsultasi tiap bulan.

*****

Dulu pertama kali aku menggunakan jarum suntik aku terkenal sangat bersih diantara teman-teman pemakaiku. Bahkan untuk mencampur putau itu aku menggunakan aquabides, cairan yang memang diperuntukan untuk mencampur obat suntik. Sementara teman-temanku cuek menggunakan air mineral seadanya.

Begitu juga masalah jarum suntik 1 mililiter yang kupakai. Aku tidak pernah bertukar dengan kawan. Tiga kali ia menyucuk vena-ku, segera kuganti dengan syringe baru. Tapi itu awal-awal saja. Lama kelamaan aku menjadi pengguna jarum suntik yang sangat jorok. Bahkan aku berani menggunakan air mentah untuk mencampur heroin kelas teri itu dalam insulin yang kupinjam dari temanku sang bandar.

Ya, saat-saat terakhir aku sudah berani pinjam jarum dengan sembarang orang. Bahkan dengan bandar yang baru kukenal. Ketika rasa menagih yang diiringi rasa sakit tak karuan itu datang, aku tak peduli lagi.

Aku pernah mendengar AIDS. Tapi tidak pernah terpikir akan terjangkit.

*****

Prof. Gunawan bilang aku masih bisa sembuh. Bila aku masih menyimpan semangatku. Begitu katanya pada Ana yang terdengar telingaku, yang berpura-pura tertidur. Toxo dapat diobati dengan klindamisin dan pirimetamin selama satu setengah bulan.Dan penggunaan rifampin dan isoniazid selama enam bulan akan memberantas bakteri penyebab TBC yang bersarang di paru-paruku.

Sedangkan azitromisin dan rifampin adalah kombinasi antibiotik bisa aktif juga pada MAC. Maka sebelum aku memulai terapi ARV alias obat anti retroviral Prof. akan membabat habis bakteri penyebab infeksi. Untuk CMV Prof. Gunawan memasukan obat antibiotiknya melalui infus selama beberapa minggu. Dan apabila CMV telah hilang dan aku sudah memulai ARV. Dia akan sesegera mungkin mencabut semua resepnya yang banyak itu, belum lagi flukonazol untuk mengobati jamur di mulutku yang menyebabkan aku sulit makan. Kehilangan rasa dan sulit menelan.

Prof. Gunawan mengingatkan Ana, efek samping yang kualami dengan banyak obat ini cukup tinggi beresiko. Menggangu pendengaran dan mual-mual adalah dua hal yang pasti aku alami. Juga ruam dan gatal. Ini sangat tipikal pada penderita infeksi-infeksi yang berdaya tahan tubuh lemah.

Saat itu aku masih bisa mendengar semua omongan Prof. Gunawan.

‘Aku tidak ingin mati hari ini Prof!’

Prof. Gunawan dan Ana menatapku bersamaan. Mereka melihat kilatan semangat di mataku. Tiba-tiba Prof. Gunawan seperti mendapatkan energi baru.

‘Semangat Ju, itu yang mau saya lihat dari kamu. Dan cuma itu yang kamu butuhkan yang lainnya kita serahkan pada Tuhan dan keajaiban medis, oke?’

Ana menghampiriku dan membelai rambutku dengan reflek keibuan. Lalu dia mencium dahiku.

‘Jagoan saya punya seluruh semangatnya untuk berperang dengan semua penyakit ini, Prof!’

*****

Enam bulan itu aku lewati dengan penuh penderitaan. Pendengaranku hanya tinggal 30% ruam dan gatal juga mengakibatkan kulitku seperti budug tak karuan. Namun perlahan semua penyakit itu berangsur sembuh. Aku sudah mulai bisa menggunakan tangan kananku dengan lincah. Ini terbukti dengan aku sudah bisa menanda tangani urusan kertas tanpa harus menunggu Ana yang harus bolak-balik rumah dan rumah sakit disaat hamil tua.

Aku sedih kalau melihat Ana. Tapi dia berkata aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Itu akan memperlambat proses kesembuhanku.

Hari itu Ana membawa berita gembira. Dengan metode western blot dokter bisa memastikan bahwa dia negatif dari HIV. Begitu juga janin yang di bawa Ana. Sejauh ini Dokter Iman, ginekolog yang menangani Ana belum melihat kelainan pada rahim istriku. Dan bila Tuhan mengijinkan Ana akan melahirkan putra pertamaku bulan depan di rumah sakit ini juga.

Aku sangat gembira hari itu dan aku makan semua makanan bawaan Ana dengan lahap. Dari USG dilihat bahwa anakku adalah laki-laki. Aku segera menyiapkan nama Rasheed Leman untuknya. Terinspirasi sang forward Detroit Pistons Rasheed Wallace.

*****

Rasheed lahir dengan selamat. Begitu juga Ana. Pendengaranku sudah kembali 80%. Begitu juga hasil rontgent memperlihatkan kemajuan yang hebat di paru-paruku. Toxoku sudah sembuh total. Begitu juga MAC dan CMV. Dan jamur di lidah terkikis habis. Kini Prof. Gunawan meresepkan kotrimoxazol untuk mencegah infeksi-infeksi itu kembali menyerangku.

Aku merasa mendapatkan kesempatan hidup yang ke-dua.

