yang ini masih kurang rapi
jadi diharapkan banget kritik2 jelas
serta masukan yang berarti
terima kasih sebelumnya 
“lo Jem?kapan kamu datang? Mau kemana kalian berdua?” nada kaget terdengar dari suara lembut ke ibuan yang berpapasan dengan Joshua dan Jemmie begitu mereka keluar dari ruang kantor.
“hai ma, baru aja koq, ga kemana-mana, cuma mau jalan-jalan cari udara segar kota Jakarta, udah lama enggak, yuk ma” Jemmie menjawabnya sambil lalu dan tak berniat menghentikan langkahnya, begitu juga Joshua yang mengikutinya.
Yang barusan tadi adalah perempuan berumur 40 tahun-an namun nampak seperti 10 tahun lebih muda, perempuan itu adalah Nyonya Bambang Hartono, Ibu Mariana, Ibunya Joshua dan Jemmie.
Jemmie adalah Kakak laki-laki Joshua, lebih tepatnya kakak angkat. Beda usianya dengan Joshua delapan tahun, Jemmie di angkat oleh pak Bambang ketika beberapa bulan setelah ia dan isterinya kehilangan Joshua di tragedi penculikan waktu itu.
Kasihan dan merasa sedih melihat isterinya seperti perempuan yang kosong dan terguncang, maka untuk mengisi kekosongsn tersebut, pak Bambang Hartanto berinisiatif untuk membawa Jemmie ke istananya.
Pak Bambang waktu itu paham, Jemmie tidak akan utuh mampu menggantikan posisi Joshua di mata Isterinya, terlebih perbedaan usia mereka juga jauh sekali, namun Pak Bambang berpikir, dengan berlalu nya waktu, Jemmie akan diterima serta masalah Joshua akan hilang dan lekang oleh waktu.
Dugaan Pak Bambang tepat, Jemmie pada akhirnya diterima, bahkan di anggap seperti anak kandungnya sendiri oleh isterinya.
Mereka berdua berjam-jam menghabiskan waktu mereka berputar-putar di Jalan-jalan kota Jakarta, kota yang sedang di pimpin bapak mereka. Bosan di jalanan, kakaknya membawa Joshua ke tempat hang out favorit nya yang sudah lama tidak ia kunjungi, sebuah kafe bawah tanah yang memainkan musik dance tak mengenal waktu.
Di sana Joshua di kenalkan dengan teman-teman kakaknya yang sudah terlebih dahulu di hubungi, untuk berkumpul kembali setelah sekian lama tidak bersua dengan sahabat bersenang-senang paling asyik menurut mereka, Jemmie Alexander Hartanto.
Lingkungan Kakaknya memang berbeda jauh dengan lingkungan yang biasa Joshua hadapi, di kafe tersebut, mereka semua nampak selalu bersenang-senang, tidak mengenal sedih, luka atau orang tua yang tidak bijaksana.
Tidak butuh waktu lama bagi Joshua untuk akrab dengan mereka, dalam sekejap mereka terlihat asyik bersama dalam alunan musik yang kencang, Joshua larut dalam lautan seratusan manusia yang melompat-lompat kegirangan di kafe itu, ia sejenak lupa akan masalah yang barusan ia lewati, di kafe itu ia nampak benar-benar menikmati. Beda dengan kakaknya Jemmie, ia tidak terlihat di lantai dansa, dari kejauhan Joshua melihat kakaknya sedang duduk di meja bartender sedang mengobrol sesuatu yang nampaknya serius dengan seseorang, Joshua pun tertarik dan menghampiri.
Seseorang itu ternyata berbeda dengan teman-teman Jemmie yang tadi ia kenal, yang ini nampak tidak pantas berada di tempat seperti ini, seorang yang kelihatan tua, nampak dari keriputnya yang dimana-mana, pakaiannya yang berantakan, lusuh, rambut awut-awutan, benar-benar patut dipertanyakan mengapa kakaknya bisa kenal orang tua seperti itu, dan untuk apa?.
“lagi ngapain mas?” Joshua menepuk pundak kakaknya
“eh Jo, ga ngapa-ngapain” Jemmie agak kaget di tepuk pundaknya ketika ia sedang larut dalam obrolan dengan orang tua itu.
“Kenalkan Jo, ini Dimas temen nya mas”
Joshua masih aja sangsi orang tua itu pantas menjadi teman kakaknya.
“Joshua”
“Dimas”
“apakah kita kenal, nampaknya saya pernah melihat wajah anda, anda terlihat sangat familiar” Joshua tidak sedang berbasa-basi atau mengada-ngada, untuh entah mengapa dan bagaimana, ia merasa kenal dan tidak asing dengan wajah orang tua tersebut.
“Tentu saja kamu kenal, kamu sudah besar ya? . Saya pernah bekerja dengan papa kamu”
“oh ya!? Pernah kerja dengan papa? Kok bukan itu yang saya ingat ya?” Joshua agak sangsi.
“Jo, lain kali saja ngobrolnya, Masih ada yang kami ingin bicarakan, kembali dulu temenin temen-temen mas sana” Jemmie menyanggah obrolan mereka, kali ini dengan nada serius.
“baik mas” Joshua masih ingin terlibat tapi nampaknya Jemmie memaksa, jarang sekali ia melihat kakaknya serius terhadap sesuatu. Ia pun meninggalkan mereka berdua dengan rasa penasaran akan orang tua itu, ia merasa orang tua itu pernah menjadi bagian yang penting dalam ingatan Joshua, tapi ia gagal menemuan persis posisinya.
Ia pun kembali ke kerumunan orang-orang yang di kafe itu, larut kembali dalam hentakan musik bersama dengan teman-teman kakaknya yang tadi.
_____________
dikirim Redo Rizaldi 48 minggu 4 hari yang laluTag:








