Read more (1894 words)
Saya adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi sebuah Universitas Negeri di Pulau Jawa. Saya ingin menceritakan sikap arogan seorang dosen terhadap mahasiswanya. Seorang akademisi, seorang dosen, yang seharusnya mengemban amanah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada mahasiswanya malah mengkhianati ilmu pengetahuan dengan memutarbalikkan teori. Arogansi memang manusiawi. Tetapi sikap arogan mengganjal mahasiswa dengan alasan tidak ilmiah dan bahkan memungkiri teori tidak hanya melecehkan dosen sebagai seorang pengajar universitas. Melainkan pelecehan terhadap pendidikan itu sendiri. Bahkan mengkhianati ilmu pengetahuan.
Senin, 3 Desember 2007, 07.00 WIB
Minggu ini adalah minggu keempat setelah saya menempuh sidang skripsi. Dan hingga sekarang saya masih belum benar-benar lulus karena terganjal oleh salah seorang dosen penguji. Parahnya lagi beliau beliau tidak memberikan kepastian kepada saya, tidak menyatakan saya lulus sidang atau harus mengulang, ataupun menyuruh saya merevisi terhadap hal-hal yang dianggap kurang tepat menurut beliau. Benar-benar tanpa kepastian.
Di kampus saya, skripsi diuji oleh tim penguji yang terdiri dari tiga orang dosen, seorang dosen pembimbing dan dua orang dosen penguji. Dua orang dosen, seorang dosen pembimbing dan seorang dosen penguji, tidak mempermasalahkan skripsi saya. Hanya perlu sedikit revisi saja. Namun tidak dengan seorang dosen penguji lainnya.
Saat sidang berlangsung (8/11), beliau hanya datang kurang dari lima menit sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. Waktu itu beliau hanya mempersoalkan dua hal. Bagan kerangka pemikiran teori yang alurnya menurut beliau kurang jelas dan mengapa variabel yang saya gunakan sebagai indikator kesehatan adalah angka kematian bayi dan bukan angka kematian ibu.
Esok harinya, Jumat (9/11), saya ke ruang beliau untuk melanjutkan ujian. Pertanyaan yang diajukan masih sama. Beliau mengatakan, “Mas, saya hanya menanyakan satu saja. Kenapa yang kamu gunakan angka kematian bayi dan bukan angka kematian ibu. Dan (bagan) kerangka pemikiran teori kamu diperjelas. Kemarin kamu sidang dengan Bu X waktunya lama kan? Saya cuma satu pertanyaan saja. Nanti kalau lama-lama kamu malah nggak lulus.”
Saya jawab, “Ada beberapa hal yang melatarbelakangi saya memilih variabel angka kematian bayi dan bukan angka kematian ibu. Pertama, jurnal-jurnal yang menjadi acuan saya menggunakan angka kematian bayi bukan angka kematian ibu. Saya tidak menemukan jurnal yang menggunakan variabel angka kematian ibu.”
Beliau memotong jawaban saya, “Banyak kok penelitian yang menggunakan variabel angka kematian ibu. Nanti saya carikan di XXX dan XXX.” Beliau menyebutkan dua nama universitas negeri. “Bukan itu alasannya, mas. Ada jawaban lain.”
“Alasan kedua, tidak ada data lengkap mengenai angka kematian ibu.”
“Mas, data angka kematian ibu itu menggunakan SDKI.” SDKI adalah Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia, dan tidak dilakukan setiap tahun. Dalam 16 tahun terakhir hanya terdapat empat atau lima kali SDKI. Beliau juga mengakui kalau data angka kematian ibu tidak setiap tahun ada. Namun beliau menambahkan, “Penelitian dengan variabel angka kematian ibu harus menghitung sendiri (datanya). Diproyeksi sendiri.”
Buat saya memproyeksi data sendiri sangat tidak masuk akal. Karena bukan kapabilitas mahasiswa S1 untuk melakukan itu. Apalagi dengan jumlah tahun yang banyak.
“Bukan itu jawabannya, mas. Kamu tanya ke dosen pembimbing kamu.”
***
Hari senin (12/11), saya menemui dosen pembimbing saya. “Sebenarnya yang paling sering digunakan dalam penelitian memang angka kematian bayi, bukan angka kematian ibu. Coba kamu baca lagi jurnal-jurnal kamu dan baca juga buku demografi,” dosen pembimbing saya tidak memberi penjelasan lengkap.
Sepanjang hari itu saya sibuk membaca referensi dan browsing di internet. Hingga akhirnya saya pikir saya telah menemukan alasan yang tepat. Prof. Ida Bagoes Mantra dalam bukunya, Demografi Umum, menjelaskan bahwa “Angka kematian bayi tidak hanya merefleksikan besarnya masalah kesehatan yang bertanggungjawab langsung terhadap kematian bayi, seperti diare, infeksi saluran pernafasan, salah gizi, penyakit-penyakit infeksi spesifik, dan kondisi prenatal, tetapi juga merefleksikan tingkat kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, dan secara umum tingkat perkembangan sosial ekonomi masyarakat.” Alinea selanjutnya tertulis, “Angka kematian bayi juga telah menunjukkan fungsinya sebagai indikator ampuh dalam menilai perubahan kondisi kesehatan di suatu negara.”
Di awal skrispsi saya memang tidak terlintas pikiran menjadikan angka kematian ibu sebagai indikator kesehatan. Akan menyulitkan saya karena persoalan data. Saya rasa pertimbangan ketersediaan data juga menjadi preferensi mahasiswa-mahasiswa lain dalam menentukan variabel penelitian mereka. Kecuali jika variabel tersebut dapat dihitung melalui rumus tersendiri yang sudah paten dan ditunjang ketersediaan data mentahnya, seperti variabel angka partisipasi kasar, lamanya tahun sekolah, atau indeks ginni.
Setelah menunggu selama beberapa jam akhirnya Selasa (13/11) itu saya bisa menemui beliau juga. Saya langsung mengemukakan jawaban saya kepada beliau mengutip dalam buku Prof. Ida Bagoes Mantra. Beliau tidak berkomentar apa-apa. Tidak membenarkan tidak juga menyalahkan. Setelah itu beliau berbicara berputar-putar dengan arah tidak jelas selama beberapa saat dan kemudian, “Kenapa yang digunakan adalah angka kematian bayi bukan angka kematian ibu, karena kesehatan bayi tergantung kondisi kesehatan ibu. Selama dalam kandungan si bayi bergantung pada asupan gizi si ibu. Itu pertanyaan saya yang dari kemarin belum kamu jawab. Sekarang sudah saya jawab sendiri, kan?”
Ouw my God. Pernyataan terakhir beliau sungguh membuat saya jengkel. Jawaban yang beliau kemukakan itu sudah saya jawab dengan sedikit penjelasan hubungan antara kesehatan ibu hamil dan janinnya. Namun beliau tidak menyalahkan atau membenarkan jawaban saya. Dan kini... Huh.
Ternyata persoalan terus berkembang. “Mas, pemikiran kamu terbalik itu. Pertumbuhan ekonomi memang mempengaruhi kesehatan. Tetapi kesehatan tidak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.”
“Tetapi bu, dari teori yang saya peroleh mengatakan begitu. Terdapat hubungan saling mempengaruhi antara perekonomian dan derajat kesehatan.”
“Mas, saya itu pernah mengikuti pelatihan demografi di Bangok. Jadi saya paham mengenai hal ini. Coba kamu bawa kemari teorinya.”
Saya ke luar ruangan mencari referensi di perpustakaan. Tidak mungkin bagi saya pulang ke rumah mengambil materi karena jarak antara rumah dan kampus memerlukan waktu setengah jam sekali jalan menggunakan angkutan umum.
Sayangnya setelah saya selama lebih dari setengah jam mencari-cari buku di perpustakaan dan berusaha meminjam pada seorang dosen, namun saya hanya bisa membawa tiga buku referensi. Kemudian saya kembali ke ruangan beliau. Di sana saya harus menunggu karena beliau sedang sibuk. Sekitar 40 menit menunggu, “Mas, bagaimana? Sudah dapat?”
“Sudah, bu. Tetapi saya hanya mendapatkan tiga referensi saja.”
“Ya sudah. Kalau begitu besok saja. Saya mau pergi,” ujar beliau sambil meninggalkan saya di luar ruangan.
***
Ternyata persoalan semakin melebar. Ketika saya menemui beliau esok harinya, “Mas, seharusnya variabel yang kamu gunakan itu angka harapan hidup, bukan angka kematian bayi.”
Setelah angka kematian ibu, kemudian teori tentang hubungan antara kesehatan dan pertumbuhan ekonomi, dan bergeser lagi ke angka harapan hidup. Dan yang lebih mengesalkan, tumpukan materi tentang teori hubungan antara kesehatan dan pertumbuhan ekonomi yang sudah saya siapkan di hadapan beliau tidak digubris sama sekali.
Beliau melanjutkan, “Memang benar pertumbuhan ekonomi mampu menekan angka kematian bayi, tetapi angka kematian bayi tidak mampu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Pemikiran kamu terbalik, mas.”
“Bu, angka kematian bayi saya gunakan sebagai proxy indikator kesehatan.”
“Seharusnya yang kamu gunakan angka harapan hidup, karena lebih merepresentasikan produktivitas. Sedangkan angka kematian bayi memerlukan waktu paling tidak 15 tahun untuk dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.” Alasan tidak logis yang dikemukakan oleh seorang akademisi yang mengaku ahli di bidang tersebut. Terlebih lagi, selama beberapa hari itu saya sering kali mendengar ucap beliau yang sangat membosankan, “Mas, saya dulu pernah mengikuti pelatihan demografi di Bangkok.”
Saya mencoba menjawab, “Tetapi bu, angka kematian bayi adalah dasar penghitungan angka harapan hidup. Tinggi rendahnya harapan hidup tergantung pada angka kematian bayi.”
Lagi-lagi beliau diam saja, tidak menyalahkan atau membenarkan pernyataan saya. Bagi saya alasan beliau sangat tidak logis. Angka harapan hidup dan angka kematian bayi dihitung pada titik yang sama. Sehingga apabila angka harapan hidup dikatakan merepresentasikan produktivitas maka hal yang sama juga terjadi pada angka kematian bayi.
Angka harapan hidup di sini adalah angka harapan hidup waktu lahir. Dilihat dari definisinya, angka harapan hidup waktu lahir adalah rata-rata lamanya tahun kehidupan yang akan dijalani seorang bayi baru lahir. Sedangkan angka kematian bayi adalah jumlah kematian bayi sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup.
Saya telah mengungkapkan jawaban saya tersebut untuk membantah alasan beliau. Namun seperti biasa, beliau tidak pernah menganggap setiap pernyataan yang saya keluarkan. “Kamu tanyakan ke dosen pembimbing kamu kenapa yang digunakan angka kematian bayi bukan angka harapan hidup.”
***
Senin, 3 Desember 2007, 10.00 WIB
Pagi ini saya bermaksud menemui beliau untuk kesekian kalinya. Sesampai di depan ruangan beliau, teman saya yang mahasiswa bimbingan beliau mengatakan kalau beliau sedang ke luar kota dan baru hari Rabu kembali. Beliau memang super sibuk. Dosen senior dengan posisi penting di kampus. Selama empat minggu ini, hampir separuhnya beliau berada di luar kota. Dan sisanya diisi dengan agenda beliau yang padat. Mungkin itu sebabnya beliau tidak sempat membaca teori-teori dan penelitian terbaru.
Saya bingung sekali dalam ketidakpastian seperti ini. Dosen pembimbing saya menyuruh saya untuk mempertahankan skripsi. Tetapi sebagai cadangan saya juga harus mempersiapkan perhitungan dengan variabel angka harapan hidup. “Membuat skripsi itu kan tidak asal bikin dengan pemikiran kamu sendiri. Harus sesuai dengan teori. Dan teori yang kamu gunakan sudah tepat,” ujar dosen pembimbing saya.
Yang saya sesalkan di sini bukan sekedar kelulusan saya yang digantung tanpa kepastian. Melainkan moralitas akademisi, moralitas seorang dosen. Seorang dosen yang seharusnya menyampaikan amanah ilmu pengetahuan pada mahasiswanya malah mengungkapkan teori yang tidak sesuai. Ini adalah pengkhianatan terhadap ilmu pengetahuan.
Terlebih lagi, tidak seharusnya seorang dosen menutup telinga terhadap jawaban mahasiswanya jika jawaban itu memang benar dan sesuai dengan teori. Jika beliau ingin mengganjal saya, seharusnya beliau menggunakan cara-cara yang cerdas, sesuai dengan intelektualitas beliau yang katanya pernah mengikuti pelatihan demografi di Bangkok. Tidak dengan memutarbalikkan teori seperti ini.
Beliau mengatakan, “Mas, saya tidak ingin kamu mengganti variabel. Jika kamu mengganti variabel berarti kamu harus mengganti semua. Nanti kesannya saya sewenang-wenang. Saya Cuma ingin alasan kamu mengapa menggunakan angka kematian bayi bukan angka harapan hidup.”
Memangnya ini tidak sewenang-wenang? Beliau tidak pernah sedikitpun menganggap setiap pernyataan yang keluar dari mulut saya. Jauh lebih sewenang-wenang dari apa yang ada di pikiran beliau. Saya benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa.
***
Rabu, 5 Desember 2007, 10.00 WIB
“Waah... Kamu terlambat lima menit. Ibu sudah pergi lagi,” ujar dua orang teman saya di depan ruangan beliau.
“Nanti dia balik lagi ke sini ngga?”
“Kayaknya sih ngga. Soalna tadi dia juga bawa laptop dan semua barang-barangnya.”
Huff. Ternyata beliau ke kampus hanya sebentar saja. Saya harus menunggu lagi besok. Minggu ini adalah minggu keempat setelah saya sidang skripsi namun tidak ada kejelasan sedikitpun mengenai kelulusan saya. Kondisi yang lebih baik terjadi pada teman-teman saya. Meskipun ada beberapa yang harus merevisi hampir setiap halaman, mengganti alat analisis, ataupun memang tidak diluluskan sejak sidang, tetapi mereka ada kepastian.
Sedangkan saya, lulus tidak, apa yang harus saya revisi juga tidak diberitahu. Beliau bilang pada saya, dan juga dosen pembimbing saya, bahwa beliau hanya butuh penjelasan mengapa variabel yang saya gunakan adalah angka kematian bayi. Namun setiap kali saya menjawab, beliau tidak menggubris pernyataan saya. Tidak membenarkan, juga tidak menyalahkan. Lalu mengalihkan pada topik pembicaraan lain. Sekarang apa yang harus saya lakukan? Bagi saya ini bukan sekedar masalah kelulusan. Ini adalah soal ilmu pengetahuan.
Epilog :
Kejadian ini mungkin memang bukan yang pertama kali terjadi. Namun apa jadinya jika terus menerus dibiarkan? Wacana pembangunan pendidikan tampaknya hanya sekedar wacana. Karena seorang akademisi, seorang dosen, yang merupakan salah satu komponen pembangunan pendidikan malah menodai makna pendidikan itu sendiri. Dan juga mengkhianati ilmu pengetahuan.
Note :
Saya sengaja tidak menyebutkan nama universitas karena bagaimanapun juga itu adalah almamater saya. Mohon diforward melalui email, milis, bulletin board, atau blog sebagai bentuk kampanye menentang pelecehan dan penghianatan terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan. Saya mohon dukungan kalian semua.
Terimakasih
Mg Gumelar
Email: my_mg86@yahoo.com
Thx b4 ya,bt komennya..maap,sbnrnya yg ini blm smpt dibc smua krn alasan finansial(internet kan g gratis ya..hikz)panjang bgt...tp ngerti kok keselnya..slny saya jg punya guru yg (hmm...mirip?) pkny prnh lah,ngerasa g dihargain jg..dan yg pst g enk.Ini curhat ya jdny?he..maap klo komentnnya ada yg krg sesuai.
Anda benar..hehe..itu jawaban spontan aq wktu itu..terus terang aj sbg mhsw tingkat dasar aq hanya mengacu pada jurnal n teori yg udh ada..dan jurnal itu bagian dari teori..hehehe..thx for d'comment..
perdebatan dalam bidang akademik adalah hal yang wajar saya kira, there is no absolute knowledge as far as i concerned, maka perdebatan seperti ini wajar terjadi. maka saran saya pilihlah dialog yang lebih cerdas dalam menyampaikan ide contoh petikan kata kamu "Pertama, jurnal-jurnal yang menjadi acuan saya menggunakan angka kematian bayi bukan angka kematian ibu. Saya tidak menemukan jurnal yang menggunakan variabel angka kematian ibu menurut saya ini kurang asyik..apapun kata jurnal kamu musti ngasih based theorinya..bukan karena jurnal begini, saya harus begini..
oh ya catatan saya sieh: emang ada personal dosen yang seperti itu..tapi itu sebagaian saja, buatlah surat complain ke rektor jika kamu yakin secara akademik kamu lebih benar..
wah maaf kepanjangan