I
DI PINGGIRAN kota Westminster, London. Di pinggiran kota yang paling kumuh yang ada di sana, dimana suara tangisan dan teriakan minta tolong saja tak akan lagi terdengar. Laju kereta api yang melintas bagai dentuman halilintar di malam hari. Gesekan tiap rodanya dengan lintasan rel besi terkadang memberikan halusinasi indra pendengaran yang memekakkan telinga.
Tiap-tiap gerbongnya meliuk-liuk bagaikan tubuh ular phython yang panjang bejalan tiada henti, melaju menembus gelapnya malam. Malam itu memang terasa sepi, disamping kabut yang mulai merayap menutupi badan jalan, ditambah lagi hawa dingin yang kian lama menggigit hingga ke pori-pori kulit.
Sebuah rumah dekat dengan lintasan kereta itu disinari cahaya utuh bulan purnama, sehingga terlihat begitu menyedihkan. Atapnya yang sudah rusak pada bagian sisinya, dengan kedua pilar beton yang berlumut masih menyangganya, seakan-akan melengkapi penderitaan sebuah keluarga yang hidup di dalamnya.
Bukan... bukan sebuah keluarga lengkap yang tinggal di dalamnya, melainkan hanya dua tubuh saja. Seorang anak bersama Ibunya. Terkadang penghuni rumah itu tidak menunjukkan batang hidungnya selama berhari-hari, maka cocok sudah jika rumah itu mereka panggil dengan sebutan “rumah berhantu”.
Hanya kata-kata itu yang menurut mereka paling cocok untuk mendeskripsikan rumah maupun penghuni yang tinggal di dalamnya, namun mereka tidak menyadari bahwa seorang anak yang cerdas menempati rumah itu. Anak itu yang nantinya akan menjadi ‘Sang Maestro’. Orang yang sudah lama tidak terdengar lagi kabarnya, seperti terkubur jauh di dalam inti bumi dan tak mungkin muncul lagi ke permukaan.
Sesosok tubuh kecil, ceking, duduk di sebuah kursi dengan hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak. Sosok itu terlihat sangat menyedihkan. Lengannya kurus dengan kulit yang hampir bersatu dengan tulangnya. Mungkin hanya dengan sekali pukulan saja atau bahkan dengan tiupan angin kencang sudah dapat menumbangkan sosok yang tampak tidak berdaya itu. Bajunya samar-samar terlihat.
Dua bolongan besar pada bagian lengan disertai beberapa bolongan kecil pada bagian depannya. Anak laki-laki kurus itu sedang membaca sebuah buku yang kini sudah hampir habis di bacanya. Bukunya lama, sudah usang dengan banyak kata-kata yang sudah tidak terbaca lagi oleh mata, sebab tulisannya kian lama kian memudar. Ia hanya menerka-nerka pada setiap kata atupun kalimat yang tidak jelas oleh sepasang matanya itu.
Kini ia tiba pada bagian yang terpenting dari buku tersebut. Lima halaman terakhir. Susunan kalimat-kalimat yang sistematis, tampak menggelitik pikirannya. Inilah sepenggal dari kalimat-kalimat tersebut;
‘Seorang pembunuh selalu merupakan seorang penjudi. Dan, seperti kebanyakan para penjudi, seorang pembunuh tidak tahu kapan harus berhenti berjudi. Setiap kejahatan yang dilakukannya, membuatnya berfikir bahwa kemampuannya itu semakin besar. Ia tidak lagi dapat berfikir secara jernih. Ia juga tidak akan berkata, ‘aku cerdik dan mujur!’ Tidak, ia hanya berkata, ‘Aku cerdik!’ Dan pendapatnya mengenai kecerdikannya itu semakin kuat, dan akan semakin bertambah kuat seiring keinginannya untuk terus melayani nafsu anehnya itu.’
Ada saat-saat di mana tubuh merasa sadar akan peranan otak yang mengontrolnya, pada waktu tubuh itu dengan patuh menuruti kehendak ‘sesuatu’ yang mengontrol perbuatan-perbuatannya itu. Ada saat-saat lain dimana otak merasa sadar bahwa ia memiliki dan mengontrol tubuh dan ia mencapai niatnya dengan mempergunakan tubuh itu.
Terkadang kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, implus, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
Dibalik cahaya remang lampu minyak yang menyinari tubuhnya, terkulum sebuah senyuman licik dari balik bibirnya yang kecil. Sekarang ia telah menyadari ada yang berubah di dalam dirinya, telah mengeluarkan sebuah naluri yang aneh dari dalam dirinya, berbeda dengan keadaan yang telah disebutkan belakangan. Yang paling membuatnya bingung dan takut, ia menyukai naluri itu.
Naluri yang seakan terus menggerogoti jiwanya, membisikkan segala sesuatu. Kini yang mengatur semuanya, bukan lagi otaknya. Naluri itu kini mengatur semuanya, semua yang ada di pikirannya, yang ada di otaknya.
~~To Be Continue~~
dikirim abc 37 minggu 5 hari yang laluTag:







