Perawan Pantai

Pure Shores

Teks. Edo Wallad

Pulau Bintan, memerlukan tiga perempat jam dari kota Tanjung Pinang supaya aku bisa dengan leluasa bercinta dengan pantai perawannya. Dulu aku di besarkan di kepulauan Riau ini. Dan beberapa hari ini aku bisa mendengar Bintan memanggil-manggilku dari kejauhan.

Dan demi mengusir segala kepenatan aku turuti panggilan itu dan segera berangkat dengan Kapal PELNI pertama yang lewat ke sana. Sepanjang perjalanan kemarin, laut cina selatan tidak mengamuk. Ketenangannya membawa sedikit ketenangan pula padaku hari ini. Semoga bukan laut saja yang bersahabat, tapi pantai-pantai tenang Riau yang sudah ada di dalm kepalaku berminggu-minggu.

Pekerjaanku sebagai kolomnis memungkinkan aku melakukan ini. Coba dulu, aku ke Bali hanya kalau ada pekerjaan. Liburan adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk Managing Editor yang memiliki Chief Editor yang sakit-sakitan seperti bosku. Sekarang kapanpun dan kemanapun aku mau, aku bisa mewujudkan liburanku dengan satu tekad kecil dan kartu kredit di saku.

Aku sudah book satu buah resort untuk seminggu pertama. Sebuah resort ala Maldives yang bikin aku mengkhayal seandainya aku masih bersama Ana. Pasti kami akan bercinta siang dan malam. Sayang Ana sekarang adalah tinggal kenangan, dan cuma kenangan yang kami masing-masing bisa tawarkan. Dan siapakah yang mau hidup dalam kenangan? Aku saja yang sentimentil akhirnya tersadar kalau itu hanya menghambat roda takdirku untuk berjalan lebih cepat. Kini Ana adalah kenangan. Ana juga kepenatan. Salah satu alasan aku pergi menyeberang lautan untuk menghapus sedikit kenangannya yang terus menempel.

Tadinya aku ingin memilih Uluwatu sebagai tujuan penghapus kepenatan dan pergi berlibur. Tapi aku, Ana, dan Bali adalah tiga hal yang punya kenangan hebat. Sehebat pantai selatan yang mengamuk karena sang Ratu PMS. Makanya akhirnya aku memilih Pulau Bintan. Pantainya yang tenang mungkin akan membantu aku menenangkan diri dan melupakan Ana. Aku benar-benar ingin melupakan Ana.

Tapi apa yang aku lakukan? Sejak tadi aku hanya bercerita tentang dia. Dan sejak tadi aku hanya memikirkan dia. Oh, Ana. Sungguh, aku merindukanmu. Aku merindukan menyentuh segala lekuk tubuhmu yang kuhapal mati, dan bercumbu menghapus semua kebencian yang sudah terlanjur tertanam ini. Benci, benar-benar cinta.

*****

Hari pertama di Bintan, aku belum bisa berpisah dengan Macbook-ku. Aku masih tenggelam dengan email-email lama Ana yang sangat mesra. Berikut adalah salah satu petikkan email-nya yang aku terus pandangi bila rindu sudah tak tertahan, sambil memandang fotonya bersama Ringo, anjing Golden Retriever-nya yang gede-gede dongo. Ringo juga bau tak ketulungan, maklum anjing jenis dia memang memiliki bulu dan kulit sensitif, salah makan sedikit akan mengakibatkan wangi tak sedap memenuhi ruangan kamar Ana. Tapi Ana dan Ringo sudah tak terpisahkan, Ringo adalah juga kenangan Ana pada almarhum ayahnya. Ana percaya Ringo ada untuk mengganti ayahnya dan menjaga Ana. Menjaga apa? Apa yang bisa dilakukan Retriever sedongo dia?

Oh ya, kembali ke email Ana untukku.

To: Juanda Leman
Subject: Juan, sang penjaga kemang selatan, sekaligus penjaga hatiku.

Juan, tadi aku buat puisi mudah-mudahan kamu suka. Agak-agak Shel sih gayanya, tapi gimana? Aku memang cuma bisa style begituan.

Juan the South Kemang Gatekeeper

Juan is my guardian.

He has eyes that can crash everything he want just by look at it

But Juan never did that such thing.

He’s a good hearted

Juan is the South Kemang gatekeeper

And Juan is the guardian of my soul

I love you, Juan

Lalu di attachment itu dia sertakan sebuah coret-coretan di buku sketsanya.seorang kurus berbaju zirah yang katanya adalah gambarku. Alamak, apa yang aku lakukan? Aku kembali tenggelam dalam kenangan lama kami. mungkin sebaiknya ku delete saja email ini.

Tapi aku tak melakukan itu. Aku terlalu mencintai Ana untuk melakukan hal seperti itu. He’s a good hearted. Itu selalu membayang dalam hati Juan setiap ia ingin pergi tidur.