Prof Gunawan memberitahukan bahwa aku beruntung bisa mendeteksi dini toxo sehingga hampir bisa dibilang toxo sudah tidak menyisakan apa-apa selain tanda tangan buruk di cek ketika aku harus menandatangani itu untuk urusan pembayaran Rumah Sakitku. Kini aku adalah pasien rawat jalan. Prof. Gunawan juga berkata bahwa aku tidak terjangkit wasting AIDS. Yang mengakibatkan beratku bisa hilang drastis, dan tidak bisa menyerap gizi dengan baik.

*****

Aku sudah bisa memulai pengobatan ARV-ku karena infeksi paru sudah sembuh total.
Pendengaranku juga sudah pulih 100%. Prof. Gunawan mencabut semua resepnya dan memberikan Duviral serta Nevirapine sebagai kombinasi ARV pertamaku. Aku sangat bahagia. Aku merasa sangat di sayang Tuhan.

*****

Duviral atau gabungan AZT dan 3TC mengakibatkan aku anemia. Hb-ku turun hingga 9 mepet. Dan Nevirapine mengakibatkan gatal dan ruam dan gatal yang luar biasa. Kini Prof. Gunawan meresepkan Lamivudine, Stavudine, dan Efavirenz. Efavirenz mengakibatkan hal semacam mabuk alias ‘tinggi’ pada badanku. Seperti meminum 10 pil prozac secara bersamaan. Dan aku menikmati hal itu demi alasan kesehatan. Hahaha. Dan Prof. Gunawan meminta aku mengabaikan dulu pengobatan untuk Hepatitis C-ku. Karena efek dari Hepatitis akan terasa paling cepat 20 tahun lagi. Dan yang terpenting sekarang adalah untuk tetap bertahan hidup.

*****

Kini aku telah hidup selama dua tahun dengan AIDS. Rasheed telah berkembang menjadi balita yang sehat. Dan aku mendapatkan kembali pekerjaanku sebagai jurnalis di surat kabar besar. Aku tidak pernah merasa lebih hidup seperti sekarang.

Dan aku tidak ingin mati hari ini.

Ciawi, 24 Desember 2006

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer alone1break
alone1break at Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini (9 years 12 weeks ago)
100

terlalu banyak obat yang membuat kita skip-skip membaca nya.. overaLL, itu adalah bagian dari cerita dimana saya sebagai pembaca ingin sangat penasaran untuk mengetahui apa yang terjadi berikutnya... sampai akhir.. hebat..

100

Ironi saya baca ini.
begitu besar perjuangan anda untuk terus bertahan hidup. sementara saya mati-matian mencari cara untuk mati.
haha. perlunya saya bersyukur atas nafas yang Dia berikan untuk saya.
lam kenal,kak..

Writer justammi
justammi at Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini (10 years 3 weeks ago)
90

ikut ngasi point aja :D

Writer danang
danang at Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini (10 years 14 weeks ago)

detailnya bagus, tapi utk sastra detail berlebih malah merusak alur.

Writer v1vald1
v1vald1 at Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini (12 years 16 weeks ago)
50

Edukatif apa show off edo? Kamu seolah mo nampilin laporan kasus atau jurnal medis, sedang kamu tidak kompeten tuk melakukan itu. Aku pikir tuk edukasi tidak perlu kamu show off menyebutkan detil nama2 obat. Ya buat awam kesannya canggih, tapi buat yang dah biasa kan jadi aneh. Apa kepentingannya disebut2? Padahal tanpa unsur show off; latar kamu yang memang mengklaim ahli bidang aids, memang akan sangat mendukung sebuah tulisan educable.

Writer cahayarembulan
cahayarembulan at Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini (12 years 24 weeks ago)
60

Mmm... kayak baca tulisan kisah nyata / otobiografi. Cerpen ini kurang ramuan.

Writer KD
KD at Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini (12 years 25 weeks ago)
100

Nilai sepuluh ini untuk riset Anda sebelum menulis

Writer BTU
BTU at Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini (12 years 25 weeks ago)
40

kaya Eragon digabung sama skripsi anak komunikasi massa. Sekuen yang terlalu cepat dan banjir informasi. Disponsorin sama depkes ya?

Writer edowallad
edowallad at Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini (12 years 25 weeks ago)

kan saya memang menjadikan cerpen ini sebagai pencerahan.
supaya orang-orang mantan penasun dan terkena HIV tidak patah semangat. harus edukatif. makanya saya tag di iptek.
biar orang tahu dan mengerti..
kalau mas griffin dan ratih merasa begitu, justru bisa menangkap maksud saya

Writer ratihsugarzels
ratihsugarzels at Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini (12 years 25 weeks ago)
60

i'm sorry, super hero favoritku. kali ini F_Griffin benar. where is ur dramatic touch?
where is the passion of juan dan ana serta Fahrenheitmu yang eksotis?

Writer F_Griffin
F_Griffin at Aku Tidak Ingin Mati Hari Ini (12 years 25 weeks ago)
60

Tapi narasinya jadi hilang. Ini seperti skrip yang dibuat murni untuk keperluan iklan layanan masyarakat. Terlalu banyak informasi, terlalu sempit ruangnya.