Jamur Bulan

Aku tahu kamupun juga, dari semua musim sepanjang tahun, musim inilah yang paling kita tunggu dan kita suka. Saat angin bertiup dari barat ke timur beiring dengan hujan yang datang tidak terlalu deras. Bunga-bunga dari pohon-pohon yang tidak berbau ikut gugur bersama angin sebagai sebuah tanda adanya seleksi secara alamiah. Musim ini akan datang sebentar saja sebagai penanda mulainya musim sesungguhnya; musim hujan. Saat inilah masa-masa dimana aku dan kamu sering bersama, mengembara berdua mencari jamur-jamur di pematang sawah, atau di ladang-ladang bertanah merah.

“Beranikah kamu menerjang angin?” Tanyamu masih dalam nada lembut seperti halnya saat perjumpaan pertama.
“Iya tentu! sudah terbiasa bukan, kamu saja perempuan berani apalagi aku.”

Kita mulai langkahkan kaki menerobos cuaca yang tidak menentu, sebab memang saat inilah yang sudah kita tunggu sepanjang waktu, dimana aku akan mendampingimu dan kamu disampingku. Aku akan merasa dekat dengan keberadaanmu seiring dengan langkah-langkah kecil menerobos rintik air yang datang semakin kuat bersama angin.

“Tahun lalu di tempat inilah jamur bulan itu berada,” katamu ketika kita sampai pada tanah merah yang cukup sempit di antara dahan-dahan liar yang tumbuh tanpa aturan. Disampingnya terdapat sebuah batu besar seukuran lima kali tubuh kita berdua. Batu yang diapit oleh dua pohon tua, satu pohon telah lapuk tetapi tetap berdiri tegak, sedangkan pohon yang satunya masih berdaun hijau segar, seakan menyambut musim hujan yang akan memuaskan hausnya kala kemarau. Tahun ini jamur bulan tidak lagi muncul di tempat ini. Kamu masih saja menunduk, aku menyimpulkan itu sebagai sebuah kesedihan, dan akupun masih bertanya mengapa jamur bulan tidak muncul tahun ini.

Tahun-tahun sebelumnya, di musim yang sama, kita selalu susuri jalan setapak yang kita temukan berdua. Kita merahasiakannnya dari orang-orang lain. Tentu agar tidak satupun orang tahu jalan ini. Jalan yang belum selesai tetapi telah berujung tempat ini. Tempat dimana kita selalu temukan sebuah jamur bulan setiap musimnya. Jamur yang selalu tumbuh sendiri saja. Kamu menyebutnya sebagai perlambang kemandirian, tetapi aku menyebutnya kesendirian. Jamur itu tidak seperti jamur terucuk yang hidup berkelompok seperti bintang-bintang di suatu malam. Tetapi hampir semua pemuda dan pemudi seperti kita hanya mendamba jamur bulan. Sebab meskipun berdiri sendiri jamur yang berukuran besar berwarna putih seperti bulan itu memberikan rasa dan sensasi sendiri saat menemukannya. Kemudian adalah rasa yang nikmat setelah jamur itu bercampur dengan merica dan garam di penggorengan. Apalagi jika adalah tangan kita berdua yang mengaduknya menjadi layu, bercampur dan matang.

Wajahmu menampakkan raut yang dalam, hingga tak terbaca seakan tak percaya bahwa inilah tempat yang dahulu, hanya tetap saja aku tak tahu pasti perasaannmu, sebab selama ini aku selalu menaruhmu diposisi yang lebih tinggi dari aku sendiri. Maka aku tak peduli apa yang yang hati terdalamku rasakan, aku hanya peduli pada apa yang kamu rasakan.

Begitulah caraku mencintaimu, perempuan, menempatkan kamu di hati yang paling dalam dan memberikan mahkota diantara akal-akalku. Tentu saja, sebab kamu adalah permaisuri sekaligus bidadari. Keduanya adalah wakil kenyataan dan juga mimpi yang mengisi seluruh jiwa laki-laki.

“Benarkah ini tempat yang kita tandai tahun yang lalu?” tanyamu.
“Iya, aku yakin! Lihatlah ini tanda yang kita buat tahun lalu!”

Sebuah tanda tidak berwarna tanpa tulisan yang dikenal manusia manapun sepanjang masa tertera diatas batu besar itu. Maka lebih tepatnya tanda itu bisa disebut sebagai sebuah simbol. Aku yang membuatnya setahun yang lalu diatas batu. Tidak hanya dengan tenaga kupahat simbol itu tetapi juga dengan tuangan rasa dari energi yang datang begitu saja dengan sukarela, sebab aku merasa mengenalmu.

Bukankah persahabatan selalu datang dengan sukarela. Tanpa menuntut tapi bisa tumbuh menjadi tanaman cinta yang tak terkendali ataupun dikendalikan. Tak ada yang salah bukan!?

Apalagi kamu sangat bahagia ketika itu dan kamu menyambutnya tanpa berontak dan malah memberikan balasan-balasan yang lebih dahsyat dari sewajarnya. Sejak itulah semua tujuan kita seakan menjadi satu termasuk mencari-cari jamur bulan dambaan semua makluk bumi. Disinilah kita menemukannya dan kita memberi tanda seperti sebuah monumen sepanjang masa bahwa tahun-tahun yang akan datang akan selalu ada jamur bulan disini, milik kita bedua saja. Iya hanya berdua.

Mulutmu meracau, berlogika, berteori tenang hilangnya jamur bulan di hadapanku. Kamupun mencoba meramu cerita yang paling lembut, meski masih meragukan.Dan kamu juga mulai bertanya-tanya tentang kebenaran yang tidak akan ada makluk manapun bisa memberikan jawaban. Seakan telah hilang semua keyakinan bahwa kebenaran hanya bisa dicari sepanjang waktu berdampingan dengan sebuah kepercayaan. Meskipun tetap saja aku masih belum mengerti kebenaran mana yang kamu maksudkan.

“Marilah kita cari di tempat yang lain!”

Aku laki-laki masih ingin mencari di tempat yang lain, barangkali di sana akan kita temukan jamur bulan lain. Kamupun melangkah ragu dengan wajah yang mulai menampakkan kekusutan, membisu, seakan ingin bertanya ataukah ingin menjawab, tidaklah jelas tertulis di wajahmu. Tanda wajah yang akhir-akhir ini sering aku lihat, meskipun jika aku bertanya, kamu akan tersenyum dan berkata bahwa tidak ada hal yang istimewa terjadi.

“Sayang!, percayalah didepan sana akan ada jamur bulan yang lebih besar, tetapi aku butuh kamu untuk menenamiku.”

Aku meyakinkan, kamu masih saja tak berkata apa-apa, padahal biasanya kamu paling ceria dimusim ini. Aku sudah menggunakan segala cara untuk meyakinkan kamu bahwa mungkin saja di depan sana akan kita temukan. Meskipun aku sendiri tahu tak satupun manusia yang tahu dimanakah tepatnya jamur itu akan tumbuh, sebelum kita menemukannya. Sama seperti kita tak tahu berjalannya nasib yang akan menuntun kita melanjutkan hidup. Kita hanya bisa menandai berdasarkan apa yang kita temukan tahun-tahun sebelumnya, mungkin saja itu tidak berulang, kepastiannya hanyalah sebuah kemungkinan. Tetapi denganmu akan aku tempuh apa saja nasib akan berjalan, sebab yang lebih penting bagiku bukanlah pada jamurnya saja. Melainkan sepanjang musim bersamamu menyelesaiakan sebuah teka-teki kemungkinan, dan tentu dengan kenikmatan sebuah misteri.

“Tidak! saya yakin ada orang lain yang mengetahui jalan rahasia kita, dan mendahului kita memetik jamur itu”

Tanpa aku tahu dari mana pernyataan itu, tatapan matamu mencurigai aku membocorkan rahasia jalan kita, dan aku semakin tersudut dan takut. Kamu sudah mengetahui banyak tentang diriku, dan aku yakin kamupun mengerti hanya ini yang selama ini aku nantikan dan akan menjadi kebahagiaanku sepanjang musim. Lagi-lagi bukan saja tentang jalan itu dan juga musimnya tetapi dengan kamulah aku bahagia. Kamulah sahabatku yang kini menjadi bunga cinta dalam jiwaku.

“Tidak aku mulai bosan, aku ingin kembali!”
“Kembali pulang!?” Tanyaku.
“Tidak aku ingin kembali berjalan sendiri.”

Mulailah kamu tidak percaya padaku. Meskipun selama bertahun-tahun, aku rasa hanya kali ini saja kita tidak menemukannya jamur bulan sama sekali. Wajahmu semakin menegang dalam pembicaraan yang tidak lancar. Seperti seringkali terjadi aku tak akan meninterogasi kamu dengan pertanyaan yang bermacam-macam, atau sikap yang tidak percaya lainnya. Mungkin sedikit tapi kemudian musnah dengan sendirinya setelah aku ingat bahwa sudah tujuh angka dalam satuan tahun yang kita kumpulkan berdua, lima tahun aku sahabatmu dan dua tahunnya kamu adalah kekasihku. Maka sudah cukup layak rasanya bila aku mempercayaimu sepenuhnya. Akupun tidak bisa berbuat banyak lagi kecuali hanya membiarkan kamu melangkah sendiri hilang ditelan kabut sore itu.

Pikiranku masih bertanya-tanya dalam tubuh berjalan pelan menuju rumah sahabat lain, tanpa apapun ditangan hanya perasaan semakin berat di hati. Rumah demi rumah aku lewati satu demi satu. Sebagaian rumah aku kenali sebagaiannya tidak. Di ujung jalan di depan rumah yang aku kenal, sebuah rumah yang ingin aku tuju untuk tumpahkan perasaan. Tetapi ketika sampai di halamanya yang beratap tanah dan berlantai kayu itu hidungku menghirup kuat bau masakan. Masakan yang aku sangat kenali, masakan yang beraroma seperti ini ingatku hanya tiga manusia yanng bisa melakukannya ibuku, aku dan kamu, karena ibuku mengajariku dan aku mengejarimu.

Jantungku semakin berdetak tak terkendali ketika terlihat sebuah sandal kayu yang terukir namamu disana. Sandal kayu yang aku hadiahkan padamu pada ulang tahunmu beberapa bulan yang lalu. Namamu terukir di permukaan atas sandal itu yang adalah ukiranku sendiri yang aku kerjakan selama tiga hari penuh. Sandal itu hanya cocok terpasang di kakimu tidak di kaki perempuan yang lain, aku tahu pasti. Semakin dekat kulangkahkan kaki mendekati teras rumah, semakin kuat aroma itu merasuk. Disaat yang sama aku mendengarkan suaramu dan suaranya beradu mesra pada jam makan malam ini. Semakin mendekati pintu rumahnya aroma tumis jamur bulan semakin kuat, masakan yang aku tunggu musimnya pada musim-musim yang lain. Masakan yang aku ajarkan kepadamu selama tujuh tahun ini. Jamur bulan diatas penggorengan dengan api sedang, bersama dengan irisan bawang putih, ditambah garam dan gula jika kamu suka.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer panah hujan
panah hujan at Jamur Bulan (6 years 31 weeks ago)
90

Haiii...... ?

Lama tak bersua..

Gimana, ya? Masalah yang sama seperti kemarin;

masalah penempatan tanda koma,

masalah dalam penggunaan partikel "pun",

kebanyakan penggunaan kata "adalah" yang seharusnya tidak perlu,

masih seperti kemarin, penggunaan tanda depan "di" sangat perlu dibedakan dengan penggunaan "di" pada sebuah predikat.

contoh : "di" untuk penunjukkan tempat, "di kamar mandi" dan "di" untuk kata kerja, "dimakan"

lalu,
hingga tak terbaca seakan tak percaya bahwa inilah tempat yang dahulu , bagian itu kurasa djo memaknainya sebagai :

hingga terbaca seakan ia tak percaya bahwa inilah tempat yang dahulu

Masalah isi,

Wah, suka nih Djo.. :P

idenya asyik ya, apalagi pas aku baca bagian-bagian terakhir tuh. Ibunya mengajarinya dan dia mengajari kekasihnya..

Cieee.. tumben baca yang seperti itu, itu hal yang paling manis dalam cerita ini menurutku. :)

Jamur bulan, ya? Boleh kutebak, itu pasti masakan kesukaanmu, atau masakan kesukaan dia, atau beliau.. :) hehe, iseng amat yak?

Kalau kuanalogikan (lagi suka berandai-andai), jamur bulan itu seperti sebuah penghadang dalam sebuah ikatan percintaan,
seperti sebuah konflik batin antara si A dan si B yang sedang memadu kasih, hal ini kutemukan ketika aku membaca mengenai keputusan
si gadis,

“Tidak aku mulai bosan, aku ingin kembali!”
“Kembali pulang!?” Tanyaku.
“Tidak aku ingin kembali berjalan sendiri.”

Jamur bulan kuanalogikan sebagai sebuah keinginan dari si gadis, keinginan untuk mempersatukan ikatan mereka, dalam sebuah ikatan
yang lebih sakral, perkawinan. Karena tidak ada keputusan dari si pria untuk menentukan ikatan mereka, maka si gadis mulai bosan.
Selama 7 tahun menjalin kasih (pada musim-musim yang sama, musim-musim dimana ada banyak sekali orang-orang menikah,
seperti bulan April misalnya), si pria selalu menjanjikan perkawinan kepada si gadis, namun selama 7 angka dalam satuan tahun yang
mereka kumpulkan berdua, si pria tak kunjung menepatinya, dan pada akhirnya si gadis bosan dan memutuskan untuk berjalan sendiri.

Di akhir kebimbangannya, ternyata si pria menemukan si gadis memasak jamur bulan, kuanalogikan, di akhir cerita, mereka akhirnya
kawin.. hahaha.. ngawur banget, ya?

Sebenarnya banyak sekali yang membuatku merasa janggal, seperti alasan kenapa mereka sangat menyukai jamur bulan?
Karakternya tidak begitu kuat, alasan-alasannya kurang terlihat.

Segitu dulu, maap kalau ada banyak kesalahan yang aku buat. :)

Writer rawins
rawins at Jamur Bulan (6 years 33 weeks ago)
100

Bingung nih kasih komennya.
Bagus sekali...

Writer Fadly_El_Subie
Fadly_El_Subie at Jamur Bulan (6 years 33 weeks ago)
100

semenarik judulnya...

Writer fisk_82
at Jamur Bulan (6 years 33 weeks ago)
50

Simply, banyak inkonsistensi di sini. Saat baca pertama kali saya cukup berharap banyak, dengan kesan sebuah prosa yang memuat untaian-untaian puisi namun kayaknya mulai kedodoran di sepertiga awal.

Cerita ini akhirnya jadi cerita yang tidak jelas makna. Selain banyaknya metafor saya tidak menemukan hal yang lainnya :D.

Kemudian kesalahan EYD yang cukup mengganggu selain tanda baca, penulisan 'di' sebagai kata depan dan sebagai awalan sebaiknya diperhatikan baik-baik.

Keep writing :D

Writer Qintha Djais
Qintha Djais at Jamur Bulan (6 years 34 weeks ago)
60

tengsh komennya!! :D gw baru post satu cerpen.. itu juga gak beres.. hihi.. eniwe,, stuju sama tante windry.. agak tkesan keburu-buru san nanggung,,

Writer Nanasa
Nanasa at Jamur Bulan (6 years 36 weeks ago)
80

Aq suka..
Suka jamurnya, tapi dibikin soup, bukan ditumis. Tadinya aq pikir ini jamur barat juga, ternyata lain ya :p

Ceritanya juga aq suka, menarik..

Writer haramiosa
haramiosa at Jamur Bulan (6 years 36 weeks ago)
90

Serasa di awan...
sayangnya saya nggak punya sensitifitas seorang perempuan jadinya nggak bisa menikmati secara utuh.

aduh..aduh jangan ngomongin tanda baca paragraf dan sebagainya dunk... pusing nih... di sini ide ama logika ceritanya aja dulu... tanda baca mah jadi koreksi pribadi aja.. nggak usah dibahas ntar juga bakal nyadar sendiri

Writer ranggamahesa
ranggamahesa at Jamur Bulan (6 years 37 weeks ago)
90

Bikin cerita macam punya bung tedjo gini niy yg gw gk bisa.. Two thumbs up for you bro!!

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Jamur Bulan (6 years 37 weeks ago)
90

walaupun bagiku kalimat indah itu terasa melambatkan cerita, tapi manis kok.

Writer Tedjo
Tedjo at Jamur Bulan (6 years 37 weeks ago)

@blo9n: iya blo9on serius nieh..emang nulisnya sehabis memasak jamur :)enak...hehe
@Villam; thank you kawan beginilah jadinya..kalo saya sok-sokan main bahasa puitis..kacau..wakaka
@miss worm; kapan kapan kasih tahu yak benernya..:), ini mah bukan karena lagi bisa nulis..deadline datang bareng..stress...nggak tahu mana yang didahulukan..ya sudahlah..jadinya ini..
@bintang; jamur barat lebih kecil dari jamur bulan...ditempat saya..:) iya nyarinya pas gerimis..hihi
@wehahaha; iya masukkan saya dalam daftar orang gilanya yak....di judul "9 orang gila" nya nanti hohoho...lagi pengin gila..uhuhs..

Writer wehahaha
wehahaha at Jamur Bulan (6 years 37 weeks ago)
80

tetep indah aja ye?

Ada lagi nih cerpen dengan dialog doang. buka di: Kami Bukan Anjing

Writer bintang alzeyra
bintang alzeyra at Jamur Bulan (6 years 37 weeks ago)
90

hiks inget masa kecil nyari jamur bulan dengan sodara2 ku..kalo di tempat ku namanya jamur barat, kayanya sesuai dengan angin barat ke bertiup ke timur..kapan yach bisa nyari jamur itu laghe

Writer miss worm
miss worm at Jamur Bulan (6 years 37 weeks ago)
60

kesalahan tanda baca bisa saja fatal, menghasilkan distorsi maksud penyampaian pesan. penulis yang baik harus menyadari hal ini

***
makanya, ntar dirimu pulang ke Jakarta ... call, kita belanja buku2 untukmuh sambil ngobrol-ngobrol (atau pas Kopdar pun)

iyak, ini kelihatan sekali terburu-buru nyah. bukan cuma typos ... rangkaian cerpen secara keseluruhan juga perlu dirapikeun. saya sih prefer undur posting biar tampil prima, edit duluh ... baca ulangh dan rombak sana sini (tapi tiap orang sih beda prinsip)

idenya manis sangat dan takarannya tepat alias ngga kebanyakan gula. mulai nyandu nih, baca tulisanmu.

***
komen sebelumnya:
enaknya bisa menulis (iri)
sementara 6 dulu ... kekeliruan teknis sudah sejak di paragraf pertama tuh, mas. kekeke ... saya baca nanti deh pun.

perkosakata badge copy(1)

Writer Villam
Villam at Jamur Bulan (6 years 37 weeks ago)
90

ya. manis.
walau rada bingung di beberapa tempat karena kalimat2 panjangnya membuatku harus membacanya selama dua atau tiga kali lebih banyak daripada seharusnya agar dapat kumengerti dengan jelas artinya. (ya seperti kalimatku ini... hihihi...)
tapi, sekali lagi, manis seperti biasa, tedjo...

Writer bl09on
bl09on at Jamur Bulan (6 years 37 weeks ago)
50

tumis jamur....
pengen.......^_^

keren euy... maap nih poinnya ga bisa gerak jadi ga bisa ngrubah.