Aku dan Ana harus berpisah. Karena sebuah alasan klasik. Perbedaan keyakinan. Klasik tapi sangat mendasar. Aku dan Ana bukan tipe alim, tapi kami masing-masing sudah nyaman dengan keyakinan kami. Justru itu yang sulit. Karena kami tidak mau terlalu memikirkan hal begituan, seperti orang atheis yang sangat memikirkan agama sampai mereka memilih tidak memilih agama. Ana dan aku bukan atheis. Kami cuma tak peduli dosa. Saat kami bersama, dosa adalah konsep yang tidak pernah eksis. Yang ada hanya cinta. Ah, aku melantur lagi.

*****

Kuputuskan membawa Bagombo Snuff Box-ku, sebuah kumpulan cerpen karya Kurt Vonnegut, dan pergi berjemur ke luar. Sedikit menyesal aku membawa Macbook-ku yang kuberi nama iMo. iMo telah membuang waktu liburanku sekitar tujuh jam sejak aku bangun pagi tadi. Aku harus menikmati liburan ini, tekadku dalam hati.

Aku baru saja memasuki cerita The No-talent Kid alias cerita kelima ketika seorang gadis cantik menghampiriku.

‘It’s a good book!

But you have to read Slaughterhouse Five. It’s Kurt’s masterpiece.’

Aku cuma bisa mengangguk-angguk. Lalu dia menyodorkan tangan-nya

‘Krita Dawson. I’m half Thai and half Scottish. But you can call me Anna. It’s my middle name. And back there in Edinburgh, people would have difficulties to spell out Krita in the right way.’

Kali ini anggukanku diikuti ketakjuban luar biasa. Anna kembali hadir di hadapanku. Dalam kemasan Indo yang sangat indah dipandang mata.

‘Juan Leman.’

Kataku sambil menerima sodoran tangannya.

‘Wow, a J.L. in initial. Like John Lennon. My all time heroes. Can I sunbathing here beside you? I need a friend to talk. I really like to talk, you know. And you seem to be a good hearted person, J.L. can I call you J.L.?’

Kali ini anggukanku diikuti ketakjuban yang lebih luar biasa. Apa semua Anna menganggapku ‘good hearted’?

Lalu Krita mulai mendongeng dan bercerita kalau ayahnya adalah seorang diplomat asal Scotland, sedangkan sang ibu adalah putri Thailand dari selir Raja yang ke-8. Dia adalah cucu Raja. Dan kini ia berada disampingku mengelanturkan topik panjang lebar tentang Irvine Welsh penulis Scottish kebanggaannya, pengarang Trainspotting. Aku tidak terlalu mengabaikan kenigratannya. Nama Anna dan kata-kata ‘good hearted’ lebih memesonaku. Seperti mata abu-abu Anna yang memukau.

Anna ke sini dalam rangka libur musim panas. Kakeknya sang Raja memberikan dia yacht yang berlabuh di kepulauan Riau sementara ini. Anna berlibur sendirian. Tanpa ayah dan ibunya yang kini sedang ada di Bangkok. Sambil ditemani punggawa kerajaan yang mengawal Anna selama ada di Asia Tenggara. Seorang perempuan bernama Veda, keturunan India yang sudah mengabdi di Kerajaan Gajah Putih semenjak lahir. Veda juga pengasuh Anna. Dan seorang tentara kerajaan bernama Hukit, suami Veda.

Anna lalu mengajakku berlayar ke Batam esok pagi. Dia bilang kita tidak perlu menginap. Karena sore besok kita sudah kembali ke Pulau Bintan, begitu janjinya. Akhirnya aku menerima ajakannya yang tek terelakkan itu. Dan aku memang tidak pernah berusaha untuk mengelak. Aku sudah suka sekali pada Anna, walau dia baru 16 cara berpikirnya sangat dewasa. Mungkin ini adalah pengaruh didikan bule. Dan kita Melayu sangat tertinggal di urusan pendidikan pada mereka.

Kita berangkat pukul 05.30 pagi. Sampai di Batam pukul 07.00. Lalu kita makan seafood di Batu Besar. Dan setelah Anna membeli beberapa peralatan elektronik di Nagoya untuk oleh-oleh teman katanya. Dia membeli 5 flash disk 1GB keluaran Sony yang dilengkapi dengan semacam winzip yang bisa mengkompresi data hingga bisa muat 4GB.

Hukit menyusul kita berdua dan berkata bahwa cuaca di laut tidak bersahabat untuk dilayarkan. Aku memandang Anna yang secara bersamaan juga memandangku.

‘Sorry J.L.’

‘Nevermind…’

Jawabku perlahan. Kalah dengan kekuatan mata Anna yang cantik dan abu-abu.

Kita tidak menginap atau menyewa hotel. Yacht Anna memiliki dua kamar yang berfasilitas bak kamar hotel bintang lima. Dan kita bisa menginap di sana tanpa gangguan badai atau petugas imigrasi karena yacht itu bersandar di Waterfront City, yang sangat tenang.

Anna membeli sebotol anggur putih sparkling buatan tahun 1998 dieksport dari Australia untuk di yacht. Dia membutuhkan itu untuk tidur nyenyak katanya. Karena dia sering kesulitan tidur bila harus menginap di yacht.

*****

Ini adalah gelas ke tujuh Anna. Sparkling wine memang lebih memabukkan. Kini pipinya sudah kemerahan dan dia mulai gelendotan di bahuku.

‘J.L. I’m so drunk ya?’

Aku tertawa kecil.

‘Me too, Anna.’

Aku memang juga sudah mabuk. Aku tidak ingin Anna menghabiskan sebotol wine itu sendirian. Bisa-bisa aku yang berabe kalau Anna mabuk total. Jadi setiap gelas yang Anna minum, akupun minum segelas.

Anna makin manja gelendotan di bahuku.

‘You smell good J.L. Fahrenheit isn’t it?’

Aku menatap Anna dengan tatapan yang setengah menerawang. Begitu juga Anna, tatapannya sudah semakin aneh. Dan aku menikmati mata polosnya yang abu-abu indah itu.

Aku mengangguk.

‘And you Anna, isn’t it Angel for men? I really like woman who sprays men perfume. It’s a major turn on.’

‘You think I’m already a woman J.L.?’

‘I think being adult and grown up is not about your age Anna. To me, It’s the way of thinking.

And I think you’re having that thought more than 21 years old Indonesian who like Shel Silverstein. Maybe it’s your reference.’

‘Who is 21 years old who like Shel?’

‘Don’t bother it Anna.’

Lalu kita berciuman dengan panas, diiringi lagu Pure Shores dari All Saints. Yang mengalun dari iMo Sesaat aku serasa menjadi Leonardo Di Caprio. Dan Anna adalah Virginia Le Doyen. Malam itu Anna memberikan perawannya padaku. Yah, entahlah. Mungkin pantai dan anggur sparkling 1998 buatan Australia telah membuat dia berani melakukan itu dengan aku. A stranger yang baru ia kenal 30 jam-an lalu.

*****

Paginya aku kembali membuka email puisi dari Ana. Dan kini tanpa ragu, aku memencet tombol delete yang ada di sana.

Anna, the King’s granddaughter has stolen my heart.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer missel02
missel02 at Perawan Pantai (10 years 25 weeks ago)
60

Puanjang...sekali.....

Writer v1vald1
v1vald1 at Perawan Pantai (12 years 16 weeks ago)
70

Genre edo banget cerita ini. Banyak "iklan" yang juga sering dilakonin Edo. Kurang tau juga, kenapa "lapar ego" Edo ada di situ? (Mau naik kelas, Do?;)
---
Tapi kisah Edowalad memang cantik; selalunya cantik dengan khas maskulinitasnya.

Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at Perawan Pantai (12 years 24 weeks ago)
50

Ana, dan eksplorasi kala melihat tarian Ana, tarian ketika ia bercinta. Yah tarian, kau telah kehilangan ia menari dalam aopa saja. Di pantai perawan, atau di dalam selimut tebal, kala dingin Ac menusuk tulang.
Sip deh

Writer KD
KD at Perawan Pantai (12 years 25 weeks ago)
100

kaya pengalaman sendiri aja ya nulisnya

Writer edowallad
edowallad at Perawan Pantai (12 years 25 weeks ago)

namanya juga fiksi bang griffin
bebas aja kali...
natr kalo terlalu akurat dibilang mengumbar referensi...
bebas sebebas anda mengomentari karya saya...
mengenai juan dan ana i'm just so lazy making new names...

Writer ratihsugarzels
ratihsugarzels at Perawan Pantai (12 years 25 weeks ago)
70

ana. juan. dan FAHRENHEIT
yang ini published dengan nama pena apa?
u like sex huh ;)?

Writer F_Griffin
F_Griffin at Perawan Pantai (12 years 25 weeks ago)
50

hmm... had those...
bir Bintang inebriated me faster than those sparkling wines.
And I never heard of a 16 yr old Scotts-Thai who would be let by parents to go to Indonesia alone, esp when it's a girl, a royal family of Thai nevertheless, despite of the several men the sized of a water buffalo travelling with her as bodyguards.

Writer miranti alamanda
miranti alamanda at Perawan Pantai (12 years 25 weeks ago)
50

Virginia Le Doyen atau Le Doyan? heheh jgn marah ya Do, cm becanda. Di ending cerita ini spt ada yg berhenti mendadak. Spt lagu kenceng yg tiba2 fade out. Itu mnrt g loh. Tapi ok kok. Kebetulan ketika baca ini g lagi dengerin lagu raggae yg ok bgt. Jd nge-flow ama setting Bali yg lo ceritain di awal. Trus pas di yacht, gimana kalo dikasih 'soundtrack' lagunya Spandau Ballet yg True. Kan asyik tuh, berasa charlie's angels getoh. Udah gitu nyambung pake lagunya Tony Bennet yg "The Way You Look Tonight". Di akhir banget, sambungin lagi deh ama koleksi biola klasik yg menyayat. Kan jd smooth, ga kyk dipotong tiba2. Itu menurut g loh