After The Crash(1)

Tampil di acara berita kriminal televisi, menjadi orang yang kena gerebek aparat di sebuah salon plus, sungguh ini sesuatu yang di luar bayangan Hernan sama sekali. Dadanya terasa sesak dan mungkin sudah sepucat air susu warna raut mukanya saat sejumlah sorot lampu kamera televisi mengarah padanya, yang bersama para wanita serta beberapa pria lainnya digelandang ke atas truk, lantas dibawa ke kantor polisi. Entah apa kata ibu, saudara-saudara, teman-teman sekantor atau para tetangganya melihatnya begini. Padahal di lingkungan tempat tinggalnya, Hernan adalah seorang sekretaris RT. Jadi bolehlah dibilang bahwa Hernan adalah seorang figur publik tingkat kampung. Belum lagi kalau Netta, tunangannya yang tinggal berbeda kota dengannya juga pas nonton acara tersebut, meski sepengetahuannya kekasihnya itu jarang sekali nonton tv. Hernan hanya bisa mengutuk diri sekeras-kerasnya dalam hati. Jika saja tabrakan tiga pekan lalu tak terjadi padanya, pasti tak bakalan dia keluar dalam acara seperti itu. Kayaknya mendingan tampil di tv dikerjain Deddy Corbuzier, Rommy Rafael atau malah Komeng cs sekalian saja ketimbang menjadi pesakitan yang sudah divonis bersalah sebagai lelaki bermoral bejat oleh publik seperti ini. Atau jika pun dia ditangkap polisi, tapi sebagai tersangka kasus korupsi, mungkin Hernan tidak akan semalu ini karena para koruptor biasanya sudah kehilangan rasa malunya.
*

Berawal dari sebuah Jumat sore tiga pekan lalu, sepulang kerja Hernan mesti menjemput ibunya di sebuah kompleks perumahan di pinggir kota. Menjelang mobilnya keluar dari jalan kompleks, tiba-tiba saja dari arah kanan sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Si pengendara motor mencoba menghentikan laju kendaraannya tapi telat, motornya malah zigzag dan gubrak.... motor pun menghantam mobil Hernan, sementara si pengendara motor terlempar beberapa meter dari motornya. Hernan mencoba tetap tenang, meski tentu saja sangat cemas hatinya. Diparkirnya mobil ke pinggir jalan, sementara dari arah belakang ada beberapa orang berlarian dan mendobrak-dobrak mobilnya. Keluar dari mobil, Hernan lalu menghampiri si pengendara motor yang sudah dirubung orang-orang.

Seorang polisi yang datang dari pos jaga di perempatan yang tak jauh dari situ mendatangi Hernan dan meminta SIM dan STNK-nya. Sesaat kemudian Hernan telah membawa si pengendara motor ke rumah sakit dengan pengawalan polisi tadi. Hanya sebentar kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Si polisi meminta Hernan datang ke pos jaga tempatnya bertugas malam harinya. Rencananya keluarga si pengendara motor akan diundang pula ke sana untuk menyelesaikan masalah yang timbul akibat tabrakan itu.

Malamnya Hernan mengajak Ridwan, sobatnya untuk menemaninya dan menjadi juru bicaranya dalam pertemuan dengan keluarga pengendara motor yang menabrak mobilnya. Pertemuan di pos jadi terlaksana, keluarga pengendara motor diwakili Pak Jarno, lelaki berusia 50-an berkumis tebal berpenampilan sangar dan seorang wanita cantik yang entah siapanya lelaki itu. Si wanita tampak akrab dengan beberapa polisi yang sedang berjaga, termasuk yang mengurus kasus tabrakan itu. Pihak Hernan meminta masing-masing pihak yang terlibat dalam tabrakan menanggung kerugiannya sendiri. Tapi mereka ingin Hernan membantu biaya rumah sakit si pengendara motor. Malam itu belum tercapai kesepakatan, karena mereka ingin tahu dulu kondisi terakhir si pengendara motor setelah semalam menginap di rumah sakit. Malam berikutnya Hernan dan Ridwan kembali ke pos, ternyata Pak Jarno dan polisi yang mengurus kasus tabrakan tak hadir. Malah Hernan diminta datang ke sebuah salon oleh Pak Jarno yang menghubungi Ridwan via telepon.
*

Maka pada Minggu pagi sekitar jam sepuluh Hernan dan Ridwan pun menyusuri sepanjang jalan tempat salon yang ditunjuk berada. Letaknya masih di seputar lokasi tabrakan. Mesti berputar-putar beberapa kali hingga sejam kemudian baru ketemulah salon itu. Tidak terlalu terbuka, kesannya tempat itu sangat sempit dari luar. Ada beberapa wanita bertubuh montok di ruang depan salon. Hernan dan Ridwan sempat saling memandang sejenak dan mungkin bisa menduga bahwa salon tersebut bukan salon biasa.
Ternyata Pak Jarno tidak ada di tempat itu, yang ada hanya April, wanita cantik berusia 30-an yang mendampinginya malam itu. Sepertinya dialah pemilik salon itu, begitulah kesannya. Ternyata April tidak tahu masalah sesungguhnya. Dia tahunya sekadar dititipi Pak Jarno STNK dan SIM Hernan dengan kwitansi biaya perawatan rumah sakit saudaranya, yaitu si pengendara motor yang menabrak mobil Hernan. April menyerahkan kwitansi dari rumah sakit pada Ridwan dan Hernan. Dia pun mencoba menghubungi Pak Jarno via ponselnya. Ketika terhubung mereka berdua malah terdengar berdebat. Sementara itu Hernan dan Ridwan duduk belaka menunggunya.
“Sambil nunggu kalo mau sambil creambath boleh lho, Mas,” kata wanita yang mengenakan tanktop pink dengan rada mendesah pada mereka.
“Atau sama yang lain juga monggo,” bisik temannya yang tanktop-nya bermotif kembang-kembang sambil tertawa kecil. Hernan dan Ridwan sedang digoda rupanya.
“Nggak Mbak, makasih,” jawab Hernan sambil menoleh pada Ridwan yang hanya tersenyum.
April pun kemudian keluar dari dalam, matanya terlihat agak sembab. Sepertinya ada perdebatan serius yang telah terjadi antara dia dengan Pak Jarno. Sambil membuka laci dikeluarkannya STNK dan SIM Hernan.
“Pak Jarno minta surat-suratnya Mas dikembalikan. Terus biaya rumah sakitnya gimana?” tanya April.
“Kami hanya bisa bantu separo biayanya saja, Mbak. Ini ya,” sahut Ridwan sambil menyerahkan uang di dalam amplop kepada April. STNK dan SIM Hernan pun balas diserahkan oleh April. Semua pihak telah sepakat, Hernan dan Ridwan pun beranjak pergi dari tempat itu.
*

bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at After The Crash(1) (12 years 14 weeks ago)
90

Thriller, serius, kynya bakal rame nih. Bgmana kalau lebih banyak dikasih spasi jd lebih enak ngebacanya

Writer KD
KD at After The Crash(1) (12 years 14 weeks ago)
100

aku tunggu