Siang ini begitu panas. Matahari seolah-olah ingin menghanguskan, meluluh lantahkan bumi. Kuseka peluh yang membasahi pelipisku. Ya Tuhan..!!kirimkanlah sedikit saja angin yang semilir. Aaahh...seandainya saja tadi ada yang menjemputku seperti biasanya. Kemana mereka hari ini ? Chandra? Seno? Rasky? Rachel? Aduh..kemana kalian? Eits..jangan mikir yang bukan-bukan dulu, mereka itu teman sekomplekku. Tapi aku menganggap mereka seperti kakakku sendiri karena mereka memang lebih tua dariku. Meski begitu aku bukan yang terkecil lho, masih ada Tia, dia juga adik kelasku di SMA.
Good, sis...
Coba paragraf awalnya lebih di atur lagi. Kalo bisa satu paragraf untuk satu dialog. Di bagian awal dialognya "aku" sama "temannya" masih di campur-campur. Bagian lainnya juga. pasti lebih sip...
---------
Alurnya lebih baik dan mengalir daripada sebelumnya sis. Sekarang tinggal kamu tata cara penulisannya, dialognya dan paragraf supaya pembaca lebih bisa menikmati cerpen ini.
Misal, tiap paragraf dan dialog dipisahkan.
Begitu juga dialog sama paragraf deskripsi. Oke?
Keep writing, sis.. kita belajar sama-sama.
Yang ingin nengok tempat saya dipersilahkan.. www.kemudian.com/user/yosi_hsn
aduh kenapa bersambung sih? penasaran deh ik. ceritanya enak dibaca, mengalir. kl boleh saran, tinggal masalah teknis yang dikit kok, seperti penggunaan kata secara, tanda baca, dan pemenggalan kalimat majemuk. ayo ayo mana sambungannya. hehehehe gak sabaran. mantap. salam kenal ya
Kemudian dia berdiri. Kembali mengamati rumah besar di hadapannya. Rumah besar yang sederhana, menurutnya. Karena warna cat yang dipakai didominasi ol ... lanjut baca
Seharian ini awan merasa mual. Dia merasa ada yang bergejolak di dalam perutnya. Berulang kali dia mencoba menyendawakan petir. Memberitahukan pada se ... lanjut baca
Setiap hari aku berkendara
Berbekal asa penguat raga
Mengunjungimu di rumah maya
Penuh harap aku bertandang
Ku ketuk pintu dan jendela
Tak ada ... lanjut baca
“Jadi kita sama-sama setuju, ya Mas?” ucap Om Darmono pada Bapakku.
“Iya, tanggal 25 Januari ya? Iya tho, Pram?” sahut Bapak padaku dan memb ... lanjut baca
Pagi ini, aku melihatnya lagi setelah enam bulan lamanya tak ada kabar. Sore itu dia hanya tersenyum sambil berlalu di depanku. Aku berusaha mengejarn ... lanjut baca
Sore itu Agil ikut kakaknya, Risha, berbelanja ke Swalayan. Risha yang tergabung dalam panitia perlombaan HUT RI ke 63 mendapat tugas untuk berbelanja ... lanjut baca
“Jadi kamu benar-benar akan pergi?” Tanya Bos pagi itu.
“Iya, Bos “ Jawab gadis itu singkat.
Gadis itu telah membulatkan tekadnya untuk be ... lanjut baca
“Bisa nggak sih kamu datang tepat waktu?” tanya gadis itu pada laki-laki yang baru saja masuk.
“Maaf, mbak, tadi saya…”
“Apa? Karena tad ... lanjut baca
Aku tahu ini salah
Aku tahu ini tak benar
Tapi aku tak bisa menyangkal
Bahwa hatiku telah tertambat
Pada hati yang tidak tepat
Dia,
Yang tak m ... lanjut baca
“Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan???” tanyaku ketika kami telah berada di ujung koridor.
Kudengar tarikan nafas berat tertahan. Kupastika ... lanjut baca
Lukman siswa kelas XII SMA, anak tunggal di sebuah keluarga sederhana. Di rumah, ia tinggal bersama Ayah seorang karyawan biasa sebuah perusahaan dan ... lanjut baca
Aku ingat tatkala kamu kehabisan napas saat mencumbuku,
di balik karang itu.
Waktu itu, tenangnya air asin,
menggulirkan deru pekat.
Bergetar, ter ... lanjut baca
Apakah gerangan yang terjadi sehingga
dewi malam seakan enggan
menampakkan diri ?
Mengapa ia memilih bersembunyi
di balik sepercik awan malam in ... lanjut baca
Terik hari ini buat peluh melenguh kesuh
Sejatinya matahari sedang tak hemat
Panasnya nyengat melabelkan kesumat
Bukan lagi hangat
Kerongkongan ... lanjut baca
Siang ini begitu panas. Tidak seperti siang-siang sebelumnya. Bau rumput yang terpanggang sinar matahari dan bunyi serangga musim panas mengusik tidur ... lanjut baca
Begitu banyak uang receh di jalanan. Makanya, jangan salahkan aku kalau hari ini aku mau mengamen. Meski aku bangun agak siang, tapi aku yakin kalau j ... lanjut baca
Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Sesekali ia berhenti membaca novel yang ia genggam dikedua tangannya di atas tempat tidur, tengk ... lanjut baca
Suara itu menggelegar bagai halilintar yang menghujam bumi. Seakan menjebol gendang telingaku. Tak ada satupun suara yang kudengar selain suara yang m ... lanjut baca
jadi penasaran,,
bisa bikin orang menduga-duga kemana ceritanya bakal lanjut..
cara penulisannya juga bagus..
penceritaannya ngga berbelit2 itu yang kkusuka. langsung masuk kedalam cerita
Mengalir dan menarik.
Oh ya, ada beberapa huruf yang masih salah tuh..
Nice, Sist
keren...
cepet ya sambungan na dah ga sabar nih
Wih, apik iki. Sip. Sinetron remaja. Ajari aku yo, hehe.
ini udah di edit, kasih comment lagi yach. Saya bingung kok formatnya yang kemaren bisa kayak gitu yach????
*garuk2 kepala...*
idealis banget sih dalam penulisannya hahaha
Good, sis...
Coba paragraf awalnya lebih di atur lagi. Kalo bisa satu paragraf untuk satu dialog. Di bagian awal dialognya "aku" sama "temannya" masih di campur-campur. Bagian lainnya juga. pasti lebih sip...
---------
Alurnya lebih baik dan mengalir daripada sebelumnya sis. Sekarang tinggal kamu tata cara penulisannya, dialognya dan paragraf supaya pembaca lebih bisa menikmati cerpen ini.
Misal, tiap paragraf dan dialog dipisahkan.
Begitu juga dialog sama paragraf deskripsi. Oke?
Keep writing, sis.. kita belajar sama-sama.
Yang ingin nengok tempat saya dipersilahkan..
www.kemudian.com/user/yosi_hsn
keren banget, bisa membawa suasana para pembaca!!!
Bagus banget, jadi pengen ngebuat cerita kayak gini, hehehe!
Peace man!
aduh kenapa bersambung sih? penasaran deh ik. ceritanya enak dibaca, mengalir. kl boleh saran, tinggal masalah teknis yang dikit kok, seperti penggunaan kata secara, tanda baca, dan pemenggalan kalimat majemuk. ayo ayo mana sambungannya. hehehehe gak sabaran. mantap. salam kenal ya